
“ mbak Ran…….. ayo kita berhenti sebentar. Kita seperti dipermainkan oleh rumah sakit ini. Kita baca buku itu kembali barangkali ada sebuah petunjuk kembali “
Kami mencari suatu tempat dan membuka buku itu kembali. Suasana malam itu begitu aneh , merinding yang selalu membuat bulu kuduk leher kami berdiri , angin yang berhembus meskipun di dalam ruangan dan tak menggerakan daun palm di halaman tengah rumah sakit tersebut. saya ak focus pada buku tersebut karena menoleh ke kanan dan kiri. Saya merasa ada yang mengikut dari ketika awal masuk ke rumah sakit ini. Telinga kanan juga mendengar ada yang memanggil tapi tak Nampak apapun di sebelah kanan saya. saya menyuruh Rania untuk mempercepat membaca bukunya dan mencari informasi yang penting saja karena situasi dan kondisi tidak aman dan nyaman. Rania pun bilang kepada saya
“ saya juga merasakan ada yang mengawasi dan mengikuti kita di sekitar sini. Sepertinya mereka tahu bahwa buku ini ada di tangan kita “
Dalam buku di halaman sekitar pertengahan ada kalimat memberikan informasi bahwa acara puncak ritual tersebut dilakukan pada jam 00:00 WIB dan ada sebuah mantra dalam buku tersebut yang ketika kami baca depannya saja membuat angin di sekitaran kita berhembus kencang seketika seperti memberikan dorongan kuat pada kami. Waktu di jam saya menunjukan pukul 23:00 WIB.1 jam tersisa waktu tersisa untuk menyelamatkan apa yang bisa kami selamatkan. Saya menunjuk kembali sebuah gambar ritual pada buku tersebut kepada Rania bahwa kita harus mencari temapt luas da nada kerumunan orang seperti ini. Pasti ada tempat itu di salah satu ruangan rumah sakit ini. Rania memutuskan untuk melanjutkan membaca buku tersebut sambil jalan kaki. Dari depan kami terdengar suara sepatu
TUUKK…TUUUKK………..TTUUUKKK
Suara sepatu yang lumayan keras dilakukan orang yang sedang berjalan. Suara itu lama-lama semakin kencang
__ADS_1
TTUUKKKK.TUUUUKK…….TTUUUKK….TTUUUKKK
Seperti orang berjalan cepat dan terburu-buru. Kami langsung bersembunyi di ruangan dengan pintu kecil yang ada di sebelah kanan saya. tanpa memikirkan apa yang ada di dalam , kami langsung menuju ke ruangan tersebut agar tidak ketahuan orang yang berjalan di depan kami.
KRRIIIEEEKKK…………….KKKRRRIIIIEEEKKK…..
Suara begitu keras ketika kami membuka pintu tersebut. s seperti suara pintu yang tak pernah dibuka dalam waktu yang lama. Pintu kami tutup kembali setelah kami masuk , namun kami tidak mengetahui apa ayng ada di dalam ruangan tersebut. hanya gelap gulita dan sesekali terdengar suara jangkrik. Suara seruling terdengan dari luar pintu , suara yang di timbulkan dair gesekan antara udara dengan pohon. malam itu sinar rembulan begitu terang , karena terangnya , cahaya tersbeut bisa menembus celah pintu tempat kami bersembunyi. Suara ketuk sepatu orang berjalan yang awalnya kencang menjadi pelan. Terdengar suara semakin mendekat kami tempat kami sembunyi. Dan ada bunyi keras sekali
PRRROOOOOKKKK
GUBRRAAKK………GUUBBRRAAAKK……..GGUUBBRRAAAAKKK…..
__ADS_1
Handle pintu tersebut bergerak ke atas dan ke bawah seperti akan dibuka dari luar. Rania juga dengan wajah ketakutan akan teriak ,ketika akan teriak , saya menutup mulutnya dengan kencang. Meskipun kesannya kurang ajar dan tidak sopan tapi saya tidka mempedulikan itu karena keselamatan kita menjadi lebih penting. Tidak lucu rasanya mereka mengetahui kita disini dan dijadikan tumbal atau bahkan bisa-bisa dibunuh disini. Saya mengisyaratkan Rania untuk tetap tenang , dan bersabar sejenak. Wajahnya menangis tersedu-sedu seperti segera ingin berteriak untuk meminta tolong. Setelah sekian menit , pintu itu diam dan tidak ada yang mencoba mendobrak ,lega hati ini ketika tidak lagi yang mencoba mendobrak pintu tersebut. suara ketuk sepatu itu kembali terdengar oleh kami semua dan pertanda bahwa mereka melanjutkan untuk berjalan entah kemana. Suara ketuk sepatu yang awalnya keras , lama-lama menjadi pelan dan sunyi. Kami menunggu benar-benar suara sunyi dan berkata pada Rania
“ mbak Ran.. coba kita toleh kebelakang dan sinari ini untuk mengetahui apa yang ada di belakang kami “
Saya menyinari ruangan yang ada di belakang saya dengan HP saya. hanya ruangan kosong dengan beberapa Kasur ranjang rumah sakit yang terlihat seperti ranjang rumah sakit zaman dahulu dengan berbahan besi bundar , Kasur tipis dan selimut tipis berwarna hitam dan putih. Saya berpikir zaman sekarang tak mungkin ada rumah sakit yang menggunakan ranjang seperti ini. Ranjang tersebut juga Nampak rapi dan tak seperti gudang dengan letak yang amburadul. Rania berjalan di depan saya dan melihat ke arah lantai entah apa yang dia cari. Dia berjalan mendekati ranjang tersebut. dan melihat-lihat lantai di sekitaran ranjang tersebut di abntu dari sinar HP saya. saya bilang kepada Rania
“ mbak Ran….apa yang kamu cari.. tidak ada apa-apa disitu toh itu juga seperti ranjang rumah sakit zaman dahulu alias kuno “
Rania menjawab
“ saya mencari sesuatu yang barangkali bisa di jadikan petunjuk karena saya teringat 20 tahun yang lalu persis seperti ruangan ini semenjak pertama kali saya menemukan buku ini. Tampilannya juga saya di ruang kosong. Tpai ketika itu dilantai itu dibentuk meja dan kursi melingkar dengan di tengahnya sebuah gambar “
__ADS_1
Saya menjawab kembali
“ sejauh mata saya memandang tidak ada tanda-tanda yang aneh disini mbak Ran.. tapi juga tidak ada salahnya kita mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebuah petunjuk “