Kesayangan Duda Tajir

Kesayangan Duda Tajir
Episode 39


__ADS_3

Benar saja ternyata sosok pria jomblo yng mengintil di belakang mereka.


" Ingat tempat dong kalau mau bermesraan, ini di jalan umum ada anak polos lagi, dasar nggak punya hati sekali ya"


Sindir Doni.


" Ehh ada anak perawan di belakang dikira tadi suara apaan, aku hampir lari karena takut loh, "


Ledek balik Ervan sengaja ingin mengerjai sahabat nya tersebut, Doni memang nginap di rumah Syifa karena sibuk membantu membereskan sisa acara akad kemarin.


" Sialan loe" kesal Doni.


" Btw si Andre kok nggak datang ya, loe nggak undang dia ya? "


Pertanyaan Doni tersebut sontak menghentikan langkah Ervan sejenak sebelum kemudian di lanjutkan lagi karena mendengar suara adzan subuh berkumandang.


" Kemarin aku lupa kan rencana awal kita lamaran jadi si Andre lagi syuting di luar kota, jadi nggak bisa datang. Nggak tau nanti gimana ngamuk tu anak "


" Jadi loe nggak bilang kalau loh langsung nikah kemarin? "


" Nggak lah mana sempat, kan grogi, deg deg an bawaan nya "


Syifa yang mendengar keduanya pun menengahi, dan menenangkan suaminya karena sebentar lagi waktu sholat berjamaah di mulai.


" Udah mas, kak, ayok mending buruan ke masjidnya takut ketinggalan jama'ah nya, nanti di bahas lagi ya".


" Iya sayang, "


Mereka pun mempercepat langkahnya mengambil tempat di barisan tengah karena barisan depan sudah penuh.


Mereka pun melaksanakan shalat Jama'ah pertama bersama keluarga besar dan juga warga desa dengan Khidmad.

__ADS_1


...****************...


Pagi-pagi mereka sudah bersiap-siap untuk sarapan bersama sebelum Syifa dan Ervan beserta keluarga pulang ke ibu kota, selain pekerjaan mereka juga akan mempersiapkan untuk acara resepsi besar-besaran sebagai acara syukuran atau ngunduh mantu kalau istilahnya itu.


" Bah, ibu, Ervan mintak izin sehabis ini kami ingin mengajak Syifa ke kota ibu sama abah nggak apa-apa kan kalau Syifa ikut Ervan? ".


Izinnya dengan hati-hati karena dia paham sebenarnya mereka pasti masih merindukan Syifa, tapi mau bagaimana lagi pekerjaan menuntut nya untuk segera kembali, selain tanggung jawab yang besar dia juga mengemban nasib ribuan karyawan di bawah tanggung jawabnya tersebut.


" Iya nak, abah ngerti kau banyak tanggung jawab di sana, jangan lupa nanti jaga anak abah sama ibu",.


" Iya nak, ibu percaya kan sama kamu dan keluarga, ya".


"Iya bah, bu Ervan akan selalu ingat kalian, Ervan janji kalau ada waktu luang akan sering kesini,"


" Iya nak".


Tak terasa waktunya berangkat pun tiba, dengan berat hati Syifa menemui kedua orang tuanya secara pribadi.


" Ibu, abah huhuuu"


" Hei sayang kenapa menangis, bahagia dong, doa ibu selalu menyertai kamu dan keluarga kecilmu. Ingatlah dalam rumah tangga pasti ada yang namanya masalah, jadi selesaikan dengan baik-baik jangan dengan emosi. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebagai seorang istri"


" Tunaikan kewajiban mu dengan baik, hormati suamimu nak, ingat ridho suami adalah ridho Allah, kamu akan meraih Surga nya Allah dari suamimu nak, ingat itu ya nak, Hormati juga mertua mu mereka sekarang juga orang tua kamu, surga suamimu ada pada mereka jangan sekali-kali kamu berniat membuat suami mu melupakan kedua orang tua nya, kamu paham kan sayang? "


Panjang lebar nasehat dari ibu untuk putri sulung nya tersebut sebagai seorang istri, itulah bekal yang seharusnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang baru memulai hidup baru dalam pernikahan, Tanpa bekal ilmu yang mumpuni maka rumah tangga yang hendak di bangun itu akan mudah retak, mudah rentan badai.


Usapan lembut di berikan nya kepada putrinya tersebut penuh kasih sayang ribuan doa tak henti dia panjatkan demi kebahagiaan sang anak. Tak ada suatu kebahagiaan yang di harapkan oleh orang tua selain melihat anak-anaknya bahagia, berhasil membina keluarga sakinah mawadah warahmah.


" Ibu, maafkan kesalahan syifa selama ini,"


Perlahan dia pun bangun dari pangkuan ibu nya tersebut dan duduk dengan tegap di bekali sisa kesedihan kini di lipstik rasa bahagia dia ingin membicarakan tentang hadiah yang ingin dia berikan kepada kedua orang tuanya tersebut.

__ADS_1


Tentu saja itu sudah dibicarakan dengan sang suami dan mendapat persetujuan bahkan dukungan dari sang suami dengan menambah jumlah yang hendak di berikan kepada mertua nya tersebut. Bagi Ervan niat tersebut suatu kemuliaan dan dia akan merasa bersalah jika tidak mampu memberikan yang terbaik dari niat baik istri tercintanya tersebut.


" Abah, ibu, Syifa dulu pernah berjanji untuk membelikan kalian tanah untuk di kelola beserta sebuah kendaraan untuk abah bekerja, sebelum Syifa pulang kemarin, Syifa alhamdulillah mendapatkan rejeki bu, bah, kami memenangkan sebuah tander bernilai milyaran rupiah dan sebagai hadiah juga apresiasi dari mas Ervan dia berjanjji akan memberikan Syifa imbalan yang besar jika menang, itu yang Syifa dapat benar saja mas Ervan memberikan Syifa uang senilai 50 juta rupiah bu, bah, Ini Syifa memang sudah niatkan untuk kalian mohon di Terima sebagai bantu Syifa"


Dengan bahagia dia memberikan uang didalam amplop coklat itu kepada orang tuanya. Berharap orang tuanya akan sedikit lebih mudah dalam mencari rejeki.


" Nggak usah nak, kalian baru memulai kehidupan baru, lagian apakah kamu sudah meminta persetujuan dari suami mu nak, ingatlah sekarang kamu itu sudah menjadi istri apapun masalahnya jangan lupa kamu bagas bersama suamimu".


" Tolong jangan di tolak bu, yaAllah ini memang udah jadi tujuan Syifa, mengenai mas Ervan ini sudah melalui izin beliau bahkan satu amplop lagi bernilai 50 juta rupiah itu adalah pemberian beliau untuk kalian, jadi total nya 100 juta,. "


Terang Syifa dengan keyakinan.


" YaAllah bah, Terima kasih nak, alhamdulillah sayang ibu dan abah akan mewujudkan tujuan kamu nak, ibu janji akan mampu mengelola uang ini dengan baik, abah mu akan naik motor bekerja nanti, nggak perlu lagi pakai ontel nya yang sudah mau pensiun ".


Syukur di ucapkan oleh ibu 3 anak itu karena rejeki yang di dapat, meskipun dari anak nya sendiri dia patut mensyukurinya.


Dia bahagia akhirnya suami nya bisa berangkat bekerja dengan sedikit nyaman tanpa harus kelelahan sepanjang hari, biasanya dia akan sampai di rumah larut ketika pulang karena menempuh perjalanan yang cukup jauh dari rumahnya. Itupun mengelola kebun tetangga.


" Panggilkan nak Ervan, Fa, abah ini gin bicara".


"Baik abah, sebentar"


Diruang tamu dilihat keluarga suami yang sedang bersiap-siap untuk segera berpamitan menuju ke kota, terlihat dari beberapa barang yang sudah tersusun rapi sebagian sudah di masukkan ke mobil oleh asistennya dan juga pak supir.


" Sayang gimana sudah selesai,? " Tanya bu Widya kepada Syifa.


" Belum mah, sebentar ya Syifa bilang abah sama ibu, tapi mereka ingin ngobrol sebentar sama mas Ervan ".


Jelasnya


" Mah, sebentar ya Ervan kedalam dulu? "

__ADS_1


" Iya sabar aja nak, nggak usah buru-buru "


Mereka pun berlalu menuju ruang makan dan ngobrol bersama abah dan ibu.


__ADS_2