
Rasa bangga dan penuh syukur di rasakan oleh Syifa kali ini. Tak henti-hentinya dia mengucap kan syukur rasanya kebahagiaan itu ingin sesegera mungkin dia bagi kepada orang-orang tersayang. Seperti niat awalnya yang mau membelikan motor dan sebidang Tanah untuk di olah oleh orang tuan nya nampak sudah di depan mata. Bayangan kebahagiaan itu nampak sangat jelas, sehingga membuat Syifa terus tersenyum meluapkan perasaan itu.
Mereka telah kembali dari meeting, kini di tengah-tengah perjalanan saat Syifa masih dalam dunianya sendiri tiba-tiba Ervan membuyarkan nya.
" Kamu sangat luar biasa hari ini" ucapnya
" Apa kak? " Syifa yang baru tersadar karena ucapan Ervan yang mengejutkan nya tidak mendengar dengan jelas ucapan nya itu.
" Seperti nya kamu sangat senang, apa sebahagia itu rasanya? " ucap Ervan,
Benar saja dari selesai Meeting penting itu hingga keluar dari gedung smpai sekarang dia perhatikan Syifa nampak selalu tersenyum memancarkan kebahagiaan. Tentu dia pun merasakan damai saat melihat pujaan hati nampak bahagia, Sehingga membuatnya ingin memberikan yang lebih dari ini asalkan dia bisa terus melihat kebahagiaan itu di wajah gadisnya.
" Iya tentu saja kak, dengan berhasilnya Tander ini berarti aku akan mencapai impian ku juga, asal kaka tau aku sudah mengumpulkan uang untuk itu semua dari sisa gajiku itu sudah 1,5 tahun bahkan hampir 2 tahun, dan sekarang nampak di depan mata. Seperti nya aku bermimpi"
Ucapnya sambil menepuk-nepuk lengan nya hingga wajahnya pelan. Tentu saja itu mengundang perhatian Ervan barang secuilpun.
" Setop melakukan itu, ini bukan mimpi ini yang terjadi, kamu sudah mencapainya"
Ucap Ervan memegang tangan Syifa lembut dan menahan nya.
" Aku senang melihatmu sebahagia ini, aku akan melakukan apapun supaya aku bisa melihat senyum manis ini setiap hari" Tambahnya secara refleks dan tanpa sadar. Benar saja Syifa mendengarnya dengan sangat jelas karena Ervan berbicara secara intens tepat berhadap hadapan.
Deg Deg Deg
" Ma-maksud kaka apa? " Syifa sampai berbicara gugup, tentu saja orang hatinya sedang berpacu bak lomba lari kuda.
" Eh maksud saya kamu gadis yang baik, pasti kebahagian akan selalu mengikuti di setiap hari" ucapnya ngeles.
[" Duh kok bisa keceplosan ya, apa dia dengar"], monolognya gelisah.
Jelas saja itu membuat Syifa tidak percaya orang tadi dia mendengar sendiri saat atasan nya itu berbicara tentang dia, Cuman Syifa tidak mau terlihat terlalu percaya diri dan seolah berharap terlalu berlebihan menampakkan isi hatinya.
__ADS_1
" Padahal itu benar, aku terlalu naif mengharapkan orang seperti kak Ervan, itu terlalu berlebihan untuk ku yang orang sederhana dan anak kampung seperti ini" Dia pun seketika merasa Insecure dan lefleks menunduk tak lama langsung menoleh ke arah kaca mobil dan melihat nya sepanjang jalan.
******
" Besok kamu bersiap-siap untuk perjalanan kita ke Semarang ya Syifa, sebagai sekretaris yang kompeten kamu harus siap pergi kemana pun untuk urusan kerja " ucapnya. Sekarang dia sudah tiba di kost nya Syifa sebelum Syifa turun Ervan memeberi tahu agenda besok kepadanya.
"Loh, kok saya nggak tau kak ada jadwal itu, bukan nya besok kita tidak ada jadwal keluar kota ya sampai minggu depan? " jawabnya bingung.
" Ini jadwal penting kunjungan ke perkebunan teh di sana, karena dapat info ada kendala mendadak" terang nya.
" Baiklah kak akan saya persiapkan" jawabnya.
" Kalau begitu saya masuk dulu kak, Hati-hati di jalan" tambahnya lagi.
" Baiklah, saya pulang"
Ervan dan Doni meninggalkan pekarangan kost Syifa.
" Loe gak lihat seberapa kaget dia? masak ngungkapin cinta momen nya gak tepat gitu, kamu atur lah nanti pas kita kerumah orang tua nya aku akan langsung lamar dia. Persiapkan hantaran yang mewah-mewah dan berbagai keperluan lainnya" jelasnya panjang lebar.
" Oke siyap bos laksanakan, kayaknya ada yang kebelet nih haha" ledek Doni.
"Sialan loh Don, mau mati loe. Gue nggak mau lah kalo sampek amit-amit keduluan tuh si tukang kunci yang udah ngebet juga" ucap Ervan menggebu-gebu.
" Iya iya santai dong, gue doain yang terbaik buat loe, buat hubungan kalian. Semoga Syifa nggak ketiban sial kalo nikah sama duda karatan seperti loe hahaha" Doni tertawa kencang meledek teman sekaligus bosnya itu.
" Kampret loe ya, lihat aja loe bakal gue bikin lembur tiap hari saat gue bulan madu ntar haha, " Ucap Ervan penuh seringai.
" Sialan loe" Doni pun kesal jelas terbayang di pikiran nya andai nanti Ervan jadi menikah yang bakal dia lembur kelaper-keleper karena tumpukan pekerjaan Ervan yang terbengkalai.
Jelas dia tau bagaimana bucin nya Ervan kalau jatuh cinta dia teringat dulu saja dengan Yuna mendiang istrinya saja dia sampai libur 1 bulan full bayangkan saja, dan sekarang tingkat kebucinan Ervan jauh di atas rata-rata dulu dia mencintai Yuna, kebayang bucin nya Ervan pasti lebih diatas rata-rata juga. Bisa-bisa 2 bulan nih libur nya si Ervan. Begitu pikir nya.
__ADS_1
'Pov Syifa'
Ditengah lamunan dan bayangan kebahagiaan yang tiada tara yang kurasakan perlahan ku dengan suara lelaki yang tak asing bagiku berbicara.
" Seperti nya kamu sangat senang, apa sebahagia itu rasanya? "
dan setelahnya dia juga berucap
" Aku senang melihatmu sebahagia ini, aku akan melakukan apapun supaya aku bisa melihat senyum manis ini setiap hari"
Mendengar itu aku pun merasakan dadaku mendadak berdebar-debar sekuat mungkin hingga jika di dekatkan mungkin akan terdengar di telinga, akupun memberanikan diri untuk menanyakan nya kembali dengan niat supaya memperjelas kebenaran nya.
" Ma-maksud kaka apa? "
Dengan gugup pertanyaan itu pun terlontar begitu saja. Sebenarnya aku mengutuk diriku kenapa seberani ini padahal sebelumnya saya sudah meyakinkan hati dan menutup kemungkinan- kemungkinan yang timbul di hatiku.
" Eh maksud saya kamu gadis yang baik, pasti kebahagian akan selalu mengikuti di setiap hari"
Namun mendengar jawaban sang bos entah kenapa hati ku terasa sakit. Berharap tentu saja tapi apa yang ku harapkan itu pantas. Benar saja ternyata aku sm yang salah dengar, tapi tadi sangat jelas sekali.
Setelah lelah aku pun terdiam dan lebih memilih melihat kearah pemandangan lewat jendela mobil yang kami naik. Hiruk pikuk keramaian kota membuat ku sedikit melupakan perasaan yang secara tidak pantas melintas di hatiku ini. Duh baper sekali segitu lemahnya kamu wahai diri.
Setibanya di pelataran kost akupun berniat turun namun kak Ervan kembali memegang tangan ku dan memberitahu kalau besok ada jadwal keluar kota, aku pun terkaget selain aku yang tidak menyadari akan jadwal itu dan juga semarang adalah Desaku, Tempat orang tua dan saudara-saudara ku berada.
Seandainya aku kesana bukan karena jam kerja makan rumah adalah tempat pertama yang akan aku sambangi, aku akan memeluk orang tua ku mencium tangan nya, wajahnya dan akan ku dekap erat-erat keduanya. Tapi ekspektasi tak sesuai realita.
" Abah, Ibu mungkin kali ini belum waktunya tapi Syifa janji nanti secepatnya akan pulang melepaskan rindu ini" monolog ku dalam hayal ku sambil mengusap lelehan cairan bening di kelopak mataku karena tanpa sadar aku pun menangis karena diriku sendiri.
Pov And'
*****
__ADS_1