Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
29. Aku Menyayangi nya Sebagai Saudara


__ADS_3

"Kenapa ca?"


Zain mulai membuka pembicaraannya seakan mengerti apa maksudnya.


Ica menundukkan wajahnya.


"Icha nggak pantas kak untuk menerima semua itu, Icha ini bukan siapa-siapa Kak, Icha sudah banyak merebut Kak Zain, Icha juga nggak mau kalau Kak Zain kehilangan beasiswa Kakak apalagi untuk yang kedua kalinya."


kata Icha sembari menahan air matanya.


Dina dan Fahma sebagai saksi mereka hanya terdiam sambil menemani keduanya.


Zain tampak termenung dan tidak tahu harus berkata apa lagi.


Icha mengelola nafasnya.


"Sekali lagi Icha minta maaf ya Kak, terima kasih banyak untuk semuanya. Ica tetap mau melihat Kak Zain yang berangkat nanti, itu akan jauh membuat Ica bahagia daripada harus Ica yang pergi." kata Ica meneruskan ucapannya.


"Assalamualaikum."


gadis itu berlalu pergi dan diikuti oleh Dina juga di belakangnya.


"Waalaikumsalam." suatu Fahma yang mendekat pada Zain dan mengusap bahunya.


Setelah Icha pergi Zain kembali lagi duduk bersama dengan Fahma.


"Zain."


Suara panggilan Fahma menyadarkan Zain dari lamunannya, Zain mengarahkan wajahnya pada Fahma.


"Sudahlah Zain, mungkin memang ini yang terbaik kamu harus tetap berangkat Zain."


kata Fahma yang menenangkan sahabatnya itu, Zain hanya bisa terdiam dan menghela nafasnya.


...****************...


"Kamu nggak papa kan Cha?"


tanya Dina saat mereka sudah kembali lagi ke asrama.


Icha hanya menggeleng.


"Aku tadi udah khawatir lho ca, kalau kamu tadi mau marah-marah sama kak Zain."


seru Dina yang menambahkan perkataannya.


"Nggak kok Din, untuk apa juga Icha marah-marah sama Kak Zain, kak Zain kan nggak salah apa-apa."


sahut Icha dengan seuntai senyumannya.


"Ya soalnya kan tadi kamu jalannya gesit banget tuh, seperti orang yang mau marah-marah gitu."


"Dina....Dina kamu tuh kebanyakan nonton sinetron sih." candanya.


Dina pun terpikir sendiri karena memang yang dikatakan oleh Icha itu benar adanya.


"Iya sih aku korban sinetron."


Icha juga ikut terkekeh dengan jawaban Dina tadi.


"Ca...."


"Kamu kamu beneran nggak papa kalau nggak jadi berangkat ke Cordoba?"


"it's okay Din i'm fine, ini semua sudah menjadi ketentuan Allah yang harus aku terima."

__ADS_1


"Justru aku malah tambah sedih kalau sampai Kak Zain nggak jadi berangkat. Untung saja kamu ngomong sebenarnya sama aku Din kalau ini semua karena pengorbanan Kak Zain, jadikan aku bisa langsung ngomong sama Kak Zain, kalau aku nggak pantas untuk menerima itu semua."


katanya dengan wajah yang penuh senyum.


"Iya ca."


"Tapi cak kenapa kamu yang sedih kalau Kak Zain nggak jadi berangkat."


gadis itu sejenak terdiam.


"Ya, karena itu sayang sama Kak Zain Din. Ica kan juga nggak mau kalau sampai Kak Zain kehilangan beasiswanya karena Icha. Apalagi untuk yang kedua kali. Kak Zain itu udah banyak banget membantu Icha."


jawaban dari Icha membuat Dina langsung membulatkan kedua matanya dengan kalimat pertama yang ia dengar dari sahabatnya itu.


"Apa tadi ca? kamu sayang sama Kak Zain?"


tanya Dina yang ingin meyakinkan pendengarannya.


Icha lalu mengangguk dengan tersenyum.


Tentu saja hal itu langsung membuat Dina juga tersenyum.


"Kamu jangan salah paham dulu Din. Icha itu sayang sama Kak Zain seperti saudara kandung sendiri, nggak lebih Din."


kata Icha yang langsung menepis pikiran Dina.


"Loh, kok saudara sih ca, harus lebih dong, kamu tuh sama kak Zain memang cocok."


"Astagfirullah haladzim Dina."


Dina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ada apa ca?apa aku salah ngomong ya....?"


Ica menghela nafasnya.


"Bukan gitu Din, untuk saat ini aku nggak mau ngomongin soal perasaan, aku mau fokus Din. Aku harus bisa menggapai impian ku lagi gimana pun caranya."


"Iya ca, aku ngerti kok perasaan kamu."


Dina merangkul bahu Ica.


"Tapi perasaan cinta itu datang tiba-tiba ca, karena hati itu Allah pemiliknya."


Gadis itu hanya meringkai senyumannya.


"Iya Din. aku berharap perasaan itu datang di waktu yang tepat bukan di waktu yang cepat."


kata Ica yang masih dalam rangkulan sahabatnya.


...****************...


Ketika malam hari Talah tiba, semua orang mulai beristirahat dan terlelap dalam tidur mereka.


Zain merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit atap yang di terangi oleh lampu. Pikiran Zain masih teriang dengan ucapan Ica tadi padanya. Zain berusaha menutup matanya untuk tertidur, tapi rasanya tidak begitu mudah untuk dilakukan nya.


"Zain."


suara panggilan itu berasal dari arah pintu.


matanya kembali lagi terbuka.


Seseorang dari arah pintu datang mendekatinya.


"Kenapa Zain?"

__ADS_1


Fahma yang juga tidak bisa tidur datang menghampiri Zain dan kini sudah ada di sampingnya.


"Aku nggak bisa tidur Fah."


Zain merubah posisi tidurnya menjadi duduk.


"Kamu itu harus cepat istirahat Zain, lusa kan sudah berangkat."


Zain hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu sendiri ngapain kesini?"


"Aku juga sama kayak kamu Zain, belum bisa tidur, makanya aku datang kesini".


Zain kembali mengangguk.


"Eh.... kamu udah kabarin Bapak sama ibu apa belum kalau lusa mau berangkat?"


"Belum."jawabnya singkat.


"Yaudah besok kamu langsung kabari mereka, pasti mereka akan senang jika mendengar kabarmu ini."


Zain menanggapinya dengan menggangguk dan tersenyum.


Zain masih terlihat melamun, Fahma begitu mengerti perasaan sahabatnya untuk saat ini. Mungkin rasa sedih masih ada di hati sahabatnya, pikiran Zain masih saja teringat oleh Icha, sebelumnya Zain sudah terlihat begitu senang saat ia melihat senyuman Icha, ketika dirinya dinyatakan akan berangkat ke Cordoba. Namun sekarang rasa senang itu hilang saat ia melihat Icha datang menghampiri dirinya dan mengatakan hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.


Tapi semuanya sudah terjadi, beasiswa itu kembali lagi jatuh padanya dan insya Allah lusa mereka akan berangkat ke negeri Eropa itu.


"Jangan lupa persiapkan dirimu untuk keluar negri nanti. Akan banyak perbedaan nantinya di sana. Apalagi pergantian musim yang tidak menentu."


"Iya Fahma, insyaallah."


"Jangan lupa juga, sepupumu sebentar lagi juga akan menikah."


kata Fahma yang kembali mengingatkan dirinya.


"Astagfirullah haladzim, iya Fahma aku hampir lupa."


"Hem.... tuh kan, karena kebanyakan pikiran tuh."


"Tapikan tanggal pernikahan mereka bertepatan pada keberangkatan kami yang akan ke luar negeri, Fahma."


kata Zain yang baru saja kepikiran ke sana.


"Gimana caranya aku bisa menghadiri walimahan mereka?"


kata Zain setelah itu dirinya langsung terdiam.


"Memangnya kamu mau ke sana? Hati kamu udah kuat untuk menghadiri pernikahan mereka?"


Zain lalu mengarahkan tatapan kedua matanya pada Fahma.


"Insyaallah, hatiku sudah cukup kuat, karena semuanya sudah aku serahkan sama Allah."


jawaban Zain lebih menyimpan ketenangan pada saat ini.


"Alhamdulillah Zain, akhirnya kamu bisa juga move on dari Zizi."


Fahma berkata sembari mengusap bahu sahabatnya itu.


Zain hanya membalasnya dengan senyuman.


"Tapi Fahma, kalau nanti aku tidak bisa datang ke sana. Tolong sampaikan maaf ku sama mereka ya, karena aku nggak busa memenuhi undangan mereka untuk datang di acara pernikahan mereka."


Zain menitipkan pesan pada sahabatnya, sebelum dirinya pergi.

__ADS_1


"Iya Zain, insya Allah, nanti bakal tak sampaikan permintaan maaf mu. Pasti mereka juga akan mengerti dengan kondisinya."


sahut Fahma dengan senyuman.


__ADS_2