Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 40


__ADS_3

Saya langsung muntah ketika melihat jajaran mayat yang di paku di atas langit – langit. Pak Sukasto terlihat gemetaran dan duduk tersungkur dilantai seperti tak percaya akan rentetan kejadian ayng dia alami pada malam ini.pak Sumaji terus menyinari langit – langit tersebut dengan senternya ke hampir smeua ruangan. Mengenaskan dan sangat mengenaskan bagaimana keadaannya, ada yang matanya hialng satu, ada yang terlihat dadanya sudah terbuka lebar dan kosong, ada yang kepalany hancur separuh, ada lehernya hilang separuh dna masih banyak yang lain. Saya berpikir apakah karena ini gudang ini di taruh jauh di belakang kamar – kamar pasien dan tertutup rapat selama bertahun – tahun. Saya tak kuat melihat mereka dan baunya semakin lama semakin menyengat semenjak saya tau.pak Sumaji mendekati saya dan berbicara


“ saya sudah biasa melihat mayat seperti ini, yang membuat saya tak habis pikir dan heran bukan main adalah kenapa ada praktek seperti mutilasi ini dilakukan di rumah sakit besar ini dengan banyak sekali pasien. Dan mengapa semuanya baru terungkap sekarang.”


Saya lalu membalas omongan pak Sumaji setelah selesai muntah


“ Maaf pak saya mendadak muntah, karena tak tahan melihat korban seperti ini. Ini jauh lebih parah dari korban – korban sebelumnya. Namun ketika saya melihat sekilas, ini sepertinya adalah korban baru.”


Pak Sumaji membopong saya dan mengajaknya untuk terus mencari pak Sukasto.kami terus berjalan mengitari sekeliling gedung tersebut. setelah beberapa menit berkeliling, belum juga menemukan petunjuk selanjutnya. Sampai suatu ketika, kita melewati sebuah temapt diruangan itu yang mengeluarkan bau menyengat sekali dan baunya berasal dari bawah lantai. Sekilas kami melihat bahwa ruangan tersebut kosong dan tak terlihat ada apapun disana. Kami berdua terus berputar – putar mencair petunjuk karena kami yakin bahwa bau itu berasal dari ruangan ini. Sampai ketika saya berjalan sambil membawa senter, ada langkah saya di salah satu lantai yang punya bunyi nyaring tak seperti lantai yang lain. Saya menghentak – hentakan kaki di lantai tersebut dan bunyinya seeprti ada ruangan berongga di bawahnya. Pak Sumaji langsung mencoba membuka lantai tersebut tapi juga tak bisa terbuka. Sekilas di lihat lebih detail, memang warna dari lantai tersebut paling beda sendiri. Sambil mencoba membuka lantai tersebut, saya mencari petunjuk lain, jika memang ada ruangan dibawah itu, maka seharusnya akses untuk masuk juga mudah. Ketika saya jongkok dan iseng untuk menyenteri pak Sumaji yang mencoba lantai tersebut, saya baru sadar kalau lantai itu mempunyai ketinggian yang beda dengan lantai lain. Ini menjadi peluang kami untuk sedikit mencongkel. Saya memberitahu hal tersebut kepada pak Sumaji dan beliau mencari semacam besi untuk alat mencongkel. Kebetulan peralatan beliau lengkap dengan membawa semacam besi yang memang tidak sebegitu panjang tapi bisa digunakan untuk mencongkel. Ketika kami mencoba mencongkel, lantai tersebut bisa membuka dan ternyata itu adalah


PINTU TRALIS BAWAH TANAH YANG MENUJU KE SUATU TEMPAT


Dan terlihat pula bahwa tak mungkin hanya satu lantai saja yang dicongkel karena tak muat orang. Kita mencoba membuka yang sebalah – belahnya dan memang semuanya mudah dibuka seprti memang sengaja tak di semen atau sebagainya. Pak Sumaji melihat kalau pintu tralis tersebut ada engsel untuk dibuka dan tak berdebu. Pertanda bahwa tempat ini sering dikunjungi atau pernah dikunjungi sebelumnya.


Kami mencoba membuka tralis tersebut dan masuk secara pelan – pelan. Terdapat tanda yang menuju ke bawah, namun ketika di senteri terlihat dia berujung pada suatu tempat yang lumayan luas entah apa itu. ketika smapai dibawah, ternyata bukan tempat yang lumayan luas, hanya ruangan yang cukup ditempati oleh 3 smapai 5 orang. Pak Sumaji membisikkan kepada saya


“ Govi.. kita harus berhati – hati. Kita tak tau potensi bahaya apa yang kita hadapi nanti di depan sana. Jangan samapi ada teriakan atau hal yang membuat suara keras. Hindari suara ketika berjalan.”

__ADS_1


Saya mengiyakan perintah pak Sumaji dan berjalan dengan pelan – pelan. Ruangan temapt jalan kami begitu sempit sampai tak bisa berjalan bebarengan, harus satu di depan dan satu di belakang.kami sengaja tak menyalakan senter untuk menghindari kecurigaan. Ada sedikti genangan air di kaki kami sehingga menyulitkan kami untk berjalan tanpa suara. Di ujung jalan tersebut terdapat pintu yang berbetuk bundar dan terlihat bolong. Mungkin itu menuju ke ruangan bawah tanah. Ketika kami mendekati pitu tersebut, pak Sumaji menyuruhku untuk berhenti sejenak untuk berwaspada. Terdengar ada suara orang berbicara meskipun sangat pelan kedengarannya dari tempat kami. Dari percakapan tersebut terdengan kalau mereka berbicara bahwa air mengalir dari atas. Saya sadar kalau kami ketika berjalan membuat air tersebut begelombang dan mengalir menuju ke pintu keluar itu. pak Sumaji menutup mulut saya dengan cepat dan memberi tanda untuk tidak membuat keributan. Tetap tenagn dan tidak panik. Pak Sumaji sedikit melihat ke bawah untuk melihat ada apa disana dan apa yang terjadi. Dia melihat dengan sangat tajam dan menoleh kepadaku. Dia bilang


APAKAH INI YANG KAMU NAMAKAN TUMBAL SEKTE RUMAH SAKIT


Saya langsung penasaran ketika pak Sumaji bialng seperti itu padaku. Terbesit dalam pikiran bahwa itu hal yang tak lihat ketika saya di ikat dengan Adiatma disuatu ruangan dengan dikelilingi orang berjubah hitam.dan ketika itu pula ada sesosok jin atau setan seperti kuntilanak memakan bayi yang ada di dalam kandungan dan menyedot darah sang ibu.saya bilang dengan bisik – bisik dengan pak Sumaji


“ apakah saya boleh melihat langsung pak ?. saya ingin tahu apa yang terjadi disana, apakah masih ada harapan teman saya Adiatma masih hidup.? “


Pak Sumaji dengan kode menggeleng – gelengkan kepada seperti pertanda bahwa tidak ada yang selamat dari peristiwa tumbal tersebut. pak Sumaji juga tak melihat ada pak Sukasto ada. Dan tiba – tiba


PAK SUKASTO HADIR DIBELAKANG KITA DENGAN MEMBAWA PASUKAN BERJUBAH HITAM DI BELAKANGNYA.


“ Mengapa bapak menangkap kami, kami sampai dititik ini justri ingin menyelamtakn bapak dan membawa bapak pulang. Saya jujur sangat kaget dengan kedatangan bapak dan kejadian ini.”


Pak Sukasto menjawab


“ Kamu tak perlu tau mengapa saya ada disini dan bersikap seperti ini. Kalian membaut saya terpaksa melakukan ini karena mengetahui fakta sebenarnya dari rumah sakit ini.”

__ADS_1


Pak Sumaji seperti tak percaya dengan perkataan atasannya tersebut. ternyata kecurigaannya selama ini benar bahwa ada institusinya yang bersekongkol dan membantu rumah sakit ini sampai kejadian seeprti ini bisa tersusun rapi selama berpuluh – puluh tahun. Saya yang pasrah dan tak bisa apa – apa ketika melawan, pak Sukasto mendekatiku dan berkata


“ Kamu anak kecil, KAMU… yang membuat semuanya ini berantakan. Untuk kami masih bisa menyelamatkan kondisi. Tidak ada lagi ampunan bagimu. Engkau akan mati disini dan tubuhmu akan menjadi tumbal para sesembahan kita.”


Saya sangat pegal sekali ketika pak Sukasto berbciara seperti itu. tak menyangka selama ini pengkhianatan itu dilakukan oleh orang yang sama sekali tak terduga. Saya sesalkan kenapa saya tidak curiga kepadanya ketika dia mau menerima ajakan saya untuk investigasi kerumah sakit ini dan dia rela untuk melepas atribut institusi ketika melakukan investigasi. Pak Sukasti berdiri di depan hadapan kami yang sedang terikat. Dari sebelah kana saya, muncul seorang yang berjalan namun tidak seberapa jelas siapakah itu. dia berdiri di sebelah pak Sukasto dan berbicara kepadaku.


“ Oh ternyata kamu si Govi. Yang dengan lancang akan menggagalkan ritual ini. Sampai menyebabkan rumah sakit ini terbakar hampir separuh bagian. Teman kamu Adiatma sudah menyatu dengan sesembahan kami ( dengan melemparkan jika baju dan celana yang dipakai sama dia ketika terakhir bertemu ).”


Saya sangat emosi dan sedik ketika melihat fakta tersebut. saya mencoba untuk menghampiri sosok tersebut dan menyerangnya. Tapi tubuh ini seperti tak ada daya untuk melawan dan terpaku di ikatan tersebut. dia lalu menambahi ucapannya


“ KAMU….Govii. akan menjadi tumbal utama dari persembahan kali ini. Selain tubuhmu, jiwamu juga akan tergadaikan oleh sesembahan kami. Jangan harap kamu bisa melarikan diri kembali.”


Pak Sukasto menatap tajam kepadaku dan berkata


“ Untung kamu ketika itu datang dengan sukarela kerumah sakit dan malah menawari saya untuk investigasi rumah sakit ini. Saya tak eprlu keluar energy dan pikiran untuk menangkapmu.”


Pak Sumaji yang awalnya dari tadi diam dengan kondisi yang sama denganku yaitu terikat. dia bilang pada pak Sukasto

__ADS_1


“ Benar – benar tak kusangka kalau bapak yang selama ini begitu bijak ternyata adalah dalang di balik semau ini. Saya akan membela atas nama keadilan dan akan mengusut bapak nanti.”


__ADS_2