
Saya dan Daus bergegas untuk meninggalkan ruangan tersebut dan mencari jalan keluar dari tempat itu. tas dan jaket dari Adiatma kubawa sekalian sambil mencari petunjuk yang lain. Suara gemuruh terdengar dari bawah tangga, kami bertiga berusaha untuk mencari jalan keluar.kami berlari lurus menjauhi ruangan tersebut tanpa menoleh kembali ke belakang. Daus menunjuk sebuah jalan dengan telunjuknya menandakan bahwa kesitulah arah kita berlari. Sepanajng kami berlari terlihat gelap dan tidak ada pencahayaan sama sekali kecuali senter dari saya dan pak Sumaji. Daus mencoba mengingat – ingat kembali setelah dia menunjuk jalan tersebut sebelumnya. Jujur dalam hati saya, melihat bahwa ruangan ayng kami lewati seperti labirin yang mempunyai banyak jalan kecil. Tak menyangka pula jika di bawah gudang tua ini menyimpan sebuah rahasia besar dan markas rahasia. Pak Sumaji menepuk pundak dari Daus
“ Bagaimana Us ? apakah kamu sudah mengingatnya, kita harus mengambil keputusan dengan cepat karena cepat atau lambat, mereka akan menemukan kita dan menyusul kita disini.”
Daus mencoba mengingat – ingat terus, maklum keadaan sewaktu itu Daus dalam keadaan kurang sadar. Dia teringat dan menunjuk lagi kea rah jalan tertentu. Terlihat pula bahwa jalan yang ditunjuk gelap – gulita tak ada sedikitpun sinar matahari masuk.kami berlari ke arah situ dan saya kaget bukan main karena di depan kami terlihat
MAKHLUK BERTUBUH BESAR, TINGGI, BERBULU DAN MERAH MENCOLOK MATANYA
Saya langsung noleh ke pak Sumaji yang kebetulan ada di belakang saya ketika itu
“ Balik arah pak, kita cari jalan lain. Ada hantu seperti genderuwo di depan kita. Daus ayo balik arah dan berlari sekencang mungkin.”
Daus tertegun seperti tak percaya melihat hal seperti itu. sekali lagi, dia benar – benar ketakutan ketika itu sampai kakinya tak bisa digerakan. Saya langsung memegang tangan Daus dan berusaha menyeretnya untuk segera berlari sebelum kami bertiga dikepung dari kedua arah. Ketika saya mencoba menarik Duas, rasanya seperti berat sekali. Duas ketika itu hanya diam tak berkata apa – apa. Saya bilang kepada Duas
“ Us. Ayo kita pergi dari sini. kamu pengen mati disni ? lihat di depanmu itu,”
Daus menjawab
“ Iyaa Govi ( sambil terbata – bata dan gagap ). Tapi masalahnya, kakiku juga tak bisa digerakan entah kenapa.”
Saya curiga ketika itu, masak hanya karena grogi kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Ketika saya menyinari kakinya Duas dengan senter. Kagetnya saya karena si Genderuwo tersebut sudah memegangi erat. Kami beruda berteriak dan Duas berusaha untuk menarik kakinya sekuat tenaga. Tapi cengkraman itu tak kunjung lepas. Pak Sumaji yang terlanjur berlari di depan kami dan terlihat sudah agak jauh, saya meneriaki dia
__ADS_1
“ Pak..Pak Sumaji.. tolong kami, kaki Daus di tahan oleh Genderuwo ini.”
Pak Sumaji yang untungnya langsung mendenagr dan menoleh ke arah kami berdua. dia langsung berlari menuju kami dan berusaha membantu saya untuk menarik Daus. Saya menunjukan betapa besar tangan yang mencengkram kaki Duas, sampai – sampai kakinya hampir tertutup oleh tangan itu. pak Sumaji mengambil besi panjang di tasnya dan memukulnya dengan keras tangan tersebut. saya kepikiran juga untuk mengeluarkan pisau yang tak buat untuk melepas borgol itu. tangan itu tiba – tiba menyeret Daus ke dalam dan tangan Daus menggengam tangan kami lalu berkata
“ Pak Sumaji, Govi.. tolong saya. saya tidak mau di makan oleh dia.”
Sembari pak Sumaji memukul tangan tersbeut, saya mengeluarkan pisau dan mengirisnya dengan sekuat tenaga kek tangan itu. pak Sumaji yang tak seperti kehabisan akal. Menembakan pistolnya kearah tangan tersbeut berkali – kali dan tangan itu putus. Tanpa banyak pertimbangan dan basa – basi, kami bertiga langsung lari ke luar lorong tersebut. Daus berlari agak terbata – bata karena tangan tersebut masih menempel pada kakinya dan belum bisa dillepas. Terdengar suara gemuruh orang berlari ada di depan kita, saya bilang kepada Daus
“ Tahan sakit kakimu US, kita harus berlari lebih cepat dari mereka yang ada di depan, atau kita semua akan menjadi tumbal bagi mereka. Tolong bertahanlah, saya janji akan melepas cengkraman tangan yang ada di kakimu.”
Daus menganggukan dan dia bilang kalau akan berjuang semampunya dan sekuatnya dia berlari. Pak Sumaji langsung belok ke arah kiri setelah keluar dair lorong tersebut. saya dan Daus pun ikut pak Sumajji dari belakang tanpa banyak bertanya kembali. Pak Sumaji bilang kepada saya
Saya pun tak banyak protes dan bertanya waktu itu meskipun sayang jika meninggalkan senternya disini. Saya menaruh senter dan menyinarnya kea rah berlawanan dari arah kami. Kami lanjut lari sembari mencari jalan keluar dan tempat aman. Ketika berlari, saya melihat ada benda aneh disitu yaitu sebuah lemari yang ada di sebuah ruangan di kanan saya. saya merasa kalau ada bau menyengat disitu. Saya berinisiatif untuk memanggil pak Sumaji dan mencoba membuka lemari tersebut. harapan saya ada petunjuk di balik lemari itu.pak Sumaji berkata kepada saya
“ Kita tidak punya waktu utnuk melakukan hal yang tidak penting Govi.. yang petning disini adalah kita keluar dengan selamat dan saya akan meminta bantuan.”
Saya berkata pada pak Sumaji
“ Saya merasa ada hal yang aneh dan saya yakin pak, ada petunjuk di balik lemari itu. kebetulan juga mereka para pejubah hitam tak terdengar suaranya mengikuti kita. rencana pak Sumaji berhasil mengelabui mereka.”
Saya melihat Daus tak berkata apa – apa dan hanya mengikuti segala rencana saya dan pak Sumaji. Sepertinya dia masih menahan rasa sakit di kakinya dan tangan yang sangat mengganggu. Pak Sumaji balik bertanya kepadaku
__ADS_1
“ Ehmm… apa kamu yakin ? karena ketika kita salah mengambil keputusan, maka habislah kita. saya takut disitu ada para pejubah hitam yang menyamar.”
Saya berkata
“ Jika ada pejubah hitam dibalik itu, saya siap untuk menusuknya dan bapak bisa menembaknya seketika.”
Pak Sumaji mencoba mendekati pitnu tersebut sambil saya ada di belakangnya. Pintu lemari itu desain zaman kuno dengan gembok yang terlihat di depan. Pak Sumaji mengeluarkan besi ayng tadi dibuat mukul tangan untuk membuka gembok itu. dipukulkan gembok tersebut
BRAAKK..BRAAAAKK………BBBRRAAAAKKK… DAAAARRRR ( jatuh kebawah )
Gembok bisa lepas dan pintu lemari dibuka perlahan – lahan
KRRIIIEEEEEKKKKK…..KKKKKRRRREEEEKKKKKK
Saya langsung lompat ke belakang karena saking kagetnya. Begitu pula ekspresi si Daus ayng kaget pula melihat isi lemari itu. lemari itu ada beberapa mayat yang berbau busuk sekali tapi pak Sumaji bilang tidak ada bekas luka atau korban tumbal. Kemungkinan mereka yang bersembunyi dan terjebak disini. Tapi saya berpikir pula karena kenapa jika mereka snegaja bersembunyi disini, ada gembok terkunci dari luar. Apa ada orang yang sengaja menguncinya dari luar ? saya tak kuat menahan baunya dan kahirnya mutah bersama Daus pula. Kami menjauh dari tempat itu dan melihat agak jauh. Pak Sumaji mungkin sudah terbiasa dengan hal ini sehingga dia menaggapinya dengan santai. Tanpa bingung atau takut sekalipun. Pak Sumaji bilang.
“ Govi.. lihat orang yang saya senteri, cepat lihat kesini, kamu yang meminta saya untuk membukanya dan sekarang giliran kamu melihat, apakah ada orang yang kamu kenal yang bisa di jadikan bukti atau petunjuk kita.”
Saya tak berharap petunjuk yang saya cari itu ternyata seperti ini. tapi apa boleh buat karena apa yang dilakukan oleh pak Sumaji adalah semua permintaanku. Duas pun memegang pundakku dan berkata
“ Mas.. apa benar, kamu mau lihat mayat itu satu persatu. Lihat sebagina dari mereka ada yang sudah membusuk ( sambil mutah di sebelahku ). Tapi saya mohon mas, lihat baik – baik mereka, apakah ada yang kamu kenal. Apa ada temenmu yang namanya Adiatma juga.”
__ADS_1