Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 42


__ADS_3

Kami mulai kehabisan tenaga untuk melawan mereka yang terus saja berdatangan dengan jumlah yang selalu meningkat dari sebelumnya. Kami berdua melihat ada sebuah pintu keciil yang sedang tertutup dan berlari menuju kesitu dnegan tetap melawan beberapa para pejubah hitam yang menghalangi jalan kami. Saya mencoba membuka pintu tersebut tapi pintu itu serasa terkunci dan tidak bisa dibuka. Mereka semakin mendekat dan menekan kami. Pak Sukasto mengambiil sesuatu besi panjang di tasnya dan berusaha untuk mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Pak Sukasto dan Rendi melihat kami berdua ketika berusaha kabur lewat pintu tersebut dan mendekati kami untuk mencegah. Saya mengambil sesuatu dari tas saya untuk mencari sesuatu alat untuk membuka pintu tersebut. pintu tersebut tidak kunjung terbuka meskipun kami berusaha dengan keras, pak Sukasto mendekat kepada kami dan mencoba mengikat kami kembali. Terlihat pistol pak Sumaji yang ada di gantung di pinggang pak Sukasto. Kami berdua pura – pura untuk menyerah dan pasrah ditangkap oleh mereka. Pak Sumaji melihat menjadi sebuah kesempatan untuk mengambil psitolnya yang berada di pak Sukasto. Dengan pengalamanya menjadi polisi, dia mencoba untuk segera mendekat dan meraih pistol tersebut. ketika kami di giring ke tengah – tengah ruangan dan seperti akan di jadikan tumbal, pak Sukasto dengan gerak cepat langsung mengambil pistol yang di ikat di pinggang pak Sukasto. Dia langsung tersungkur di lantai dan bergerak menunjuk ke arah pak Sukasto sambil menodonngkan pistol lalu berkata


“ Lepaskan Govi.. atau aku akan menembakmu. Aku tak peduli engkau masih atasanku atau bukan, namun perbuatanmu menunjukan kalau kau tidak pantas untuk menjadi atasan saya. cepat kasih kami jalan untuk menuju ke pintu tersebut.”


Pak Sukasto baru sadar dan merogoh pistol saku di pinggangnya dan ternyata memang pistol itu yang di ambil oleh pak Sumaji. Lalu ia membalas perkataan pak Sumaji


“ Kurang ajar kau ( sambil berwajah merah dan marah ), kamu emngambil pistol dan mengancam untuk menembakku. Memang kau siapa. Kamu sudah tidak akan bisa kelaur dari tempat ini.”


Pak Sukasto melihat keseriusan pak Sumaji untuk segera melepaskan saya dan menunjukan pintu keluar sebelum di tembak oleh bawahannya tersebut. Rendi hanya terdiam dan juga tak bisa berbuat apa – apa. Malah dia berkata pada pak Sukasto seperti ini


“ Gimana kamu Kasto, menjaga 2 orang saja kamu tidak bisa, mereka tidak boleh sampai lolos dari tempat ini.”

__ADS_1


Pak Sukasto yang masih mempunyai wibawa sebagai seorang polisi, merasa terintimidasi dengan perkataan Rendi dan menampar Rendi secara keras lalu berkata


“ Jangan lancing kamu berkata kepadaku seperti itu, berkat siapa usaha rumah sakitmu tetap bertahan sejauh ini kalau bukan karena perlindungan saya. disini kita sama – sama mempunyai perjanjian dan tidak ada aygn ignin berbuat seenaknya. Lain kali hati – hati kalau ngomong."


Rendi yang awalnya terlihat seperti berani melawan pak Suaksto jadi terdiam dan takut. Bahkan dia tak berusaha untuk melawan pak Sukasto dengan menampar balik. Saya bilang kepada pak Sumaji untuk saatnya kabur akrena mereka sedang tidak akur.saya terus melihat ke sekeliling untuk mencari celah keluar. Saya menunjuk ke arah lorong dimana tempat para pejubah hitam keluar ke pak Sumaji. Saya bilang kepada pak Sumaji


“ pak Sumaji, sepertinya hanya jalan itu tempat kita untuk kabur karena sudah tidak ada akses. Atau kita kembali ke atas temapt kita masuk awal. Tapi sejujurnya saya masih ingin mencari teman dan beberapa orang yang menyelamatkan saya sebelumnya. Saya yakin pasti ada di antara mereka yang hidup.”


Pak Sumaji membalas perkataanku dengan berkata balik


Saya membawa pisau dan pak Sumaji menodongkan pistol kepada pak Sukasto untuk menyuruh para pengikutnya membukakan jalan keluar bagi kami berdua. pak Sukasto dengan terpaksa dan wajah marah harus menuruti perintah dari pak Sumaji.saya menyarankan pak Sumaji untuk tidak keluar lewat pintu kecil yang terkunci itu karena khawatir tempat itu malah membuat kita jadi tersesat lebih dalam. Saya juga mempunyai harapan kalau para korban tumbal di kumpulkan di jalan lorong tersebut. kami berlari dnegan cepat dan meninggalkan mereka para pejubah hitam dan pemimpinnya padahal saya sendiri juga tidak tau kemana ujung dari jalan lorong ini. lorong ini hanya sedikit sekali ada sinar, jadi kami bantu dengan senter kami berdua sambil melihat jalan dan kondisi sekitar. Saya menoleh ke belakang saya dan merasakan ada hal yang aneh karena kok tumben mereka tidak mengejar kami padahal di awalnya mereka menjadikan kami target utama tumbalnya. Saya bilang kepada pak Sumaji

__ADS_1


“ Pak Sumaji.. aneh ya, mereka tidak mengejar kita, apa jangan – jangan mereka tau kalau jalan ini tidak menuju kemana dan dan akan membawa kita tersesat lebih jauh.”


Pak Sumaji berkata kepadaku


“ kita tidak punya alternative lain selain lewat jalan ini. terus lihat sekeliling dan lihat bila ada tangga atau pintu kecil. Bisa jadi itu menjadi laternatif kita yang lain untuk keluar.”


Ketika berlari agak lama dan senter selalu mengarah ke depan, ada sesuatu di depan kami. Ada 3 jalan yang bercabang dan tidak ada petunjuk kemana masing – masing jalan tersebut. saya bilang ke pak Sumaji untuk meredupkan senternya dan berjalan lebih perlahan sekarang. Saya menunjuk di jalan sebelah kiri ada suara keramaian. Seperti suara orang di siksa, pak Sumaji paham dengan apa yang dia lakukan dan mematikan sinar senternya. Kami berdua mengendap - ngendap dengan perlahan dengan abntuan sinar lampu yang menempel pada dinding lorong tersebut yang memang sangatlah redup. Saya kaget bukan kepalang dan terduduk secara tidak sengaja, bagaimana tidak saya melihat penyiksaan yang luar biasa dilakukan oleh apra pejubah hitam kepada orang yang seeprtinya itu adalah calon tumbalnya. Mereka digantung dengan kaki di atas dan kepala dibawah dan leher mereak di sliet sampai mati karena kehabisan darah dengan sendirinya. Dan ada beberapa orang yang tergeletah di bawah seperti kehabisan tenaga dan taka da yang melawan. Saya juga melihat lagi ada 2 sampai 3 orang yang tergelatak seeprti tak sadarkan diri dengan kondisi yang mengenaskan. Para pejubah hitam belum sadar akan kedatangan kami berdua.


Kami tetap berjalan dengan pelan dan mengendap – ngendap, tapipak Sumaji merasa ada yang membuntutinya dari belakang dan memberitahuku kalau kita tidak sendirian da nada yagn mengikuti. Pas kita mulai mendekat ke mereka, tiba dari belaakng ada para pejubah hitam lain yang memegang kami dan berusaha menangkap kami. Jumlahnya sekitar 4 orang dan mereka mencoba menyeret kita untuk di eksekusi dengan digantung pula. Dengan tenaga dan semangad yang besar, pak Sumaji melawan dan menembaki beebrapa dari mereka. Saya pun memberanikan diri untuk menusuk mereka dengan pisau yang ada di saku saya. sisa pejubah hitam yang mencoba menagkap kami seperti mundur dan ketakutan. Karena kami sudah ketahuan, maka tidak ada lagi waktu untuk bersembunyi dan kami langsung menyerang mereka yang sedang mengeksekusi apra korban. Tanpa banyak bicara, pak Sumaji langsung menembaki pejubah hitam yang sedang menggorok para korban dengan sadis. Saya juga membantu untuk melawan dengan pisau sebisanya, jujur selama hidup saya tidak pernah namanya menyerang orang bahkan taka da kepikiran untuk menusuk orang. Ketika pak Sumaji menyelamatkan orang yang digantung itu, saya mencari orang yang tergeletak lemas dan sekarat itu. saya tak menemukan adanya Adiatma atau pak Sukonto yang mungkin mereka masih hidup. Saya mencoba membangunkan mereka yang lemas tersebut, mereka tak kunjung bangun meskipun beberapa kali dibangunkan. Pak Sumaji membawa korban yang digantung tadi dan menaruhnya di lantai juga. Saya berkata kepada pak Sumaji


“ Pak Sumaji. Saya mencoba untuk membangunkan mereka dengan teriakan dan pukulan tapi tak kunjung bangun. Saya mengecheck nadinya masih berdetak. Saya yakin mereka masih ada peluang untuk hidup.”

__ADS_1


Pak Sumaji mengeluarkan alat kembali di tasnya. Saya lihat betapa lengkap perlengkapan yang dibawa oleh pak Sumaji, sungguh luar biasa. Pak Sumaji menghentak jantung mereka dengan teknik yang saya tidak tau dan memberikan aroma menyengat agar membantu sensor dalam tubuhnya untuk membantu sadar. Cara tersebut benar efektif dan telrihat ada 1 orang yang siuman dan bangun. Dia laki – laki and ketika melihat kami berdua langsung terkaget – kaget dan mundur lalu bilang


“ Siapa kalian. Hah kenapa saya tiba – tiba ada di ruangan ini dan ada dimana saya.”


__ADS_2