
Seperti bermimpi dalam dan panjang , akhirnya saya bangun. Kaki serasa ada yang mengangkat dan menyeret dengan pelan. Pas saya membuka mata , terlihat ada yang menyeret saya dan itu ada 2 orang sekaligus. Badan yang masih tak bisa berbuat apa-apa , tak mampu pula melawan apapun. Setelah mata sudah terang melihat , ternyata itu adalah si Adiatma sahabat saya dan satu lagi berpostur tubuh kecil yang sepertinya pernah lihat ketika di rumahnya Rania. Saya menyapa Adiatma
“ Dit….Ditt…………loo kok bisa kamu disini dan membawaku”
Adiatma pun menjawab
“ Gov……….. sudah bangun a? kamu baik-baik saja kan?”
Saya siuman penuh dari pingsan saya beberapa waktu tadi. Adiatma dan kawannya berhenti untuk menyeret saya dan sayapun berdiri. Bertanya kepada sosok satunya yang juga ikut menyeret saya , itu adalah Adik Rania yang bungsu bernama Dimas. Kondisi Adiatma dan Dimas sudah pernuh dengan luka soyak di bagian pinggang dan tangan. Bajunya juga terlihat ada sebagian sisi yang sobek dengan ada bercak darah disitu. Kondisi kami bertiga jika dilihat seperti orang yang habis berperang. Saya bertanya kembali kepada Adiatma
“ Lo………Dit….gimana kamu bisa menyeret dan membawa saya? padahal terakhir aku lihat , aku udah pasrah di bawah Jin pemakan tumbal itu “
Adiatma pun menjawab
“ Sahabat sejati tak akan meninggalkan temannya bro.. aku dan Dimas melempari Jin tersebut dengan kayu dan batu yang ada di sekitar kami.. , jin itupun berbalik menyerang kami , tak tahu kenapa saya berinisitif untuk membanting dan memukul buku itu. seketika Jin itu langsung menjerit dan pergi begitu saja “
Saya pun membalasnya kembali
“ ( sambil memeluk Adiatma ) terima kasih bro……. , mungkin aku sudah meninggal bila kamu kan berinisiatif untuk melawan jin tersebut. eh tapi.. akhirnya gimana kondisi bukunya? Apakah jadi di bakar “
Dimas yang awalnya diampun akhrinya ikut untuk berbicara
“ mas Govi dan Mas Adit……….Kondisi buku sekarang belum kami bakar , karena buku ini tidak bisa terbakar dengan api biasa. Sudah saya coba berkali-kali tapi juga belum bisa terbakar ( sambil menunjukan bukunya ) “
__ADS_1
Saya kaget ketika Dimas memberitahu saya kalau buku itu belum di bakar , dalam benak , say masih berharap bisa menyelamatkan Rania beserta istri Pak sukonto dan ibu rania sendiri. Jika buku ini belum terbakar , jangan-jangan mereka masih belum terlepas dari belenggu ritual ini. Saya melihat ke kanan dan kiri , dan seperti berada dalam semak-semak dan ada beberapa pohon di sekitarnya. Saya menanyakan kembali pada mereka
“ bro..ngomong-ngomong kita dimana? Kalian menyeret saya kemana ini? Kok bisa berada di tengah-tengah semak-semak seperti ini”
Adiatma pun menjawab
“ itulah keanehannya Gov.. ketika kami mencoba melawan setan tersebut yang berusaha membawamu. Tiba-tiba tanpa kami sadari , sudah berada di tengah semak-semak seperti ini. Kia semua seperti dipermainkan dalam dimensi ruang dan waktu mereka semenjak berurusan dengan ritual ini “
Untuk berkali-kalinya , kami semua membuka buku itu dan membacanya dengan sedetail dan seteliti mungkin untuk menggali dan mengkaji bila ada petunjuk yang terlewatkan dari kami. Sampailah pada bab terakhir yang setelah kami telaah dan pelajari lebih dalam bahwa darah dari tumbal seserahan tersebut dituangkan dalam sebuah tempat lalu dipuja-puja oleh mereka yang melakukan perjanjian dengan catatan kalau darah tersebut tidak boleh mengenai buku tersebut. Analisa saya , bisa jadi ini adalah petunjuk bagaimana cara untuk menghanguskan buku tersebut. Tapi harus dengan darah siapa agar buku itu bisa dihancurkan selama-lamanya. Jika memang dibuku tersebut menyebutkan tidak boleh tersentuh atau terkena darah dari tumbal , dari kami bertiga hanya Dimas dan Adiatma saja yang memang target untuk menjadi tumbal dari ritual ini. Ketika kami memahami semua saya mencoba berdiskusi dengan mereka
“ Dimas.Adiatma… kalian adalah target tumbal seperti kalian ketahui sebelumnya. Apakah kalian bersedia untuk meneteskan darah kalian di atas buku ini “
Adiatma pun menjawab
“ oke..saya siap untuk mengakhiri semua ini “
“ ( sambil menepuk dada Dimas ).. Dim…aku tahu masih kecil.. tapi aku butuh kebesaran hatimu untuk membakar buku ini “
Akhirnya Dimaspun mengganggukan kepala dan menyetujui rencana saya untuk membakar buku ini. Mereka meneteskan darah dengan menggunakan menggingit jari karena tidak lagi alat yang bisa kita gunakan.
SREEEKK………SRRREEEEEKKK…………..SSRRREEEEEKKKK
Terdengar ada suara gesekan antara rumput/ dedaunan dengan sesuatu yang bergerak. Kami bertiga langsung saling menoleh ke arah yang berlawanan , tidak ada tanda-tanda orang berjalan ataupun apapun di sekitaran kami. Terdengan lagi dari atas kami ,kebetulan ada pohon yang agak tinggi.
__ADS_1
SREEEEEKK……..SREEEEEEKKK….SSREEEEEKK
Seperti gesekan daun dengan hembusan angin yang keras. Sekilas terlihat daun dan ranting bergerak dengan sendirian padahl tidak ada angin di sekitar kami. Saya menoleh ke arah Adiatma
“ Dit……apa tu… ( sambil keringat menetes dari kepada saya ). Apa kita di ikuti seseorang “
Adiatma pun menjawab
“ ayo segera…………..cepat bakar buku ini “
Kami bertiga saling merogoh kocek saku untuk mencari korek atau apapun yang bisa menimbulkan api. Untungnya ketemu di saku saya , korek pemberian dari Pak Sukonto untuk membakar barang-barang sebelumnya juga di tempat yang hutan-hutan seperti ini. Saya membicarakan tentang hal yang saya lakukan dengan pak Sukonto. Mereka punya ide untuk mencari lokasi yang sama dengan tempat saya membakar barang-barang sebelumnya. Saya pun membalas mereka
“ Kamu yakin……………..ini tempat yang sama dengan tempat pak Sukonto saya sebelumnya? “
Adiatma pun membalas
“ pokoknya harus YAKIN………… sudah tidak ada waktu lagi.. ada jin dan ahntu yang mengikuti di sekitaran kita “
Angin berhembus dengan kencang malam itu secara tiba-tiba. Tumput bergoyang dengan cepatnya ,kami pun berlari mencari apapun petunjuk tentang itu. yang saya ingat hanya ada pohon dengan 4 sisi dan tanda yang sama membentuk sebuah bentuk persegi. Setelah suara dan hembusan angin yang kencang , mucnulah sekarang sebuah suara orang ketawa
HIIIIIIIHHHHIIII…………..HHHIIIIHHHHHIIII…….HHHIIIIIHHHIIII..
Saya berbicara pada Adiatma dan membenarkan pernyataan dia bahwa kita diikuti hantu dan jin sampai dimanapun sampai buku ini mereka bawa. Entah bagaimana dia bisa tau kita dimana. Dimas yang tadinya berlari dengan kita terjatuh dan mengerang kesakitan. Saya dan Adiatma menghampiri dia dan melihat kalau
__ADS_1
PERGELANGAN KAKINYA PATAHH….
Tangan saya memegangi dahi dan sejenak berkata dalam hati kenapa bisa ini terjadi , saya melihat di sekitar dimas jatuh tak melihat ada apapun benda yang keras dan besar yang bisa membuat pergelangkan kaki Dimas patah separah itu. Dimas sampai menangis karena kesakitan sekali , dan yang jelas dia tidak bisa berjalan kembali dan juga tidak mungkin kita meninggalkannya disini. Adiatma pun tetap mencari sesuatu hal di sekitaran Dimas terjadi dan hasilnya sama , hanya rumput ilalang di sekitaran kami tanpa menemukan sebuah benda besar dan keras. Adiatma berkata kepada saya