
Pak Sumaji mulai terlihat panic sekali dan kebingungan dengan melihat ke kanan dan ke kiri. Dia bilang kepadaku
“ Govi..lebih baik kita segera keluar dari tempat ini dan lapor ke teman – temna saya di kantor untuk meminta bantuan mencari pak Sukasto.”
Saya setuju dengan ide dari pak Samuji, tapi saya masih bingung kemana perginya pak Sukasto. Tanpa banyak pikir, saya langsung berbalik arah menuju ke pintu dimana kita masuk awal tadi. Ketika kita berlari. Hal yang saya alami terulang kembali. Kita seeprti tersesat dalam gedung ini. Saya tak tau mengapa hal ini terjadi, padahal semua ritual sudah saya musnahkan dan seharusnya sudah tidak ada lagi kejadian mistis seperti ini. Pak Sumaji bingung dan mencoba berlari dan berputar – putar untuk mencari pintu kelaur yang lain. Saya berlari juga untuk mengikuti pak Sumaji sambil menjelaskan kalau hal ini juga sudah saya alami kemarin dan tidak akan ektemu sampai kita menyelesaikan tuntas masalah ini. Saya mencertiakan juga kepada pak Sumaji abhwa terakhir kali saya bisa keluar dari sini adalah ketika teman dan dosen saya berkorban untuk saya. kami akhrinya berhenti berlari dan mencari pintu keluar karena sepanjang kami berlari dan menoleh, tidak ada tanda – tanda pintu keluar dan bahkan hanya dikelilingi kamar – kamar rumah sakit. Kami berlari menuju ke tempat kebakaran tersebut akrena barangkali dtempat itu kita bisa keluar karena tidak ada bangunan yang menghalangi. Ketika kita berlari menuju kesana sambil menyalakan senter, kami juga tidak menemukan lokasi kebakaran tersebut. padahal tadi ketika awal dengan pak Sukasto, lokasi kebakaran tersebut sangat dekat dan jelas dengan tempat kami. Pak sumaji berkata lagi padaku
“ Bagaimana ini Govi ? ternyata apa yang kamu ceritakan begitu nyata dan cerita tentang rumah sakit ini juga begitu. ( sambil duduk di lantai ) saya juga sebenernya sudah mendengar bagaimana mitos rumah sakit ini tapi untuk menjaga stabilitas dan issue yang berkembang, kami menutupi cerita tersebut kepada masyarakat. Sekarang malah saya yang menjadi korban.”
Saya membalas perkataan pak Sumaji
“ Ternyata bapak sebelumnya sudah tau tentang cerita rumah sakit ini. Kenapa bapak tidak terus terang saja dan mengakhiri ini semua, Bapak apakah tidak kasihan dengan korban yang terus hilang dan meninggal dirumah sakit ini setiap 5 smapai 10 tahun sekali ( sambil sedikit sebal dan berwajah merah ).”
Ketika saya marah kepada pak Sumaji, beliau tiba – tiba teringat sesuatu. Apa ini semua ada hubungannya dengan pak Sukasto ? karena smeua kebijakan atas apa ayng terjadi di daerah ini adalah tanggung jawab pak Sukasto. Pak Sumaji kembali berkata kepada saya
“ Berarti kita harus mencari pak Sukasto Govi, dialah kunci dari semua ini dan dia juga bisa menutup rumah sakit ini atas tunduhan ada tindakan criminal. Tapi sepertinya kita harus melakukan berdua karena kita terjebak di sini.”
__ADS_1
Pak Sumaji mencoba menelepon teman – temannya untuk sekedar meminta bantuan meskipun dia tidak bisa keluar. Di telepon berkali – kali tapi tidak ada yang mengangkat. Kami berdua kembali menuju ke lokasi awal hialngnya pak Sukasto.
Angin tiba – tiba berhembus dengan kencang malam itu. Sampai – sampai pohon palm yang ada di sebelah kami sampai ada yang tumbang. Ada juga suara langkat sepatu di sebelah kiriku. Semakin cepat saya melangkah dan berlari, semakin cepat dan keras pula suara itu.
TUUKK.TTTTUUUKKK……..TTTUUUKKK..TTUUUUKK
Pak Sumaji juga mendengar suara tersebut dan mengarahkan senternya ke arah asal suara tersebut. tidak ada siapa – siapa di asal suara tersebut. saya bilang kepada pak Sumaji untuk tidak usah memperdulikan suara tersebut. kami sampai kamar tempat Adaitma di rawat. Terlihat berserakan dan berantakan sekali. Sudah tidak terlihat seperti kamar yang kami temapti sebelumnya. Namun perhatian saya terpaku pada barang yang ada di pojok ruangan. Saya mendekati barang tersebut dan terlihat itu adalah tas saya dan Adiatma yang tertinggal. Saya sampai lupa bahwa saya dan Adiatma membawa baju dan laptop untuk rencana mengerjakan skripsi saat itu meskipun tidak terealisasi. Dari sisi pintu kamar mandi sebelah dalam, terdengan suara orang mengetuk pintu, tapi semakin lama semakin keras
TOOKK…TTTOOK.TTOOOOK.TTOOKK….TTOOOKK
“ Govi..apalagi yang keluar dari pintu tersebut ( sambil berkeringat danngos – ngosan ).”
Saya bilang kepada pak Sumaji
“ sudah pak jangan dilihat. Saya yakin itu adalah makhluk yang mengejar – kejar saya dan ingin membunuh saya kemarin.kita harus menjauh dari tempat tersebut.”
__ADS_1
Kami berdua mencari tempat untuk bersembunyi untuk sementara waktu sambil menunggu kondisi sedikit aman. Kami tak menemukan ruangan untuuk bersembunyi. Hanya ada balkon di sepanjang lorong setinggi 1 meter yang bisa digunakan sebagai temapt duduk. Dilihat kami agak menjauh dari kamar tersebut, kami duduk di balkon tersebut dan sebelumnya kami melihat apa daerah itu aman atau tidak dengan menggunakan senter. Teringat ada satu tempat yang belum saya lihat secara penuh meskipun pernah sekali kesana yaitu gudang tua di dekat kamar tersebut. saya menceritakan hal tersebut kepada pak Sumaji dan dia langsung menjawab
“ Yang benar saja kamu Gov… kita harus melewati kamar tersebut dimana kita saja sekarang harus menjauh dan berlari dari kamar tersebut. sekarang kamu suruh saya untuk ke gudang dekat kamar tersebut ?. Gila ya kamu.”
Saya menjawab ke pak Sumaji
“ tapi hanya itu pak Kesempatan kita untuk menemukan pak Sukasto dan menyelesaikan ini semua. Saya merasa itulah tempat inti dari bangunan rumah sakit ini. Kita tunggu beberapa menit untuk menunggu kondisi sedikit aman. Saya mohon pak, karena kita tidak mungkin sampai tersesat disini terus.”
Pak Sumaji menjawab kembali pernyataan yang saya lontarkan
“ Awas jika apa yang kamu usulkan adlah bohong dan ternyata tidak ada apa –apa disana, saya akan bikin perhitungan denganmu ( dengan ekspresi campuran antara panic dan takut ).”
30 menit kita duduk – duduk di balkon tersbeut sambil selalu menyinari dengan senter daerah sekeliling kita. Selama itu pula tidak ada tanda – tanda apa – apa di sekitaran kami. Kami berdua sepakat untuk menuju ke gedung tersebut dengan yang sama menuju gudang itu. Jalan pelan – pelan sambil terus menyinari da nada suara aneh kembali. Sekarang ada di atas atap kami
GLUUUDUUKKK…………GGLLUUDDUUKK…GGLLUUDDUUKKK…
__ADS_1
Semakin lama semakin keras suara tersebut. saya langsung menyenteri asal suara tersebut. terlihat atas berguncang agak keras. Seperti tidak mungkin kalau itu adalah kucing atau hewan lain. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Kami sedikit berjalan cepat untuk segera menuju gudang tersebut. pak Sumaji secara tidak sengaja menyenteri sesosok tinggi besar yang seeprtinya itu adalah genderuwo dan ketika kami emnyinari, dia datang dengan cepat seperti akan menyerang kami. Kami berdua langsung jongkok dan melindungi kepada kami sambil berteriak bersama.