Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
21. Wanita itu adalah Zizi


__ADS_3

"Kamu mau ikut mama atau tunggu di sini?" tanya Mama saat akan keluar dari dalam mobil. Kafa terdiam dan sejenak berpikir.


"Em... ntar aja ma, Tanzi nyusul mama".


"Oh yaudah, mama duluan ya".


Kafa menganggukkan kepala dengan senyum nya. Dita meneruskan langkahnya hingga memasuki kawasan pesantren.


Ketika dirinya masuk kedalam, tepat sekali yang pertama kali di lihatnya adalah Zizi.


Dita langsung datang menghampirinya dengan rasa bahagia.


"Zizi ".


"Mama".


Ica yang saat itu ada di samping nya, tampak begitu terheran dengan kehadiran Dita yang langsung menghampiri Zizi. Di tambah lagi Zizi yang memanggilnya dengan sebutan mama, Ica seakan tak bisa berkata atau berpikir apapun lagi.


Zizi menyalami tangan Dita dan Dita membalasnya dengan pelukan.


Mereka tampak begitu akrab dalam pandangan Ica.


"Kenapa mama ke sini?"


"Iya sayang, hari pernikahan kalian kan tinggal 2 Minggu lagi, jadi mama kesini mau jemput kamu untuk mempersiapkan acara pernikahan kalian".


Tatapan Dita tertuju pada Ica yang berada di sebelah Zizi.


"Ca...."


"Hem". Ica tampak gugup saat itu.


"Ini calon mertua aku, ca".


gadis itu hanya mengangguk dengan senyuman.


"Kamu Ica Yanga saat itu di rumah Zain kan?"


gadis itu kembali menganggukkan kepalanya.


Dita menarik tubuh Ica ke dalam pelukannya seperti halnya Zizi tadi.


"Apakah yang Ica lihat dan Ica dengar tadi adalah sebuah kenyataan, orang yang saat ini ada di pelukan Ica adalah calon mertua sahabat Ica sendiri, dan orang yang ada di ujung sana adalah calon suaminya. kenapa hati Ica semakin rapuh untuk mengikhlaskan ini semua ya Allah...."


air matanya meleleh seakan tak bisa lagi ia bendung, saat penglihatannya tertuju pada seseorang.


"Kamu baik baik saja kan?"


"Ica baik baik saja tante".


Icha cepat-cepat menyeka air matanya sebelum Dita melepas kan pelukannya pada gadis itu. Tangan lembut Dita mengusap kepala Icha yang tertutupi oleh hijab.


"Mama mau ketemu sama pimpinan pesantren ini".


"Iya ma, rumah Abuya ada di sebelah sana".


"Yaudah, kamu siap siap terus ya, mama tunggu di rumah kyai".


Zizi pun menganggukkan kepalanya. Dita pergi ke rumah kyai bersama dengan Kafa yang sudah menunggu di ujung sana.


Icha dan Zizi beralih menuju asrama mereka.


keduanya berjalan beriringan menuju asrama, namun di antara mereka tidak ada percakapan sama sekali. Icha diam karena pikirannya yang tertuju entah ke mana, sedangkan Zizi mengikuti diamnya Icha karena tidak tahu apa yang harus dia perbincangkan.

__ADS_1


saat sampai di asrama terlihat sekali keadaan kamar saat itu sedang sepi tidak ada orang, Zizi langsung saja mengambil tas juga kopernya untuk mempersiapkan barang-barangnya semua yang ada di lemari.


saat ia masih sibuk dengan barang-barang, terlihat Icha yang duduk termenung sendiri sambil melamunkan sesuatu. kedua mata gizi sesekali mengarah pada Icha, ia juga tak tahu gerangan apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu.


" Ica....". suara Zizi sedikit mengejutkannya.


gadis itu menghadapkan wajahnya pada tatapan Zizi.


"Kamu kenap sih ca, lagi mikirin apa?"


langsung berubah raut wajahnya dengan senyuman, ia beranjak dari tempatnya dan datang mendekati Zizi.


"Sini biar Ica bantu".


"Ca....". cegahnya sembari memegang tangan Ica.


"Kamu kenapa? aku perhatikan dari tadi kamu termenung terus, kenapa ca??"


Ica menghela nafasnya.


"aku sedih karena kamu mau pergi dari pesantren ini zi".


kata Icha yang mengalihkan kesedihannya dari Zizi.


"Apa! kak Zizi mau pergi?"


"Pergi kemana?" Ika terkejut dengan apa yanga telah ia dengar tadi saat ia baru saja masuk bersama dengan Anna.


tatapan keduanya tertuju pada Ika.


"Emangnya bener kalau kak Zizi mau pergi?" Ika mendekati keduanya.


Zizi hanya menguraikan senyumannya.


Ika terlihat kesal saat pertanyaannya tidak dijawab, ia lalu memperhatikan barang-barang yang ada di dekatnya.


"Zi... sekarang?" Dina juga datang mendekatinya.


Zizi hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Dina dan Ana sama-sama menghela nafas mereka.


"Kak Zizi kenapa cepat banget sih perginya, kan Ika sedih jadinya kalau kak Zizi pergi".Ika mengeluh sambil merangkul Zizi.


"Ika, kan masih ada kakak yang lainnya, Ika itu udah besar, jadi nggak boleh manja lagi, harus lebih dewasa".


Ika tampak begitu manja saat bersama dengan Zizi, tingkah lakunya masih seperti anak kecil padahal umur sudah mencapai 16 tahun.


"Udah deh ka jangan berlebihan seperti itu, lagian kita juga masih bisa ketemu sama Zizi kan". timpal Anna Yanga terlihat kesal dengan tingkah laku Ika.


Ika memandang anak hanya dengan sebelah mata.


"Assalamualaikum". seseorang datang ke kamar mereka.


"waalaikumsalam".


"Zizi sudah di tunggu di sana".


"Oh iya, sebentar lagi Zizi akan datang ke sana"


"Terima kasih Najwa atas informasi nya".


"Sama sama".

__ADS_1


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".


"Tuh kan Zizi sudah di tunggu".


"Udah ayo cepetan zi, biar kamu bantu".


mereka semua mulai membantu Zizi membenahi baju-bajunya ke dalam koper.


"terima kasih ya semuanya, kalian sudah jadi sahabat terbaik untuk Zizi, sampai kapanpun persahabatan kita jangan sampai putus, hingga kita sama-sama bisa menuju jannahnya".


Zizi berkata dengan wajahnya yang terlihat sedih.


mereka semua merangkul Zizi persamaan sebagai tanda perpisahan sementara. Zizi akan memulai hidup barunya dengan orang lain menuju kehidupan baru yang akan membuat sejarah perjalanan baru dalam hidupnya, tanpa didampingi oleh teman dan sahabat seperjuangannya.


sedih rasanya harus melepas orang sebaik Zizi, santriwati paling teladan dengan ketegasannya juga kedewasaannya yang tidak dimiliki oleh santri lain.


"Yasudah mari kita antar Zizi ke depan".


Zizi mengajak mereka semua untuk mengantarnya ke depan.


"Kok masih bengong sih, ayo dong jangan sedih lagi".


Zizi berusaha untuk tersenyum bahagia agar teman-temannya tidak berlarut lagi dalam kesedihan. Mereka pun menghapus air mata yang sudah terlanjur membasahi pipi mereka semua.


satu persatu sahabatnya mulai tersenyum kembali.


"Yasudah ayo kota antar Zizi sama sama, sebagai sahabat terbaik di dunia dan semoga juga di akhirat".


Dina membuka pembicaraannya.


"Nah gitu dong, kalau kalian bahagia Zizi pasti juga akan bahagia".


kebersamaan seperti ini pasti akan sangat dirindukan Zizi nantinya. Mungkin setelah ini Zizi akan sangat jarang berkumpul ataupun bertemu lagi dengan mereka.


Setelah selesai dengan semua perlengkapan yang akan dibawa, mereka semua beserta dengan sisi keluar dari kamar menuju kawasan umum, untuk bertemu dengan orang yang telah menunggu zizi di sana.


Di tempat itu ternyata sudah ada semuanya, rumah dan Abuya Kafa dan Dita beserta juga Zain yang berdiri berdampingan dengan dirinya lalu diikuti pula oleh Fahma.


Ketiga pria tampan itu berdiri berdekatan saling berbincang sambil menunggu kedatangan Zizi.


"Assalamualaikum". Zizi memberi tahu kedatangannya bersama dengan mereka.


"Waalaikumsalam".


Semua mata tertuju pada Zizi, begitu pula dengan Kafa dan Zain. Namun selain itu, ada satu orang yang tidak bisa lepas dari penglihatan mata Kafa.


Ica, diantara mereka dirinya lah yang berdiri di paling ujung, agar tidak terlihat jelas oleh Kafa.


"Fa....". Fahma menyenggol bahunya.


Kafa segera mengalihkan tatapannya.


"Jangan di pandangan terus, belum jadi mahrom, ntar aja natapnya kalau sudah halal, biar nggak dosa".


Kafa hanya bisa tersenyum tanpa berkata apapun.


Sepertinya Zain tau kemana arah tatapan mata Kafa saat ini.


"Kenapa mata Kafa, begitu serius menatap Ica, seperti ada yang akan ia katakan ...".


Zain bertanya pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2