
DIREKTUR SEKALIGUS DOKTER SENIOR RUMAH SAKIT
Mereka seperti tidak percaya bahwa ternyata pemimpin yang mengayomi mereka malah mempunyai niat buruk untuk membunuh mereka semua dan dijadikan tumbal. Adiatma berdiri dan berjalan menuju kea rah dokter dan perawat itu lalu menoleh ke saya dan bilang
“ Gov………. selesaikan ini..dan jadikan dirimu seorang pahlawan……….. saya ingin membantu mereka untuk melawan para pemuja sekte itu “
Saya menjawab
“ Sek……sebentar tunggu Dit………… jangan gegabah , coba pikir dengan pikiran dinginmu……apalagi kamu sebenernya belum sembuh benar dari typhus dan DB.. berbuat nekat akan bisa membuatmu terbunuh “
Adiatma menjawab kembali
“ ( sambil menepuk pundak saya )……….broo……kamu adalah pahlawan yang berusaha menyelamatkan kami semua…….. izinkan saya untuk berjuang kali ini untuk menyelamatkanmu di akhir ini “
Saya merasa iba dan terharu ketika dia berkata seeprti itu. Adiatma langsung berlari dan berteriak menuju para dokter dan perawat untuk berjuang bersama. Saya langsung berusaha untuk membakar buku tersebut bersama Dimas yang masih kesakitan karena patah pergelangan kaki. Api membakar dengan cepat buku tersebut dengan asap yang berwarna hitam dan sangat banyak sekali. Asap yang seperti membakar sebuah tumpukan kertas padahal ini hanyalah sebuah buku. Semua jin dan setan termasuk orang yang berjubah hitam tiba-tiba menyerbu kami seperti berusaha untuk memadamkan api pada buku ini. Mereka mendekat sambil berteriak. Api semakin membesar dan tidak ada habisnya asap itu mengepul ke atas epkat dan hitam warnanya. Adiatma berteriak ke saya
__ADS_1
“ GOV……… cepat pergi dari sini….jin dan setan semakin banyak.. selamatkan diri kalian ,harus ada yang selamat dari sini “
Saya menjawab
“ TIDAK MUNGKIN………….ayo pergi bersama.. selamat bareng-bareng “
Adiatma membalas
“ JANGAN BODOH….. CEPAT PERGI DARI SINI.. HARUS ADA YANG HIDUP DI ANTARA KITA “
Dia terus berkata seperti itu sambil membentak. Sekilas saya menoleh kea rah perawat dan dokter itu dan melihat ada dokter yang digigit lehernya oleh sesosok yang terlihat seeprti kuntilanak. Ada juga pocong yang meludah pada seorang perawaat sampai wajahnya meleleh.. rasa takut yang membuat saya gemetar hebat dan Dimas pun sampai menutup mata dan telinga karena tak kuat melihat itu. ada dokter yang mengulurkan tangannya bilang
Sambil ada tangan dengan kuku yang tajam dan panjang menancap pada dada dokter tersebut. saya langsung menggendong Dimas dan membiarkan buku itu terbakar hebat saya mencari pintu keluar dan berputar-putar namun belum juga menemukan pintu tersebut. sampai di ujung sebuah jalan lorong ada tanggal kecil yang mengarah ke atas entah itu kemana. Saya medekat lorong tersebut sambil berlari terseok-seok , gemuruh suara jeritan dan rintihan rasa sakit terdengar dari telinga kami. Ketika ada di depan tangga itu , terlihat tangga tua yang tak pernah dipakai dengan permukaan penuh karat dan tajam. Mau tidak mau dan suka tidak suka , saya harus menaiki tangga tersebut sebelum para jin dan setan itu mengejar kami.
Tangan yang masih gemetaran ini , saya paksakan untuk menaiki tangga meskipun terasa perih dan sakit ditambha beban Dimas yang saya gendong. Suara gemuruh dari belakang saya semakin keras ,saya sudah tak pedulikan rasa sakit di tangan dan terus menaiki tangga. Ketika mencapai puncak tangga , ada sebuah pintu tralis berbentuk bundar yang terlihat tertutup alang-alang. Saya mencoba untuk membuka dengan dorongan tangan kanan yang lemas sambil berteriak minta tolong berharap ada yang mendengar di sisi luar. Beberapa kali berteriak namun tidak ada yang mendengar dan tangan kiri sudah mengeluarkan darah dan berwarna biru karena efek kelelahan menahan pada anak tangga.
__ADS_1
HALOO…..HALOOO…..HALOO…..MASS..
Terdengar suara keras dari sisi luar pintu tralis tersebut. kelihatannya dia mendengar saya berteriak beebrapa menit yang lalu. Saya membalasnya
“ hoyyy……..haloo…………….mass……. saya di bawah pintu gorong-gorong tralis ini “
Pintu tralis itu terangkat dan terbuka , tak jelas siapa yang menolong tapi dia mengulurkan tangan pada saya. terasa panas pada kaki saya dan Dimas pun bilang
“ mas ada api di bawah kita dan terdengar suara orang rintihan kesakitan sambil berteriak “
Saya langsung menggapi uluran tangan tersebut untuk keluar dari gorong-gorong tersebut. Dimas yang ada di pundak saya langsung memeluk orang yang menoloing saya tersebut. ternyata itu adalah
ADIK RANIA NOMER DUA BERNAMA RUDI
Dia bilang pada saya kalau ibunya menitip kabar untuk menjemputnya bila 2 jam tidak datang meskipun ini masih tengah malam. Saya bilang ke Rudi untuk menutup pintu tralis itu rapat-rapat karena terlihat merah dan api yang membara dari dalam. Saya tiba-tiba menangis dan sedih karena teman saya menjadi korban perbuatan biadab rumah sakit ini. Saya tertunduk lesu sambil duduk di rumput tersebut. Rudi dan Dimas pun bersedih karena dia telah kehilangan ibu dan kakaknya dan tidak punya siapa siapa lagi. Setelah beberapa menit kami berduka bersama dan duduk termenung , si Rudi memberikan semangad ke saya untuk bangkit dan berdiri. Kami bertiga berdiri dan saya bingung dimana ini. Ternyata ini adalah tempat dimana saya dengan pak Sukonto membakar barang-barang milik anaknya dan masih terlihat pohon dengan tanda tersebut. saya menanyakan ke Rudi bagaimana dia bisa menemukan kami disini padahal posisi kami adalah di tempat tersembunyi. Rudi pun menjawab
__ADS_1
“ suaramu terdengar lantang dan keras ketika saya berjalan di dalam rumah sakit… saya mencari kemana-kemana tapi tak ketemu sampai saya mendengar suaramu lebih keras dan ternyata berada di balik tembok. Ketika saya ada di dalam rumah sakit , saya tidak menemukan siapapun bahkan ibu dan kakak saya. ketika berjalan , ada pintu di tembok pembatas ini dan saya dengar suaramu begitu keras tapi ada di bawah tanah ini “
Saya kembali mengucapkan banyak terima kasih ke Rudi atas segala bantuan yang benar-benar terjadi di saat yang tepat. Jika tidak ada Rudi mungkin saya akan ikut menjadi tumbal seeprti teman-teman saya yang lain. Saya dan Rudi berjalan kembali menuju rumah sakit untuk menuju pintu keluar. Terlihat bangunan tampak sepi dan ada bekas seperti terbakar hebat di salah satu sudut bangunan mengingat sebelum kejadian ini , rumah sakit ini sudah di renov dan tidak ada bekas terbakar sama sekali. Pintu keluar sudha terlihat di mata kami , hari masih malam dam menunjukan pukul 01:20. Ketika kami membuka pintu keluar , tidak ada seorangpun yang berjalan dan berkendara di jalanan. Terlihat lengang sekali , saya menoleh kebelakang dan melihat bangunan rumah sakit dan mengatakan pada Rudi juga kalau memang benar rumah sakit ini terlihat habis kebakaran besar. Sekilas teringat cerita yang di ceritakan perawat Rania pada saya ketika dulu awal dia bekerja di rumah sakit ini. Rudi juga berbicara kepada saya