
Diakhir salamnya, Zain menutup salatnya dengan menengadakan kedua tangannya, bersimpuh di bawah kuasa Nya.
Dengan penuh rasa hina, ia meluapkan seluruh isi hati dan juga perasaannya. Mengadu keluh dan kesah serta rasa rindu kepada keluarganya yang ada di tanah air.
Tak ada yang bisa dilakukannya selain memohon dan meminta kepada sang Maha Kuasa.
Setelah selesai dengan semua hajatnya Zain kemudian beranjak mengambil mushaf Alquran yang ada di atas meja belajarnya.
Mushaf itu sedikit berdebu, Zain membersihkannya dengan perlahan lalu menciumnya. Beberapa hari ini Zain memang terlalu sibuk dengan tugas kuliah, ditambah lagi pekerjaan selingan yang dijalaninya di toko buku Islami.
Sedikit banyaknya menguras waktu luangnya hingga sama sekali tidak ada waktu yang benar-benar membuatnya bisa istirahat dengan tenang.
Tapi untuk kali ini Zain akan lebih banyak meluangkan waktunya di dalam kamar bersama dengan Alquran dan kitab-kitab yang pernah dipelajarinya pas mondok di pesantren beberapa tahun lalu.
Pemuda itu mulai membuka mushafnya dan mengulang hafalan Quran nya.
"Maaf kan aku jika selama ini sudah membuat hubungan kita menjadi renggang." kata Zain di dalam hatinya.
Satu jam telah berlalu, dua juz alquran telah selesai dimuraja'ah. Langkah selanjutnya adalah mengulang kitab-kitabnya.
Ketika dirinya akan membuka kitabnya terdengar suara ketukan pintu dari luar.
desain mengenali suara orang yang mengetuk pintu kamarnya dan memanggil namanya dengan sangat tergesa-gesa itu, itu adalah suara Rayhan. Ada apa? Kenapa larut malam begini Rayhan mengetuk kamarnya, bukannya ini adalah jamnya semua orang untuk beristirahat. Zain pun bangkit dari duduknya dan beranjak membukakan pintu kamar nya.
"Zain kamu harus ikut aku sekarang."
Rayhan berkata dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas.
Zain menatapnya dengan tatapan heran.
"Ada apa Ray?"
"Aku harus ikut kemana?"
"Maheira sakit, keadaannya sangat kritis dan sekarang begitu membutuhkan dirimu."
Zain sejenak terdiam sambil berpikir.
"Kenapa harus aku Ray?"
"Karena hanya namamu yang disebutnya."
Zain kembali terdiam dengan hatinya yang berdesir.
3 yang lalu ia memang mendapat kabar bahwa Maheira sakit. Serangan jantung yang dideritanya kambuh sehingga harus dilarutkan ke rumah sakit. Saat itu Zain belum ada waktu luang untuk menyempatkan diri datang ke sana dan menjenguknya.
Rencananya besok siang baru iya akan datang menjenguknya, tapi pada malam ini ia mendapat kabar yang begitu mengguncangkan hati dan perasaannya.
Keadaan Maheira kritis dan wanita itu terus menyebut namanya. Apakah segitu cintanya Maheira terhadap dirinya sehingga Saat ia tak sadarkan diri pun hanya nama pemuda itu yang terus disebut nya.
__ADS_1
"Tolong lah Zain, datang ke sana, hanya kau yang terus disebut namanya."
"Tapi Ray."
"Zainal, jika malam ini menjadi malam terakhirnya hidup di dunia kaulah orang yang bisa diharapkan untuk memenuhi permintaan terakhirnya untuk datang ke sana. Tapi jika kamu tidak mau memenuhi permintaan terakhirnya, alangkah sedihnya dia dan juga aku orang yang begitu mencintainya begitu pula dengan keluarganya." Rayhan berkata dengan penuh rasa haru, hingga membuat hatinya kembali berdesir.
Hatinya mulai terbuka, ia pun datang ke sana untuk menjenguknya dan memenuhi permintaan Maheira yang sedang terbaring kritis.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu ke sana."
"Alhamdulillah terima kasih Zain."
Zain membalasnya dengan penuh senyuman.
Zain pun bergegas mengganti pakaian salatnya dengan pakaian biasa yang ia bawa keluar apartemen.
Mereka pergi dengan menggunakan taksi yang tadi ditumpangi Rayhan ketika menjemput Zain ke apartemen mereka.
Perjalanan mereka berkisar hanya setengah jam dan ketika di dalam mobil pun Zain tidak berkata apapun pada Rayhan, keheningan melanda keduanya pada malam itu. Kata-kata Raihan tadi masih teriang di pikirannya.
"Zainal, jika malam ini menjadi malam terakhirnya hidup di dunia kaulah orang yang bisa diharapkan untuk memenuhi permintaan terakhir dirinya untuk datang ke sana. Tapi jika kau tidak mau memenuhi permintaan terakhirnya, alangkah sedihnya dia dan juga aku orang yang begitu mencintainya."
Semua ini ia lakukan demi Rayhan, karena ia sangat tahu bagaimana besarnya rasa cintanya kepada Maheira hingga Rayhan rela kehilangan waktu istirahatnya demi menjaga dan menemani Mei sebelum keluarganya datang.
Zain sendiri tak pernah berpikir jika kebersamaan mereka sebagai teman satu kampus dan satu jurusan itu telah menumbuhkan benih cinta di hati wanita itu.
Dengan sikapnya yang selalu terbuka juga membuat wanita itu menjadi nyaman saat bersama dengannya.
Namun karena ia selalu teringat oleh Rayhan temannya, Zain selalu menepis dan membuang jauh-jauh perasaannya itu, ia juga tidak ingin menyakiti hati temannya sendiri yang begitu baik dengan dirinya.
Di sisi lain, ia juga teringat dengan gadis yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi. Tapi pertanyaan yang selalu saja timbul di hatinya adalah apakah sang gadis juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Kamu harus perjuangin perasaan kamu Zain. Aku yakin dia juga suka sama kamu. Wanita itu memang pandai dalam menyembunyikan perasaannya tapi mereka tidak bisa menahan rasa cemburunya walau hanya sedetik saja.
Kamu harus bisa berjuang dia, jangan sampai kau akan menyesal seumur hidup."
Kata kata Rayhan yang satu ini juga sebagai penyemangat Zain untuk memperjuangkan perasaannya pada gadis itu dan ia selalu berdoa agar nantinya Allah yang akan menyatukan mereka, jika memang dia adalah takdir yang telah tertulis untuk nya.
Setengah jam telah berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Zain bersama dengan Rayhan pun keluar dari dalam taksi yang mereka tumpangi.
Dinginnya angin malam mengikuti setiap langkah mereka sampai tiba di rumah sakit.
"Assalamualaikum."
langkah keduanya telah sampai di ruangan Maheira di rawat.
Mereka semua telah menunggu kedatangan dirinya.
"Kedatangan mu telah ditunggu oleh anakku dari tadi, tolonglah dia, hanya namamu yang terus disebutnya dari tadi." seorang wanita paruh baya mendatangi dirinya dan begitu memohon padanya.
__ADS_1
Zain hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya sampai berada di samping Maheira.
Wanita yang cantik dan anggun itu kini terlihat begitu pucat pasih dengan bantuan oksigen yang membantunya untuk terus bertahan menjalani masa kritisnya.
Kedua matanya masih tertutup rapat tapi bibirnya terus bergetar. Zayn mendekatkan telinganya ke wajah Mei agar ia bisa mendengar kalimat apa yang terucap dari bibir wanita itu.
Dan benar, hatinya langsung berdesir saat itu, ia mendengarnya sendiri, wanita itu terus menyebut namanya.
Pemuda itu langsung beristighfar dalam hatinya. Ia mengarahkan tatapan wajahnya pada Rayhan yang saat itu juga berada di sampingnya.
"Assalamualaikum Mei, ini aku, Zainal."
"Zain selalu menghentikan perkataannya karena ia melihat kedua bibir Mei yang sudah berhenti bergetar saat dirinya datang mengucapkan salam padanya.
"Jantungnya sangat lemah Zain, sehingga dia tidak bisa melakukan apapun." ujar Rayhan.
Zain masih terdiam, yang tidak tahu harus melakukan apalagi.
"Setidaknya dia sudah tahu kalau kau ada di sini menemani dirinya, sehingga bibirnya tidak lagi bergetar menyebut namamu." timpal Syaufina, ibunda Maheira.
Pemuda itu kembali menatap Maheira yang belum memberikan respon apapun pada mereka.
Kedua matanya masih tertutup detak jantungnya juga masih melemah,
hanya saja kedua bibirnya telah berhenti bergetar karena ia bisa merasakan kehadiran orang yang dicintainya ada di dekatnya.
"Saya mau ke masjid sebentar, ketika perjalanan ke sini saya belum salat isya, setelah salat isya saya akan kembali lagi ke sini."
Zain berkata pada ibunda Mei yang di angguki olehnya.
Pemuda itu keluar dari rumah sakit dan mencari masjid terdekat.
Setelah pemuda itu keluar, dengan perlahan kedua mata Mei mulai terbuka, jari-jari tangannya juga bergerak dengan perlahan terdengar suara lirih dari kedua bibirnya.
"Ibu....." lirihnya.
Suara itu terdengar oleh Syaufina dan ia langsung mendekat pada putrinya.
Hatinya bergetar senyuman pun terurai dari raut wajahnya, sang ayah dengan bangga langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan detak jantungnya.
Setelah dokter itu memeriksa, senyuman terurai dari raut wajah sang dokter dan hasilnya cukup menenangkan hati mereka semua.
Namun meskipun begitu, pada kau tetap harus berhati-hati dan menjaga Maheira agar ia tidak terlalu banyak berpikiran yang dapat mengganggu kesehatannya lagi.
Zain kembali lagi setelah dirinya selesai melaksanakan salat isya di masjid, semua tatapan mereka tertuju padanya.
"Zainal." lirik wanita itu saat melihat wajah Zain ada di sampingnya.
"Alhamdulillah kamu sudah baikan, Mei."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sambil mengangguk dengan perlahan.
"Dia sudah siuman sejak kau pergi tadi, keadaan jantungnya masih cukup lemah. Jadi berhati-hatilah jika berbicara dengannya jangan sampai kau menyinggung perasaannya, kalau bisa apa yang dia sampaikan padamu jangan kau katakan tidak." bisik Rayhan di telinganya.