
Terlihat Pak Fadil belum siap ketika pak Sukasto menyerangnya. Dia hanya bisa reflek menembak kea rah pak Sukasto. Pak Sukasto mencengkram pak Fadil dengan kukunya yang panjang dan dia teriak sekeras – kerasnya.
AHHH…………AAAHHH………..AAAAHHHH…
Pak Fadil juga terlihat sedikit melawan dengan pukulan. Adiatma langsung melemparkan besi ke arah kepala pak Sukasto. Dan besi tersebtu mengenai mata dari pak Sukasto namun bukan mata yang terlihat ada permatanya. Pak Sukasto melepas cengkraman kepada pak Fadil. Pak Sukasto menjauh dan berteriak seperti kesakitan setelah Adiatma melempar besi tersebut. Rendi yang awalnya hanya dia dan melihat pak Sukasto menyerang kami semua, langsung menyerang kami juga. Saya berusaha melawan dengan pisau yang kebetulan masih saya simpan di saku. Pisau itu akan aku tusuk pas di perutnya. Ketika dia mendekat dan saya akan menusukan pisau kepadanya. Rendi tiba - tiba menghindar dan hilang, padahal saya melihat dia ada di depanku. Saya menoleh ke kanan dan ke kiri namun juga tak melihat siapa – siapa. Lalu saya berkata kepada Adiatma
“ Dit. Kamu melihat dokter Rendi, dia tiba – tiba hilang ketika mau tak tusuk. Ayo kita saling menjaga dan berhati – hati.”
Pak Fadil berdiri sambil memegang perutnya yang terluka akibat cengkraman dari pak Sukasto tadi. Dia berkata kepadaku
“ Govi..Adiatma.. terima kasih atas bantuan kalian. Sekarang giliranku untuk melindungi kalian. Mumpung pak Sukasto masih tergeletak, mari kita menyerang dia bersama.”
Adiatma menjawab
“ Tunggu pak Fadil, kita harus cari dulu dimana dokter Rendi tersebut, dia tiba – tiba menghilang ketika Govi akan menyerangnya. Bahaya jika dia menyelinap dan menyerang kita ketika lemah.”
Saya kaget dan berkata kepada pak Fadil
“ pak Fadil, mana pak Nawa.. tak terlihat dia ada di belakangmu ( melihat hanya dengan sinar senter yang ada di kepala dan redup ).”
Pak Fadil menoleh ke belakang dan dia juga tak melihat pak Nawa dengan jelas apakah dia masih ada disitu atau tidak. Saya mendekat kepada pak Fadil untuk memperjelas apakah pak Nawa ada disitu atau tidak. Saya juga berteriak
“ PAK NAWA…….PAK NAWA….”
__ADS_1
Tidak ada sautan suara dia ketika saya memanggil namanya. Pak Fadil juga berkata
“ NAWA…….NAWA.. BAGAIMANA LUKAMU.. HALO NAWA……….”
Kami berdua memanggilnya tapi tetap saja tidak ada sautan dari pak Nawa. Ketika kami bertiga mendekat dan melihatnya, ternyata pak Nawa
MENGHILANGG……..
Kami bertiga langsung bersiaga dan mencari pak Nawa. Saya punya firasat kalau pak Rendi lah yang menculik pak Nawa. Saya berteriak
“ DOKTER RENDI.. JANGAN PENGECUT KAU, KALAU BERANI AYO KITA LAWAN SATU PER SATU.”
Dari samping, terdengar teriakan dari pak Sukasto, sepertinya dia mulai marah besar atas perlawanan kita semua. Dia berdiri, mencabut besi tersebut dan mematahkannya. Patahan tersebut dilemparkannya kepada kami dengan sanagt keras. Kami semua berusaha untuk menghindar tapi mengenai kakiku walalupun tidak menusuk. Ketika terkena sedikit lemparan tersebut, membuatku mengerang kesakitan sampai – sampai tidak kuat untuk berdiri. Saya mencoba menahan nyerinya di kaki dengan berdiri, kakiku mulai membiru dan sedikit terasa kram ketika berdiri. Fadil mencoba mengambil besi tersebut dan akan dilemparkan balik kepada pak Sukasto. Ada 2 patahan besi itu, yang satu di ambil oleh pak Fadil dan satunya terlempar cukup jauh dengan posisi kami. Adiatma berkata
Saya berusaha untuk membantu dengan mengambilkan besi tersebut meskipun Adiatma menentangnya. Saya tidak menghiraukan apa yang dikatakan Adiatma dan tetap berlari menuju ke arah patahan besi tersebut. sambil berlari, saya menahan rasa sakit dengan menangis dan bercucuran keringat. Tiba – tiba muncul Rendi yang entah dari mana langsung menyerangku. Dia meninju perutku dengan keras hingga untuk kedua kalinya saya tersungkur. Saya berteriak kepada pak Fadil dan Adiatma untuk tidak usah khawatir. Saya ingin mereka focus melawan pak Sukasto. Rendi mendekat kepadaku dan akan membunuhku dengan sebilah pisau yang ada di tangganya. Dia akan menusukan pisau tersebut tapi untungnya saya bisa menghindar meskipun gerakan saya begitu lambat.saya berteriak sekali lagi kepada Adiatma
“ DIT.. JANGAN LENGAH KEPADA MEREKA.. TETAP FOCUS.”
Saya sudah tidak mampu untuk menghindar kembali ketika dokter Rendi akan berusaha menyerangku. Dia akan menusukan pisaunya dengan kencang ke dadaku tapi aku berusaha menghindar meskipun menggores lengan kiriku sampai bajuku sobek dan berdarah cukup deras. Saya berdiri kembali dan melawannya dengan pisau yang ada di sakuku. Aku berkata kepadanya
“ pisau dilawan dengan pisau. Jangan harap kau bisa membunuhku dnegan mudah. Tak akan kubiarkan kau bertindak seenaknya.”
Saya berlari dengan pelan dan bersiap menusukan pisauku ke dada Rendi. Ketika akan menusuk dia bisa menghindar dan menendang punggungku dengan keras hingga terjatuh kembali. Tapi tendangan itu serasa begitu besar tenaganya dan sampai aku tak bisa membalas atau menghindar. Posisi saya telungkup dan akan berusahan untuk bangun kembali, tapi karena tendangan yang dia berikan kepadaku, membuat kakiku yang bengkak tadi terbentur lantai dan nyerinya datang lagi. Rendi berkata kepadaku
__ADS_1
“ jangan sombong kau anak muda, tamat riwatmu disini. Karena kaulah biang keladi ini semua. Semuanya akan berjalan aman dan lancar, rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit yang kaya dna aku akan menjadi direktur yang abadi selamanya. Tapi semuanya itu hampir pupus ketika KAU DATANG. Tak akan kubiarkan engkau melenyapkan semuanya .”
Dia mau menusukkan pisau di punggungku dan aku tak kuasa lagi untuk menghindar karena kakiku tidak bisa digerakkan, saya hanya bisa berteriak dengan kencang
AHHHH………AAAHHH…….
Dari belakang terdengar suara yang kencang seperti ada yang memukul
DUUUAAAASSSHHH……. BRRRUUUKKKK
Saya yang reflek melindungi kepada dengan tangan, kaget mendengar suara tersebut. sedikit mencoba untuk membalikan badan dengan pelan dan melihat apa yang terjadi. Saya berkata
“ LOH PAK NAWA………… BAGAIMANA BISA PAK NAWA DISINI.”
Saya melihat kondisi pak Nawa dengan mata lebam sebelah , dahi berdarah, kaki yang terseok – seok seperti habis ditusuk atau terluka. Dia juga memegangi perut kirinya dnegan tangan kirinya. Pak Nawa berkata
“ aku diculik oleh orang aneh ini ( sambil menunjuk kearah dokter Rendi ). Dia akan berusaha membunuhku namun dia bilang akan membunuhku setelah urusannya denganmu selesai. Dia tadi menyulikku,tanpa aku sadari. Pas aku mulai tersadar dengan penuh, saya melihat ada di sebuah temapt yang dari kejauhan aku melihatmu berterung dengan dokter ini. aku akan menembak dokter ini dari kejauhan, tapi ketika akan menembak ternyata pelurunya habis ketika digunakan untuk menembak orang yang memakai baju hjitam tadi. Saya memutuskan untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melawan dia. ketika berjalan, sekilas melihat ada besi yang pendek tergeletak di lantai. Aku mengambilnya dan memukulkannya tanpa berpikir panjang.”
Saya melihat pak Nawa membawa patahan besi tersebut, saya berkata kepada pak Nawa
“ naah ( sambil menunjuk ke arah besi tersebut ). Itu besi ayng saya cari pak Nawa. Saya akan memberikannya ekpada mereka ( menunjuk ke pak Fadil dan Adiatma ). Rencananya besi tersebut akan digunakan untuk menusuk daerah lemah dari pak Sukasto.”
Dari kejauhan terdengan suara Adiatma
__ADS_1
“ OOUUYY GOVI…. BISAKAH KAU LEBIH CEPAT, INI GENTINGG!!!!!!!”