Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 51


__ADS_3

Saya seketika melihat ke atas ketika Adiatma berkata seperti itu, tapi tidak menemukan apapun di atas saya. saya berkata kepada Adiatma


“ ada apa Dit ? tidak ada apa – apa ini ?”


Adit Membalas


“ Tadi saya melihat ada semacam orang yang berbadan besar yang meludah kepadamu Govi. Ayo kita segera pergi jalan itu ( sambil menunjuk ). Jika kita memang akan membakar temapt ini, kita harus segera mencari bantuan. Bila kita membakarnya dari dalam, bisa – bisa kita juga akan ikut terbakar karena tidak bisa keluar.”


Saya berpikir kalau omongan Adiatma ada benarnya. Mungkin lebih baik kita membakarnya dari luar. Kebetulan kami berdua juga butuh bantuan untuk ini. Tiba – tiba kami merasa yang bergetar di lantai tersebut, kami langsung berlari menuju jalan tersebut. ketika kami berlari, tiba – tiba di depan kami ada pak Sukasto dan Rendi beserta para pejubah hitam yang ada di belakangnya. Jantung saya berdegub kencang antara kaget dan takut. Saya melihat ke bawah dengan senter yang ada di kepala saya, ternyaat mayat – mayat para korban yang terbakar masih berada dis itu dengan kondisi yang mengenaskan. Hitam, kering, hanya berbentuk tengkoran dan sebagaian saja yang masih tersisa daging. Terlihat jelas pula tengkorak mereka. Jasad tersebut juga sudah tidak bisa di kenali lagi. Adiatma berkata kepadaku


“ Bagaimana ini Govi. Apa yang harus kita lakukan, kita terdesak disini. Mereka berjumlah banyak sekali dan tidak tahu dari mana asalnya.”


Saya berkata kepada Adiatma


“ aku juga bingung Dit, mau kemana kita. Ruangan ini mendukung untuk mereka membunuh kita. Coba lihatkan Dit, apa saja yang ada di tas pak Sumaji ini. Barangkali ada sesuatu yang bisa kita gunakan melawan mereka.”


Adiatma mencari sesuatu di tas pak Sumaji yang tak bawa. dia hanya menemukan besi panjang yang biasa tak pakai untuk melawan para pejubah hitam.Adiatma mengeluarkan besi tersebut dan bersiap untuk melawan. Saya tak melihat ada pistol di tas tersebut. kemungkinan pak Sumaji hanya membawa 1 dan dibawanya ketika mencoba melawan pak Sukasto.


Mereka mulai mendekat dengan di iringin lampu yang menyala tiba – tiba di samping mereka. Lampu remang – remang berwarna kuning yang terbut dari minyak tanah. Seperti lampu orang zaman dahulu. Pak Sukasto berkata kepadaku


“ Govi.. mau kemana lagi kamu, kamu akan menjadi tumbal dan santapanku. Dan temanmu itu juga ( sambil menunjuk Adiatma ) akan juga menjadi tumbal untukku.”


Ketika kami mundur – mundur untuk menghindari pak Sukasto, terasa kami ternyata menginjak mayat – mayat para korban kebakaran tersebut. saya melihat ke bawah dan berteriak


WADUUHHHH….


Sudah tidak ada jalan bagi kami untuk melarikan diri dari sini. Dalam diri saya berkata, TERUS MELAWAN WALAUPUN NYAWA TARUHANNYA. Saya mengingatkan kepada Adiatma untuk pasrah dan melawan mereka. Para pejubah hitam mulai mendekati kita dan melawan . kami memukul dengan alat seadanya yang ada di tas pak Sumaji. Karena jumlah mereka yang puluhan, kami tak sanggup melawan dan babak di hajar mereka. Lukaku yang belum juga sembuh, terbuka kembali karena hantaman dari para pejubah hitam. Adiatma mencoba menarikku untuk menghindari mereka.lalu dia berkata

__ADS_1


“ bertahanlah Gov.. percayalah, kita akan selamat dari ini semua. Aku YAKIN… kamu telah menyelamatkanku sebelumnya, sekarang gantian aku untuk menyelamatkanmu”


Sempat lemas dan tak berdaya karena dipukul oleh apra pejubah hitam, saya emncoba untuk bangun, bangkit dan bersiap untk melawan kembali. Saya berkata kepada Adiatma


“ makasih sebelumnya, aku akan berusaha untuk melawan rasa sakit ini dan terus berjuang bersamamu.”


Tiba – tiba dari belakang kami ada suara tembakan yagn cukup keras dan tembakan tersebut mengarah ke arah para pejubah hitam. Seketika sebagaian dari mereka ada yang tersungkur dan tergeletak ke tanah. Arah tembakan itu terus mengarah ke arah para pejubah hitam sampai mereka semua tergeletak. Kami berdua mencari sumber suara tersebut sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Dari lorong tempat kami tadi masuk, ada secerca cahaya yang ketika kami melihat dengan seksama, ternyata ada 2 orang bersenjata lengkap ddengan badan yang cukup besar. Dia mendekat kepadaku dan kami melihatnya dengan jelas. Meskipun suasana mencekam dengan cahaya yang redup dan hawa yang sangat dingin, saya melihat kondisi mereka sudah ebrdarah – darah dengan mata bengkak dan ada sobekan baju di beberapa bagian. dia berkata kepadaku


“ saya adalah Fadil.. ini teman saya namanya Nawa.kami di beri info oleh pak Sumaji untuk menyelaamtkan kalian dan mengungkap kasus di rumah sakit ini. Izinkan kami membantu kalian. Informasi pak Sumaji begitu mendadak dan penting sehingga hanya saya dan teman saya yang siap untuk bertugas.”


Saya berkata kepada mereka.


“ bagaimana bapak bisa sampai ke tempat ini. Dan mengapa kondisi bapak compang – camping seperti ini.”


“ mungkin jawabannya sama seperti kalian yang kondisinya juga tidak berbeda jauh denganku.”


Adiatma lalu berkata di antara pembicaraan saya dengan pak Fadil


“ mohon maaf sebelumnya pak, terima kasih sudah membantu kami karena jika tidak ada bapak, kemungkinan kamis sudah mati di serang oleh mereka. “


Ketika mendengar perkataan tersebut, saya mengerti mengapa dan apa yang terjadi pada kedua polisi tersebut. saya menambahi informasi kepada pak Fadil


“ bapak tau siapa orang besar itu ( sambil mennunjuk ke arah pak Suaksto ). Dia adalah monster dan dia adalah atasan bapak. Yaitu PAK SUKASTO.”


Fadil dan Nawa terkaget – kaget sambil menutup mulut dan melotot. Dia bingung kenapa pak Sukasto bisa berubah menjadi sesosok yang berbeda dan seperti setan. Fadil berkata kepada kami

__ADS_1


“ bagaimana bisa pak Sukasto menjadi seperti itu, dia adalah atasan kami semua. Dan memang cerita dari pak Sumaji adalah ada penghianatan di antara kami yaitu pak Sukasto. Tapi sungguh tak menyangka, dia berubah menjadi seperti ini.”


Pak Sukasto melihat kami semua dengan berdiri. Wajahnya yang masih begitu menyeramkan dan mencekam selalu ada pada dirinya. Dia berjalan dengan hentakan yang kuat ke arah kami


DUUGGG…DDUUGG…DUUUGG


Dia seperti jengkel telah membunuh semua anak buahnya. Pak Sukasto mengambil mayat yang ada di bawahnya dan melemparkannya kepada kami. Kami semua langsung berlari menghindar, tapi Nawa tak sempat menghindar dan terkena hantaman dari mayat yang dilempar oleh pak Sukasto. Fadil alngsung menolong Nawa yang terkapar. Dia langsung menembaki pak Sukasto dengan beberapa berondongan peluru. Tapi hal itu serasa tak mempan. Saya dan Adiatma mulai khawatir dan berpikir bagaimana melawannya. Dia mendekat kepada Fadil dan Nawa lalu memukul Fadil dengan keras hingga tersungkur jauh. Saya berteriak kencang


PAK FADIILL……………PAK FADILL………….


Saya dan Adaitma menolong pak Fadil yang tersungkur dan kepalanya menghantam pintu penjara yang terbuat dari tralis besi tersebut. saya berkata


“ bangun pak.. teman anda akan dibunuh oleh pak Sukasto. “


Pak Fadil terbangun dengan kepala yang berdarah. Lalu dia menembaki kembali pak Suaksto. Pak Sukasto terlihat memegang Nawa dengan tangan besarnya. Nawa mencoba untuk melawan dan berteriak kepada pak Fadil


“ Fadil.. tembak kepalanya.. jangan tembak badannya”


Pak Fadil kembali menembak di bagian kepalanya pak Sukasto. Pak Sukasto terkena tembakan pak Fadil dan jatuh tersungkur, sebelum jatuh tersungkur dia melempar Nawa cukup ajuh dan dia terhempas ke tembok. Kami bertiga menolong pak Nawa yang terluka di perutnya. Luka sayatan seperti terkena benda tajam. Adiatma berkata kepada pak Nawa


“ luka bapak cukup dalam, di tas yang di bawa Govi.. ada perban ada obat pual. Pak Fadil. Tolong oabatin pak Nawa dulu. Sebelum dia kehabisan darah.”


Adiatma melihat kejadian tersebut dan berkata kepadaku


“ pak Sukasto punya kelemahan di sisi kepalanya. Jika kita seksama sebelumnya, ada semacam permata atau mustika yang menempel di kepala dan mata kirinya. Tongkat besi ini perlu kita tusukan ke arah itu.”


Pak Sukasto tiba – tiba bangun kembali dan menatapku dengan tajam. Dia berdiri dan berlari dengan sangat cepat ke arah pak Fadil dan Nawa. Entah mengapa, pak Sukasto ingin sekali menyerang mereka berdua. Saya berteriak ekpada pak Fadil yang ketika itu sedang mengobati pak Nawa

__ADS_1


‘ AWAS PAK FADIL.. PAK NAWA.. PAK SUKASTO MENYERANGMU.”


__ADS_2