
Ummah memeluk Zizi sebagai tanda perpisahannya, begitu banyak pesan yang di berikan ummah kepada santri kesayangannya itu sebelum ia pergi dan menjalani kehidupan baru nantinya.
Air matanya meleleh, hatinya bergetar, Zizi sudah tidak bisa berkata apapun lagi kepada ummah, ucapan terima kasih yang terus keluar dari kedua bibirnya, seakan tidak ada kata kata yang lain yang dapat ia ucapkan untuk membalas semua kebaikan orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Ummah ridho akan dirimu ndok. Keberkahan ilmu seorang murid itu terletak pada sejauh mana orang yang menyuapkan ilmu kepadanya ridho akan diri dia, jaga pesan ummah dan jadilah istri yang Sholehah untuk suami dan mertua mu".
"Insya Allah ummah, pesan ummah adalah tongkat bagi Zizi untuk terus berjalan di kala Zizi rapuh nanti".
Selanjutnya, Zizi datang kepada Abuya, menyalami tangan beliau dengan lapisan jilbabnya yang panjang. Seperti halnya ummah, Abuya juga melakukan hal sama dengannya, lalu dengan lembutnya Abuya mengusap kepala Zizi yang tertutupi dengan jilbabnya.
Zain datang menghampiri nya, mereka saling berhadapan meski dengan jarak yang tidak dekat.
"Maaf kan aku kak Zain, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menolaknya, tapi karena memang saat itu, aku tidak punya pilihan lain selain pilihan dari ibuku".
Wajahnya menunduk ia tidak sanggup untuk menatap wajah orang yang ada di hadapannya itu.
"Kamu tidak perlu minta maaf, tidak ada yang bersalah pada saat itu, karena ini semua sudah menjadi skenario Allah untuk kita".
"Jalani aja yang sekarang, Allah telah memberikan kamu yang terbaik".
"Dua adalah lelaki yang baik, aku sudah mengenalnya dari kecil, dan kamu juga begitu kan, aku yakin kalau dia akan menjagamu dengan baik".
Suara lembutnya itu yang membuat hati Zizi semakin berdesir, air matanya kembali meleleh, tidak bisa di pungkiri lagi jika Zizi saat ini masih menyimpan perasaannya.
Zain menerimanya dengan penuh ketabahan, hatinya ikhlas jika harus melepas Zizi dengan lelaki lain dan itu adalah sepupunya sendiri.
"Aku tidak Ndang kakak di acara pernikahan kami, undangan yang langsung di sampaikan oleh pengantinnya sendiri".
"Insyaallah, aku akan datang jika tidak ada hambatan apapun".
"Alhamdulillah, terima kasih kak".
Zain mengangguk dengan senyuman dan berlalu pergi dari hadapannya.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Dita datang menghampirinya lalu mengajak nya untuk segera masuk ke dalam mobil mereka.
"Ayo kita masuk ke mobil sayang".
"Iya ma, tapi Zizi mau pamitan sama sahabat Zizi dulu bolehkan ma?"
Dita menguraikan senyumannya, sembari mengusap bahu Zizi dengan lembut.
"Mama duluan ke mobil, ya".
"Iya ma".
__ADS_1
Dita pun berlalu pergi menuju mobil dan menunggu Zizi di sana.
Zizi meneruskan langkahnya lalu menghampiri sahabat nya dan memeluk mereka dengan penuh rasa sayang.
"Aku sayang sama kalian semua". Zizi berkata dalam pelukannya.
"Kami juga menyayangi mu zi".
"Kami di undang kan di acara pernikahan kakak?" Ika bertanya setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Iya, kalian adalah tamu istimewa ya g paling aku tunggu kedatangannya".
Senyuman mereka terpancar dari raut wajah masing masing.
"Aku pergi, ya".
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Zizi melangkahkan kakinya keluar dari area pesantren menuju mobil Kafa ya g terparkir di luar.
Saat langkahnya terus berjalan, seseorang dengan berlari datang menghampiri nya.
"Zizi". suara Ica terdengar keras memanggil namanya. Mendengar suara itu Zizi pun menghentikan langkahnya.
Ica datang mendekat dan langsung memeluknya. Karena dari tadi Ica memang diam dan tidak berkat apapun kepadanya, bahkan saat ia hampir akan pergi.
"Semoga kamu bahagia ya, zi".
ucapnya saat melepaskan pelukan.
"Terima kasih ya ca".
Ica tersenyum bahagia untuk sahabat yang begitu ia sayangi, meskipun ia harus melawan rasa sakit yang amat dalam, dikala ia tau jika wanita yang saat itu adalah sahabatnya sendiri.
Ica tidak tahu harus berkata apalagi, setelah itu Zizi kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil.
Masih ada satu orang lagi yang berada di luar, ya, sang pemilik mobil masih berada di luar, ia juga melihat perpisahan kedua sahabat tadi dan keduanya adalah wanita yang pernah ada dalam hidupnya.
Ica berbalik badan, seseorang telah berdiri tegak tepat di hadapannya.
"Melihat wajah kamu yang seperti ini, aku masih belum yakin kalau kamu sudah mengikhlaskan semua ini sepenuhnya. jika aku di beri kesempatan untuk kembali ngomong sama kamu, aku ingin mengatakan yang sebenarnya, jika aku sampai sekarang belum bisa melupakan kamu sepenuhnya, sebagai wanita yang berarti dalam hidupku, setelah orang tua ku".
"Ca.....".
Gadis itu masih menundukkan wajahnya, seakan ia tak ingin lagi untuk menatap orang ada di hadapannya itu.
"Ica".
__ADS_1
Akhirnya gadis itu mau mengangkat wajahnya dan melihat mata yang masih menatapnya.
"Ada apa?"
"Aku mau tanya satu hal sama kamu ca".
"Tanya apa?"
"Apa kamu benar benar sudah mengikhlaskan ini semua? apa kamu bahagia melihat ini semua ca? aku tidak bisa tenang jika menyakiti hati wanita lain karena keputusan ini, aku tidak sanggup jika harus melukai hatimu lagi ca".
Ica menghela nafasnya.
"Sudah cukup, cukup kak, cukup. jangan katakan itu lagi, aku sudah cukup bahagia melihat sahabatku bahagia, orang yang paling aku sayangi selama ini. Aku ikhlas jika harus mengorbankan orang yang paling aku cintai, dan itu memang harus aku lakukan. Tidak ada pilihan lain lagi, selain menerimanya dengan hati yang lapang. Biarkan semua ini mengalir seperti air, berjalan dengan semua ketetapannya meski harus ada yang tersakiti".
Air matanya kembali meleleh dan Ica terus mengusapnya.
Kafa diam tak bergeming, mengatur nafasnya agar air mata itu tidak jatuh di hadapannya.
"Jangan khawatirkan aku. Pergilah, temui dia, dia adalah wanita yang tepat untuk mendampingi hidupmu".
Senyuman yang menyimpan luka terpaut dari wajah cantiknya.
"Assalamualaikum".
Ica berjalan meninggalkannya seorang diri.
"Waalaikumsalam". Akhirnya air mata itu jatuh setelah gadis yang ia cintai pergi meninggalkannya.
"Astagfirullah haladzim". Kafa beristighfar untuk menenangkan hatinya.
...****************...
Dari sebrang jalan sana, terlihat ada seseorang yang sedang memperhatikan area pesantren, pemuda itu duduk di atas motornya, ia sangat mengenali wanita yang tadi sedang berbincang dengan seorang pemuda lain.
"Ica, itu pasti kamu kan ca, aku yakin kalau itu adalah kamu".
Dengan langkah yang cepat pemuda itu menyebrangi jalan lalu mencoba mengejar Ica yang baru saja masuk kedalam pesantren.
"Ca... Ica....".
Suara panggilannya cukup keras, namun sayangnya tidak terdengar sama sekali oleh Ica, karena pintu gerbang pesantren yang sudah tertutup rapat dan terkunci olehnya.
Langkahnya sejenak terhenti, saat samar samar terdengar seperti ada yang memanggil namanya.
Karena suara itu hanya terdengar sekali, Ica berlalu menghiraukannya begitu saja dan melupakan apa yang telah terjadi pada hari ini.
Pemuda itu adalah Arly, tekadnya sangat kuat untuk terus mencari Ica. Ketika ia sudah menemukan dimana Ica berada, mungkin ia akan lebih sering untuk datang kesini agar bisa bertemu dengan gadis yang selama ini ia cari keberadaannya.
"Tunggu aku ca, aku akan datang menemui mu".
__ADS_1