
“ Kalian akan dijadikan tumbal seperti apa? Teman saya juga dijadikan tumbal dan jam 12 malam ini adalah puncak acaranya ( sambil mengusap mata dan menangis ) “
Saya juga mengatakan pada mereka untuk menolong mereka semua. Tapi saya tidak tau bagaimana cara mengeluarkan mereka. Jeruji itu hanya bisa dibuka dengan kunci gembok. Gembok yang mengikat pitnu jeruji besi itu sangatlah besar hingga tidak mungkin kalau dipukul menggunakan batu atau semacamnya. Saya teringat dengan pak Sukonto yang tiba-tiba menghilang di tengah hutan tadi. Saya mencoba menelpon kembali namun tidak ada tanggapan.
Para dokter dan perawat yang ada di jeruji besi it uterus meronta-ronta untuk minta tolong dikeluarkan. Saya tidak bisa menuruti keinginan mereka karena saya pun juga tidak tahu bagaimana mengeluarkan mereka dan bahkan diri saya sendiri. Waktu sudah menunjukan pukul 23 :40 WIB.tak lebih dari 20 menit lagi , acara puncak akan di mulai. Saya terus berlari menuju lorong yang ada di antara jeruji besi tersebut dengan meninggalkan mereka. Hati ini bergejolak untuk berusaha menyelamatkan mereka atau Adiatma. Saya membuat keputusan untuk terus berjuang menemukan Adiatma semua ini dimulai , baru menyelamatkan mereka. Lari dan terus berlari dengan menahan rasa sakti yang ada di pundak saya. rasa sakit yang membuatku tak kuat menahan tangis untuk bertahan hidup. Di depan terlihat ada lorong yang bercabang. Say hanya mengikut naluri saya dan terus mencari jalan keluar. Dari kejauhan lorong di gorong-gorong tersebut ada suara orang merintih kesakitan kembali. Saya menoelh di sepanjang jalan dan menengok kanan kiri yang sempit tak menemukan apapun. Suara itu semakin mengeras-dan mengeras
AAAGGGGGHHHH……………AAAGGGGHHHH…………
Sumber suara itu ketemu , saya mengetahui karena ada sumber cahaya di area suara tersebut. Saya berhenti berlari dan sedikit mundur. Perlahan jalan untuk mencoba mengintip. Ternyata setelah saya lihat dengan sedikit mengintip itu adalah
PAK SUKONTO YANG DIGIGIT TANGANNYA
Berdebar - debarnya hati ini mengetahui perbuatan kejam seperti itu. Darah mengucur sampai ke lorong di gorong-gorong tersebut. Apa itu Jin yang menjadi pujaan dan sesembahan mereka para pengguna jubah hitam. Sosok itu sama seperti sosok yang saya lihat ketika menjadi tumbal di lingkaran tersebut. Ketika mata saya melihat ke bawah , ada batu yang lebih kecil dari genggaman tangan. Tanpa banyak pikir dan pertimbangan , langsung tak lempar ke sosok itu dengan berteriak.
__ADS_1
“ HEY APA MAU KALIAN SINI HADAPI SAYA KALAU BERANI ( sambil melempar batu tersebut ) “
Pak Sukonto yang melihat saya dengan darah yang mengucur banyak dan wajah yang pucat
“ BODOH….CEPAT LARI..SELAAMTKAN DIRIMU….SUDAH TIDAK ADA WAKTU UNTUK MENYELAMATKAN MEREKA “
Sosok itu tetap menggingit pak Sukonto hingga dia lemas dan tak sadarkan diri walaupun telah saya lempar denga batu. Pak Sukonto terkapar di atas pintu jeruji besi kecil yang seperti itu adalah pintu untuk naik ke atas. Ketika pak Sukonto berbicara seperti itu , saya langsung lari untuk menuju pitnu gorong-gorong yang lainnya. Tanpa menoleh kebelakang dan terus berlari , mencari pintu yang lain. Ada suara gemuruh di belakang saya ,gemuruh itu semakin membesar dan membesar. Sedikit say menoleh ke belakang , mata saya langsung melotot karean itu adalah
Mereka seperti menjadikan saya sebagai puncak jamuan. Kejar dan terus mengejar saya meskipun jarak mereka lumayan jauh dengan saya. ada terlihat pintu jeruji besi yang ketika membuka harus menaiki sedikit tangga sekitaran 3 meter. Saya akan menaiki dengan tangan kanan. Sontak saya berteriak karena secara tak sadar saya menggunakan bahu saya yang terkilir. Sambil menahan dengan tangis dan ngilu yang luar biasa , saya tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain untuk menaiki tangga tersebut. Mereka semakin dekat dengan di tandai suara yang ngeri dan gemuruh. Ketika sampai di dekat pintu besi yang ada di atas kepada saya , saya mencoba mendorong dengan tangan kiri saya tapi tetap tak terbuka. Terlalu berat bagi beban pundak saya. bahu kanan yang semakin nyeri karena menahan beban tubuh. Keringat sudah membasahi tubuh saya dari atas sampai bawah , pintu jeruji besi itu belum juga mau terbuka. Mungkin karena tak pernah dibuka seumur-umur.
Tangan kiri saya yang mencoba untuk membuka itu sudah takut dan berdarah karena tergores karat yang ada di besi tersebut. Rasa lelah dan menyerah sudah ada di benak saya , kalau badan ini sudah tidak ,kemungkinan terburuk saya akan mati di makan oleh mereka. Tak lama berselang , ada 4 tangan yang mengangkat jeruji besi itu. Terbukalah jeruji besi itu dengan lebar. Dengan badan yang setengah sadar karena kelelahan , badan saya di angkat oleh mereka yang saya pun tak tahu itu siapa. Mereka menyiram saya dengan air di malam hari untuk membangunkan saya lagi. Saya tersadar dan melihat mereka seperti orang asing yang tak pernah melihat , setelah saya amati lebih dalam ternyata mereka salah satunya adalah
IBU RANIA DAN ISTRI DARI PAK SUKONTO
__ADS_1
Bagaimana mereka bisa tahu apa yang terjadi dengan saya dan juga mengetahui saya disini. Mereka sedikit bercerita bahwa hal ini juga pernah mereka alami di masa lalu. Suara gemuruh itu masih terdengar ,saya reflek langsung bilang
“ AYO BU….. cepat…….cepat tutup pintu jeruji besi itu aagr mereka tidak keluar “
Kami bertiga mengangkat bersama dan mencoba untuk menutup dengan diberi beban di atasnya agar tak terbuka. Saya melhat ternyata kita ada di gedung belakang rumah sakit yang berada di
GUDANG TUA DI DEKAT KAMAR ADIATMA
Kami berlari bersama-sama untuk segera mencari temapt ritual karena waktu mepet tinggal 5 menit kembali. Sambil berlari , saya menceritakan apa yang terjadi kepada pak Sukonto ke istrinya. Istrinya kaget dan menangis tersendu-sendu. Dia menggenggam tas yang ada di sampingnya dan berkata
“ saya akan menuntaskan untuk selama-lamanya apa yang ada di tas ini “
Saya juga memberitahu ibu Rania jika dia mengkhianati saya dengan berpura-pura menolong saya padahal akan menjadikan say tumbal pengganti adiknya. Ibu Rania melihat saya dengan tajam bahwa tidak kembali kerumah semenjak keluar dengan saya tadi. Para gerombolan setan itu terus mengejar kami , istri pak Sukonto langsung mengeluarkan apa yang ada di tasnya , itu adalah sebuah baju-baju anaknya yang menjadi korban 10 tahun lalu. Sambil mencari tempat ,dia memperlihatkan kepada saya bahwa ada bekas mantra yang tertinggal di baju anaknya. Dia mengeluarkan semua termasuk ada sprei dan selimut kamar yang di tempati kala itu. Dia tidak menceritakan bagaimana bisa mendapatkan sprei dan selimut itu. Barang-barang itu dikumpulkan dan dibakar di atas tanah. Lalu ibu Rania
__ADS_1