Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang

Keringat Dingin : Sekte Rumah Sakit Malang
Chapter 50


__ADS_3

Saya berteriak dengan keras karena ada cairan seperti ludah yang kena di kaki dan rasanya sangat panas dan perih sekali. saya jatuh dan mengerang kesakitan ketika itu. saya berteriak ke Adaitma


“ Dit.. apa yang kamu lempar ke aku ? kok seperti cairan yang panas sekali dan perih. Apa maksudmu ?”


Adiatma tidak menjawab apapun ketika saya berteriak seperti itu. pas saya lihat kembali, ternyata itu bukan Adiatma, melainkan


SOSOK POCONG BERWAJAH MENGERIKA DENGAN MATA COPOT SEBELAH DAN WAJAH RUSAK.


Saya teriak sekencang – kencangnya untuk yang kesekian kali karena takut dan ngerinya.


AHHHHHHHHHHHH…..AAAAHHHHH


Dalam hati saya berpikir, kemana Adiatma yang asli. Saya berteriak untuk memanggil Adiatma kembali. Tidak ada tanggapan dari dia. saya takut dia diculik kembali atau jangan – jangan yang selama ini jalan dengan saya bukanlah Adiatma, melainkna sosok ini yang sengaja menyesatkanku disini dan ingin membunuhku. Dari depan terdengar suara yang memanggilku,


GOVIII….GOOVVII….DIMANA KAMU


Sambil mendengar teriakan tersebut, ada secerca harapan saya untuk selamat dan prediksi saya salah. Tapi sosok pocong tersebut amsih di depanku dan aku kesulitan untuk berjalan karena masih menahan rasa sakit dan perih yang ada di kaki. Pocong tersebut bersiap untuk meludahiku kembali dengan bergerak mendekat kepadaku. Saya mengambil tas pak Sumaji yang ada di pundak untuk menghalau serangan pocong tersebut. dia meludahkan kembali mengarah kea rah wajahku dan untungnya kena tas pak Sumaji. Ketika mengenai tas, tas tersebu terlihat berasap dan seperti kebakar. Dalam hati saya berkata kalau seperti ini terus, bisa mati kena ludahan dari pocong tersebut. saya mengambil batang besi yang ada di tas pak Sumaji. Saya pukulkan beso tersebut ke pocong itu, tapi karena posisi memukul saya sambil tersungkur di bawah, pukulan tersebut dapat dihindari oleh pocong. Di kondisi gelap itu, agak sulit bagi saya untuk menyerang tepat sasaran ke pocong. Saya berteriak ke Adiatma


“ Dit.. Tolong.. saya ada di belakangmu, ada pocong disini. Awas hati – hati dengan ludahnya, langsung pukul dengan apapun yang kamu punya.”


Terdengar hentak kaki Adiatma yang berlari ke arahku dengan cepat. Adiatma datang dan mendorong pocong tersebut dari belakang menggunakan tasnya. Pocong itu tiba – tiba menghilang. Adiatma berkata kepadaku


“ apa yang terjadi Gov.. bagaimana bisa kakimu seperti itu, apa benar itu hanya terkena ludah pocong tersebut ?”


Saya berkata kepada Adiatma

__ADS_1


“ iya bro.. saya kira yang ada di depanku itu adalah kamu, karena dari belakang terlihat itu kamu. Ketika dia berbalik arah, ternyata dia adalah pocong itu. langsung meludah dan untungnya kena kakiku tidak wajahku.”


Adiatma berkata kembali


“ Tadi aku ngrasa kamu masih ada di belakangku karena kamu juga ngajak ngobrol. Pas jalan, lama – lama lampumu meredup dan aku menoleh kebelakang. Eh ternyata dirimu sudah menghilang.”


( beberapa saat kemudian ) saya melihat ada mata merah itu muncul kembali di belakang Adiatma, dia begitu dekat dari Adaitma dan aku memberikan kode kepada Adiatma. Langsung saya teriak kepadanya dan berkata


AWAS BELAKANGMU ADIATMA ( sambil memberikan tongkat besi kepadanya untuk memukul pocong tersebut )


Adaitma lansgung berbalik arah dan memukul pocong tersebut, pocong tersebut sudah sempat meludah dan mengenai leher dari Adaitma. Pukulan besi tersebut mengenai kepala dari pocong tersebut dan dia menghilang. Adaitma langsung teriak juga dan mengerang kesakitan


AHHHH..PANAAASSSS..PANAASSSS…


“ ternyata sesakit ini ya terkena ludah dari pocong tersbeut, oke tidak masalah Govi.. aku bisa bertahan… kita harus segera mengobati luka ini sebelum panasnya melebar kemana – mana.”


Kami berdua saling mengobati dan memang luka ini bisa melebar jika tidak segera di bersihkan. Rasa perih dan panasnya pun masih melekat di kulit. Sungguh rasa sakit yang luar biasa yang pernah saya rasakan.saya kembali melihat ke kanan dan ke kiri untuk berjaga – jaga bila dia datang kembali. Adiatma bilang kepadaku


“ Lebih baik matikan saja sentermu, aku takut sinar tersebut memancing banyak lagi setan datang kepada kita.”


Saya tidak mematikan sinar sesuai saran dari Adiatma karena bila tak matikan, maka saya tidak bisa melihat jalan sama sekali. hanya sinar senternya yang tak redupkan. Kami berjalan kea rah yang seharusnya awal kami berjalan. Saya berkata kepada Adiatma


“ Dit.. kalau kamu merasa ada sesuatu di belakangmu yang mencurigakan atau aneh, segera kasih kode kepadaku dan kita akan lawan bersama. Jangan sampai kita tercerai berai seperti sebelumnya. Ini adalah perlawanan terakhri kita dan semuanya akan selesai. Percayalah kepadaku.”


Setelah berjalan cukup lama menelusuri lorong yang gelap dan sempit tersebut, akhirnya kami sampai di tujuan yang menjadi target kami. Yaitu tempat penjara bawah tanah seperti awal saya melawan para jin dan membakar buku tersebut. Adiatma berkata kembali kepadaku

__ADS_1


“ Akhirnya kita sampai di titik ini. ( sambil menunjuk arah keluar ) kita harus keluar lewat jalan naik itu, hanya dia yang di sinari rembulan.”


Saya berkata ke Adiatma


“ mengingat hal ini, saya penasaran kepadamu. Bagaimana kamu bisa keluar dari temapt ini. padahal saya tau sendiri kamu berjuang melawan dan tempat ini terbakar. “


Adiatma bercerita


“ ketika saya sudah pasrah untuk mati dan melawan mereka para setan dan pejubah hitam, tiba – tiba ada yang menarik bajuku dan menyeret dengan cepat dan keras. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, sampai aku baru tersadar kalau ada jalan tembusan dimana kita barusan melewatinya. Yang menyeretku adalah dokter yang menyelamatkanmu tadi ketika kamu dan pak Sumaji akan dijadikan tumbal. Dia melindungi untuk bersembunyi dia salah satu ruang rahasia di loker perawat itu.”


Saya berkata kembali kepada Adiatma


“ Trus bagaimana kamu bisa tau aku kesini dan menyelamatkanku di ruangan tersebut ?”


Adiatma menjawab


“ ketika itu, aku bersembunyi dengan dokter tersebut, dokter tersbeut hanya sendirian ketika menyelamatkanku, terlihat pula, api melahap temapt ini. panasnya begitu terasa sampai ke tempat persembunyianku di loker perawat bersama dokter tersebut. hampir seharina kami bersembunyi di tempat itu sambil berusaha untuk kabur. Tapi dokter itu melarangku untuk meninggakan tempat tersebut, untungnya di tempat itu ada makanan meskipun tidak banyak.kamu tau ketika itu badanku amsih sakit, tipes dan DB ku juga belum pulih benar. Dokter itu memberikanku sebuah obat entah apa itu yang ketika ku makan, beberapa jam kemudian badanku sudah merasa baikkan seperti sudah sehat. Aku tau, kamu awal mula tertangkap oleh mereka dan akan di eksekusi. Para pejubah hitam mondar – mandir. Aku dan dokter berencana untk menyamar sebagai pejubah hitam yang niat awalnya untuk kabur dari temapt ini. tapi ketika mendengar pembicaraan mereka para pejubah hitam tersebut, firasatku berkata kalau itu adalah kamu. Tapi aku tidak menyangka, kalau temanmu satunya adalah seorang polisi. Dan polisi yang satunya ternyata menyamar. Padahal aslinya dialah pemimpin dari sekte ini. awalnya saya berusaha untuk menyelamatkanmu sebelum masuk ke gudang tersebut. tapi dokter yang menyelamatkanku melarangku karena waktunya belum tepat. Dan akhrinya saya berhasil menyelinap dan menyelamatkanmu.”


Saya berkata kepada Adiatma


“ pak Sumaji juga menemukan secarik kertas yang dimana berbunyi kita harus membakar semua rumah sakit ini. dan sepertinya juga, kita harus membunuh pak Sukasto dan Rendi “


Sinar senter yang ada di kepalaku, ku coba untuk lebih menerangkan sinarnya. Kami berdua kaget bukan main melihat apa aygn terjadi di penjara bawah tanah tersebut. Adiatma berkata kepadaku


“ Gov.. coba lihat itu..seperti tumpukan mayat yang terbakar. ( beberapa menit kemudian ) GOVVV AWAAAS GOOVVV. DI ATASMUU….”

__ADS_1


__ADS_2