Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 46


__ADS_3

Ternyata pak Sumaji baru menyadari pula jika Daus tidak terlihat di dekat saya. saya menoleh ke kanan dan ke kiri meskipun dengan kepala yang agak pusing sekali ketika itu. Kesadaranku masih belum pulih dan melihat pak Sumaji belum jelas. Ketika kesadaran saya mulai penuh, saya melihat kening dari pak Sumaji berdarah dan mata kirinya bengkak seperti terkena hantaman benda tumpul. Saya langsung memegang kepala saya karena pusing. Ketika tangan saya memegang kepala saya, terasa ada yang basah – basah dan berbau amis. Ternyata kepala saya mengalami luka sehingga berdarah cukup deras. Pak Sumaji juga membawa peralatan pengobatan dan mengikat beberapa bagian kepala saya yang terluka. Daus juga belum ditemukan, padahal seharusnya dia ada di sebelahku ketika terpental. Pak Sumaji lalu berkata kepada saya


“ kita belum tau Gov.. apa ayng membuat kita terpental dan terhantam. Hanya saja ada sesuatu yang meledak dari pintu tersebut ( sambil ditunjuk oleh pak Sumaji ). Ayo kita segera minggir akrena disini asapnya begitu tebal karena reruntuhan tersebut.”


Saya minggir dengan pak Sumaji untuk menghindar dari asap reruntuhan di akibatnya meledak ruangan sebelah kiri kami. Tiba – tiba terdengar suara yang keras sekali seperti orang tertawa.


HAHAHAAH.HAHAAHAH…HAHA JANGAN HARAP KALIAN BISA KELUAR DARI TEMPAT INI


Pak Sumaji kaget, karena itu adalah suara dari pak Sukasto. Beliau kaget karena sebelumnya terdengar bahwa pak Sumaji ada di belakangnya. Tapi kenapa sekarang tiba – tiba ada di depannya. Saya juga melihat ada Rendi yang dengan santainya berjalan di samping pak Sukasto. Kami berdua masih mengerang dan menahan sakit akibat luka yang ditimbulkan ledakan tersebut. entah bagaimana mereka bisa meledakan pintu tersebut sampai hancur seperti itu. Ketika pak Sukasto terlihat jelas karena keluar dari kepulan asap, terlihat Daus yang kepalanya juga berdarah – darah lagi di pegang oleh pak Sukasto. Terlihat pula Daus tidak sadarkan diri karena tidak respon ketika di pegang oleh pak Sukasto. Pak Sukasto berkata dengan lantang


“ Sumaji. Menyerahlah!!! Kamu tidak akan bisa keluar dari sini karena seluruh ruangan ini sudah di jaga oleh anak buah saya. dan lagipula ketika kamu keluar dari sini dan mengajak teman – temanmu, mereka tidak akan ada yang percaya.”


Pak Sumaji membalas perkataan dari Pak Suaksto


“ selama nafas masih berhembus, nyawa masih hidup, tenaga masih ada. Aku tidak akan pernah menyerah untuk menegakan kasus ini dan menyelesaikan ini semua. Karena tempat ini merupakan AREAKU!!!!.”


Saya teriak kepada Daus


“ Duas….Dauss… ayo bangun.. ouuyyy Daus…..”


Saya berusaha berdiri dan menarik Daus dari pak Suaksto. Tapi pak Sukasto langsung menendang saya sampai saya tersungkur ke belakang dengan cukup jauh. Lalu pak Sukasto berkata kepadaku


“ Jangan harap engkau menyentuh anak ini, anak ini membahayakan bagi kami dan bisa – bisa dia mengungkap semua hal tentang rumah sakit ini.”


Pak Sumaji mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan tembaknya kepada pak Sukasto. Pak Sukasto memberikan Daus kepada Rendi yang dari tadi hanya diam saja dan berdiri di samping pak Sukasto. Pak Sukasto seperti menanntang pak Sumaji untuk segera menembaknya


“ ayo sini Sumaji, tunjukan kebolehanmu, silahkan menembak saya kalau kamu berani.”


Pak Sumaji terlihat tidak ada keraguan di raut wajahnya.dia langsung menembak pak Sukasto dengan jarak yang dekat. Ketika ditembakkan, pak Sukasto bisa menghindar, padahal jaraknya sangat dekat sekali. Pak Sumaji sampai terdiam keheranan karena baru kali ini dia melihat ada orang yang bisa menghindar dari tembakan pistol.Rendi berkata kepada pak Sukasto

__ADS_1


“ sudah Pak Sukasto, habisi saja mereka. Kita harus segera memberikan tumbal malam ini pada dia.kebetulan ini juga ada teman dari anak kecil yang kamu tendang tadi. Dia sudah banyak membuat onar yang menyusahkan kita.”


Pak Sumaji yang sudah sangat emosi ketika itu, langsung menyerang pak Sukasto dengan memukul wajahnya. Tapi apa yang terjadi, pak Sukasto menendang pak Sumaji dan pak Sumaji tersungkur jauh seperti saya. saya melihat ada keanehan dengan pak Sukasto, dia seperti memiliki tenaga yang bukan seperti manusia biasa. Hawa yang dingin sekali tiba – tiba menyapa kita, ditambah dengan gelapnya ruangan sekitar membuat saya lebih khawatir dengan suasana sekitar. Pak Sukasto mundur secara perlahan dan mulai tak terlihat oleh kita. Dia mundur dengan tersenyum yang lebarnya tidak normal dengan suara tertawa yang menggegelar dan lagi – lagi bukan suara manusia normal.


HUUAAAHAHAH..HAHAAHHA


Rendi memberikan kembali Duas kepada pak Sukasto dan beliau menggendong pada pundaknya. Saya menghampiri pak Sumaji dan berkata


“ Bagaimana pak.. apakah bapak tidak apa – apa ?”


Pak Sumaji bangun kembali dari berkata kepadaku untuk segera mengambil Daus, karena dia membantu kami mendapatkan petunjuk selanjutnya. Saya yang masih kesakitan, berlari menuju ke mereka berdua untuk mengambil Daus. Kami masuk ke asap yang tak kunjung hilang, asap berwarna putih pekat yang membuat dada terasa sesak. Kami mencari dengan senter pak Sumaji dan tak juga menemukan. Sambiil berteriak – teriak kencang


DDAAAUUUUSS…..DDAAAAUUUUSS….DDAAAAUUUSSSS


Dari asap tersebut, tiba – tiba ada yang menarik baju saya dengan kecang tanpa disadari oleh pak Sumaji. Saya langsung berteriak kencang kembali kepada pak Sumaji.


Entah pak Sumaji mendengarku atau tidak karena setelah saya berteriak, pak Sumaji juga tidak muncul. Saya seperti di seret dengan kecnang ke arah yang saya tidak tau. Saya mencoba melepaskannya yang dimana kebetulan dia menarik jaket saya. saya langsung melepaskan jaketku dan lari menuju ke pak Sumaji. Suasan sekitar sangatlah gelap, yang terlihat hanya asap putih dimana – mana. Saya mengambil pisau yang ada di saku saya untuk siap sedia jika ada yang menyerang saya mendadak. Tas dan jaket saya menghilang ketika ada yang menarik saya. sekali lagi saya berteriak – teriak dengan kencang


PAK SUMAJI…..PAK SUMAJI..


Tiba – tiba pak Sumaji muncul dari arah belakang saya dan bilang kepadaku


“ kenapa Govi.. tadi bukannya kamu ada di sebelah saya ya ? tiba – tiba kamu menghilang dan saya menemukanmu dengan teriak – teriak.memang ada apa?”


Saya membalas perkataan dari pak Sumaji


“ Hahh.. saya tadi ada yang menyeret pak dengan keras dan kencang. Untuk saja dia menarik jaket dan saya melepas jaket. Kebetulan tas saya ikut kebawa. Entah siapa yang menarik saya pak, tapi tarikan itu begitu kuat sampai saya mencoba memukul tangan tersebut tapi tidak bisa.”


Pak Sumaji bingung dan berkata lagi

__ADS_1


“ terus yang disebelah saya tadi siapa? Aku yakin itu kamu akrena jelas – jelas itu wajahmu. Hanya saja tadi kamu diam saja ketika tak ajak bicara.”


Bulu kudukku tiba – tiba merinding dengan cerita pak Sumaji. Kami saling membelakangi untuk melihat sekitar. Dari arah sebelah kami, tiba – tiba ada angin yang berhembus dan lewat pada leher kami. Selang beberapa menit, ada suara gesekan sepatu orang berjalan


SRRREEEKK…..SSSRRREEEEKK…SSSSRREEEKK..


Kami berdua langsung mencari jalan keluar dari kepulan asap tersebut, saya berkata kepada pak Sumaji


“ pak tolong senteri area sekitar pak, siapa itu tadi terdengar seperti ada orang yang berjalan mendekati kita.kita tidak boleh lama – lama disini. Kita harus segera mencari tangga yang tadi ditunjuk oleh Daus.”


Pak Sumaji berkata


“ Kamu sendiri yang bilang bahwa kita harus saling menjaga, kita harus menyelamatkan Daus dan membawanya keluar dari sini.”


Saya langsung teringat akan janji yang saya ucapkan sendiri. Saya langsung berkata kembali kepada pak Sumaji


“ OH iya pak. Maaf saya lupa, saya terlalu memikirkna diri sendiri dan Adiatma sehingga lupa akan menyelamatkan Daus. Ayo pak kita lari ke arah sana ( sambil menunjukan arah ketika awal dia di seret ).”


Kami berlari menuju ke arah itu sambil mengarahkan sinar senter tersebut. kondisi tetap sama yaitu gelap gulita dan hanya sinar lampu yang bisa kita lihat. Lama – kelamaan, jalan yang kita lalui semakin menyempit dan kecil. Dari atas kami terengar suara rintihan orang menangis sambil berkata


TOLONG AKU MAS.. TOLONG AKU.. KAKI DAN TANGANKU PUTUS


Saya langsung takut setengah mati dan melihat kemana – mana meskipun kondisi sangat gelap. Kami berdua menyinari bagian atas dari jalan lorong tersebut. tidak terlihat ada apa – apa. Pak Sumaji juga terlihat takut dan berkata kepadaku


“ kita harus tetap jalan Govi.. tak perlu merisaukan suara tersebut. kemungkinan itu hanya suara – suara para pejubah hitam yang mau menakut – nakuti kita.”


Pas pak Sumaji mengarahkan senternya kembali kedepan tiba tiba muncul


ORANG TANPA TANGAN DAN KAKI MENGGANTUNG DI DEPANNYA DENGAN SENYUM YANG MENGELUARKAN DARAH DAN MATANYA YANG LEPAS SATU. KEPALANYA ADA DI BAWAH DAN TUBUHNYA DI ATAS. DAN BERKATA TOLONG AKU……..

__ADS_1


__ADS_2