Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
25. Seorang Penghibur hati Icha


__ADS_3

Masih dalam suasana yang sama dengan keadaan hati yang masih pedih.


Ica duduk sendirian di depan asrama, ia ingin menenangkan pikirannya dengan menyendiri dan menjauh dari temannya sejenak.


Air matanya masih saja mengalir di pipinya, ia lemah seakan tidak memiliki semangat untuk dirinya sendiri.


Seseorang datang menghampiri nya dengan membawa sebuah sapu tangan lalu menyodorkan nya pada Ica.


Ica menyadari kedatangan orang itu dan melihat ke arah wajahnya.


"Kak Zain".


Zain memberikan senyumannya.


"Hapus air matanya". Zain memberikan sapu tangan yang ia bawa.


"Terima kasih".


Ica mengambil sapu tangan itu lalu menghapus air matanya.


Keduanya saling diam tanpa berkata apapun.


"Air mata kamu itu akan sia sia ca kalau kamu keluarkan dari terus seperti ini , itu sama saja merugikan diri kamu sendiri. Air mata itu akan ada artinya jika kamu luapkan semuanya sama Allah".


Ica tak bergeming ia masih terus menghapus air matanya yang terus meleleh.


Hanya sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya yang sedih.


Zain memandang hari gadis yang ada di sebelahnya itu dengan perasaan iba.


"Aku nggak tau untuk saat ini apa yang harus aku lakukan, mereka semua seakan memojokkan aku sebagai tersangkanya.


Ica bakalan kehilangan beasiswa Ica karena masalah ini".


"Masalah itu di datang kan Allah sama kita karena Allah tau kalau kita mampu untuk menyelesaikannya. Serahkan semuanya sama Allah ca, agar hati kamu bisa lebih tenang".


Gadis itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah pemuda yang ada di sampingnya.


"Apa kak Zain juga seperti mereka, kakak juga nggak percaya sama Ica?"


"Aku bukan orang yang langsung menyimpulkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Apa yang terlihat oleh mata dan apa yang terdengar oleh telinga belum tentu kebenarannya".


Ica menghela nafasnya.


"Tapi hati Ica masih sedih kak, orang yang paling Ica hormati dan begitu percaya pada Ica, sudah tidak lagi percaya pada Ica. ummah hanya mendengarkan dari sebelah pihak saja".


"Ummah hanya terpancing emosi ca, Karena ini bukan yang pertama kalinya terjadi sama Naura".


Ica kembali terdiam dan memalingkan wajahnya.


"Padahal beasiswa itu adalah satu satunya penyemangat untuk Icha masih ada di sini".


"Seberapa penting beasiswa itu untuk kamu ca?"

__ADS_1


"Sepenting masa depan Ica kak, Cordoba itu adalah impian Ica dari kecil. Impian yang sudah ada di depan mata dan hampir saja akan tercapai".


"Bagaimana perasaan kakak jika harus mengikhlaskan sesuatu yang akan menjadi milik kita menjadi milik orang lain?"


Hati Zain seakan berdesir saat mendengar pertanyaan dari gadis itu.


"Sangat sulit ketika di awal, namun ketika hati itu lapang maka dengan perlahan akan lebih mudah, dan kita akan terbiasa dengannya".


Gadis itu tersenyum, namun dengan air mata yang juga kembali meleleh di pipinya.


"Ya, untuk sekarang dan selamanya Ica harus lebih melapangkan hati Ica sendiri, mungkin ke depannya akan lebih banyak cobaan yang sudah Allah siapkan untuk diri Ica."


"Terima kasih atas jawabannya kak, terima kasih juga karena sudah mau mendengar kan Ica."


Zain hanya tersenyum sembari menundukkan wajahnya ketika gadis itu sejenak menatapnya.


"Semakin tinggi derajat seseorang di hadapan Tuhan nya maka semakin tinggi pula ujian yang harus di lewatinya".


ada rasa yang tak biasa tiba-tiba muncul di perasaan Icha, ketika mendengar ucapan dari pemuda itu. Icha pun beristighfar dalam hatinya dan menepis rasa itu.


karena tidak ingin menjadi salah paham lagi, Ica pun segera beranjak dari tempatnya.


Gadis itu kembali tersenyum sebelum pergi.


"Assalamualaikum".


ucapnya ketika akan kembali melangkah pergi.


"Waalaikumsalam".


"Astagfirullah, kenapa ada perasaan seperti ini ya Allah. Jagalah hati hamba ya Allah, sebelum hamba bertemu dengan orang yang benar-benar tepat untuk Ica. Karena Ica tidak ingin kehilangan lagi".


kata Icha dalam hatinya.


Ica kembali ke kamar yang ada di asrama putri. Langkahnya terhenti menuju kamar mandi. Ia mulai membasahi wajahnya dengan air wudhu, membiarkan air itu mengalir di anggota wudhunya.


setelah itu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar lalu melaksanakan salat hajat untuk menyelesaikan hajatnya.


sebuah sajadah telah dibentangkan Icha menghadap kiblat, iya berdiri di atas sajadahnya, mengangkat kedua tangannya dan mengucap sebuah takbir.


hijab melaksanakan salat dengan begitu khusyuknya di akhir salatnya, Icha menutup dengan sebuah doa yang panjang, semua isi hatinya ia lakukan pada saat pemilik hati air matanya jatuh mengalir di pipinya, hingga kedua matanya tak sanggup lagi untuk terbuka.


"Tidak mudah untuk menjadi seorang gadis yang kuat, tapi kamu harus tetap kuat. bahkan di saat kamu bersedih, kecewa dan ingin menyerah. namun percayalah, Allah akan membuat semua itu menjadi lebih mudah."


Selesai salat, Icha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur titik matanya menatap langit-langit kamar pandangan yang sudah mulai kabut dan akhirnya kedua matanya sudah tertutup. Icha melupakan kejadian pada hari ini titik menenangkan sedikit pikirannya yang begitu kalut tidak beraturan.


...****************...


Zain juga kembali ke asramanya, setelah gadis yang ia temui tadi juga kembali ke asramanya.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".

__ADS_1


jawab seorang Fahma yang masih sibuk dengan membaca bukunya.


"Dari mana Zain?"


"Dari luar abis cari angin".


Fahma lalu bangkit dari duduknya mendekatkan sirinya pada Zain yang duduk di atas tempat tidur.


"Jadi gimana Zain kamu sudah ada bukti untuk membela Ica?"


Zain menggeleng.


"Aku juga nggak tau harus cari bukti apa. sedangkan saksi mata pada saat itu hanyalah Bunga dan Naura. Dan satu satunya orang yang bisa di percaya hanya Naura, tapi Naura sendiri adalah korban".


Fahma mengangguk mendengar penjelasan temannya itu.


"Iya, kamu benar Zain, kita memang tidak bisa melakukan apa apa".


Zain masih diam .


"Kira kira hukuman apa yang akan di terima oleh Ica Zain?"


Zain beranjak dari duduknya, mengambil segelas air putih dan meminumnya laki ia kembali lagi ke tempatnya.


"Beasiswa Ica terancam akan di cabut dan Ica akan kehilangan impiannya."


"Astagfirullah haladzim, kasihan sekali Ica, jika ia harus kehilangan impian terbesarnya."


Fahma juga iba dengan keadaan Ica.


Zain terdiam dan melakukan sesuatu.


"Kalau saja beasiswa itu bisa aku berikan padanya, mungkin Ica tidak akan kehilangan impian nya."


Kata Zain yang mengeluarkan pendapatnya.


"Memangnya kamu yakin akan memberikan itu pada Ica."


"Zain, itukan impian kamu juga, ini kesempatan terakhir mu Zain untuk pergi ke sana". kata Fahma yang menambahkan.


Zain sejenak terdiam.


"Tapi sepertinya ada yang lebih membutuhkan beasiswa itu, jika aku memberikannya untuk membantunya dan membuatnya ke.bali menemukan impiannya, apakah itu salah?"ucap Zain yang meminta pendapat dari Fahma.


"kalau kamu melakukan itu dengan ikhlas karena ingin membantu sepertinya itu tidak mengapa. tapi, apa kamu tidak ingin memikirkannya lagi Zain"tanya Fahma yang masih ragu dengan jawaban dari Zain.


"aku akan memikirkannya lagi Fahma, lagian pendapat ini kan hanya aku keluarkan sendiri, aku belum meminta pendapat dari yang maha kuasa"ucap Zain.


"semoga kamu mendapatkan hasil yang terbaik ya Zain. aku selalu dukung apa yang kamu lakukan selagi itu masih benar"kata Fahma sambil menepuk bahu Zain.


Zain hanya membalasnya dengan senyuman.


.

__ADS_1


__ADS_2