
Setelah selesai sholat, Zain beranjak keluar dari kamarnya. Ia ingin duduk santai di ruang tamu sambil menonton siaran televisi.
Saat dirinya keluar dari kamar, ternyata sudah ada seseorang yang duduk di sana.
Rayhan juga sedang duduk santai di sana sambil menikmati makanan ringan dan menonton siaran televisi.
"Mau ke mana Zain?"
Pemuda itu menyapanya tanpa melihatnya sama sekali.
Zain pun menghentikan langkahnya sejenak.
"Kalau nggak mau kemana-mana, duduk sini Zain, ada siaran televisi yang bagus." ajaknya dengan tatapan wajahnya yang mengarah pada Zain.
Karena memang tujuannya ingin santai di ruang tamu, Zain pun duduk bersama dengan temannya.
Suasana terasa begitu dingin, beberapa hari ini Rayhan bersikap lebih dingin padanya, tidak seperti biasanya.
"Ada siaran apa Ray?" tanya Zain yang memecahkan keheningan.
"Kau lihat saja, pasti kau juga akan suka."
begitulah jawabannya dengan diiringi sekilas senyuman.
Suasana kembali hening.
"Bagaimana keputusannya Zain? Kau sudah salat istikharah?"
pertanyaan itu meluncur begitu saja pada dirinya sehingga membuat hatinya kembali berdesir.
"Sudah."
"Terus bagaimana?"
"Aku belum ada jawaban, sepertinya aku harus istikharah untuk yang kedua kali."
Raihan hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kau juga sudah memberitahu keluargamu?"
"Belum juga Ray. Setelah kelulusan nanti, insya Allah aku akan langsung pulang ke Indonesia."
Raihan kembali diam dan memalingkan wajahnya.
"Sekarang Aku mau minta pendapat dari mu Ray. Jika kamu ada di posisi aku sekarang, apa yang harus kau pilih?"
Raihan menghela nafasnya.
"Cinta itu memang tidak harus memiliki, tapi cinta butuh perjuangan dan pengorbanan. Kalau Aku ada di posisi kamu, Aku akan memperjuangkan cintaku dulu. Jika memang akhirnya cinta itu tidak bisa kita miliki, setidaknya kita pernah berjuang untuknya, kita pernah berusaha mendapatkannya, walaupun perjuangan itu hanya sepenggal doa."
ungkapan itu membuat pikiran Zain kembali lagi pada Icha. Apa yang telah dia lakukan untuk memperjuangkan perasaannya pada gadis itu?
Sama sekali belum ada, bahkan bertemu langsung dengan orang tuanya pun ia belum pernah. Bagaimana ia akan perjuangkan perasaannya, jika cinta itu terus ia simpan dalam diam.
"Itu hanya pendapat dariku saja. Selebihnya kembali lagi padamu Zain, kaum musyawarahkan dulu pada keluargamu dan berikan keputusan yang terbaik agar tidak timbul rasa penyesalan nantinya. Seperti yang pernah kau bilang padaku, hati itu yang punya Allah terserah Allah kepada siapa Dia akan menjatuhkan hati kita. Jodoh itu sudah tertulis, jauh sebelum kita terlahir di dunia ini, dan sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar juga berusaha semampu kita, selebihnya kembalikan lagi pada Allah."
Raihan melanjutkan kembali kalimatnya dengan penuh perasaan.
Zain hanya terdiam dan mencerna kalimat itu dengan baik. Ia merasa sangat lemah saat ini, karena banyak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan.
__ADS_1
"Apa kau tidak merasa cemburu atau marah dengan ini semua?"
Raihan mengerutkan dahinya.
"Untuk apa aku harus cemburu dan marah, jika itu akan merugikan diriku sendiri."
"Bukannya kau sangat mencintainya?"
Raihan terdiam dan memalingkan wajahnya.
"Dulu aku memang sangat mencintainya, tapi setelah aku pikir-pikir itu terlalu berlebihan. Karena terlalu memikirkan cinta kepada manusia, aku sendiri sampai melupakan cintaku pada pencipta Nya. Sekarang aku serahkan semuanya sama Allah, jika memang dia yang terbaik untukku, tidak akan ada halangan untukku bersatu dengannya. Jika tidak, berarti cinta itu memang tidak harus memiliki kan? Aku bahagia jika melihat orang yang aku sayangi juga bahagia."
kata Raihan dengan penuh senyuman.
Zain meringkai senyumannya.
"Kau hebat Ray, kau jadi seperti ini sekarang, aku bangga padamu." pujinya dengan tangan yang menepuk bahu Rayhan.
"Aku bisa seperti ini juga karenamu Zain, aku banyak termotivasi dengan kata-katamu yang selalu membuat semangatku kembali."
Zain merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan olehnya, ia merasa senang jika ada orang berusaha menjadi lebih baik juga karena dirinya. Tapi Zain terus beristighfar dalam hatinya supaya tidak menjadi takabur pada diri sendiri.
"Berarti aku berhasil jadi teman yang baik untukmu, ya kan?" candanya.
Raihan tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Zain.
"Iya... iya.. Aku senang bisa bertemu denganmu juga berteman dengan mu Zain."
Suasana yang tadinya begitu dingin, kini telah mencair dan merubah menjadi suasana yang mengundang canda tawa.
...****************...
Gadis itu sangat antusias untuk mendapatkan nilai terbaik di kelulusan nanti.
Sastra bahasa arabnya ingin ia kembangkan kembali sampai ke Al Azhar Kairo, melanjutkan masternya.
Syadzi ingin terus belajar sampai akhir yang ditentukan oleh Allah. Cita-citanya untuk menjadi seorang ahli sastra bahasa akan terus ia wujudkan dengan penuh semangat dan keyakinan dalam hatinya.
"Ya Allah, jika suatu masa aku kehilangan harapan dan tujuanku, kuatkanlah aku...... berikanlah keyakinan pada diriku..... bahwa takdir dariMu jauh lebih indah dari apa yang aku inginkan dan impikan selama ini."
Syadzi selalu menanamkan itu dalam dirinya, tidak ada yang lebih indah dari takdir baik yang telah Allah tentukan untuknya walaupun itu tidak sejalan dengan keinginan dan impiannya.
Dua hari yang lalu, Asma' bersama dengan Fitri temannya datang berkunjung ke kampus Icha. Mereka berdua ditugaskan untuk menyampaikan surat undangan yang disampaikan oleh kampus keduanya.
Setelah berkunjung ke kampusnya, Icha juga mengajak keduanya untuk datang ke rumahnya yang ada di Jakarta pusat.
Asma'begitu mengagumi rumah yang besar dan mewah itu dengan dua lantainya, karena untuk yang pertama kalinya ia datang ke Jakarta dan berkunjung ke rumah gadis yang ia idamkan menjadi kakak iparnya itu.
Mereka menginap satu malam di rumah itu karena sang tuan rumah melarang keduanya untuk pulang larut malam.
Saat menginap, Asma' meninggalkan laptopnya di sana. Semua itu tanpa disengaja, yang melupakannya begitu saja.
Ingatannya kembali saat ia telah mencari laptopnya itu seluruh ruangan kampus karena ada tugas mendadak yang harus ia selesaikan.
Setelah menyadari jika laptopnya itu tertinggal di rumah Icha, Asma' pun langsung menghubungi gadis itu dan meminta Ica untuk memaketkan nya lewat kantor pos.
Namun gadis itu menolaknya ia mengatakan jika dirinya sendiri nanti yang akan datang ke sana mengantarnya.
Apalagi Asma' juga memberitahu dirinya jika Zain lulus dengan nilainya yang memuaskan dan akan secepatnya pulang ke Indonesia.
__ADS_1
Icha berharap bisa bertemunya ketika datang ke sana, ia ingin melihat pemuda itu dan memberikan ucapan selamat padanya atas prestasi yang sudah ia dapatkan.
Bersama dengan Pak Rosyid selaku sopir pribadi papanya yang sudah bekerja puluhan tahun dengannya. Kini beliau kembali bekerja setelah libur panjangnya selama 3 tahun karena merawat istrinya yang sakit parah.
Icha pergi menuju rumah Asma'.
Dan benar nyatanya, jika Zain telah kembali ke Indonesia dua hari yang lalu.
Setelah mengetahui dirinya lulus dengan predikat terbaik Zain langsung berpamitan kepada para dosen dan teman-temannya yang masih berada di Cordoba.
Tak lupa, iya juga berpamitan dengan Maheira.
Wanita itu kini telah pulih keadaannya. Namun share dokter terus memperingati keluarganya agar menjaga kesehatan wanita itu dengan baik.
"Hati hatilah di perjalanan, aku menunggu keputusanmu dan keluargamu 1 bulan dalam satu bulan kau tidak memberikan kabar apapun, aku anggap kau telah menolaknya. Dan aku, mungkin aku memang ditakdirkan hidup sendiri sampai tiba waktunya aku kembali padaNya."
Kata kata itu masih merekat dalam ingatannya. Zain memang belum berkata apapun pada keluarganya mengenai masalah ini. Namun Asma' sebagai adik, ia begitu mengenal sifat abangnya.
Jika abangnya sudah diam seperti itu pasti sedang banyak beban pikiran yang ditanggungnya.
Ntah apa? Asma' juga tidak tahu, ia pun belum menanyakan hal itu padanya, karena keadaannya yang masih sibuk dengan tugas kuliah yang banyak.
Setelah selesai salat zuhur di masjid, Zain pulang ke rumah bersama dengan Pak Ilham.
Niat dari hatinya, setelah sampai di rumahnya nanti, Zain akan membicarakan hal tersebut kepada keluarga kecilnya. Ia berharap mereka bisa memberikan solusi terbaik dan keputusan yang tepat untuk dirinya nanti.
"Kamu ngapain duduk sendirian di sini?" tanya Zain saat dirinya baru saja sampai rumah.
"Lagi nungguin seseorang."
"Siapa?"
"Nggak usah ditanya, nanti Mas juga bakalan tahu siapa yang datang."
"O." jawab Zain sambil menganggukkan kepalanya.
"Eh masuk dulu yuk, As."
"Mau ngapain? Di dalam panas banget Mas, di sini tuh Asma' sekalian mau ngadem."
"Sebentar saja, ada yang mau Mas bicarain. Penting."
"Sama Asma' aja ngomongnya?"
"Sama semuanya."
"Ibu sama Bapak juga?
Zain menghela nafas kesalnya.
"Iya adikku...."
"O. Yaudah deh, sebentar lagi Asma' masuk."
Zain pun melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah.
Asma' mengurutkan dahinya, ada rasa heran juga penasaran dalam hatinya saat Zain berkata seperti itu pada nya.
"Mau ngomongin apa ya? Kayaknya penting banget untuk dibahas. Kira kira apa ya? atau jangan-jangan mas Zain....."
__ADS_1
gumamnya sendiri sebelum masuk ke dalam rumah.