Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
51. Menata Hidup Baru


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu. Pagi berganti siang, siang berlanjut senja, dan senja berlalu malam. Begitulah seterusnya sampai sang pencipta yang menghentikan waktu untuk berputar selamanya.


Bisnis yang di kelola Ica berjalan dengan baik.


Minggu pertama, suasana masih terasa sepi.


Masih jarang yang berminat untuk datang k coffee shopnya.


Memasuki Minggu kedua, para pemuda mulai tertarik dengan gaya coffee shop itu yang klasik dan modern, serta religius.


keadaan itu semakin stabil hingga waktu 3 bulan lamanya. Ica terus membuka pikirannya, mencari ide-ide baru yang bisa ia kembangkan agar coffee shopnya tidak membuat para pengunjung saat mereka berada di sana.


1 bulan pertamanya, Icha masih dibantu oleh Arsya yang masih setia menemaninya. Memasuki bulan ke-2, Ica mulai bekerja sendiri, karena Arsya akan berangkat kuliah bersama dengan Abang kandungnya.


Semenjak Arsya tidak lagi menemani dirinya, Ica pun memutuskan untuk tidak lagi tinggal di apartemen, ia memilih untuk sementara menyewa rumah bersama dengan seorang pembantu yang mengurus villa pribadi milik orang tuanya.


Setelah uang tabungannya ia rasa cukup untuk membeli rumah, Ica berniat ingin membeli rumahnya sendiri dengan hasil jerih payah keringatnya.


Begitulah seterusnya sampai sekarang Icha sudah sekitar 6 bulan ia menjalankan usahanya.


Melihat dengan perlahan bisnis yang dikelola putrinya mulai berkembang dan menjalani masa terangnya, Fajar turut bahagia bahkan ia sangat salut dengan apa yang telah dicapai oleh putrinya. Namun disamping itu, Fajar juga merasa khawatir jika nanti putrinya sudah sukses dengan bisnis yang dikelolanya dan ia hidup dengan berkeliling harta, Fajar tidak ingin kalau Icha sampai mengalami apa yang pernah dialaminya dulu. Terlalu berambisi dengan dunia dan merupakan sesuatu yang lebih berharga selamanya, yaitu akhirat. Fajar sering mengingatkannya dan selalu memberi pesan kepada gadis itu sangat ia berkomunikasi dengannya.


Icha selalu menerima pesan ayahnya dengan baik, bahkan tak sedikitpun ia menentangnya. Karena dia tidak ingin mengulang kesalahan ayahnya untuk yang kedua kali.


Ia ingin menjadikan dirinya sebagai motivasi untuk para anak muda agar mulai hidup mandiri tanpa bantuan orang lain dan mulai membuka usaha apapun untuk pekerjaannya, selagi masih halal dan masih berjalan dengan syariat agama.


Siang itu Ica sedang istirahat di rumahnya sejenak, karena hari ini adalah hari Jumat.


Maka seperti biasa, ia selalu menghentikan aktivitasnya dan memberikan waktu istirahat untuk para karyawan yang bekerja di sana. adis itu sedang mengulang hafalan nya di dalam kamar, setelah ia selesai dengan sholat Dhuha nya.


Suara deringan telepon yang ada di atas tempat tidur menghentikan kegiatannya. Ia beranjak untuk melihat handphone itu, panggilan masuk dari Fajar papanya.


"Assalamualaikum pa."


"Waalaikumsalam, sayang."


"Gimana kabar kamu di sana Syadzi?"


"Alhamdulillah Syadzi baik pa. Papa sendiri gimana?"


"Alhamdulillah papa juga baik."

__ADS_1


Ica tersenyum di balik teleponnya.


"Ada apa pa, kok tumben papa telepon Syadzi lagi?"


Ada sedikit yang mengganjal, saat ia menerima telepon dari papanya. Satu hari ini Fajar sudah dua kali menelpon putrinya. Sepertinya untuk kali ini ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan langsung padanya.


Syadzi, adalah nama baru yang ia pakai semenjak tinggal di Kalimantan.


Ica ingin menata hidup barunya dan melupakan semua kenangan lama termasuk pula mengganti nama panggilannya.


"Iya nak, ada hal penting yang akan papa bicarakan sama kamu."


Nada bicaranya sudah terdengar serius, seperti nya hal ini berkaitan langsung dengan dirinya.


"Papa mau ngomong apa?"


Perasaan nya tiba tiba kalut, Ica merasa sangat deg degan.


Dari sebrang sana Fajar sejenak terdiam.


"Ini menyangkut masa depan kamu nak."


Ica mengerutkan dahinya.


Fajar mulai mengatur nafasnya.


"Kamu dengarkan papa baik baik ya."


"Dua hari yang lalu, ada seorang pemuda yang datang ke rumah papa. Pemuda itu menyampaikan niat sucinya untuk melamar kamu menjadi istrinya."


Mendengar pernyataan itu, hati Ica langsung bergetar. Jika bisa dilihat saat itu wajahnya berubah menjadi pucat.


"Kalau papa lihat, dia adalah pemuda yang baik, taat, Sholeh, sederhana dan bertanggung jawab. Dia adalah seorang dosen di universitas IAIN Salatiga. Umurnya 26 tahun dan ia juga lulusan luar negeri."


Kata Fajar yang melanjutkan kalimatnya.


Syadzi terdiam dengan pikirannya yang tak menentu.


"Boleh Syadzi tau siapa namanya pa?"


Ica berkata dengan suaranya yang bergetar.

__ADS_1


"Namanya Adan. Ustadz Adnan."


Astagfirullah haladzim, kenapa masih saja aku berharap jika pemuda itu adalah dirinya.


Apa yang kamu pikirkan Syadzi, dia kan sudah menikah. Tidak mungkin kamu bisa lagi memikirkannya.


"Papa sudah menerima lamarannya lima puluh persen. Dan lima puluh persen lagi papa serahkan sama kamu. Bagaimana dengan jawaban mu Syadzi. Apakah kamu sudah siap untuk menikah."


Tanpa disadari, air matanya mulai mengalir di pipinya.


"Boleh Syadzi meminta waktu untuk berpikir pa. Syadzi minta waktu tiga hari untuk mengambil keputusan."


"Boleh sayang. Kamu pikirkan baik baik. Semua keputusan kamu akan papa terima dengan baik, apapun itu."


"Terima kasih pa. Sudah mengerti perasaan Syadzi."


"Sudah lama Syadzi tidak pernah memikirkan tentang perasaan dan keinginan Syadzi untuk menikah. Kenapa tiba tiba hal itu datang lagi kepada Syadzi saat ini."


Dengan perlahan ia mengeluarkan isi hatinya saat ini.


"Mungkin ini adalah saatnya Allah mempertemukan mu dengan jodoh mu yang sebenarnya, nak. Sudah saatnya kamu mengakhiri kesendirianmu."


"Apa papa sudah ingin Syadzi menikah? Papa rela jika Syadzi sudah menjadi milik orang lain selain papa."


"Syadzi ingin sekali papa ada di sana bersama mu. Papa ingin memeluk kamu, menjadi sandaran disaat kamu sedang bersedih hati. Hati orang tua tidak begitu mudah untuk melepaskan anak gadisnya begitu saja menjadi milik orang lain."


"Papa ingin kamu menikah dengan laki-laki yang tepat. Jika sudah tiba saatnya kamu pergi dari papa untuk menjadi milik yang lain, maka papa juga harus melepaskan tanggung jawab papa kepadanya."


Syadzi diam sembari menundukkan wajahnya.


"Syadzi sayang sama papa."


Ica lalu mengakhiri pembicaraan nya dengan papa nya. Ia menutup teleponnya dengan mengucap salam.


Hatinya masih terus berdesir di saat ia mengingat kembali perkataan ayahnya tadi.


Ica termenung dengan pikirannya yang tak menentu.


Disaat sekarang hidupunya sudah lebih tenang tanpa memikirkan perasaan ataupun keinginannya untuk menikah, tiba tiba saja ujian hati dan perasaan itu datang lagi.


Siapa pemuda itu, kenapa ia bisa mengenal dirinya? Seorang dosen muda IAIN Salatiga datang melamarnya langsung melalui orang tuanya. Pasti dia bukanlah pemuda sembarangan. Ica pernah datang mengunjungi kampus itu, tapi saat itu tidak ada dosen muda yang bernama Adnan.

__ADS_1


Apakah dia adalah dosen baru, dari mana ia bisa mengenal Ica, apa dia pernah ketemu langsung dengannya. Dalam pikirannya sempat terlintas bahwa Adnan itu adalah Zain, tapi itu sangat lah tidak mungkin. Pemuda itukan sekarang sudah menikah dengan wanita pilihannya yang lain.


Ica tidak ingin lagi memikirkan hal hal lain yang hanya akan menyulitkan pikirannya dan membuatnya mengingat kembali masa lalunya.


__ADS_2