
Mobil pribadi mewah berwarna putih dengan variasi hitam, telah sampai di depan rumah Asma'.
Mobil itu parkir di pinggir jalan depan rumah gadis itu.
"Saya tinggal sebentar ya Pak."
"Iya neng. Nggak mau di temenin?"
"Nggak usah pak, lah cuma di depan sini kok pak rumahnya."
"Oh yaudah, hati hati ya neng."
"Iya pak Rasyid."
Seorang gadis dengan gamis berwarna hijau tosca dan jilbabnya berwarna hitam polos, keluar dari dalam mobil sambil membawa tas laptop di punggung dan beberapa bingkisan di tangannya.
Tampilannya tampak begitu anggun, wajahnya putih bersih menawan, senyumannya terus terurai di wajah jelitanya.
Keadaan rumah itu terlihat begitu sepi sunyi, pintu depannya tertutup tetapi tidak rapat, ada sedikit celah yang terbuka dan bisa dia lihat keadaan di dalamnya.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu sedang membicarakan sesuatu.
Icha mengambil posisinya duduk di bangku yang ada di teras, lalu meletakkan barang bawaannya di atas meja.
Gadis itu masih menunggu di sana.
Tanpa disengaja, pembicaraan mereka terdengar di telinganya.
Suara itu kembali ia dengar, Icha begitu mengenalinya.
Rasanya ia ingin segera masuk ke dalam dan bertemu dengannya.
"Meheira meminta Zain untuk menikahinya begitu juga dengan keluarganya. Mereka memberikan Zain waktu untuk memberikan keputusan, Zain tidak bisa memutuskannya sendiri, Zain butuh pendapat dari kalian semua."
"Mas sudah istikharah?"
"Sudah As."
"Lalu Apa keputusannya?"
"Belum ada jawaban As."
"Kalau dari kamu sendiri bagaimana le?"
tanya ibu.
"Kalau dari Zain sendiri......"
Ingatannya kembali pada gadis itu. Ia tidak bisa melupakannya begitu saja, ia juga tidak bisa mengingkari perasaannya sendiri yang sampai saat ini masih Ica yang menguasainya.
Asma' melihat ada keraguan dari raut wajah abangnya.
"Jangan Mas, Asma' tidak akan setuju kalau sampai Mas menikahi wanita itu. Asma' nggak mau Mas." cetus Asma' begitu saja.
Zain langsung menatap adiknya itu.
"Kenapa nduk?"
"Asma' nggak setuju Pak, Mas harus ingat dengan seorang gadis yang masih mas cintai, gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengan mas Zain. Jangan khianati perasaanmu sendiri Mas. Jangan biarkan dia tersakiti untuk yang kedua kalinya."
Air mata Asma' meleleh begitu saja.
Zain tau apa maksudnya, dia paham dengan ungkapan adiknya itu.
Hatinya berdesir saat mengetahui jika gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Semuanya telah terdengar jelas sekalinya, tak ada lagi yang bisa ia harapkan, sepertinya ia harus mengubur perasaannya dalam-dalam.
Air matanya meleleh kok bedanya terasa begitu sesak, hatinya terus bertanya-tanya.
Siapakah Maheira itu? Seperti apakah dirinya aku mah apakah dia adalah wanita yang lebih baik darinya semudah itukah Zain langsung berpaling darinya?
"Mudah saja Allah membalikkan hatinya untuk suka pada wanita lain, kita tidak bisa berharap lebih As."
Kata kata nya itu yang kembali terlintas dalam pikirannya.
Asma' sejenak terdiam dan kembali melihat jam tangannya. Ia baru ingat, seharusnya Icha sudah sampai dari tadi, ia pun memutuskan untuk keluar dari rumah.
__ADS_1
"Mbak Ica."
Gadis itu telah menghapus air matanya aku ia bangkit dan menatap Asma' dengan penuh senyuman, seakan tidak terjadi apapun pada dirinya.
Mata Asma' masih menatapnya, ia bisa merasakan jika gadis yang ada di hadapannya itu baru saja menghapus air matanya dan menyembunyikan kesedihannya sendiri.
"Mabuk sudah lama di sini?"
"Tidak terlalu As."
"Em... ini laptopnya As, ini juga ada beberapa bingkisan untuk ibu dan bapak, juga semuanya."
"Terima kasih banyak ya Mbak, Jazakillah Khairan."
"Wa iyyaki As."
"Maaf ya mbak, udah nunggu lama."
"Iya, nggak papa As."
"Mbak mau langsung pulang? Nggak mau ngobrol dulu?
"Seperti nya iya As, lain kali aja ya, takut kemalaman nanti."
"Kalau kemaleman nginep di sini Mbak."
"Nggak usah As, ntar ngerepotin."
"Nggak akan mbak."
Gadis itu kembali tersenyum.
"Mbak nggak mau ketemu sama Mas Zain?"
Mendengar nama itu, mata Icha kembali berkaca-kaca, ia langsung menundukkan wajahnya dan cepat-cepat menyeka air matanya.
"Mungkin lain waktu saja. Sampaikan salamku padanya ya As, selamat atas predikat tertingginya."
"Ndak mau ngomong langsung mbak?"
"Aku pamit dulu. Assalamualaikum."
"Salam untuk ibu juga ya."
"Wassalamu'alaikum."
Gadis itu beranjak pergi. Asma' masih berdiri di tempatnya.
Pemuda itu juga terus melihatnya dari pintu, ia juga mendengar obrolan mereka berdua dari tadi.
Hatinya terus berdesir, langkahnya seakan ingin maju ke depan berlari mendekatinya dan mencegahnya untuk pergi. Ingin rasanya ia menatap gadis itu, lalu menggenggam kedua tangannya dan menjelaskan semuanya.
Tapi semua itu seakan ada yang menghalanginya, Zain terus beristighfar dalam hatinya.
"Mbak Ica."
Panggilan Asma' menghentikan langkahnya yang sedikit lagi akan masuk ke dalam mobil.
"Mbak tadi sudah mendengar semuanya?"
tanya Asma' tiba-tiba.
"Tanpa sengaja As."
"Mas Zain belum memberikan keputusan apapun pada mereka Mbak, ia juga bingung, rasa cintanya masih ada sama Mbak Icha, bukan sama perempuan itu. Mbak jangan kecewa dulu ya."
Icha lalu mengangkat wajahnya.
"Aku nggak kecewa As sama siapapun. Aku juga tidak meminta siapapun untuk mempertahankan perasaannya sama aku. Jangan dipaksa As, biarkan dia memilih dengan keimanan dan hati dia sendiri."
"Asma' sayang sama Mbak Icha, Asma' tidak akan biarkan Mbak Icha kembali tersakiti, Mbak Icha juga punya hak untuk hidup bahagia bersama dengan orang yang baik cintai."
Asma' memeluknya, air mata itu kembali meleleh dari mata keduanya. Ntah siapa yang bisa menahan air matanya jika melihat keadaan yang seperti ini, bahkan Zain sendiri juga tak bisa menahannya.
Tatapan matanya tertuju pada gadis itu dari jauh pandangan mereka saling bertemu.
"Terima kasih kamu sudah sayang sama aku As. Jangan terlalu dipikirkan ya, biarkan semua ini berjalan sesuai dengan takdir dan ketentuan Allah. Aku akan belajar untuk menjadi wanita yang lebih kuat lahir batinnya."
__ADS_1
Senyuman itu kembali terurai dari wajah cantiknya.
Icha mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Perbincangan mereka telah berakhir, Icha masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju pergi meninggalkan Asma' yang masih berdiri diam di tempatnya.
Berdoa adalah caraku mencintaimu........
dan Diam ku adalah caraku paling mencintaimu......
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang mengikuti alur jalan raya yang ramai oleh penggunanya.
Icha masih belum bisa melupakan apa yang ia dengarkan tadi, keinginannya untuk bertemu langsung dan mengucapkan selamat atas prestasinya pun pupus begitu saja.
Dari kaca depannya, Pak Rasyid terus memperhatikan gadis itu. Ia begitu mengenalinya, bahkan ia dan istrinya lah yang berjasa dalam merawat gadis itu dari bayi sampai sebesar ini.
Pak Rasyid bisa melihat kesedihan itu dari raut wajahnya, walaupun sejuta senyum telah ia uraikan untuk menutupi kesedihan yang ada di hatinya.
Icha tidak ada berbicara apapun pada Pak Rosyid tidak seperti berangkat tadi.
Tatapan wajahnya mengarah ke kaca jendela mobil, air matanya kembali meleleh, seakan tak ada cara lagi untuk bisa membendungnya.
Wajah pemuda itu masih merekat di pikirannya, wajah seorang gadis yang begitu menyayanginya juga masih merekat di pikirannya.
"Kalau lah memang seperti itu kenyataannya, Asma' akan terus berdoa agar hati Mas Zain tidak berpindah pada wanita lain. Karena Asma' yakin kalau jodoh Mas Zain adalah Mbak Icha, Asma' ingin Mbak Icha yang akan jadi kakak ipar Asma' nanti."
"Semoga Allah mengabulkannya."
"Amin."
Ungkapan Asma' yang satu ini juga masih sangat ia ingat sampai sekarang, ia berharap semoga Allah mengabulkannya. Semoga ada kesempatan untuk dirinya bisa bersama dengan orang yang ia cintai.
"Nggak mau mampir dulu neng?" tanya Pak Rasyid yang membuka pembicaraan, ketika mobil mereka melewati rumah makan favoritnya.
"Nggak usah Pak, lain kali saja."
"Neng Ica kan belum ada makan dari tadi siang."
"Nggak papa Pak, Icha juga masih kenyang kok."
Pak Rasyid hanya mengangguk dan kembali pada kemudi nya.
Tibanya Di Rumah...........
Icha keluar dari dalam mobil dan berjalan perlahan memasuki rumahnya.
Gadis itu berjalan tanpa memperhatikan di sekelilingnya, tanpa ia sadari rumahnya itu telah kedatangan tamu.
Sebuah mobil Rush berwarna putih telah terparkir duluan di parkiran mobilnya.
Ketika pintu rumah itu ia buka dengan perlahan, seorang pemuda kecil datang berlari dan menghampirinya.
"Ghifar."
Icha memandanginya dengan penuh senyuman, rasa sedih di hatinya seakan hilang begitu saja ketika melihat keponakannya itu datang menyambutnya.
Pemuda kecil itu menarik tangannya dan membawa dirinya pada kedua orang tuanya yang duduk bersama di ruang tamu.
"Bunda, ammah sudah pulang." beritahunya dengan suara kecilnya yang menggemaskan.
Sepasang orang tua muda yang duduk berdampingan dengan paras yang serasi itu mengarahkan tatapannya pada gadis yang dibawa oleh Putra kecil mereka.
"Zizi, Kafa." sapanya.
Zizi berdiri dari tempat duduknya dan menghamburkan pelukannya pada gadis itu.
"Udah lama banget ya nggak pernah main ke sini."
"Iya, maaf ya Cha, kerjaan Mas Kafa nggak bisa ditinggal. Aku juga sibuk ngurus Mama, karena kesehatan Mama kurang stabil."
"Terus sekarang gimana?"
"Alhamdulillah sudah baikan."
"Aku juga nggak ada waktu untuk silaturahim ke sana, terakhir aku lihat Ghifar masih belajar merangkak, eh sekarang udah bisa lari." ucap Icha sambil menatap Ghifar dengan senyuman.
Zizi membalasnya juga dengan senyuman merekah.
__ADS_1