
Di ruang kerja Ervan tanpa sedang duduk mengecek berkas-berkas yang di perlukan karena belum sempat memeriksa nya. Ervan merupakan orang yang gila kerja di hati libur pun dia tetap menyibuk kan diri dengan berkas-berkas yang tersisa di ruang kerjanya, dengan berpakaian santai celana pendek dan memakai kaos putih sangat kontras dengan wajahnya yang rupawan itu.
Lama dia membolak balikkan berkas itu namun tetap dia gelisah sendiri, Lama-lama terasa bayangan Syifa benar-benar mengganggu nya mulai dari dalam tidur hingga ke aktifitasnya.
Terlihat Syifa memakai dress berwarna pich dengan rambut terurai panjang berwarna hitam ke kuningan menambah kesan sangat natural tetapi sangat cantik sekali, dengan tersenyum gadis itu menatap kearah Ervan seolah memberi isyarat untuk menghampirinya di ulurkan nya tangan dan di sambut dengan senyum mengembang oleh Ervan dan di genggamnya tangan yang putih mulus itu dengan hangat ditatap nya wajah yang putih bersih tanpa setitik noda dengan aura yang menenangkan dengan jarak yang dekat dilihatnya mata bulat bibir yang berwarna pink sangat indah sekali.
Dengan jarak yang sangat dekat dapat dia cium semerbak bau mawar dari tubuh Syifa membuatnya tambah terpesona dan ingin memiliki nya seutuhnya.
"Kamu sangat cantik sekali, mulai sekarang kamu adalah milikku jangan pernah mendekati lelaki manapun karena aku tidak mau berbagi apapun tentang mu kepada siapa pun itu lelaki di luaran sana"
Tekan Ervan sambil menatap mata bulat dengan bulu mata panjang lentik itu.
Dengan tersenyum Syifa menganggukkan kepalanya disertai tatapan mata yang teduh membuat Ervan seolah tak ingin melewatkan sedetikpun tanpa melihat nya. Dibelainya wajah itu di selipkan nya rambut yang sedikit terurai kedepan itu di belakang telinganya sehingga tak ada sedikitpun yang akan menghalangi pandangannya pada wajah itu.
"Apa kamu tau aku selalu memikirkan kamu sejak hari pengukuhan aku menjadi CEO, kamu tanpak berbeda aura mu yang positif, sifatmu yang lembut dan senyum mu yang manis aku tidak bisa tidur" ucapnya merayu.
"Apa kamu merasakan yang sama seperti ku sayang" tanya nya
" Tentu saja, aku menyukai semua tentang mu kamu sesosok lelaki sempurna di mataku walaupun seorang pewaris tunggal tapi kau tetap professional dalam melakukan pekerjaan mu tak pernah melakukan tindakan yang berlebihan dan semena-mena kepada wl karyawan mu, kamu kelihatan cool sekali aku suka"
"Benarkah? " Ervan merapatkan tubuhnya mendekat ke arah syifa dengan perasaan bahagia nya.
" Iya, aku berkata yang sebenarnya"
Tak sedikitpun pandangan mata Ervan bisa berpaling kearah lain dia hanya terfokus kearah Syifa dan Syifa saja, dengan perlahan di genggamnya tangan itu dengan lembut, kemudian diciumnya tangan itu perlahan
" aku mencintaimu".
__ADS_1
Dengan perlahan di dekatkan nya wajah mereka berdua hingga dapat di rasakan nya hembusan nafas dari masing-masing nya.
Jarak keduanya hanya beberapa centi saja dan perlahan menempel lah kedua bibir tipis nak berwarna pink itu pada bibir tebal milik Ervan dengan perlahan kecupan itu menjadi ******* yang cukup dalam mereka terlarut dengan saling menyesap tanpa kehabisan nafas dan menderu hingga ke ubun-ubun, hingga ketika tangan Ervan hendak melakukan hal yang lebih dari itu.
Tok tok tok,,
Suara pintu ruang kerja Ervan di ketok dari luar dan kembalilah Ervan ke dunia yang sebenarnya baru dia tersadar kalau ternyata tadi hanyalah hayalan nya saja, diapun meremas rambutnya kuat sedikit menahan gejolak dan kekesalan karena dia pikir itu kenyataan ternyata hanya imajinasi nya saja.
"Argghhh,, ternyata aku berhayal, Syifa mungkinkah kamu akan menerima ku apakah mungkin kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku"
Dia bermonolog berperang dengan hatinya sendiri.
Kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya tampaklah sang pelayan bi Diyah didepan pintu,
" Maaf den ditunggu nyonya dan tuan buat makan siang di bawah" ucapnya.
"Kamu kok betah gitu Van di kamar mulu, emang nggak bosan kerja terus kan hari ini libur jalan gitu atau kencan gitu, "
Mama Widya mengomentari kebiasaan sang anak.
" Nggak kok ma, Ervan cuman ngecek beberapa berkas penting aja nanti juga main tapi ya nggak bisa seharian full, lagian mau kencan sama siapa coba" agak kesal juga diungkit kejombloan nya.
"Yasudah terserah kamu loh ya,
lagian tadi mama belanja sama bibi eh malah ketemu Syifa deh, dan kami belanja bareng sambil minum bareng malah, " mama Widya mulai memancing Ervan.
"Mamah emng dimana ketemu Syifa, dia sama siapa, beli apa aja, trus yang ngantar dia pulang siapa? " rentetan pertanyaan ervan membuat mama Widya bingung menjawab yang mana.
__ADS_1
" Kamu kok kalo nanya satu satu kenapa sih Van, mama kan bingung segitu pertanyaan berbarengan di tanya kan, "
Ervan nyengir kikuk dan menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal itu " hehe "
"Tadi dia mau beli sayur di supermarket yang dekat kostan nya itu trus mamah nggak sengaja lewat yasudah sekalian mamah singgah dan belanja di sana deh sama bibi, banyak yang dia beli tapi semuanya makanan buat stok mungkin dua mingguan atau sebulanan itu sepertinya"
" Sepertinya dia sudah biasa berbelanja begitu terlihat dari cara dia telaten bantu mamah pilihkan sayuran dan semuanya bagus seger-seger semua dia juga pandai pilih-pilih yang bagus yang mana aja gitu"
Mama Widya terus bercerita panjang lebar dengan antusias seperti anak kecil yang baru menemukan teman bermain saja.
" Setelahnya kami menghabiskan waktu hingga pukul 10 pagi untuk bersantai dan meminum teh di cafe terdekat, ahh mamah ingin punya anak perempuan pah" cerocos nya.
" Kok anak perempuan sih ma, " Ervan sewot mendengarnya
" Yahh mamah mau mantu juga kamu lelet kayak siput geraknya diambil orang baru tau rasa" jawab tegas mama Widya lagi.
" Sudah sudah, mama ini gimana sih kasian noh si Ervan merah muka nya, ketakutan kan hehe mamah sih" papa Angga ikutan menengahi tapi menjahili Ervan juga.
Sontak hal itu membuat Ervan bungkam bayangan ketika Syifa berjalan dengan asistennya, berbicara dengan Riko, dan banyak lagi kolega bisnisnya yang masih muda muda itu membuat Ervan jadi diliputi ketakutan benar saja jangan sampai dia terlambat dan diambil orang pikirnya.
dan acara makan siang itu di lanjutkan dengan keheningan hingga selesai tak ada lagi yang berbicara.
***
Cuaca yang sangat cerah memancarkan aura yang cukup menyengat dari jendela kamar kost Syifa, dia sedang menghabiskan waktunya dengan rebahan sambil mendengarkan musik dari Rizky pebian yang berjudul menua bersama.
tambahilah kemelow an Syifa di hari minggu ini.
__ADS_1