Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 37


__ADS_3

Mendengar pembicaraan yang disampaikan ke saya, saya langsung mengiyakan dengan tegas bahwa saya tidak akan terlambat bahkan saya akan datang lebih dahulu daripada mereka. Di sisi lain saya berbicara hal lain terhadap pak Sukasto


“ Pak. Sekedar informasi tambahan. Saya tadi melihat sesosok setan / jin yang mirip seeprti kuntilanak yang pernah saya lihat sebelumnya di rumah sakit tersebut. saya melihat kuntilanak itu ada di depan pintu masuk rumah sakit yang bagian tidak terbakar. Dia terlihat melambaikan tangan ke saya dari sisi dalam pintu masuk. Saya mohon kita semua nanti akan lebih berhati – hati dan saling menjaga. “


Saya langsung berangkat tanpa menunggu 10 menit kemudian seperti yang dilakukan kedua polisi tersebut. saya bergegas dan ngebut di jalan. Ketika saya mengebut, ada hal aneh yang seeprti membuntuti saya dari belakang, bahkan sekilas saya melihat seperti pak Sukonto mengendarai motor dengan istrinya di samping saya dengan berwajah pucat sekjali dengan tanpa ekspresi dan tidak menggunakan helm, Sontak saya langsung tak menoleh dan melihatnya, bulu kuduk langsung berdiri di sekitaran leher. Saya tak mau menoleh ke kanan atau ke kiri lagi meskipun saya merasa di sisi kiri saya juga ada hal aneh karena rasa merindingnya hampir sama.


Tibalah saya di depan rumah sakit tersebut dan menunggu kedua polisi tersebut. Akhrinya polisi tersebut Nampak sudah datang dan mendekati saya. lalu pak Sumaji turun dari motor dan bilang kepada saya


“ Lohh. Cepat sekali kamu datangnya ? padahal tadi kamu menelepon saya untuk datang terlambat karena ada keperluan mendadak. Jangan mempermainkan saya ya kamu. Kamu pikir, kami berdua takut ke tempat ini sendiri.”


Saya membalas omongan dari pak Sumaji


“ Mohon maaf sebelumnya. Bapak bilang kalau say menelepon bapak ? daritadi HP saya ada di tas pak dan saya tidak menelepon bapak semenjak bapak menelepon saya tadi ketika dirumah. Tapi saya berpikiri, seperti penghuni rumah sakit ini ada yang tak suka kita bertiga datang kesini.”

__ADS_1


Pak Sumaji langsung melihat ke arahpak Sukasto dan memberikan kode kalau apa yang dikatakannya ke saya adalah hal yang benar dan bukan sebuah kebohongan. Pak Sukasto menambahi apa yang di omongkan pak Sumaji kepadaku


“ Gov.. jika benar kamu tidak menelepon saya ( sambil menoleh ke arah rumah sakit ). Berarti memang ada makhluk yang tidak suka melihat kedatangan kita.”


Saya membenarkan perkataan yang disampaikan oleh pak Sukasto. Tapi pak Sumaji masih membantah hal tersebut dan tetap bersikukuh bahwa saya mencoba menggodanya. Pak Sumaji memang tidak pernah bertemu atau merasakan hal – hal aneh yang berhubungan dengan jin atau setan. Jadi membuatnya selalu tidak mempercayai hal – hal tersebut. Pak Sukasto langsung mengajak kami bertiga untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut. saya melihat bahwa sepertinya pak Sukasto sudah tidak asing dalam menghadapi kondisi seperti ini dan juga mungkin pernah mengalami hal – hal ang berbau mistis sebelumnya. Saya melihat bagaimana tadi siang dilihatkan sebuah penampakandi pintu depan yang terdiri dari kaca. Saya melangkah perlahan di belakang mereka berdua. Pak Sukasto membuka pintu masuk tersebut


KRRIIEEEKK………KKKRRIIIIIEEEEKKK………..


Pak Sumaji bingung kenapa ada suara keika membuka pintu tersebut. padahal tidak terkena imbas kebakaran dan rumah sakit ini relative baru di bangun. Suaranya seperti tidak eprnah dibuka selama 20 tahun.Pak Sukasto selalu ada di depan dan di ikuti oleh kami yang ada di belakang.Pak Sukasto mencoba menyalakan senter untuk melihat sekeliling. Terlihat ada bagian yang bekas terbakar dan tidak terbakar. Saya yang melihat kenangan yang saya rasakan dengan Rudi dan Dimas kemarin pagi. Saya berkata pada pak Sukasto


Pak Sumaji menunjuk lokasi ketika dia melakukan evakuasi mayat tadi. Ketika kami bertiga menuju ke tempat evakuasi yang banyak memakan korban.Pak Sumaji juga menunjukan letak letak mayat tersebut. dia juga berkata bahwa ada hal yang aneh yaitu mayat – mayat korban kebakaran tapi hanya sedikit sekali yang mengalami luka bakar, malah kebanyakan dari mayat – mayat tersbeut mengalami luka seperti mutilasi. Usu terburai keluar, mayat tanpa kepala, dada sobek dan jantung keluar. Dia menyebutkan kalau ini seperti korban pembunuhan sadis. Tapi dia menyebut bahwa hal tersebut tidak mungkin bisa di sampaikan di kalangan umum karena akan menimbulkan kesan yang mengerikan. Pak Sukasto juga mengiyakan apa yang di sampaikan oleh pak Sumaji.


Saya jalan dan menunjukan kepada mereka lokasi dimana kamar teman saya ketika di rawat di rumah sakit tersebut. kami berjalan di sepanjang lorong yang di liputi dengan hawa yang sama seperti sebelumnya, angin malam yang berhembus kencang, pohon palm yang melambai – lambai. Dan ditambah kondisi lamput yang mati total. Sesekali terdengar seperti suara tetesan air dan air mengalir. Terlihat kedua polisi tersebut sudha muali panic dan tidak nyaman dengan kondisi tersebut. ada sebagian kamar yang terbakar dan hancur bangunannya dan ada juga bangunan kamar rumah sakit yang telrihat masih bersih bahkan abu gosong dari asap kebakaran tidak menempel pada temboknya. Kami berdua jalan perlahan dan terdengar suara ayng kami bertiga mendengarnnya

__ADS_1


KREEEEEKKK……………..SRREEEKKKK…..SSREEEKKKK


Seperti suara seretan orang berjalan atau mengesot. Kami bertiga saling mendekat dan melihat sekeliling dengan senter. Tapi taka da apapun di sekitaran kami. Pak Sumaji sudah mulai tidak nyaman dan meminta untuk kembali dan kelaur dari rumah sakit tersebut. kira – kira di depan kami 10 meter, terlihat ada sebuah pohon palm yang ada bercak darah ayng sangat banyak sekali sampai – sampai batangnya tertutup hampir 50 persen berwarna merah darah. Ini tempat yang saya sebelumnya tidak pernah lihat karena ketika saya menunjukan jalan kepada kedua polisi tersebut. lama – kelamaan lokasi itu seeprti berubah dan kita berada di tempat yang saya saja tidak mengetahuinya. Saya bilang kepada mereka


“ pak maaf sebelumnya. Apakah bapak merasa bahwa kita ini seperti di sesatkan di suatu tempat. Pak Sukasto sadar apa tidak kalau jalan yang say tunjukan tiba – tiba berubah. Seingat saya, sepanjang lorong ini adalah gedung kamar di sebelah kiri dan kanan adalah pohon palm. Mengapa setelah kita melihat batang palm yang berwarna merah tersebut, di belakangnya ada gedung. Kita harus saling mendekat pak. Jangan ada yang saling menjauh. “


Pak Sukasto menjawab


“ saya merasakan mereka tidak suka dengan kedatangan kita Govi. Saya tidak akan menyerah sampai saya mengungkap ini semua.”


Pak Sumaji juga menanggapi hal tersebut


“ Sejujurnya saya baru tau ada hal mistis seperti ini. Tubuh saya merinding dari awal masuk ke tempat. Saya tidak melihat lokasi ini ketika mengevakuasi mayat. Entah apa aygn terjadi. Bangunan rumah sakit ini seperti menyimpan sebuah rahasia terdalam.”

__ADS_1


Pak Sumaji menyenteri saya untuk memastikan bahwa saya ada di dekatnya. Ketika dia menyenteri pak Sukasto yang baru saja berbicara. Saya tidak melihat keberadaannya. Bahkan pak Sumaji langsung bingung. Kemana perginya atasannya tersebut. saya bilang kepada pak Sumaji


“ Gawat pak. Pak Sukasto hilang. Jangan – jangan diculik oleh makhluk yang pernah pernah saya temui sebelumnya. Saya takutnya, sekte itu masih masih berlangsung meskipun bukunya sudah saya bakar habis.”


__ADS_2