
Malam yang gelap telah pergi, berganti dengan pagi hari yang indah dan sejuk.
Susana pedesaan yang begitu menyejukkan mata bagi siapapun yang melihatnya.
Tidak ada polusi, tidak ada kendaraan besar yang berlalu lalang, dan tidak ada kemacetan panjang di jalan seperti halnya sebuah kota.
Perjalanan yang sangat menenangkan hati Icha saat itu.
Setelah semalaman ia dan Fajar menginap di pesantren, kini ia melanjutkan perjalanan menuju tujuan utamanya.
Menjenguk Bu Husna seperti yang telah ia rencanakan beberapa hari lalu.
Sepanjang perjalanan, Icha banyak bercerita pada papanya tentang keluarga baik yang telah menolongnya beberapa tahun lalu itu.
Gadis itu juga memberitahu papanya di mana ia pingsan dan ditemukan oleh mereka hingga di bawah oleh mereka ke rumah, tanpa ada keraguan sedikitpun mengenai dirinya.
Fajar mendengarkannya dengan penuh rasa haru, jika tidak ada mereka yang mau menolong putrinya, ia tidak tahu, mungkin saat ini ia tidak lagi bersama dengannya.
Dan jika Allah tidak menggerakkan hati mereka untuk mendorong Ica, mungkin juga Icha tidak akan lagi bersama dengannya.
Fajar begitu banyak mengucap syukur pada Allah atas limpahan karunia-Nya dan kuasa Nya dalam menggerakkan hati hambanya untuk saling tolong-menolong.
Fajar juga berkata pada putrinya, apabila ia bertemu langsung dengan pemuda itu dan keluarganya, ia akan banyak mengucapkan rasa berterima kasih kepada mereka, bahkan ia sendiri yang akan menanggung beban keluarga mereka jika mengalami kesusahan.
Gadis itu menanggapi ucapan papanya dengan wajah berseri penuh senyuman, bahkan Fajar sendiri bisa merasakan jika ada perasaan mendalam putrinya pada pemuda itu. Tapi pada saat ia menanyakannya langsung pada Icha, gadis itu menepisnya langsung dan ia sama sekali tidak mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Fajar.
Mobil yang mereka tumpangi terus berjalan hingga sampai di sebuah gang kecil yang hanya muat dilalui oleh satu mobil saja.
Icha masih begitu mengenali rumah itu, rumah yang sederhana itu tidak berubah dengan beberapa tahun yang lalu, masih dalam keadaan yang sama.
Gadis itu keluar dari dalam mobilnya bersama dengan Fajar, ia berjalan sambil mendorong perlahan kursi roda menuju rumah yang mereka tuju.
"Assalamualaikum." Icha mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumah.
Suara ucapan salamnya itu terdengar sampai ke dalam rumah, lalu Asma' bergegas membukakan pintu depan dan melihat siapa yang datang di pagi hari seperti ini.
"Waalaikumsalam." sahut Asma' sambil membuka pintu.
Kedua matanya terlihat berbinar dan senyuman terpancar lebar dari raut wajahnya, saat ia melihat siapa yang datang menjadi tamunya itu.
Asma' menyambutnya dengan pelukan hangat penuh kerinduan.
"Kangen banget sama Mbak Icha." kata Asma' saat berpelukan dengan Icha.
Fajar memandang keduanya dengan rasa haru. Sampai seakrab itu ia melihat putrinya dengan gadis yang pernah menolongnya, mereka sudah seperti keluarga sendiri.
"Ini papa aku."
Asma' memberikan rasa hormatnya pada orang yang ada di kursi roda itu.
"Mari masuk mbak, pak." kata Asma' yang mempersilahkan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Asma' yang sederhana itu.
Susana nya sangat tepat sekali ketika mereka datang, Bu Husna dan Pak Ilham sedang sarapan bersama di dapur.
__ADS_1
Kedatangan keduanya disambut hangat oleh mereka.
Bu Husna pun langsung memeluk gadis itu seperti halnya Asma' tadi.
Pak Ilham memberikan salam hormatnya pada Fajar, sekaligus mempersilahkan mereka untuk makan bersama dengan menu sarapan yang sederhana.
Mereka pun sarapan bersama dengan suasana yang hangat.
Setelah selesai sarapan, Pak Ilham mengajak Pak Fajar berbincang bersama di ruang tengah begitu pula dengan Bu Husna.
Sedangkan Asma' dan Icha, mereka beranjak ke halaman belakang rumah, melihat suasana yang sudah lama dirindukan oleh Icha.
"Lagi lihatin apa Mbak?"
"Lihatin pemandangan As, kalau masih pagi seperti ini, bayangan gunung masih terlihat."
Asma' menyahutinya dengan senyuman.
"Ada yang mau Asma' tanyain sama Mbak Icha."
"Mau tanya apa As?"
"Duduk dulu Mbak, biar enak ngobrolnya."
Icha pun mengikuti ajakan Asma', mereka duduk di bangku yang ada di bawah pohon mangga.
"Mau tanya apa As, kok sepertinya serius banget."
Asma' sejenak menundukkan wajahnya, lalu kembali lagi menatap Icha yang ada di sebelahnya.
"Sebenarnya, sudah lama Asma' ingin menanyakan hal ini sama Mbak Icha. Tapi Asma' masih ragu. Sekarang Asma' ingin memecahkan rasa penasaran Asma' sendiri."
"Apa Mbak Icha punya perasaan sama Mas Zain?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Asma', hingga membuat hati Icha berdesir hebat. Ia tak tahu harus menjawab apa.
Apakah ini saatnya untuk Icha berkata yang sebenarnya, dan ia harus mengakhiri cinta dalam diamnya yang hanya menyiksa perasaannya sendiri tanpa sebuah kepastian.
Icha semakin bingung, gadis itu tidak tahu harus menjawab dengan kata apa, dia sedang menyusun kata yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Asma'. Meskipun pertanyaan itu dilontarkan oleh adiknya, tetap saja hati Icha bergetar.
"Mbak, mbak kok malah diam, jawab yang jujur mbak. Asma' butuh jawaban jujur dari hati dan perasaan mbak sendiri."
Gadis itu tidak menjawabnya dengan perkataan apapun, hanya sebuah senyuman yang terukir dari wajah cantiknya.
"Mbak kok malah senyum."
"Apakah senyuman ini belum memberikan jawabannya As?"
Mendengar ucapan Icha itu, kini Asma' memahami arti senyuman yang menjawab pertanyaan nya tadi.
Ia bisa mengerti kenapa Icha tidak menjawabnya dengan kata-kata.
Akhirnya Asma' bisa bernapas lega. Rasa penasarannya kini telah terjawab sudah, sekarang dia tidak akan mengada-ngada lagi jika mengatakan kalau Icha suka pada abangnya, karena ia telah bertanya langsung dan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang ia firasakan.
"Ada yang perlu Mbak tahu lagi, kalau Mas Zain sebenarnya juga suka sama Mbak Icha."
__ADS_1
Icha kembali mengangkat pandangannya menatap Asma'.
"Dan Asma' yakin, kalau sampai sekarang mas Zain juga masih suka sama Mbak Icha."
"Memangnya Kak Zain pernah mengatakan hal seperti itu sama kamu?"
"Nggak sih Mbak. Tapi Asma' akan buktikan sama Mbak Icha, kalau mas Zain masih punya perasaan yang sama sampai sekarang."
"Asma', hati itu bukan milik manusia yang selalu akan mempertahankan perasaannya pada orang yang ia cintai. Hati itu milik Allah As, bisa saja dengan mudah Allah membolak-balikkan hati hamba-nya. Mungkin dulu mas mu pernah memiliki perasaan yang sama dengan aku. Dan itu sudah 3 tahun lamanya, apalagi sekarang dirinya yang berada di negeri jauh, apa kita masih bisa memastikan kalau dia tidak memiliki perasaan pada perempuan di sana yang jauh lebih cantik dan lebih baik. Mudah saja Allah membalikkan hatinya untuk suka pada perempuan lain. Kita tidak bisa berharap lebih, As."
"Kalaulah memang seperti itu kenyataannya, Asma' akan tetap terus berdoa agar hati mas Zain tidak berpindah pada wanita lain. Karena Asma' yakin kalau jodoh Mas Zain itu adalah mbak Ica. Asma' ingin Mbak Icha yang akan jadi kakak ipar Asma'."
Pengakuan itu kembali menggetarkan hatinya.
"Semoga Allah mengabulkannya."
"Amin."
...****************...
Mentari bersinar cerah di langit Andalusia saat pagi tiba menjelang musim semi.
Sejak kejadian kemarin di rumah sakit, sampai sekarang Zain belum bisa menenangkan pikirannya, ia merasa begitu bingung harus memilih yang mana. Kini ia terjebak dalam keadaan yang rumit.
"Zainal, jika Tuhan masih mengizinkan aku hidup di dunia ini walau hanya sebentar, Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengan orang yang aku cintai. Kau tahu kan siapa orang itu, izinkan aku untuk menjadi pendamping hidup mu Zainal."
Permintaan Maheira yang saat ini yang terus merumitkan pikirannya.
Ia tidak tahu harus menerima atau menolaknya. Namun jika ia menolaknya ia juga selalu teringat dengan bisikan Rayhan padanya.
"Keadaan jantungnya masih cukup lemah, jadi berhati-hatilah jika berbicara dengannya, jangan sampai kau menyinggung perasaannya. Kalau bisa apapun yang ia sampaikan padamu jangan kau katakan tidak. Nyawa dia adalah taruhannya."
Jika melihat keadaan yang saat ini, Zain tidak bisa menolaknya.
Tapi ia meminta waktu sebentar untuk memikirkannya dan memberi jawaban yang tepat.
Maheira pun menyetujuinya, ia memberikan waktu untuk Zain berpikir dan bermusyawarah dengan keluarganya di Indonesia.
Melihat keadaan yang seperti ini, Zain langsung teringat dengan sepupunya.
Iya, Kafa juga pernah berada di posisi seperti dirinya.
Bahkan saat itu Kafa juga tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Kalau saja keputusannya sama seperti Kafa, berarti ia juga akan kehilangan gadis yang diidamkan nya.
Lalu bagaimana dengan Icha, haruskah ia mengalami hal yang sama untuk yang kedua kalinya?Rayhan? Apakah Rayhan akan bernasib sama seperti dirinya dulu?
Zain kembali bertanya pada dirinya, apakah Icha juga mencintaimu mencintainya?
Kalau gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, mungkin bersama dengan Maheira adalah keputusan yang terbaik.
Karena iya bisa jauh dari Icha dan melupakannya. Namun jika kenyataannya tidak sesuai dengan firasatnya, apa yang harus ia lakukan.
Apakah dirinya sanggup harus melihat gadis itu kehilangan cintanya untuk yang kedua kali?
Dimana hati nuraninya yang tega menyakiti perasaan seorang wanita?
__ADS_1
Zain tidak ingin terus menyiksa dirinya dengan pertanyaan pertanyaan yang selalu saja mengganggu pikirannya.
Ia beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu mencurahkan seluruh keluh kesah dan isi hatinya pada sang pemilik hati.