
Saya kaget ketika Adiatma berkata seperti itu. saya reflek langsung menoleh ke belakang dan ada pak Sukasto yang menghempaskan tangann dengan keras. Saya terlempar dan terkena Adiatma. Akhirnya kami berdua tersungkur cukup jauh sampai membuat dada saya sakit sekali. pak Sukasto berdiri sendiri dengan mulut yang berwarna merah seperti darah. Tak terlihat ada Rendi yang biasanya selalu berada di sampingnya.kami terlempar ke pohon – pohon palm yang ada di taman tersebut. Adiatma membentur batang pohon sampai kepalanya berdarah, tapi dia masih sadar. Saya berkata kepada Adiatma
“ Dit.. bagaimana keadaanmu, lihat kepalamu berdarah cukup deras.”
Adiatma menjawab
“ oke gpapa tenang saja ( smabil memegangi kepalanya ). Ayo kita seger lari dari sini. kita tidak akan bisa selamat melawan mereka.”
Pak Sukasto memandangku dengan bengis seperti hewan buas yang kelaparan.para pejubah hitam datang dengan hentakan sepatu yang keras. Mereka datang sambil mendobrak pintu yang tempat saya dan Adiatma keluar sampai jebol. Pak Sukasto berkata kepadaku
“ Kalian akan menjadi tumbalku yang terakhir. Aku akan mencari kalian kemanapun.”
Saya dan Adiatma langsung berlari sejauh – jauhnya. Adiatma yang terlihat masih pusing pun tetap berlari menghindari mereka semua. Adiatma bilang kembali kepadaku
“ Govi. Kita lari kemana ini. coba kita lari ke arah pintu keluar, semoga kita tidak lagi tersesat seperti dulu.”
Saya langsung berlari ke arah pintu keluar dengan berlari sekencang – kencangnya.suasanya ketika itu angin yang cukup kencang dengan sinar yang minim sekali. aku tidak membawa senter dan Adiatma juga tidak ada. Kami hanya mengandalkan sinar rembulan saja karena kami masih berada di taman tengah rumah sakit. Saya masuk lagi ke bangunan rumah sakit tersebut dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Terlihat pula bagian bangunan bekas kebakaran masih ada ketika menoleh ke arah kanan. Saya langsung menuju ke arah pintu keluar lalu mencoba membuka pintu tersebut. Anehnya, pintu tersebut terkunci rapat dan susah sekali untuk dibuka. Suara langkah kaki mereka semakin keras pertanda ada di dekatku. Saya mencoba melempar apapun untuk memecahkan kaca tersebut. tapi pintu itu juga tak kunjung bisa membuka. Adiatma merasa terlalu lama di tempat tersebut dan memberitahuku untuk mencari pintu keluar yang lain. Saya berkata kepada Adiatma
“ Dit.. ayo kita cari pintu yang ke arah belakang saya, yang tembusan ke arah belakang rumah sakit. Saya ingat ada pintu disitu. Nanti kita dobrak jika digembok atau tidak bisa dibuka.”
Saya langsung berlari menuju ke pintu belakang, tapi kondisi ketika itu gelap sekali dan aku tak bisa melihat apapun. Saya mencari apapun yang ada di tas pak Sukasto barangkali ada sesuatu yang bisa digunakan sebagai pengganti senter. Ketika beberapa menit mencari. Saya menemukan sinar helm yang biasanya dibuat untuk mendaki gunung. Saya memakainya di kepala dan bisa melihat apa yang ada di depanku. Adiatma tak suruh untuk selalu dibelakang dan mengikutiku. Kami berlari mencari jalan untuk ke pintu. belakang tanpa bertemu mereka para pejubah hitam. Pak Sukasto seperti melihat ketika kami berlari untuk mencari pintu tersebut. dia langsung berteriak dengan keras
KEJARR MEREKA SEKARANG DAN SERAHKAN KEPADAKU
Para pejubah hitam langsung mengejar kami berdua dengan cepat. Mereka mencoba menghadang kami. Kami berdua berlari dengan kencang dan Adiatma bilang kepadaku
__ADS_1
“ Lewat pintu itu Govi. Masuk ke ruangan perawat, disitu ada ruang rahasia yang bisa menghubungkan ke penjara bawah tempat dokter – dokter waktu itu. cepat langsung kesana, sudah tidak ada waktu untuk memutar ke belakang.”
Saya menjawab
“ Hah, dari mana kamu tau Adiatma ? “
Adiatma menjawab kembali
“ sudah jangan banyak tanya dulu, nanti akan ku kasih tau. Yang penting ketika masuk pintu ruang perawat itu, langsung menuju ke toilet dan dibawah itu ada lantai yang bisa dibuka dan menuju ke ruang bawah tanah.”
Saya langsung membuka pintu tersebut dan menuju ke toilet ruangan perawat. Dan ketika di toilet saya mencari pintu yang katanya ada di lantai. Adiatma datang dari belakang dan menunjukan posisi pintu itu. kami berdua mengangkatnya dan sangat berat sekali pintu itu. ketika pintu terbuka lebar, ada tangga yang lumayan panajng menuju ke suatu tempat yang tak terlihat ujungnya karena gelap kami berdua menuruni tangga tersebut dan menutup kembali pintu yang berat itu. pas pintu tertutup, senter yang ada di kepalaku tak cukup untuk menyinari tangga tersebut, kami berjalan pelan –pelan dengan suasana yang sangat sunyi sekali, bahkan suara hewan pun tak terdengar disini. Dari atas kami terdengar
DUGG ……DDUUUUGGG………..DDUUUUGGGG…..
DEEEGG…DDEEEGG……..DDDEEEGGGG….
Pelan – pelan menuruni, akhirnya kami sampai di ujung tangga. Suasana juga tetap sama yaitu sunyi. Saya berkata kepada Adiatma
“ Dit.. ini terus kemana setelah ini ? kamu sebelumnya pernah kesini kan ? ini jalannya bercabang, kita ambil jalan yang mana ?”
Adiatma terlihat seeprti kebingungan, padahal seharusnya dia pernah kesini. Dia menjawab kembali perkataan saya
“ sek sebentar, kok aneh ya. Seingatku, ketika menuruni tangga ini, seharusnya langsung lorong lurus dan menuju tempat penjara yang luas itu. tempat kita membakar buku sekte.”
Hati saya langsung panic dan bingung, keringat keluar dari kening dan jantung berdegub lebih kencang dari biasanya. Saya nekat untuk mengambil keputusan ke arah kiri dan terus berlari. Adiatma mengikutiku dan kita mencari ruangan penjara yang besar tersebut. tapi kita cari – cari juga tidak menemukan tempat itu. berputar – putar beberapa kali tapi belum juga menemukan tempat penjara tersebut. sampai suatu ketika terdengar orang ketawa di belakang kami dengan pelan
__ADS_1
HIHIHIIHI……IXIXIIXIXI……HIHIHIHI
Pelan – pelan dan lama – lama menjadi kecang. Senter dikepala saya arahkan ke sumber suara tersebut, ernyata itu buka seperti yang saya duga yaitu para pejubah hitam. Melainkan tidak ada sosok siapapun disana. Kami melanjutkan untuk mencari lokasi tersebut. setelah suara tersebut ada suara yang aneh kembali. Adiatma mulai merasa ada yang mengikutinya dibelakang. Dia berkata
“ Gov.. sebentar, jangan cepat – cepat kalau jalan. Ada ayng ngikuti kita di belakang. Kamu apa gak dengar, suara langkah kita lumayan keras. Padahal kita cuman berdua.”
Saya mengajak Adiatma untuk berjalan kembali dan setelah beberapa langkah, memang terdenagr ada suara lain selain suara langkah kita. saya lagi – lagi menyoroti sinar senter kea rah belakang saya. dan hasilnya sama, tidak ada siapa – siapa. Saya berkata kepada Adiatma
“ Dit.. ya aku tadi mendengar seperti ada ayng mengikuti kita dari belakang. Tapi kamu tau sendiri, ketika sorot lampu senter tak arahkan ke arah sumber suara tidak ada apapun disitu. Kita harus berhati – hati. Akus udah sedia alat untuk memukul di tas ini punya pak Sumaji.”
Ketika saya membalikan arah ke depan kembali, tiba – tiba muncul sosok pocong dengan wajah yang rusak setengah, mata yang copot sebelah sambil mengeluarkan air liur yang ketika jatuh seeprti berasap. Kami berdua teriak sekencang – kencangnya
AAHHHHHH….AAHHHHH.,……AAHHHHHH
Saya berkata kepada Adiatma
“ AYOO LARI DITT.”
Adiatma berlari di depanku tanpa menoleh kembali ke belakang. Lalu Adit menoleh sedikit ke belakang dan berkata
“ Kamu di depan Gov. aku gak bisa melihat apapun ini.”
Adiatma langsung berhenti dan menoleh ke arahku. Saya berteriak kembali dengan keras
AHHHH…………AAHHHH…AAHHHH….. PANAAS….SAAAKIIITTTTT……
__ADS_1