
Asma' terlihat kesal dengan sikap abangnya yang langsung pergi begitu saja dari mereka.
"Ada apa As?" tanya Ica saat melihat wajahnya yang cemberut.
"Oh... nggak mbak, nggak ada."
"Kita duduk di sana yuk mbak, capek di sini berdiri terus."
Icha menyahutinnya dengan senyuman.
Mereka pun duduk di salah satu kursi yang tersedia di bandara. Karena melihat di sana ada ummah dan Abuya juga, pak Ilham dan istrinya pun beranjak menghampiri mereka, kini tinggal Asma' dan Icha yang duduk berdua di sana.
"Asma' kira tadi Mbak Icha nggak bakalan datang ke sini." kata gadis itu memulai pembicaraannya.
"Tadinya sih iya, tapi karena Dina terus ngajak, jadi mau ikut ke sini, terus asrama juga nggak ada teman mereka semua pergi ke sini."
Asma' menggangguk.
"Mbak Icha lagi sedih ya?"
gadis itu hanya menguraikan senyumannya tanpa menjawab pertanyaan dari Asma'.
"O ya, Asma' ada sesuatu untuk mbak."
"Sebentar ya."
Asma' pun membuka tas ransel yang ada di punggungnya. Sebuah bingkisan kecil ia keluarkan dari dalam tasnya.
"Hari ini Mbak Icha ulang tahun kan? selamat ya mbak." kata Asma' sambil memberikan hadiah itu pada Icha.
Icha sejenak terdiam sambil menatap bingkisan yang ada di tangan Asma'.
"Makasih ya." sahut nya dengan wajah penuh senyuman.
"Ini hadiah untuk Mbak Icha."
Gadis itu mengulurkan tangannya dan mengambil bingkisan yang ada di tangan Asma'.
"Bagus sekali, kamu sendiri yang bungkus?"
Asma' hanya tersenyum melihat Icha yang terlihat senang ketika menerima hadiah darinya.
"Hadiah itu dari Kak Zain, mbak."
Icha mengangkat wajahnya dan menatap Asma'.
"Kak Zain?"
Asma' mengangguk dengan senyumannya.
"Itu orangnya."
Asma' menunjuk Zain yang saat itu sedang berbincang dengan temannya sembari menunggu panggilan untuk mereka para penumpang pesawat.
Tatapan Icha sejenak mengarah ke sana, lalu ia kembali menunjukkan wajahnya, ada suatu perasaan yang berbeda saat ia melihat pemuda itu dari belakang.
"Ada apa ini? Astagfirullah haladzim."
gumam Ica dalam hatinya.
Pesawat yang akan membawa mereka ke Andalusia telah tiba di bandara, seluruh penumpang termasuk pula para mahasiswa yang akan segera check out.
"Mas berangkat dulu ya."
Zain mengusap lembut kepala adiknya.
Asma' seakan tak bisa menahan air matanya. Ia terlihat begitu sedih di saat harus melepas satu satunya Abang yang paling ia sayangi untuk pergi jauh darinya dan dengan waktu yang lama.
"Mas baik baik di sana ya, jangan lupa kabarin kalau ada apa-apa."
"Iya...."
kedua jemarinya mengusap perlahan air mata yang jatuh membasahi pipi Asma'.
"Jangan nangis lagi......"
Asma' menguraikan senyumnya lalu mengatur nafasnya agar air mata itu tak dak kembali jatuh.
Zain lalu mencium dan memeluk kedua orang tuanya dengan penuh rasa haru yang begitu dalam kepada mereka.
Rasanya iya tak sanggup jika harus pergi jauh dari keduanya, air mata air yang jatuh membasahi pipinya yang sebelumnya ia tak pernah merasakan kesedihan seperti ini.
__ADS_1
"Doain Zain ya Bu."
lirihnya saat mencium tangan ibunya.
"Maaf kalau selama ini Zain belum bisa jadi anak yang berbakti kepada ibu dan bapak."
"Kamu itu adalah anak yang baik dan sangat berbakti sama ibu sama bapak, kami akan selalu meridhoi dan memberikan doa yang terbaik untuk mu le'."
Zain mengangkat wajahnya dan menatap wajah ibunya. Zain kembali mencium ibunya, wanita yang begitu ia cintai dalam hidupnya.
"Maafin Zain ya pak, Zain berangkat pak."
ia menyalami tangan Pak Ilham dan menciumnya.
Pak Ilham menarik tubuh Zain dalam pelukannya.
"Lelaki yang kuat, lelaki yang tangguh, tidak pernah bergantung pada orang lain, siapa pun itu. Dan tidak pernah memberi harapan pada siapapun pula."
kata Pak Ilham dalam pelukannya.
Zain melerai pelukannya dan menatap wajah ayahnya. Seorang lelaki tangguh yang ada di hadapannya itu adalah orang yang sangat ia cintai seperti ibunya.
"jaga dirimu baik-baik di sana."
Zain menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum."
ucapnya pada mereka semua saat ia melangkahkan kaki yang pergi meninggalkan mereka.
"Waalaikumsalam."
Zain terus berjalan keluar dari bandara dan akan segera masuk ke dalam pesawat bersama dengan penumpang yang lain.
"Kak Zain."
seseorang berlari mengejarnya, suara gadis yang memanggil namanya itu membuat langkahnya berhenti sejenak.
Zain berbalik arah lalu menatap wajah itu.
Ntah perasaan apa ini, ia terlihat begitu senang saat menatap wajah itu, hatinya berdesir sangat kuat saat ia berhadapan langsung dengan gadis itu.
"Astagfirullah haladzim."
"Maaf Ica ganggu sebentar."
Zain tak menjawab perkataannya.
"Terima kasih untuk hadiahnya."
pemuda itu hanya mengangguk dengan senyuman tanpa berkata apapun.
"Hati hati."
Kedua bibirnya bergetar ia seakan bingung dan tidak tahu harus berkata apa saat berhadapan dengan pemuda itu.
"Di pakai ya, kalau kamu perlu. Maaf kalau nggak seberapa nilainya."
Icha menjawabnya dengan senyuman.
"Assalamualaikum."
ucap Zain saat ia akan segara masuk kedalam pesawat.
"Waalaikumsalam."
Icha masih berdiri di tempatnya menatap punggung pemuda itu saat akan memasuki pesawat bersama dengan penumpang lainnya, tanpa ia sadari setetes air mata telah jatuh di pipinya. Ada sebuah perasaan sedih saat ia melihat pemuda itu pergi jauh darinya.
"Bismillah hirohmanirohim, ya Allah aku melangkahkan kakiku ini di jalan kebaikan untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agamamu, serta memperjuangkan agamamu ya Allah. Lindungi dan ridhoilah hamba sampai akhir nanti ya Allah. amin.."
...****************...
Kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan dalam hati gadis itu, ia merasa ada yang hilang dari kehidupannya. Ntah apa ini namanya, Icha juga merasa begitu bingung sendiri, kenapa dirinya jadi seperti ini. Apakah benar dia mempunyai perasaan pada pemuda itu.
"Astagfirullah haladzim. Icha kamu mikirin apa sih! fokus ca, fokus besok itu ada ujian kamu harus fokus belajar. Jangan mikirin yang enggak-enggak deh."
kata gadis itu sembari menepuk perlahan dahinya.
Icha menghela nafasnya dan kembali fokus pada buku yang ada di hadapannya.
Saat itu Anisa atau Icha memang sedang duduk sendirian di teras kamar mereka, karena besok ada ujian di kelas formal Ica membawa beberapa buku mata pelajaran yang akan ujian kan besok. Icha mencoba konsentrasi atau fokus pada buku yang dipelajarinya tapi tiba-tiba ada angin dari timur yang sedikit mengganggu konsentrasinya dan membuat pikirannya goyah.
__ADS_1
"Eh lagi fokus belajar? atau lagi fokus memikirkan seseorang?"
sambardinah yang tiba-tiba datang mengejutkan dirinya.
"Astagfirullah haladzim, apaan sih Dina. Kamu itu buat aku terkejut aja." sahut Icha sembari mengelus dadanya.
"Iya.. iya maaf namanya juga disengaja, biar kamu terkejut."
Icha hanya menghela nafasnya.
"Gimana belajarnya aku mah udah terulang berapa bab?"
tanya Dina yang menyodorkan wajahnya di hadapan Icha.
"Alhamdulillah udah terulang semua."
jawabnya dengan rasa lega.
"Masya Allah, udah ada bayangan bakalan jadi juara kelas nih kelihatannya, duh dapat saingan berat nih aku."
"Kamu ini apaan sih Din."
sahut Ica yang tersipu malu.
Dina hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
Ica terdiam sejenak dan melamun lagi.
"Ca..."
seru Dina sembari menyenggol bahu Ica.
"Hemmm...."
Ica mwguraikan senyumannya.
"Kamu lagi mikirin apa sih ca?"
tanya Dina yang menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Lagi mikirin kak Zain."
jawaban Ica itu terlepas begitu saja dari mulutnya.
Ica langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Apa ca? aku nggak salah dengar kan?"
"Aduh Ica, kenapa harus kelaparan sih."
sesalnya dalam hati.
"Ya ampun Icha baru juga satu minggu Kak Zain pergi udah main kangen aja."
Dina mulai menggoda sahabatnya itu.
"Kamu udah mulai suka kan sama Kak Zain?"
bedanya lagi yang langsung memberi pernyataan pada gadis itu.
"Bukan gitu Dina. siapa juga sih yang kangen, Icha kan cuma kepikiran aja bukan berarti Icha kangen kan." tepisnya langsung.
"Tapi itu tanda-tanda ca, kalau kamu udah mulai memikirkan seseorang terus kamu merasa khawatir dan peduli dengan orang itu berarti kamu udah mulai suka sama orang itu."
"Masa' kamu nggak ngerti juga sih ca, kamu kan udah pernah merasakan jatuh cinta."
Icha terdiam.
Keadaannya berubah menjadi keheningan.
Icha mengatur nafasnya.
"Iya juga sih Din, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta yaitu sama Kafa, dan sekarang aku merasakan hal yang sama, sama Kak Zain. Apa aku udah punya perasaan ya sama Kak Zain, tapi kenapa aku merasakannya baru sekarang kenapa saat dia pergi jauh dari hidupku baru aku merasakan hal itu."
Icha berkata sesuai dengan keadaan hatinya saat ini.
"Memang begitu ca, kita akan menyadari perasaan kita sendiri di saat orang itu sudah pergi dari kita."
"Ini adalah salah satu ujian untuk hati kamu ca, jangan langsung goyah gitu aja."
"Kamu juga harus tahu ca. kita boleh suka ataupun sayang sama orang tapi kita tidak boleh mencintai seseorang." kali ini tatapan mata Dina terlihat serius berbeda dengan sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa Din?"
"Cinta itu hanya kepada Allah dan Rasulnya bukan pada makhlukNya, jika kamu mencintai seseorang maka kamu harus mengatasnamakan Allah, mencintai karena Allah. Itulah hakikat cinta yang sebenarnya."