
Saya mencoba berkata perlahan terhadap orang yang siuman tersebut. pak Sumaji langsung menarik saya dan menyuruh saya untuk diam dan dia yang bicara. Pak Sumaji berkata
“ Tenang. Bapak barusan selamat dari kematian. Bapak ada di ruangan tersembunyi dirumah sakit ini. Bakan akan dibunuh oleh mereka ( sambil menunjuk ke para pejubah hitam ). Mereka akan menajdikan bapak tumbal atas ritual dirumah sakit ini. Kalau saya boleh tau, bagaimana bapak bisa sampai di tempat ini ?. sebelumnya bapak jangan takut atau khawatir, saya dari kepolisian dan siap melindungi anda.”
Orang tersebut hanya diam termenung seperti orang yang hilang ingatan. Entah apa yang mereka lakukan pada orang ini sehingga dia seperti orang linglung. Apa dia sempat mati suri ?. pak Sumaji terus mengajak ngobrol orang tersebut meskipun dia sama sekali tidak merespon, pak Sumaji berharap dengan di ajak berdiskusi terus, bisa merespon saraf pada otaknya untuk kembali mengingat kejadian sebelum ini. Akhirnya orang itu sadar sepenuhnya dan berdiri lalu berkata pada pak Sumaji
“ ( sambil memeluk pak Sumaji ) terima kasih pak. Terima kasih banyak pak.. saya sudah mengingatnya. Perkenalkan saya adalah Daus. Saya disini sedang mau menjenguk keponakan saya yang lagi sakit. Tapi ketika saya masuk rumah sakit dan mencari keponakan saya, saya merasa tersesat dirumah sakit ini dan ada yang memukul saya dari belakang secara tiba – tiba. Saya tak tau siapa itu tapi pukulannya membuat saya benar – benar tak sadarkan ini entah berapa lama. Ketika saya bangun saya berada dalam ruangan yang sempit, pengap dan di siksa sampai saya tidak berdaya melakukan apa – apa. Saya juga ingat ketika itu banyak sekali orang yang diperlakukan sama denganku dan mereka seperti digilir ke suatu tempat dan tak pernah kembali. Sampai suatu saat, giliran saya untuk dibawa orang menggunakan jubah hitam seperti yang lagi pingsan ini. Saya shock, kaget dan perasaan saya campur aduk. Karena takutnya, saya sampai mengompol dalam celana. Saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau saya akan digorok dan organ saya di persembahkan oleh sesosok makhluk entah apa itu, besar tinggi, bermata merah, tangannya panjang dan kukunya juga, bertaring panjang dan matanya merah sekali. Saya tak kuat menahan rasa takut itu dan akhirnya pingsan. Dan ternyata ketika saya bangun, saya melihat bapak seperti sekarang ini.”
Pak Sumaji juga menunjuk ke korban telah di eksekusi. Jujur saya sendiri pun tak kuat untuk melihat kondisi mengenaskan tersebut. pak Sumajji langsung menyeret saya dengan Daus utnuk segera berlari dari tempat ini menuju ke jalan lorong yang satunya. Terlihat ketika kami bertiga akan keluar menuju lorong satunya. Para pejubah hitam sudah ada di depan kami untuk mencegat dan menangkap kami. Daus bilang kepada kami
“ Lewat sini pak Sumaji.. saya tau jalan untuk keluar dari sini ( sambil menunjuk suatu tembok ).”
Tanpa banyak pikir, saya dan pak Sumaji menuju ke arah tembok tersebut dan tak terlihat ada pintu atau akses keluar. Daus mendorong pintu itu yang memang dari luar tidak terlihat seperti pintu. Saya dan pak Sumaji membantu Daus untuk mendorong pintu tersebut dan akhrinya terbuka juga. Para pejubah hitam semakin mendekat dan berupaya untuk menangkap kami dengan cepat. Setelah kami bertiga masuk pintu tersbeut, saya langsung menutupnya kembali dari dalam dan mencoba menahan dengan tangan. Tapi karena mereka jauh lebih banyak. Kami bertiga lari sekencang – kencangnya tanpa melihat kami kebelakang.Daus juga menunjukan tempat dimana dia pertama di kurung sebelum akan di eksekusi. Tempat itu berada di atas ruangan kami sekarang. Dia juga menunjukan akses untuk ke atas melalui tangga yang berada tertutup di belakang tembok. Tiba – tiba terdengar suara yang sangat keras sekali dari belakang kami
__ADS_1
DUUUAAAARRRRR……… GGUUBBRRAAAKKKK
Setelah saya lihat, ternyata pintu rahasia itu jebol oleh dorongan mereka ayng memang sangat banyak sekali ketika itu. Saya yakin mereka berkumpul dari suatu ruangan atau tempat karena jumlahnya yang terus bertambah. Kami bertiga terus menaiki tangga yang berputar. Suara gemuruh itu semakin mendekat dan pertanda bahwa mereka juga semakin mendekat. Pak Sumaji menyuruuuh saya dan Daus untuk naik duluan dengan cepat, sedangkan dia ada di belaakng berjaga – jaga jika mereka ikut naik. Ketika kami sudah berada di pertengahan tangga. Terlihat mereka tau dimana posisi kita dan ikut berlari menuju tunggu lalu menaikinya. Pak Sumaji berkata kepadaku
“ Kamu duluan Govi.. saya akan menyusulmu. Mereka seeprti tidak terbendung jumlahnya. Kita harus ada yang selamat dari tempat ini dan menceritakan semua yang terjadi.”
Saya membalas perkataan pak Sumaji
“ Pak Sumaji. Saya sudah kapok dengan perkataan sok pahlawan seperti itu. Teman – teman saya semua menghilang ketika selesai berkata seperti itu. Ayo pak Sumaji. Kita harus selamat bersama dan menuntaskan ini bersama ( sambil turun sedikit untuk menyeret pak Sumaji segera naik ke atas ).”
“ Daus. Kamu ingat apa tidak siapa saja yang ada di belakangmu ketika giliran tersebut. apakah ada korban lain ataukah kamu yang terakhir ? kira – kira pejubah hitam ada di ruangan itu apa tidak ya ?”
Daus menjawab
__ADS_1
“ Tidak.. masih banyak orang yang ada di belakang saya. tapi jujur saya tidak mengenal mereka semua.tapi yang saya amati, mereka rata – rata anak yang masih muda baik laki – laki dan perempuan. Bahkan ada yang ibu hamil.”
Saya menyebut ciri – ciri Adiatma kepada Daus, dan dia menyebutnya kalau dia teringat dengan orang yang kriterianya saya sebutkan tadi. Seketika semangad saya bangkit dan optimis jika Adiatma masih hidup. Kami bertiga membuka ruangan tersebut dan sekilas melihat. Sepi dan tidak menemukan siapa – siapa disana tapi saya langsung berlari kencang akrena melihat jaket yang dikenakan Adiatma ketika ketemu terakhir. Jaketnya sudah lusuh, kotor dan ada beberapa robekan di jaketnya. Saya mengambil jaket tersebut, tersungkur dan menangis sambil memeluknya. Pak Sumaji melihat di sekitaran ruangan tersebut apakah mereka para pejubah hitam ikut naik ke atas atau tidak. Daus berjalan menuju ke tempatku dan berkata
“ Oh itu temanmu ya ? yang memakai jaket itu. Ya saya tau dia, dia ketika itu ada di sebelahku dan kondisi yang juga denganku seperti habis disiksa.dia orangnya baik sekali dan selalu menyuruhku untuk kabur dan menyelamatkan diri.”
Saya seketika baru itu melihat Daus dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ternyata saya baru sadar, banyak sekali bekas siksaan yang di dapatkannya. Saya membayangkan kalau Adiatma yang ketika itu masih sakit harus di siksa dengan keji seeprti itu. Saya memasukan jaket Adiatma ke dalam tas dan mencoba mencari barang bukti yang lain. Saya mencari barang – barang dari pak Sukasto dan para ibu – ibu ayng menyelamatkan saya. tapi saya tidak menemukan apapun disana. Saya bilang kepada Daus
“ Apakah teman saya Adiatma punya pelaung masih hidup ? kalau memang dia tidak hidup dan sudah di eksekusi, kenapa tidak ada bekas mayatnya di bawah ?”
Daus menjawab kembali
“ Bisa jadi.. dia berhasiil kabur dan masih hidup, karena ketika itu saya melihat semangadnya dia masih ada. Jauh disbanding saya yang sudah tak berdaya. Tapi saya juga pesimis bagaimana dia bisa kabur dari tempat ini ketika para penjaga ada di mana – mana.”
__ADS_1
Terdengar pak Sumaji meneriaki kami
“ Sudah apa belum nostalgia kalian, mereka mulai datang dan naik ke atas, ayo kita segera pergi dari sini sebelum mereka menagkap kita semua. Daus, apakah ada ide atau ingatanmu tentang jalan keluar dari sini ? “