
Saya menahan dan memaksa diri saya sendiri untuk melihat tumpukan mayat di dalam lemari tersebut. Sekilas saya melihat, tidak ada mayat Adiatma, hanya setumpukan mayat yang saya tidak ada satu pun yang kenal. Pak Sumaji melihat dengan teliti mayat – maayt tersebut dan dia berkata kepadaku
“ Gov.. coba lihat dengan teliti lagi. Fisik mereka masih tidak terlalu rusak. Berarti mereka belum meninggal lebih dari 3 hari. Saya curiga bahwa mereka mencoba melarikan diri dan malah terkunci di lemari ini atau ada yang sengaja mengunci lemari ini dari luar ketika mereka bersembunyi. Dan jika saya lihat dengan seksama, mereka adalah kebanyakan para dokter dan perawat. Terlihat dari baju mereka.”
Saya berkata kepada pak Sumaji
“ saya teringat ucapan bapak yang bilang bahwa korban kebakaran tadi tidak ada yang dari kalangan perawat dan dokter ketika bapak melakukan identifikasi mayat tersebut. jangan – jangan, yang ada di daftar perawat dan dokter rumah sakit itu sebenernya adalah MEREKA YANG ADA DI LEMARI ITU.”
Pak Sumaji terdiam dan terlihat berpikir. Dia mengiyakan apa yang tak katakan kepadanya. Tapi aneh sekali lagi, jika dia memang berniat untuk kabur dari ritual ini, kenapa mereka mati di dalam lemari yang dikunci dari luar. Apa mungkin ada temna mereka yang tau dan sengaja membunuh mereka semua. Pak Sumaji mencoba melihat – lihat kembali tumpukan mayat itu, dan sesekali merogoh saku dari baju mereka untuk mencari sesuatu yang saya pun tidak tau apa itu. Ketika dia sedang mencari, pak Sumaji menemukan secarik kertas yang ada di saku mayat dokter itu. Ketika secarik kertas dibuka dan di dalamnya tertulis
JIKA ADA YANG MENEMUKAN TULISAN INI, TOLONG UNGKAP KAMI SEMUA PARA DOKTER YANG TERPENJARA DAN SEPERTI DI JADIKAN TUMBAL SEKTE YANG DILAKUKAN RUMAH SAKIT INI. BUNUH PEMIMPIN MEREKA YAITU PAK RENDI DAN SATU ORANG LAGI. BAKAR SEMUA SEMUA PENDUKUNG ACARA RITUAL INI, BAHKAN JIKA ADA YANG DI LUAR RUMAH SAKIT INI, TOLONG BAKAR SEMUA DAN MUSNAHKAN RUMAH SAKIT INI JIKA PERLU KARENA JIKA TIDAK, MAKA AKAN BANYAK MEMAKAN KORBAN LAGI DAN LEBIH BANYAK.
Daus pun berkata kepada saya
“ Govi.. saya tak menyangka, ternyata masih banyak teka – teki yang di harus di selesaikan tentang semua yang sudah dimulai oleh rumah sakit ini, tapi sebelumnya, tolong saya Govi.. kakinya saya sudah tidak kuat berjalan, kaki saya seperti mati rasa.”
Saya melihat kondisi kaki Daus sudah ebngkak dan berdarah karena cengkraman yang belum juga lepas. Saya meminta tolong ke pak Sumaji untuk berusaha melepas cengkraman tangan genderuwo tersebut yang menempel. pak Sumaji mendekatiku dan menolong Daus. Duas sudah tergeletak tak mampu berdiri, dia mengerang kesakitan sambil terlihat sedikit menangis, mungkin karena betapa sakitnya dan lamanya dia menahan. Saya mencoba memotong tangan tersebut dengan pisau dan pak Sumaji menggunakan batang besi yang ada di tasnya. Akhirnya setelah beberapa menit berjuang untuk melepas tangan tersebut, tangan itu bisa lepas dan saya membuang sejauh – jauhnya. Karena saya melempar jauh tangan tersebut, saya tak sadar kalau hal tersebut menimbulkan suara yang cukup keras di tengah hening dan gelapnya suasanya di sekitaran itu. Pak Sumaji melihat kondisi kaki dari Daus yang bengkak dan biru. Pak Sumaji mengambil sebuah botol minyak yang ternyata juga ada di tasnya. Lalu membalutnya dengan sepotong kain untuk menekan begnkaknya. Daus berkata kepada pak Sumaji
“ Terima kasih sebanyak – banyaknya pak Sumaji. Bapak telah menyelamatkan nyawa saya.”
Pak Sumaji membalas perkataan dari Daus
__ADS_1
“ Balaslah kebaikanku dengan keluarkan kami dari tempat ini, tolong ingat – ingatlah kembali kemana tujuan kita agak bisa keluar dari tempat ini.”
Saya membopong Daus untuk mencoba berdiri kembali dan Daus sudha bisa berdiri dengan perlahan dan masih sanggup menahan rasa sakit yang tidak separah sebelumnya.
Saya berkata kepada pak Sumaji
“ Pak sepertinya suara lemparan saya itu bisa menarik mereka para pejubah hitam kemari, ayo kita segera pergi dari tempat ini.”
Pak Sumaji memukul tangan saya dengan lumayan keras lalu berkata
“ Makanya kalau mau bertindak apa – apa itu dipikir, kalau mereka sampai kesini, tamatlah kita. Mau lari kemana lagi kita ini.”
Saya hanya menganggukan kepala saja karena sadar kalau apa yang saya lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Daus menyela kami dengan berkata
Pak Sumaji berkata kepada Daus
“ Tidak mungkin kita memasukan mayat – mayat tersebut ke dalam lemari kembali karena jumlah mereka yang terlalu banyak dan akan memakan banyak waktu jika kita mencoba memasukan mereka semua ke dalam lemari.yang petning ayo kita pergi dan mencari tempat persembunyian yang baru.”
Kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan senter yang di pegang oleh pak Sumaji. Kami tidak bisa berlari karena Daus masih belum mampu untuk berlari.sepanjang perjalanan, pak Sumaji selalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat peluang apakah ada jalan atau tangga kecil untuk jalur keluar dari lorong ini.saya bilang kepada pak Sumaji
“ pak.. Coba sesekali menengok ke belakang. Apakah ada sebuah lubang yang tertutup atau gorong – gorong. Barangkali ada, itu bisa dijadikan tempat kita untuk keluar dari tempat ini.”
__ADS_1
Pak Sumaji berkata
“ Kita tadi masuk dari atas ke bawah, jadi ketika kita mencari jalan keluar, maka kita harus mencari jalan keluar ke atas, kalau kita semakin ke bawah, bisa – bisa tersesat terlalu dalam dan tidak kembali.”
Dalam perjalanan saya juga melihat kemana – mana untuk mencari apakah ada tangga.dari belakang saya mendenagr sesuatu yang berteriak dengan cukup kencang.
GOVI.. SUMAJI. MAU KEMANA KALIAN ? SEJAUH APAPUN KALIAN BERLARI, KAMI AKAN MENEMUKAN KALIAN.
Pak Sumaji pun mendengar teriakan tersebut dan sadar bahwa itu adalah suara dari pak Sukasto dan meskipun kami tidak menoleh atau mengarahkan senter ke belakang.pak Sumaji berkata kepadaku
“ Govi.. sepertinya kamu mendengar teriakan tersebut. itu dari pak Sukasto. Ayo kita cari temapt persembunyian. Kamu tidak usah menanggapi atau menjawab suara tersebut. meskipun suaranya dari belakang, aku khawatir dia ada di suatu tempat di sektiaran sini.”
Daus berkata kepada pak Sumaji
“ saya sepertinya tidak asing dengan jalur lorong ini. Di depan ada 2 jalur, ke kanan dan ke kiri, pilih jalur ke kiri saja pak Sumaji, nanti di depan ada tanggan kecil melingakr menuju ke atas dan sebelum tangga tersebut, ada sebuah ruangan yang terkunci juga, entah berisi apa hal itu.”
Kami bertiga merespon positif perkataan dari Daus dan optimis bisa keluar dari tempat ini. Ketika kami mengambil jalur kanan sesuai instruksi Daus, terdengar dari jalur kiri, ada suara seperti orang berbaris dengan degap kaki yang keras sekali. Entah apalagi yang mengikuti kita itu, saya tak mau melihat lorong tersebut dan focus ke arah yang ditunjuk oleh Daus. Ketika kami sudah melihat tangga keluar yang ada di depan kita, ternyata ada sebuah ruangan di sebelah kiri kami yang bergetar hebat seperti ada yang mendobrak dari dalam. Pak Sumaji berkata kepada kami berdua
“ ayo cepat, segera jangkau tangga itu dan kelaur dari tempat ini. Dan saya akan mencari bantuan dari teman – teman polisi.”
ketika kami tinggal sedikit lagi meraih tangga tersebut, pintu itu jebol dan menghantam kami bertiga sampai kami tersungkur dan saling jatuh menjauh. Saya sempat tak sadarkan beebrapa menit karena terhempas begitu jauh. Pak Sumaji yang langsung berdiri dan membangunkan saya. saya tersadar dan melihat ke kanan dan ke kiri sambil menyakan kepada pak Sumaji
__ADS_1
“ pak. Apakah yang barusan terjadi. Dimana Daus ? “