
Di ruang makan nampak ervan sedang berbicara khusyuk kepada mertua nya tersebut, terlihat sekali betapa besar harapan orang tua tersebut akan kasih sayang dan kebahagiaan untuk putrinya yang baru saja menjadi seorang istri itu. Limpahan kasih sayang yang biasa dia berikan walaupun dalam keadaan yang sederhana kepada anak-anak nya tentu bukan hal yang bisa di dapatkan di mana saja, butuh seseorang yang benar-benar tulus dan berhati besar sanggup melakukan itu.
Dengan perasaan bercampur dari senang dan sedih karena harus melepaskan putrinya untuk menjalani bahtera rumah tangga sebagai ibadah terpanjang dalam hidupnya, seorang pria paruh baya itu berbicara dari hati ke hati dan memindahkan tanggung jawab tersebut kepada laki-laki yang kemarin resmi menjadi menantunya itu.
" Nak Ervan, abah sangat bersyukur dan percaya putri abah akan bahagia bersama nak Ervan, tolong jaga dia nasehati dia jika dia salah, tolong jangan kasarin dia dengan kekerasan, jika sudah tidak mencintainya dan sudah bosan, kembalikan dengan baik-baik kepada abah, maka dengan tangan terbuka abah akan kembali menjaganya jadi jangan melampiaskan dengan menyakiti nya baik fisik nya maupun batin nya"
" Dari kecil dia dibesarkan dengan sesuatu yang serba apa adanya tidak pernah menjalani kehidupan mewah, jadi seandainya dia belum bisa menyesuaikan keadaan di lingkungan keluarga besarmu tolong ajari dia. Dia mempunyai hati yang lembut dan rapuh sedikit saja kamu membentak nya dia akan terluka, tolong didik dengan penuh kasih sayang nak".
Nasehat panjang lebar abah berikan sebagai orang tua tentu bukan hal yang mudah melepas putrinya untuk pertama kali apalagi derajat yang akan di lalui anak nya jauh berbeda dengan kehidupannya, rasa takut akan penolakan dari keluarga besar Ervan menyeruak di dalam hatinya tidak mampu dia pendam seorang diri.
Perlahan Ervan turun dari kursi memang kedua tangan mertuanya dan menunduk sungkem memohon berkah ridho akan kebahagian yang hendak dia lalui dalam bahtera rumah tangga nya itu. Tentu saja nasehat abah sampai menusuk relung hatinya sampai membuatnya serasa pedih, sebegitu besar rasa itu tanggung jawab nya pun bertambah amanah dari seorang abah terhadap putri sulung nya yang kini menjadi istrinya itu.
" Abah, sungkem Ervan abah, doakan rumah tangga kami menjadi kebahagiaan until jannah bah, InsyaAllah Ervan berjanji tidak akan pernah menyakiti Syifa,. InsyaAllah kasih sayang yang selama ini abah berikan ke Syifa akan Ervan perankan dalam biduk rumah tangga kami, Dan apa yang sebelumnya belum pernah Syifa rasakan akan dia dapatkan di sisi Ervan bah"
Suasana di ruang makan itu nampak penuh haru, Syifa yang berdiri di depan pintu pun menitikkan air mata dengan derasnya. Sampai akhirnya mereka menyudahi acara haru itu dan beranjak ke ruang tamu karena takut keluarga besan terlalu lama menunggu.
" Kami pamit dulu mas, nanti minggu depan pas resepsi kami akan menjemput sekeluarga untuk ke kota kita akan berkumpul lagi di sana".
Pamit pak Angga sambil memeluk besannya tersebut, begitupun dengan Nyonya Widya kepada ibu Dewi.
"Iya mas, titip anak wedok ku mas, kalau dia salah tolong ajari saja dia, maklum dia mungkin bukan orang yang kalangan mewah jadi kemungkinan dia akan sulit beradaptasi di keluarga barunya"
__ADS_1
" Mas tenang saja, Syifa adalah putriku sekarang, jadi dia akan bahagia di keluarga ini, kita sebagai orang tua akan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak kita".
" Terima kasih mas, "
" Mbak, kita pamit dulu jangan lupa ke Jakarta ya kita akan jalan-jalan bersama" Bu Dewi dan Nyonya Widya juga berpelukan serta di akhiri dengan cipika cipiki.
" Iya mbak, Hati-hati di jalan, ditunggu kabar nya main kesini lagi"
" Tenang aja nanti kalau musim panen kami akan berkunjung, kan disini banyak buah-buahan yang khas gitu aku penasaran ingin berburu buah tersebut"
" Hahaa mbak bisa aja, nanti awas ya kalau nggak kesini banyak jenis buahnya disini"
" Iya, kami jalan dulu ya"
" Bah, ibu Syifa akan kangen kalian"
" Hei, kok sedih, senyum dong masa nangis terus malu tuh sama suaminya"
ledek abah.
" Tau ini anak, jangan nakal ya nak, jadilah istri yng berbakti"
__ADS_1
ibu pun mengelus kepala putrinya tersebut dengan sayang sebenarnya dia masih belum percaya anaknya dinikahi seorang yang berasal dari keluarga terpandang dan juga keluarga yang sangat baik.
Di akhiri dengan lambaian tangan ketika mobil-mobil itu menjauh dan menghilang dari pekarangan rumah pak Rojali. Terlihat air mata mengalir di pipi lelaki paruh baya tersebut.
Sedangkan kedua putrinya sudah masuk kerumah untuk membereskan sisa dari perkumpulan keluarga besar mereka. Kini tinggalah lelaki itu bediri di ambang teras rumah dengan perlahan sebuah tangan menggenggam tangan nya dan menguatkan beliau, terlihat jelas raut sedih karena melepas kepergian putri sulungnya yang sangat dia sayangi itu.
" Abah, sudah ya harusnya abah bahagia Syifa sudah berkeluarga dan keluarga barunya sangat baik tugas kita memang menjaganya dan merawatnya dengan penuh kasih sebisa yang kita mampu, selebihnya kita berdoa akan kebahagian mereka"
Ibu nampak lebih tegar, karena sedikit nya dia merasa lega karena diusia Syifa yang sudah mencapai 25 tahun memang sudah usia matang jika berumah tangga dan alhamdulillah dia di berikan pendamping hidup yang sudah matang pula baik ilmu, keimanan, batin, dan juga mapan. Seorang ibu pasti akan merasa bahagia juga hal tersebut sudah di tempuh oleh buah hatinya yang sebelumnya menjadi anak kecil bagi mereka kini sudah dewasa dan dia harus menerima itu.
Berbeda dengan seorang ayah, dia akan selamanya menganggap kalau putrinya adalah putri kecilnya yang mana harus selalu dalam emongan nya, dalam pantauan nya, dalam didikan nya, dimatanya anak perempuan nya pasti akan sulit menghadPi hal yang baru, dia akan sulit menerima kenyataan bahwa anak gadisnya sekarang sudah besar dan dewasa.
Sehingga disaat anak perempuan nya menempuh hidup baru dia akan menjadi orang pertama yang merasa kehilangan, walaupun ada anak yang lain di rumahnya anak pertama perempuan akan menjadi anak kecil pertamanya karena anak perempuan pertama itulah yang pertama sekali mendapatkan kasih sayang melimpah dari seorang ayah.
" Abah merasa anak Abah kok masih kecil ya bu, aba belum menyadari ternyata dia sudah tumbuh dewasa sudah dilamar orang dan sudah membina keluarga sekarang. Baru minggu kemarin dia menelpon kita merengek bilang rindu, bilang kerjaan nya sering keluar kota, bercerita keindahan di kota tetangga. Bagaimana mungkin sekarang sudah menjadi seorang istri, putri kecil Abah yang paling mandiri dan sekaligus cerewet itu sudah menikah sekarang bu. "
" Abah belum move on ini, mangkanya terasa berat"
" Bukan berat bu, Abah suman shok aja belum menerima kenyataan kalau anak sulung Abah sudah ada yang mengambil alih dari Abah, "
" Iya ibu tau, yaudah yok masuk, nanti panas loh udah siang ini? "
__ADS_1
Mereka masuk kerumah dengan sisa-sisa perasaan yang tidak bisa di jelaskan, suara-suara nya masih terasa di ruangan itu, bahkan parfum nya masih tercium di indra penciuman mereka.