
Kami berteriak seperti itu dengan mata tertutup. Setelah beberapa menit kami berteriak seperti itu terus, kami mencoba membuka mata dan melihat kea rah sinar senter. Sosok itu sudah hilang dan kami berdiri kembali. Pak Sumaji menoleh kepada saya dan bilang
“ Govi…. Apakah kita akan di terror oleh jin dan setan seperti ini. Jujur saya bisa gila kalau di ganggu seperti ini.”
Saya berkata ke pak Sumaji
“ kuatkan tekadmu dan mentalmu pak. Engkau polisi. Mungkin bapak tidak pernah mendapati akan mengurus kasus seperti ini. Tapi inilah faktanya yang ada dirumah sakit ini. Korban – korban terjadi karena temapt ini digunakan sebagai sekte pesugihan dengan menumbalkan banyak korban. Saya yakin ini masih belum apa – apa. Ayo pak kita lanjutkan untuk mencari pak Sukasto.”
Kami berdua melanjutkan perjalanan dengan pak Sumaji yang masih terlihat shock karena ketakutan. Lorong itu terasa panjang sekali bagi saya. seperti lorong yang tidak berujung. Tapi saya yakin bahwa jalan tersebut lewat sini. Sepanjang lorong tersebut, ruangan kamar yang ada di sebelah kiri saya terlihat tertutup rapat sekali dengan gelap gulita jika terlihat dari kaca. Pak Sumaji menepuk pundak saya dengan agak keras untuk tidak usah melihat hal yang aneh – aneh. Di depan kami tepatnya 50 meter, terdapat suara gedoran kaca dari dalam. Bahkan ketika saya senteri dari kejauhan terlihat getaran kaca itu begitu keras dari dalam seolah ada yang menggedor dengan keras dan ingin memecahkan kaca tersebut.
DOOORRRR…….DDDOOOORRR……DDDOOOORRR
Suara tersebut tersu terdengar dari pelan dan lama – lama semakin keras. Kami berdua tak mau melihatnya kembali dan memilih untuk berlari secepat mungkin. Pak Sumaji berlari di depan saya tanpa melihat saya yang ada di belakangnya. Ketika kita berlari pas di sebelah akca tersebut. tiba – tiba kaca tersebut pecah dan pecahannya mengenai pak Sumaji di leher dan kakinya. Pak Sumaji secara reflek jatuh tersungkur terkenal hantaman pecahan kaca tersebut. saya langsung menghampiri pak Sumaji dan mengangkat beliau untuk segera meninggalkan tempat tersebut. saya bilang kepada pak Sumaji
“ Bagaimana pak ? apakah bapak baik – baik saja. Sebentar pak saya ambilkan kain putih di leher bapak ( terlihat darah mengucur agar deras dari sisi leher sebelah kiri ).”
__ADS_1
Pak Sumaji terlihat mengerang kesakitan bukan hanya di leher saja. Tapi terlihat dia juga memegangi kakinya yang seperti terkilir. Pak Sumaji bilang ke saya
“ Aduuhh..Aduuhh. Govi coba lihatkan kaki kanan saya, kenapa terasa perih dan nyeri sekali. Ini saya buat berdiri agak sulit.”
Saya melihat bagaimana keadaan kaki pak Sumaji. Terlihat ada pecahan kaca yang lumayan besar masih menempel pada kulit kaki pak Sumaji. Saya bilang kepada pak Sumaji untuk menahan rasa nyeri dan sakit sebentar karena akan mencabut kaca tersebut. ketika saya Tarik kaca tersebut, pak Sumaji teriak lumayann keras dan saya juga melihat kaca ini masuk agak dalam ke kulit. Dan juga terlihat seperti memar terkena hantaman benda tumpul. Anehnya padahal di sektiar ini tidak terlihat ada batu atau benda lain. Saya membantu pak Sumaji untuk berdiri kembali dan bilang kepadanya untuk menahan rasa nyeri dan terus bertahan. Pak Sumaji semakin lama semakin muak dengan kondisi ini. Dia bilang kepada saya
“ Govi. Ayo kita datangi setan itu, saya sudah capek dan muak dengan mereka. Mereka pasti ada di balik kaca yang pecah tersebut ( sambil berbalik, berdiri dan menuju kea rah bangunan dengan kaca pecah tersebut ).”
Pak Sumaji berteriak ke dalam arah kaca yang pecah sambil melempar pecahan kaca yang arah dalam. Saya juga berteriak agak para jiin dan setan itu keluar dan tidak menganggu kami lagi. Kami berdua menyenteri tempat tersebut dan tak terlihat ada apa – apa. Sampai beberapa menit kita melihat sekeliling ruangan tersebut dengan senter, ada kepala tiba – tiba muncnul dari bawah kaca itu dan kami kaget, reflek tersungkur mundur ke belakang. Pak Sumaji terlihat takut sekali tapi tetap menantang dengan melempar pecahan kaca ke arah wajah makhluk yang rusak itu. Ketika saya menyinari wajah tersebut, terlihat wajahnya begitu rusak, mata terlepas, hidung tinggal separuh, bibirnya robek sampai ke telinga. Entah makhluk apa itu yang terlihat di kami. Kami berdua melempari dengan kaca karena rasa pegal dan jengkel pas itu. Kepala itu terlihat diam saja ketika kita melempari dan dia mengarahkan mulutnya ke arah tembok dan terlihat memakannya. Saya bicara kepada pak Sumaji
“ setan ini gila pak.. ayo kita segera berlari pak.. kita ahrus cari hal yang lebih besar untuk melawan atau memukulnya.”
“ lihat pak Sumaji. Itu gudang yang saya ceritakan. Coba juga lihat pak Sumaji, ternyata benar dugaanku. Selama ini kita ditipu oleh mereka kaum jin. Ayo pak segera mungkin kita menuju ke gedung ini.”
Terlihat pula ada kamar Adiatma yang sebelumnya kita kunjungi. Pak Sumaji melihat kembali kepadaku dan mengatakan apakah yakin dengan apa yang saya lihat. Saya meyakinkan bahwa itulah tempat tujuan kita. Entah kenapa saya yakin, temapt itulah kunci dan kita bisa menemukan pak Sukasto disini. Saya tak sengaja menoleh ke arah bawah tepatnya kaki pak Sumaji. Terlihat darah masih mengucur deras. Dan saya menawarkan pak Sumaji untuk mengikatnya dengan kain seadanya untuk menekan darahnya. Ketika pak sumaji mengangkat celananya yang sudah basah dengan darah, terlihat sudah biru dan memar. Pak Sumaji bialng bahwa dia masih kuat dan tetap berjalan. Kami berlari menuju ke gudang tersebut dengan terus melihat kondisi sekeliling.
__ADS_1
Saya melihat bahwa pintu gudang tersebut terbuka, padahal belum ada yang pernah kesana. Kami langsung masuk ke dalam gedung tersebut tanpa lagi menoleh ke kanan dan ke kiri. Saya merasa ada hawa dingin yang mengikuti saya di belakang. Ketika kami membuka pintu gudang lebih lebar
KRRRIIEEEKKK……KIIRRRRIIIEEEKK…..
Terlihat hanya ada beberapa tumpukan LEMARI dan BEKAS KASUR rumah sakit yang sudah tua dan usang. Terlihat juga ada beberapa jaring laba- laba di atas dan di pojok ruangan seakan tidak pernah dibersihkan. Saya teringat ketika awal pertama ngamar di rumah sakit ini, ada petugas kebersihan yang selalu datang ke gudang ini dan membersihkannya. Meskipun ketika itu hanya dia yang selalu terlihat. Tidak pernah ganti dengan orang lain. Pak Sumaji melihat aku dan berkata
“ Mana Govi… tidak ada apa – apa di dalam ini. Hanya setumpukan barang – barang bekas dan usang saja ( sambil menyinari ruangan sekeliling dengan senter).”
Saya mencoba terdiam dan mencari lubang yang ada di bawah tanah dengan ditutupi besi trails. Dimana pintu tersebut adalah gerabng saya keluar untuk menyelamatkan Adiatma ketika itu. Saya terus berkeliling gudang itu untuk menjelajahi dan mencari petunjuk. Tiba ketika saya jalan, ada tetesan dari atas yang baunya sangat amis sekali. Tetesan untuk menempel pada baju dan kepala saya. saya langsung menghindar dan binugng tetesan apa ini. Pak Sumaji tau saya terkena tetesan tersebut dan mendekati saya. dia melihat dan memeriksanya dengan lebih jelas. Terlihat hitam pekat dan memang berbau anyir. dia menyuuh saya untuk mengeluarkan kain putih yang ada di tas saya. seketika tetesan itu di usapkan ke kain putih dn terlihat itu sebenarnya adalah
DARAH KENTAL
Saya menoleh ke pak Sumaji dan berkata
‘ Pak. Darimana ya ini pak.. aneh sekali di tempat seperti ini ada tetesan darah.”
__ADS_1
Saya memberikan kode ke pak Sumaji untuk menoleh ke atas. Pelan – pelan menoleh ke atas dan melihat dengan sinar senter yang terang. Dan ternyata itu adalah
MAYAT KORBAN SEKTE PESUGIHAN DENGAN DIPAKU DI ATAS LANGIT – LANGIT.