
Sinar mentari masuk melalui jendela yang ada di kamar Rudi menandakan hari sudah masuk pagi. Rudi melihat kondisi Dimas yang tiba-tiba panas lumayan tinggi. saya melihat bagaimana kondisi kakinya dan ternyata sudah bengkak besar dan membiru. Kemungkinan panas tingginya karena patah pergelangan kaki yang di alami oleh Dimas. Rudi langsung mengajak saya untuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat dan tidak lagi ke rumah sakit biadab itu. Kebetulan di dekat rumah Dimas ada puskesmas ,ketika Dimas mendapat perawatan medis di puskesmas tersebut , Dokter bertanya pada Rudi bagaimana bisa terjadi hal ini dan bagaimana kronologynya. Rudi tak bisa menjawab dan menyuruh saya menceritakan apa yang terjadi pada Dimas. Saya menceritakan panjang dan lebar pada dokter puskesmas tersebut , beliau menghela nafas panjang dan berkata
“ untung saja…. Pembengkakan dikakinya belum parah sekali sehingga masih bisa di selamatkan tidak sampai amputasi “
Mendengar perkataan dokter seperti itu ,Rudi menangis dan berterima kasih sekali kepada dokter tersebut karena hanya Dimas lah satu-satunya keluarganya yang tersisa. Saya dan Rudi menceritakan hal lain tentang rumah sakit itu dan kronologinya dengan lengkap dan hal apa yang menimpa adik saya. Setelah adik saya mendapat perawatan yang intensif , dokter puskesmas tersebut mengajak saya dan Rudi untuk berdiskusi masalah kondisi Dimas di ruangannya. Dokter bercerita pada kami
__ADS_1
“ saya kira cerita tentang rumah sakit itu hanyalah sebuah cerita gosip saja. Sudah banyak kalangan dokter yang mengetahuinya namun mereka tidak mau mengutarakan hal tersebut ke masyarakat umum “
Saya mengatakan pula pada dokter ,setelah kejadian yang saya alami saya tidak tahu bagaimana kondisi rumah sakit tersebut dan tak akan pernah kerumah sakit itu meskipun semua sudah berjalan normal.dokter mengatakan pula kalau Dimas tak perlu ngamar ,hanya perlu sedikit penangan dan menghilangkan demamnya saja. Lega asa mendengar hal tersebut karena saya sendiri masih trauma berada di rumah sakit atau puskesmas seperti ini. Dokterpun bilang kalau kemarin baru saja terjadi kebakaran hebat yang menewaskan seluruh dari petugas rumah sakit yang ada disitu dan mengulang apa yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Saya mendengar dokter bercerita seperti itu terheran-heran , tidak mungkin kemarin malam terbakar karena saya berada di rumah sakit tersebut meskipun ketika saya keluar dari rumah sakit itu ada bekas terjadi kebakaran yang lumayan parah di beberapa bagian bangunan.
3 jam lamanya menunggu adik dari Rudi di rawat, akhirnya kami di izinkan pulang , kebetulan ketika Dimas di rawat , saya juga dirawat dan di periksa oleh dokter yang sama karena luka memar dan sayatan di tubuh saya. ketika berada di pintu keluar ,saya berpamitan kepada Dimas dan Rudi untuk pulang kerumah terlebih dahulu. Saya memanggil tukang ojek online untuk mengantarkan kerumah. Saya ingat kalau keperluan baju dan peralatan saya ada di atas di kamar pasien yang di tempati Adiatma. Hanya baju yang melekat di badan ini yang saya punya. Ketika menunggu tukang ojek di depan puskesmas ,banyak sekali suara sirine ambulance dan mobil polisi lewat di depan jalan entah ada kejadian apa. Saya menaiki ojek pesanan saya yang datang , ojek tersebut menuju kerumah saya kebetulan dilewatkan depan rumah sakit karena memang itu akses terdekat lewat rumah. Terlihat betapa ramenya di depan rumah sakit itu dengan banyak orang medis dengan berpakaian baju putih dan memakai masker masuk ke dalam rumah sakit sambil membawa Kasur roda. Sirine ambulance pun masih di nyalakan meskipun dalam posisi parker dan berhenti di dekat rumah sakit. Polisi berjaga-jaga di depan rumah sakit sambil memasang police line di beberapa bagian. Mungkin ini yang di katakan dokter yang ada di puskesmas tersebut kalau habis terjadi kebakaran hebat kemarin malam. Ada beberapa perawat / petugas medis yang membawa mayat dengan ditutupi kain berwarna putih masuk pintu ambulance. Gejolak terjadi di hati ini antara ingin membantu menungkap ini atau acuh dan pulang. Saya memutuskan untuk pulang dan tidak mau berurusan lagi dengan rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Pagi mentari menyapa dengan lembut dan untuk pertama kalinya, hari itu merupakan hari yang menenangkan setelah rentetan kejadian yang saya alami. Luka akibat cabikan ayng dilakukan sesosok bertubuh besar dengan cakar panjang, masih belum juga sembuh. Pagi itu, saya masih merasakan nyeri dan perih atas sakit tersebut. tapi itu tak menyurutkan Tekadku untuk menuntaskan ini semua dan ingin mencari jasad dari Adiatma dan pak Sukonto. Saya mencoba menelepon Rudi untuk menemaniku ke rumah sakit itu kembali tapi dengan bantuan polisi. Ketika menelepon Rudi, dia mengangkat dan saya berkata kepadanya
“ Rudi, ini aku Govi. Bagaimana keadaan adikmu si Dimas. Apakah dia sudah baik – baik saja ? aku hanya ingin memberitahumu kalau aku ingin mengajakmu untuk mencari jasad dari ibumu dan Adiatma temanku di rumah sakit itu dengan bantuan polisi. Apakah kamu bersedia menemaniku ?.”
Rudi menjawab
__ADS_1
“ Jangan bercanda engaku Govi, Adikku saja masih belum pulih dan mentalku pula juga masih enggan untuk balik kerumah sakit tersebut. jangankan kerumah sakit itu, aku melihat rumah sakitnya saja sudah membuatku keringat dingin dan merinding sekujur tubuh. Aku yakin masih banyak setan dan jin yang bergentayangan di sekitar rumah sakit tersebut. “
Saya terdiam dan berpikir kalau Rudi jelas tak bersedia untuk kembali ke rumah sakit tersebut. saya harus tetap mencari teman saya Adiatma dan mungkin jasad – jasad yang lain. Saya kelaur rumah dengan masih ada balutan perban di sekitar tubuhku untuk menuju ke kantor polisi terdekat dengan rumah sakit tersebut. datanglah saya di kantor polisi dekat rumah sakit tersebut dan bertemu dengan seorang polisi yang sedang jaga. Waktu menunjukan masih pagi hari dan polisi disitu juga masih semangad untuk menjalankan tugas. Mungkin ini adalah modal yagn kuat untukku buat minta tolong menceritakan kronologi kebakaran di rumah sakit tersebut.