
Tiba-tiba hujan turun , rintik-rintik awalnya namun lama-lama semakin deras sehingga memadamkan api tersebut. Dan membuat tanah basah dan kami tidak bisa melanjutkna membakar semua hal yang berhubungan dengan ritual tersebut. Saya bilang ke pada Sukonto
“ bagaimana ini pak?.......tiba-tiba turun hujan. Jangan-jangan mereka tau kita membakar semua ini ?”
Pak Sukonto menjawab
“ tidak masalah govi…kita lihat hampir semuanya sudah terbakar , jangan khawatir…”
saya kemudian berpikir kembali untuk langkah selanjutnya yang akan kami lakukan. Puncak acara ritual ini adalah jam 12 malam. Etnah seperti puncak ritual tersebut tidak disebutkan dalam buku sekte yang say baca, waktu di jam tangan saya menunjukan pukul 23:20 WIB. 40 menit waktu tersisa yang kami butuhkan untuk menyelamatkan teman kami. Saya memberitahu bapak Sukonto untuk mencoba mendekati tembok itu sekali lagi. Kita berlari menuju tembok itu dan rencana kami berhasil. Sepertinya kita telah keluar dari dimensi waktu dan tempat jin yang membuat kami seperti orang tersesat. Tembok terlalu tinggi di atas 2 meter. Toleh kanan dan kiri taka da sesuatu yang bisa menunjang kami untuk naik dan melompat ke atas. Kami terus berlari menyusuri sepanjang tembok pembatas tersebut. Tak juga menemukan sebuah pintu atau apapun yang membuat kami bisa masuk ke balik tembok itu.
Sampai suatu ketika ,saya berlari di belakang pak Sukonto dan ketika berlari menyusuri sepanjang tembok. Kaki saya menginjak sebuah besi atau apapun yang menimbulkan bunyi nyaring dan menggema. Saya tidak tahu apakah itu tapi mana mungkin di hutan seperti ini adalah sebuah besi yang tercecer atau sebuah penutup got karean suaranya mirip. Saya memanggil pak Sukonto yang ada agak jauh di depan saya
“ pak………….pak Sukonto………… berhenti dulu pak.. saya menemukan sesuatu “
Pak sukonto pun membalikkan tubuhnya tapi tidak merespon apapun. Saya memanggilnya sekali lagi
“ pak Sukonto………..pak… “
__ADS_1
Beliau tetap saya hanya menoleh kebelakang tapi tidak membalas sautan saya atau berlari ke arah saya. Dia membalikan tubuhnya kembali kea rah depan dan berlari cepat sekali sampai hanya beberapa kedipan saya dia sudah hilang. Pak sukonto mencoba saya telpon untuk meyakinkan kembali bahwa kita jangan sampai terpisah jauh.
TUUUUUUTTTTTTTT………..TTTUUUTTTT……..TTTUUUUUTTT
( sampai 3 x ) tidak ada jawaban dari telpon pak sukonto. Saya telpon untuk yang terkahir kali dan saya mendengar , suara itu dekat sekali ,semakin lama semakin mendekat. Saya mencari sumber suara tidak ketemu , tapi suara itu seolah-olah mengikuti saya kemanapun saya bergerak. Di malam ,tengah hutan , hujan gerimis kecil yang belum reda dan hanya SENDIRIAN.. membuat saya merinding sampai kepingin pipis rasanya. Saya berteriak lagi
“ PAK SUKONTO……….!!!!!!!!!”
Dari telinga kiri saya seperti ada yang membisiki
“ ada apaaa……xixiiixixii ( suara pelan , mendesah )”
“ AAAAAGggghhhh.,………….AAAAAAggggghh………..apa mau kalian? Saya hanya ingin menyelamatkan teman saya.. PERGI KALIAN DARI SINI!!!!!!......dasar SETEAN JELEK !!! ( dengan nada yang keras dan lantang ) “
Saya tak berani melihat siapa yan menahan saya. Hanya leher saya terasa ada yang memegang dengan kencang dan kulit yang sangat kasar…saya memaksakan diri saya untuk tetap masuk sampe saya bisa lolos karena baju saya sobek. Saya tetap tak bernai melihat ke belakang karena gorong-gorong itu sempit dan hanya muat 1 badan saja. Suara orang ketawa yang nada tinggi masih terdengar di belakang saya. Jalan tiarap saya lakukan tak peduli di sekeliling saya. Pas merangkak sampai di pertengahan , saya terjatuh ke lubang yang mengarah ke bawah dengan bebas. Terpelanting dan terlembar ke sebuah tempat yang kosong dan ada ruangan dengan pintu jeruji besi di pojok.ada suara orang yang merintih-rintih kesaki tan dan meminta tolong
TOLOONGG………TOOLLLOOONGGG……SAKKIIIITTT…SAAKKIIITTTT….
__ADS_1
Jatuh dengan menghempas lantai dengan keras membuat bahu saya sedikit terkilir dengan nyeri yang lumayan menyiksa. Badan ini belum bangkit dari lantai yang ada di ruangan itu. Saya pun mengerang kesakitan dan menahan rasa sakit di bahu. Mata melirik ke kanan dan kiri melihat sekitaran ruangan itu. Di dekat ruangan dengan pintu jeruji besi tersebut. Ada lorong kecil yang pasti mengarah ke suatu tempat. Saya berdiri perlahan untuk bangkit dan menuju ke lorong tersebut. Rintihan sakit dan minta tolong it uterus saut –menyaut tak berhenti. Rasa penasaran muncul dalam hati
“ apaa ya itu……….mengapa ada orang di tempat yang seperti ini ? apa jangan-jangan itu ada setan ? “
Mencoba cuek dan terus berjalan perlahan menuju lorong tersebut. Langkah demi langkah dengan menahan rasa sakit yang berada di bahu ini. Setelah dekat sekali dengan ruang dengan pintu jeruji besi tersebut. Ada yang menjulurkan tangannya keluar jeruji besi dan menggenggam baju saya yang sudah robek sebelumnya. Dari sebelah kanan saya ,ada tangan yang menjulur juga dengan menggenggam lengan baju. Saya bergoyang-goyang dan berusaha untu melepaskna dari cengkraman itu
“ wooyyyy………siapa kalian , saya tidak kenal kalian , tolong lepaskan baju ini “
Ada yang berbicara pada saya dari dalam jeruji besi tersebut.
Tolong kami semua , kami sudah tidak makan seharian , kami akan di jadikan korban untuk tumbal setan yang ada di rumah sakit ini. Rintihan dan ucapan itu membuat saya kaget , mengapa ada tumbal segini banyaknya. Karena yang hanya saya tahu tumbalnya hanya orang yang berada di tengah lingkaran tersebut.benar-benar hal yang diluar dugaan , saya bertanya kembali kepada mereka
“ Kalian siapa…..mengapa kalian ada disini , tumbalnya hanya ada di atas lingkaran yang berada di rumah sakit ( saya sambil menjelaskna hal tersebut ) “
Dari dalam jeruji besi tersebut , ada suara muncul
“ tolong kami adalah para dokter dan perawat yang menjadi tumbal dari ritual rumah sakit ini “
__ADS_1
Dengan membuka mata lebar-lebar. Saya tidak percaya dengan apa yang mereka katakan, banyak korban yang diluar dugaan saya. saya berkeliling pintu dengan jeruji besi tersebut sambil memikiran bagaimana melepaskna mereka semua. Sekilas melihat wajah mereka seperti orang kelaparan bahkan ada yang terkapar semua orang mau sekarat di dekat pintu jeruji besi tersebut sambil menjilat-jilatnya. Jerusi besi yang ada di sebelah kiri saya pun juga berisi para dokter dan perawat yang akan dijadikan puncak tumbak hari ini. Saya bertanya lagi kepada mereka