Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 9


__ADS_3

.Jarak pohon palm ke pint sekitar 10 meter dengan ada balkon lorong 1 meter sebagai pembatas Saya mengkode Adiatma dengan dengan mencubit , dia langsung menoleh ke saya dan saya bilang untuk coba lihat pohon palm itu seperti ada orang asing yang mengamati. Adiatma melihat dan tidak melihat apa-apa ,padahal saya yakin ada yang melihat


Adiatma kembali beristirahat di Kasur dengan infus yang juga masih terpasang. Setelah Adiatma beristirahat kembali saya menutup pintu pelan-pelan dan tidak bernai memandangi pohon palm tersebut. Saya pastikan lagi bahwa gorden-gorden sudah tertutup karena waktu sudah menunjukan pukul 19:00 WIB. Sampai waktu isya mau masuk , saya kepikiran mengapa tidak ada perawat atau dokter berkunjung lagi padahal teman saya bisa dibilang sakit yang DB dan thypus yang seharusnya dirawat secara intensif. Saya berinisiatif untuk memencet tombol untuk memanggil perawat yang ada di belakang Kasur Adiatma.

__ADS_1


TEEETT……..TTTTEEEEETT……..TTTEEEETT…….


15 menit berlalu perawat juga belum datang , saya pencet lagi dan 10 menit kemudian juga belum muncul juga perawat yang datang ke kamar. Rasa penasaran dengan perawat ini karena dipanggil beberapa kali dan tidak ada jawaban , saya ngomong pada Adiatma untuk saya tinggal sebentar memanggil perawat. Namun baru pertama kali saya melihat wajah Adiatma seperti ketakutan ditinggal sendiri di kamar. Saya mencoba ngomong dengan Adiatma apakah dia kuat untuk saya ajak ke ruang perawat , dan Adiatma langsung menunjukan semangadnya untuk ikut saya tapi dari wajahnya sepertinya rasa takut mengalahkan rasa sakitnya . sebelum saya membuka pintu , saya membuka gorden sedikit untuk melihat kondiis di depan kamar. Terlihat gelap dan hanya sinar rembulan yang menerangi , OK akhirnya saya dan Adiatma memberanikan diri untuk membuka pintu , Adiatma sudah bersiap untuk keluar dengan duduk di kursi roda.

__ADS_1


ketika langkah pertama kaki saya , yang saya lakukan adalah menoleh ke kanan dan saya tidak melihat orang berjalan sama sekali sama seperti tadi siang , lampu yang terlihat meredup di beberapa bagian lorong , ada lampu yang mati hidup ,angin dingin yang berhembus pelan di sekitar lorong dan pohon. saya keluar dengan mendorong kursi roda Adiatma dan saya tutup pintu sebelum keluar. Berjalan agak cepat sepanjang lorong , saya tidak memberanikan diri untuk menoleh kanan kiri sepanjang lorong karena merinding ini sudah muncul ketika awal membuka pintu , ketika sudah sampai di ruang perawat , saya melihat ada beberapa perawat tapi kenapa tidak ada yang merespon , dengan hati yang sedikit emosi saya menghampiri perawat dan bilang


“ sus , 30 menit yang lalu saya memanggil melalui tombol perawat di kamar sebanyak 2 kali setiap 15 menit tapi tidak ada perawat yang datang ,apakah perawat disini pada takut untuk berkunjung ke kamar pasien? Dan juga mengapa tidak ada dokter berkunjung lagi dan hanya tadi pagi saja berkunjung “

__ADS_1


Perawat yang ada di ruang perawat menjawab dengan terlihat seperti orang pucat dan was-was , dia menjelaskan bahwa perawat baru saja datang dari beberapa kamar kelas II lainnya. Saya tidak percaya dengan perkataan tersebut dan Adiatma pun mempertanyakan hal yang sama dengan saya , tapi tetap saja perawat itu menjawab dengan kesibukan.Saya yang awalnya memendam rasa sebal langsung mengungkapkan kemarahan saya yang seperti tidak dihargai


__ADS_2