
"Halo. Assalamualaikum."
ucap Zain yang membuka pembicaraan di telepon nya.
"Waalaikumsalam, mas Zain, ada apa? kok tumben nelpon Asma'?"
suara Asma' terdengar begitu jelas dari sebrang sana.
"Gimana kabarmu As?"
"Alhamdulillah, Asma' sehat dan baik baik saja mas."
"Alhamdulillah kalau gitu".
"Mas sendiri gimana?"
"Ya, Alhamdulillah mas juga sehat."
"Oh ya, mas mau ngapain nelpon Asma'? kok tumben?"
"Kenapa? memangnya nggak boleh ya?"
"Bukan gitu mas, maksudnya kok tumben mas nelpon Asma', kan nggak biasanya, lagi kesambet angin apa?"
"Iya As, mas mau pamitan sama kamu."
"Mau pamitan? memangnya mas mau pergi kemana?"
"Mas kan dapat beasiswa As, jadi mas mau berangkat ke Cordoba."
"Loh, mas jadi berangkat toh."
"Iya As."
"Alhamdulillah, Asma' seneng dengernya, akhirnya mas bisa berangkat ke sana juga."
kelihatan sekali dari ucapannya, Asma' terlihat begitu senang mendengar kabar baik dari abangnya.
Zain terdiam sejenak di telpon nya.
"Yaudah As, mas cuma mau ngomong itu aja."
"Iya mas, Tapi Asma' sedih karena nggak bisa langsung ketemu sama mas Zain, Asma' kan juga ingin antar mas Zain sampai ke bandara, peluk mas Zain sebelum mas Zain pergi."
"Memangnya kamu nggak bisa datang ke sini sebentar?"
"Asma' juga nggak tau. Ntar deh Asma' izin dulu sama Abuya untuk ketemu sebentar sama mas Zain. Sekalian Asma' juga mau ketemu sama Mbak Ica yang cantik, Asma' kangen."
Zain meringkai senyumannya.
"Makanya kamu datang ke sini, mas Kafa kan juga ada acara walimahan hari ini".
"Astagfirullah haladzim, iya Asma' baru ingat mas, yaudah deh Asma' bakal usahain untuk datang ke sana."
"Yaudah, mas tutup telpon nya ya."
"Assalamualaikum."
Zain mengakhiri pembicaraan nya, lalu di tutup oleh Asma' dari sebrang sana dengan salamnya.
Hari berlalu dengan begitu cepat, waktu terlewati dengan sangat singkat. Siang berganti malam, suka berganti duka, tangis berganti tawa, semuanya mengalir seperti arus yang membawa derasnya air.
Hari pernikahan Zizi dan Kafa kini telah tiba. Bertepatan dengan hari ulang tahun Icha. Ntah perasaan apa yang harus ia rasakan saat ini, senang atau sedih.
Ica menghela nafasnya dalam-dalam. mempersiapkan dirinya untuk hadir di hari pernikahan sahabatnya. Air matanya kembali meleleh saat ia mengingat keberadaan orang tuanya yang jauh darinya, biasanya selalu ada hadiah tersendiri dari mereka walaupun mereka tidak pernah ada waktu untuknya.
__ADS_1
"Barakallah fii umrik, kak Ica."
suara mereka menyadarkan Icha dari lamunannya. gadis itu cepat-cepat menghapus air matanya sebelum mereka melihat. seuntai senyuman menghiasi wajahnya.
Mereka semua datang dengan membawa sebuah bingkisan yang mereka siapkan untuk menyambut ulang tahun Icha.
"Masya Allah, terima kasih ya semuanya."
suaranya yang terdengar ceria seakan menutupi kesedihannya.
"Semoga Allah memberkahi umur mu ya ca, kamu jadi pribadi yang lebih baik lagi."
Anna memberikan doa pertamanya.
"Dan semoga Allah selalu akan memberikan yang terbaik untuk kamu, walaupun itu tidak sejalan dengan keinginanmu." kata Dina yang menambahkan.
"Amin."
"Ada satu lagi dari Ika, semoga Kak Icha bisa jadi orang yang sukses dunia dan akhirat."
"Amin... terima kasih banyak untuk semua doanya."
Ica rangkul ketiga sahabatnya.
"Permintaan Icha hanya satu. Ya Allah jangan Engkau pisahkan aku dari sahabat-sahabat ku. Kalaupun kita berpisah di dunia, janganlah Engkau pisahkan kita di akhirat nanti ya Allah."
"Amin ya Allah."
sahut mereka dengan bersamaan.
...****************...
Tampak semua tamu undangan sudah seluruhnya hadir di sana. Konsep pernikahan dengan nuansa islami yang mewah dan begitu indah. Memukau puluhan mata yang datang menghadirinya.
Semua keluarga besar sudah berkumpul di sana. Bahkan keluarga Zain juga sudah ada di sana, meskipun bersamaan dengan jadwal keberangkatannya, Zain masih menyempatkan waktunya untuk bisa hadir di acara pernikahan sepupunya itu.
Asma' datang menghampiri Ica.
"Asma'."
Asma' langsung memeluknya.
"Asma' kangen sama mbak Ica."
Ica meleraikan pelukannya, menatap wajah gadis yang ada di hadapannya itu dengan penuh senyuman.
"Mbak Ica baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah, mbak sehat As."
"Kamu sendiri gimana? hafalan Qur'an mu?"
Asma' menghela nafasnya.
"Alhamdulillah mbak setoran hafalan Qur'an Asma' sudah selesai 30 juz."
"Masya Allah, Alhamdulillah."
Ica menyapu lembut pipi Asma' yang tersemat senyuman itu.
Ica begitu bahagia mendengar kabar Asma' yang telah menyelesaikan hafalan Qur'an nya itu.
"Lihat deh mbak, mas Kafa tampan sekali, dia semakin gagah dengan penampilannya yang seperti itu."
kata Asma' yang menatap Kafa dari kejauhan, saat ia berjalan menuju kursi penghulu.
__ADS_1
Ica juga mengarahkan tatapan matanya mengikuti Asma'.
Dan benar saja kalau saat itu hati Ica juga terkesima melihat penampilannya. gadis itu menundukkan wajahnya seakan tak sanggup untuk berlama lama menatap wajahnya.
"Aku harus kuat untuk menyaksikan semua ini. aku nggak boleh lemah, aku nggak boleh nangis, air mata ini nggak boleh jatuh, ini adalah hari bahagia sahabatku, aku juga harus bahagia."
kata Ica dalam hatinya.
Ica berusaha menenangkan hati dan perasaannya, ini adalah hari bahagia sahabatnya, sekaligus pula hari ulangtahunnya.
Sudah cukup lama ia berada di antara para tamu undangan, tapi sampai saat ini dirinya belum juga bertemu dengan Zizi. Kemana Zizi, kenapa dia belum juga keluar, sebentar lagi kan ijab qobul nya akan di mulai.
Ica melihat ke sekelilingnya, tapi Zizi belum juga datang. akhirnya ia juga memutuskan untuk pergi dan melihat Zizi di dalam kamarnya.
Ica membuka pintu kamar Zizi dengan perlahan juga di iringi oleh ucapan salam.
Menyadari jika ada yang datang ke kamarnya, Zizi segera menghapus air matanya.
"Zizi."
Dengan langkahnya yang perlahan, Ica datang mendekati Zizi yang sedang duduk di depan kaca riasnya.
"Kamu kenapa zi?"
Zizi menghela nafas panjangnya.
"Aku tidak tahu harus bahagia atau tidak pada hari ini."
keduanya saling diam.
Zizi menghadapkan wajahnya ke wajah Ica.
"Maafin aku ya ca, aku bukan sahabat yang baik untuk kamu. Aku udah merebut kebahagiaan kamu. Seharusnya kamu yang saat ini berada di posisi aku."
Icha meringkai senyumannya. kedua tangannya menggenggam tangan Zizi. Perasaan Icha semakin tidak karuan ia semakin merasa bersalah jika hatinya saat ini masih berat untuk mengikhlaskan semuanya.
"Zizi kamu adalah sahabat yang paling baik untukku, kamu tidak pernah merebut kebahagiaanku, ini semua sudah takdir."
"Ca, kalau memang kamu masih sayang sama mas Kafa, aku ikhlas demi kamu. Aku juga berat untuk melakukan pernikahan ini, jika orang yang akan menikah denganku masih berat untuk melupakan perasaannya dengan orang yang ia sayangi."
"Nggak zi, kamu tidak pantas untuk bicara seperti itu. Kamu harus tetap melanjutkan pernikahan ini. Takdir kamu sudah Allah tentukan untuk bersama dengan dia, zi. Hanya tinggal selangkah lagi pernikahan ini akan berlangsung, tidak mungkin pernikahan ini dibatalkan hanya karena seorang wanita dan wanita itu hanya ada di masa lalunya."
Zizi masih terdiam jangan wajahnya menatap lantai.
"Zizi, pernikahan itu bukan hanya didasari oleh perasaan atau rasa cinta, tapi pernikahan itu harus didasari oleh keimanan, itu yang paling penting zi, kamu harus yakin Allah akan memudahkan semuanya. Jika Allah ridho dengan pernikahan ini, kebahagiaan akan selalu menyelimuti kalian."
cica mengusap perlahan pipi Zizi yang sudah basah dengan air mata.
"Zizi."
Dita masuk ke dalam kamar Zizi dan menghampirinya.
"Ayo sayang semuanya sudah menunggu kamu di bawah."
gadis yang sudah rapi dengan gaun pengantinnya yang berwarna putih gading itu memperlihatkan senyuman bahagianya dihadapan calon mertuanya.
"Iya ma, sebentar lagi Zizi akan turun."
"Yaudah, gitu Mama duluan ya."
"Iya ma."
"Ayo, ca."
"Iya, Tante." sahut Ica dengan ramahnya.
__ADS_1
Dita akhirnya pergi duluan dari kamar Zizi. dan membiarkan calon pengantin itu bersama sahabatnya.