
"Mohon maaf umah Abuya, Icha mau minta izin untuk keluar dari pesantren ini."
Icha berterus terang saat berhadapan langsung dengan sang pemimpin pesantren.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu nak?" tanya umah.
"Insyaallah Ica yakin. Icha ingin berhikmat pada kedua orang tua Icha ummah,kalau bukan Icha yang akan merawat mereka siapa lagi?" jawabnya.
Ummah dan Abuya menggangguk seakan mengerti dengan keadaan santriwati nya saat ini.
"Kamu itu adalah anak yang baik dan patuh. Abuya dan ummah sangat beruntung mempunyai seorang santri seperti kamu."
Abuya memuji perilaku baiknya.
Gadis itu hanya menundukkan wajahnya.
"Sebenarnya Ummah sama Abuya berat untuk melepas kamu nak. Tapi karena ini sudah menjadi keputusan dan kewajiban kamu untuk merawat mereka maka ummah sama Abuya akan melepas kamu sebagai santri kami di sini. Kalau suatu saat nanti kamu ingin kembali lagi ke pesantren ini, silahkan. Karena pesantren ini terbuka luas untuk menerima kamu kembali." tutur ummah dengan rasa harunya.
"Terimakasih banyak ummah atas semua kebaikan ummah dan Abuya, yang telah menerima dan juga mendidik Ica di pesantren ini. Jazakumullah Khairan kasiran." balas Ica dengan rasa harunya.
Ummah bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Ica.
"Ummah akan kembalikan lagi beasiswa kamu ca. Kalau memang nanti ada kesempatan, kamu bisa langsung berangkat ke sana tanpa harus melewati tes ujian lagi."
kata ummah setelah meleraikan pelukan nya.
"Sekali lagi terima kasih banyak ummah. Tapi maaf Ummah, Icha tidak bisa menerima beasiswa itu lagi. Karena Icha tidak akan pergi jauh meninggalkan kedua orang tua Ica. Ummah berikan saja beasiswa itu pada santri yang lain termasuk Bunga. Dia kan juga ingin pergi ke sana, apalagi dia itu adalah salah satu keponakan Ummah." jelasnya lagi.
Ummah hanya mengangguk dan mengerti maksud dari Icha.
"Icha permisi ya, Ummah."
"Icha juga permisi ya, Abuya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Icha melangkahkan kakinya keluar dari rumah Abuya. Saat dirinya keluar, sudah ada Dina dan Ana yang menunggunya.
"Icha..." panggil mereka.
Gadis itu melihat ke arah mereka.
Ketiganya saling berpelukan sebelum nantinya akan berpisah jauh.
__ADS_1
"Kamu jaga diri baik-baik di sana ya ca. Jangan pernah putus belajar selagi nyawa kita masih menyatu dengan jasad, teruslah menuntut ilmu dimanapun kita berada sampai nyawa berada di tenggorokan sekalipun."
Dina memberikan pesan nasihatnya pada sahabat nya itu.
"Insyaallah. Doain ya, agar Icha bisa jadi orang yang lebih baik lagi juga wanita yang hebat."
"Pasti ca, kita akan selalu mendoakan dan saling mendoakan." balas Ana.
"Icha pergi dulu ya."
"Assalamualaikum." ucapnya yang akan berlalu pergi.
"Waalaikumsalam."
Satu persatu dari mereka akan pergi dan kembali ke kehidupannya masing-masing.
"Gimana? udah puas toh kamu. Lihat itu Ica udah pergi." kata Naura pada Bunga yang saat itu dirinya sedang menyaksikan kepergian Ica dari pesantren.
Bunga hanya terdiam tanpa berkata apapun padanya.
"Kamu itu sudah terlalu banyak berbuat jahat sama Icha karena kamu dia jadi kehilangan beasiswanya. Di tambah lagi kamu yang sudah fitnah dia. Dan kamu tahu, ummah sudah mengembalikan lagi haid untuk mendapatkan beasiswa itu, tapi dia malah menolak dan memberikannya sama kamu. Seharusnya kamu tuh bersyukur dengan hidup kamu yang berkecukupan bukan malah menghancurkan impian orang lain." timpal Naura lagi dengan panjang lebar.
Bunga hanya menatapnya sekilas dan kembali lagi terdiam.
...****************...
Karena dokter sudah memperbolehkan Fajar untuk kembali ke rumah dan menjalani keseharian seperti biasa nya. Icha sebagai sang anak, ia pun menyiapkan segala perlengkapan ayahnya untuk dibawa pulang ke rumah yang ada di Jakarta pusat. Begitu juga dengan Rania sang ibu, sampai sekarang keadaannya belum juga membaik. Pihak rumah sakit telah membuat surat rujukan agar Rania segera dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar. Untuk mendapatkan perawatan yang lebih lengkap dan lebih intensif lagi.
Segala perlengkapan telah usai disiapkan, termasuk pula kursi roda. Karena kecelakaan itu, kaki Fajar harus mengalami kelumpuhan total dan ia pun harus menjalani hidupnya dengan menggunakan kursi roda sampai kapanpun.
"Papa sudah siapkan untuk pulang ke Jakarta?" tanya Icha.
Fajar menghela nafasnya.
"Insya Allah papa siap." jawab nya.
Icha lalu menunjukkan senyuman nya.
Gadis itu membantu Fajar duduk di kursi rodanya. Setelah itu mereka keluar dari ruangan.
Langkah keduanya tertuju pada IGD tempat Rania saat ini sedang di rawat.
"Ma, Icha sama papa mau pulang ke Jakarta, kita mau tinggal sama-sama lagi seperti dulu ma. Icha akan merawat dan menjaga papa sampai kapan pun. Mama cepat sembuh ya."
Icha menatap wajah Rania dengan penuh rasa haru. Ia lalu mencium wajah ibunya sebelum mereka akan pergi.
__ADS_1
"Icha sayang sama Mama."ungkapnya dengan rintihan air mata.
Fajar yang juga berada di situ tak bisa lagi menahan kesedihannya. Air matanya pun mengalir membasahi pipinya, ia begitu menyesali perbuatannya. Karena keegoisannya, Rania orang yang paling ia cintai kini terbaring tak berdaya dengan banyaknya alat medis yang membantunya untuk bisa bertahan hidup.
"Icha sama papa pergi dulu."
"Assalamualaikum.Ma."
Icha melangkahkan kakinya lagi bersamaan dengan mendorong kursi roda Fajar dan keluar dari rumah sakit itu.
Mereka berangkat dari solo ke Jakarta dengan menggunakan sebuah pesawat lokal yang akan check out pada siang hari ini juga.
Dua tiket pesawat telah dipesannya, jadwal keberangkatan tersisa waktu kurang lebih 2 jam lagi.
Perjalanan dari rumah sakit menuju bandara mereka sudah memasang sebuah taksi online keduanya akan sampai 1 jam sebelum keberangkatan.
"Icha.."
"Papa sama mama minta maaf ya, kami berdua tidak berhasil menjadi orang tua yang baik untuk kamu. Kami tidak melakukan tugas kami dengan sebaiknya sebagai orang tua yang bertanggung jawab. Papa sama mama sadar, selama ini kami terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis masing-masing. Sehingga kami lalai dengan putri kami sendiri dan membiarkannya berjuang sendirian bahkan kami juga lalai dengan sang pemberi segalanya."
Fajar mengerahkan wajahnya pada anak gadisnya yang saat itu mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
"Dan sekarang, papa sudah menerima semuanya. Bisnis papa yang ada di Jerman hancur berantakan. Semua aset-aset perusahaan papa di bawa pergi oleh klien yang tidak bertanggung jawab. Yang tersisa sekarang hanyalah perusahaan papa yang ada di Jakarta."
"Jadi semua bisnis yang papa bangun dengan penuh kerja keras hancur berantakan?" tanya Icha.
Fajar hanya mengangguk.
"Itu adalah teguran dari Allah karena papa selama ini terlalu egois dan hanya memikirkan kekayaan dunia. Tapi kehilangan aset semua aset-aset itu tidaklah penting untuk papa. Yang terpenting sekarang papa tidak kehilangan harta yang paling berharga dalam hidup papa. Yaitu kamu."
Icha tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Fajar pada dirinya itu.
Tangannya merangkul bahu Icha dan membiarkan anak gadisnya itu bersandar pada bahu nya.
Berarti satu-satunya perusahaan papa yang masih bertahan sampai sekarang hanyalah Annisa company, perusahaan pertama yang papa bangun sebelum Anisa finance dan masih bertahan sampai saat ini."
"Iya bagian perusahaan itu adalah atas nama kamu. Nantinya papa akan berikan sepenuhnya sama kamu, suatu saat nanti siapapun akan menjadi suami kamu dialah yang akan bertanggung jawab dengan perusahaan itu." kata Fajar seakan sudah menyerahkan semua kepemilikannya untuk Putri nya itu.
"Kenapa papa sudah mulai memikirkan calon suami untuk Icha?" tanya Icha dengan wajah polos nya.
"Kamu itu kan sudah dewasa, papa hanya mengingatkan saja. Lagian papa kan tidak memikirkan itu sekarang. Suatu saat nanti bisa jadikan dua atau tiga tahun lagi atau lebih, kita tunggu saja kapan Allah akan datangkan waktunya itu untuk kamu."
Gadis itu hanya tersenyum dan tidak berkata apapun pada ayahnya.
"Harta yang bernilai itu tidak akan bermanfaat apapun jika tidak kita gunakan dengan haknya semua harta.
__ADS_1
Dia hanya akan menjadi penyebab kelalaian kita karena tidak digunakan dengan sebaik-baik nya."