
"Ngomong-ngomong nama bapak siapa ya, tumben bapak yang jemput saya? biasanya kan pak hary? " tanya nya.
" Iya nona kan sopir pak Ervan lagi ngantar beliau, mana banyak bawak an lagi" jawab pria paruh baya tersebut.
" Memang nya bawa apa aja pak, kok banyak, bukanya cuman beberapa hari ya di sana? "
" Eh-eh maksud bapak itu nona, banyak persiapan yang di bawa kayak berkas-berkas dan juga pak Ervan kan cerewet orang nya" Jawabnya gugup karena hampir keceplosan. (Duh hampir aja nih mulut salah ngomong)
" Oh kak Ervan emang nya cerewet pak ya? " Tanya nya heran.
Karena aku setahun ya Ervan adalah orang yang realistis dan tidak banyak omong.
" Emmm maksud saya pak Ervan itu orang nya teliti sekali nona, iya teliti orang nya" alasanya lagi.
(Duhh kok aku jadi salah ngomong terus sih) monolog pak hary sambil melirik kebelakang kearah calon nona muda nya tersebut.
" Ohh gitu. Memang sih beliau terlihat bijaksana dan teliti bahkan masalah kebersihan pun dia sangat teliti" jawab Syifa akhirnya percaya.
" Iya nona benar sekali" dengan cepat pak Hary membenarkan pendapat sangat gadis takut gadis cantik itu berubah pikiran dan mulai menanyainya lagi.
" Baiklah dia kan bos nya jadi wajar aja kalau seperti itu"
Tutup nya dalam pembicaraan itu.
...*****...
Di kediaman Kusuma terlihat sangat ramai dan sibuk sekali terutama kedua paruh baya tersebut ditambah para pelayan yang berlalu lalang menyiapkan perbekalan yang perlu di bawa untuk acara lamaran tuan muda nya itu.
" Santi, tolong kamu ambilkan perhiasan di kamar saya ya, tadi saya lupa membawanya waktu turun, terletak di meja rias saya"
Titah nyonya Widya kepada pelayan nya tersebut.
" Baik Nya " dengan cepat Santy melesat ke kamar sang majikan untuk mengambil perhiasan yang dimaksud majikan nya itu.
" Pak Bejo, apakah sudah siap semua perlengkapannya? " Tanya pak Angga sambil melihat sebuah mobil khusus membawa perlengkapan hantaran itu.
__ADS_1
" Sudah tuan lengkap" jawabnya
" Kamu yakin nggak ada yang tertinggal? " tanya nya lagi
" Bentar tuan saya cek lagi, "
" Oke pastikan semua lengkap saya tidak mau ada yang kurang sedikitpun" tegasnya
" Baik tuan" jawabnya lagi
Dengan telaten pak Bejo memeriksa semua parcel-parcel tersebut. Setelah memastikan semuanya lengkap tanpa kurang suatu apapun diapun segera melapor kepada Angga kembali.
" Semuanya sudah saya cek pak dan sudah pas lengkap tanpa kurang suatu apapun" terang nya mantap.
" Bagus, " jawabnya.
Sementara Ervan sendiri sedang menyiapkan semua keperluan nya terutama mental nya karena dia juga takut kalau misal Syifa menolaknya. Dengan setelan yang gagah dan nampak berbeda dari biasanya berbalut kemeja putih dan di balut dengan rompi terlihat sangat pas di tubuh atletis nya itu.
Setelah memantapkan dan menyiapkan itu Ervan merogoh kantong celana nya yang mana menyimpan sebuah kotak beludru itu di bukanya terpampang lah sepasang cincin bermata berlian itu di setiap cincin telah di ukir nama keduanya sangat cantik sekali.
" Semoga dengan ini waktu akan menjawab dan mengizinkan kita menua bersama" monolognya sambil memandangi sepasang cincin berlian itu.
" Aku harap kamu akan senang dan menerimanya dengan tangan terbuka, aku berjanji akan membahagiakan kamu".
Lamunan nya kian panjang di kala sore itu terbayang kembali dimana dia tidak sengaja melewati perumahan Syifa ketika dia berniat singgah ke lokasi syuting Andre saudara sepupu nya itu.
Di sana terlihat sepasang anak manusia sedang bercengkrama di halaman teras rumah, nampak laki-laki nya menenteng beberapa paper bag di tangan nya dan memberikan kepada seorang gadis.
Dari kejauhan Ervan dapat melihat secara jelas kegiatan cengkraman mereka yang sangat intens itu. Hatinya terasa panas darahnya mendidih, rasa takut itu muncul tiba-tiba,
(Mungkinkah mereka punya hubungan spesial, mungkinkah mereka sudah jauh lebih dekat dafi yang dia bayangkan. ) Begitu banyak kemungkinan-Kemungkinan yang akan terjadi di antara kedua nya.
Yah sepasang umat manusia itu adalah Syifa dan Ryan yang baru saja pulang dari jalan-jalan di weekend nya tidak spesial hanya sekedar teman, tentu itu menurut Syifa kalau menurut Ryan itu tentu hal yang langka dan perlu di abadikan.
Mereka sempat singgah di mall selain makan dan mengistirahatkan diri, mereka sempat membeli beberapa helai keperluan Syifa dan tanpa mereka sadari saat tiba di kediaman Syifa malah Ervan melihat mereka sedang mengobrol berdua sambil berjalan sampai ke depan pintu rumah kost nya itu.
__ADS_1
Memang jika dilihat dari sekali lewat seperti sepasang kekasih yang mana cowok mau mengucapkan selamat istirahat kepada wanitanya itu.
Ervan kembali tersadar dari lamunannya itu ketika ada suara memanggilnya dan memperingati kalau Syifa sudah di perjalanan menuju stasiun ujung kota sesuai rencana nya.
" Bro, Syifa sudah di perjalanan. Bersiaplah kita akan segera berangkat takut kelamaan Syifa menunggumu jadi curiga dia" Doni memberi tahu.
" Apa dia akan menerima gue ya kira-kira? " pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut lelaki tampan itu.
" Kalau menurut penerawangan gue ni ya kalian itu pasangan serasi, Dan gue juga melihat besarnya rasa yang dimiliki Syifa buat loe cuman dia nggak mau berharap lebih karena terlalu merendah diri" jawab doni panjang lebar.
" Gue takut bro, ntar dia merasa risih dan bukan nya nerima gue malah dianya menjauh" jawabnya khawatir.
" Loe tenang aja, InsyaAllah kalau jodoh Allah akan permudahkan " jawaban bijak Doni mampu menenangkan Ervan.
" Mending tu cincin di simpen di tempat paling aman deh takut ilang, gagal deh surprise nya" tambah Doni lagi sambil terkekeh mencairkan suasana.
" Iya, ayok berangkat kelamaan bidadariku menunggu"
jawab Ervan sambil memasukkan kembali kotak beludru itu kedalam rompi jas nya bagian dalam.
" Lagak nya udah punya calon istri, barusan aja merenung ampek mau mewek karena takut di tolak, " Doni mengumpat Ervan di belakang sambil meniru gerakan - Gerakan bibirnya.
" Gue lihat lo ngatain gue Don, awas ntar loh innalillah di tangan gue" Ucapnya sambil berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
" Eh tau ae loh, punya indera ke enam ya" ceplos Doni lagi.
Pertanyaan Doni ini membuat perut Ervan serasa di gelatik menertawakan apa yang barusan di ucapkan okeh Doni itu. Karena Ervan termasuk orang yang religius jadi sedikit banyaknya ilmu agama membakal di pemikiran nya.
" Serah elu dah maunya yang gimana" Ervan pun berlalu dari sana di ikuti Doni DJ belakang nya.
"Sudah siap mah, pah,? " tanya Ervan kepada orang tua nya.
" Sudah beres aman" jawab sang mamah.
" udah deh mending kamu segera menyusul Syifa ntar mempelai wanita malah nggak ada lagi" ucap sang mamah lagi.
__ADS_1
" Oke mah, pah, Ervan berangkat duluan kalian silahkan lewat jalur udara atau masih mau jalur darat aja" jelasnya sambil mencium punggung tangan orang tuanya bergantian.