
Pak Sukasto hanya tertawa ketika mendengar pak Sumaji berkata seperti itu seolah itu hanya gretakan semata. Pak Sukasto lalu membalas perkataan dari pak Sumaji
“ Jangan bermimpi kamu. Jabatan kamu apa sampai berani untuk melaporkan saya. tidak ada polisi yang bernai untuk melawan saya di daerah sini.”
Pak Sumaji hanya diam saja ketika mendengar pak Sukasto berkata seperti itu. Tiba – tiba ada sesosok orang yang keluar dari area di sekitar ruangan tersebut yang tidak terlalu terlihat jelas. Dia berjalan pelan dengan ketuk sepatu yang agak keras. Saya tidak tau siapakah itu dan dia menghampiri pak Sukasto dan berdiskusi kecil. Pak Sukasto dan dia melihat kami berdua yang lagi terikat di bawah. Pak Sumaji menoleh ke saya dan berbicara.
“ itu adalah sesosok orang yang terlihat memberikan tumbal keapda sesorang yang lain yang bertubuh besar dan sepertinya itu adalah jin atau setan. Sepertinya bapak itu adalah pemimpin sekte. Saya melihatnya jelas ketika mengintip tadi Govi.”
Saya mengganggukan kepala sebagai pertanda saya percaya apa yang di katakan oleh pak Sumaji. Pak Sukasto berteriak dengan keras seperti memanggil kami. Dia memeprlihatkan kepada kami ada sesuatu yang dibungkus denga kain berwarna htiam keabu – abuan. Sekilas terlihat seperti mayat yang terlentang di suatu Kasur roda. Pak Sukasto membuka kain penutup tersebut dan memperlihatkan bahwa itu sebenarnya adalah
RANIAA..
Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa itu Rania, jelas terlihat Rania sudah terbujur kaku dan sudah meninggal. Badannya begitu kecil tidak seperti yang saya lihat ketika awal bertemu. Saya tak dapat berdiri untuk melihatnya dengan jelas. Saya mengkhawatirkan jika setan atau jin tersebut memakan organ dari Rania seperti yang saya lihat sebelumnya pada ibu hamil tersebut.
__ADS_1
Pak Sukasto melihat ke saya dan berkata
“ sepertinya mayat korban ini adalah temanmu ya Govi. Hahaha ( sambil tertawa keras ). Ini hanyalah tumbal permulaan. Junjungan kami mengingkan tumbal yang lebih banyak untuk kelangsungan rumah sakit ini dan kesejahteraan kami.”
Saya berkata dengan lantang pada pak Sukasto
“ Jangan harap banyak bisa meneruskan tumbal untuk sekte ini. Saya akan menghancurkan semua yang bapak rencanakan. Saya tau semua kebusukan kalian.”
“ karena kalian berdua telah mengetahui hal sebenarnya yang terjadi pada rumah sakit ini. Tak akan kubiarkan kalian hidup dengan selamat ketika keluar dari sini. Dan kami berdua punay rencana untuk menjadikan kalian tanbahan tumbal dari junjungan kami.”
Saya memandang pak Sukasto dengan wajah merah dan emosi.tapi saya juga berpikir bagaimana saya bisa keluar dari tempat ini. Saya melihat tas saya ada dibelakang saya. dan untuk kali ini saya membawa perbekalan lengkap seperti layaknya orang camping. Pak Sumaji hanya diam dan mendengar saja tentang perdebatan kami sebelumnya. Dia membisikan ke aku kalau pak Sumaji membawa pistol dan sebilah pisau di dalam tasnya. Itu bisa menjadikan kesempatan untuk melarikan diri dari sini. Namun saya juga melihat kalau orang – orang berjubah hitam yagn tinggal sedikit tersebut bersiap siaga selalu dibelakang kami berdua. Orang yang ada di sebelah pak Sukasto dan misterius tersebut akhrinya membuka jubahnya dan memperkenalkan diri. Dia bernama
RENDI SANG DIREKTUR RUMAH SAKIT
__ADS_1
Dari awal, saya sudah menduga pasti sosok itu adalah orang yang berperan penting dalam rumah sakit ini. Dia memperlihatkan bahwa dia juga terkena imbas dari keributan yang saya lakukan sebelumnya ketika membakar buku tersebut dan dia juga melawan apra perawatnya sendiri ketika saya mencoba kabur bersama Rudi dan Dimas kemarin. Dia juga bilang kepadaku
“ Teman dan semua orang yang kamu kenal sudah saya kubur dalam – dalam dan menjadi korban junjungan kami. Jangan harap kamu bahwa mereka masih hidup. Kamu orang yang beruntung bisa keluar selamat bersama anak kecil yang bersamamu hahah ( sambil tertawa lepas ).”
Saya sedih dalam hati karena terpengaruh omongan si Rendi tersebut kalau Adiatma sudah meninggal dan menjadi kroban tumbal. Saya tidak percaya karena saya belum melihat dengan mata kepala saya sendiri. Si Rendi memperlihatkan leher dan wajahnya yang telah terbakar setengah, telinganya yang sudah meleleh, matanya yang setengahnya juga merah, terlihat kulit lehernya keriput akrena terbakar, bibirnya yang bergeser ke kiri karena kulitnya keriput karena kebakar juga. Pak Sukasto dan Rendi membelakangi kami dan seperti menyembah pada suatu benda atau sesuatu hal. Saya tidak meliahtnya dengan jelas pas itu karena ketika mereka menyembah sesuatu, lampu ruangan menjadi lebih redup dan berangsur gelap. Saya secara iseng menoleh ke arah pak Sumaji dan melihat dia mundur – mundur untuk meraih tasnya tanpa sepengetahuan dari para pejubah hitam. Para pejubah hitam juga terlihat sedang menyembah sesuatu dan bertindak sama dengan pak Sukasto dan Rendi. Pak Sumaji berhasil meraih tasnya dengan sangat pelan dan merogohkan tangannya ke laci tas paling depan. Dia mengeluarkan pisau dan perlahan memotong ikatan tali tersebut. untungnya ikatan kita bukan berasal dari borgol namun hanya ikatan tali yang di ikat dengan keras. Setelah 15 menit akhirnya tali ikatan tersebut putus dan hebatnya pak Sumaji adalah semua yang dia lakukan tak diketahui oleh orang – orang di sekitarnya. Dia memberikan kode kepadaku untuk tetap diam dan berpura – pura untuk tidak tau. Dia kembali merogoh tasnya untuk mengambil pistol yang ada di tasnya. Ketika dia mencarinya, wajah pak Sumaji terlihat bingung dan heran, seperrtinya pistol yang di carinya tidak ketemu. Lagi – lagi dia memberikan kode kepadaku bahwa benar kalau pistolnya tidak ada di tasnya. Padahal dia merasa kalau ketika kesini dia selalu mempersiapkan pistolnya. Dia yakin kalau pistol tersebut pasti di ambil oleh pak Sukasto ketika berangkat bersama menuju rumah sakit ini. Setelah sekain lama ,mereka dua menyembah entah apa itu, mereka selesai dan tiba – tiba secara aneh lampu kembali menyala dnan ruangan menjadi lebih terang. Pak Sukasto mendekati pak Sumaji lalu berkata
“ Saya tau kamu tadi mencoba untuk kabur dan mencari hal ini bukan ( sambil memperlihatkan pistol yang ada di tangan kanannya ). Kamu tidak akan punya kekuatan yang kuat untuk melawan kami smeua Sumaji di tempat ini.”
Pak Sumaji menggelindingkan pisaunya dnegan pelan ke saya tanpa di ketahuui oleh mereka dan para pejubah hitam yang sewaktu itu ada sedikit di depan kami berdua.
Saya mencoba memotong dengan pelan ikatan tali, meskipun tidak secepat pak Sumaji dalam memotong tali, akhirnya taliku terlepas dan saya merasa siap untuk melawan. Tapi saya tetap berpura – pura dengan tangan terikat untk mengikuti aba – aba dari pak Sumaji. Ketika saya bersiap untuk melawan, perhatian saya terpaku pada temapt dimana mayar Rania tergeletak. Mayat tersebut sudah tidak tampak kembali. Saya berpikir apakah para setan atau jin tersebut berusaha untuk memakan jasad Rania.
Terlihat pula ada perubahan dari wajah dan leher Rendi ketika mereka baru saja melakukan seperti menyembah sesuatu. Pak Sukasto juga terlihat lebih bersemangad dan lebih muda. Apakah mereka mendapat energi dari hal – hal seperti ini ? saya masih berusaha untuk berpikir tetnang hubungan tersebut. pak Sumaji memberikan kode siulan kepadaku untuk bersiap menyerang para pejubah hitam yang ada di dekat kami. Kami berdua langsung melompat dan tubuh kami rasanya seperti mendapatkan energi baru. Saya langsung memndorong dan menendang para pejubah hitam tersebut dan mereka jatuh tersungkur. Begiut pula yang dilakukan oleh pada Sumaji. Mereka terjatuh dan anehnya kenapa tidak melawan. Tapi datang dengan jumlah dua kali lipat lebih banyak dari pintu gelap yang ada di depan kami. Saya dan pak Sumaji saling membelakangi untuk melihat kondisi sekitar dan bersiaga. Pak Sukasto dan Rendi hanya melipat tangan dan melihat kami akan di keroyok para pejubah hitam. Mereka terlihat meremehkan kami dan yakin bahwa kami akan tertangkap. Kami berusaha untuk melawan semampu kami, tapi semakin kuat kami melawan mereka terus datang dengan jumalh dua kali lipat. Kami berdua sudah muali kehabisan tenaga dan memilih untuk mencari jalan keluar dan kabur.
__ADS_1