
Cordoba, Spanyol. Sebuah kota yang disebut sebagai mutiara dunia. kota yang menyimpan banyak sejarah Islam dan peninggalannya, Cordoba juga menjadi saksi sebagai perkembangan Islam di Eropa.
Kakinya telah sampai di tanah Cordoba, tempat yang begitu ia impikan sejak dulu dan akhirnya sekarang kakinya telah berpijak di sana.
Zainal itulah sapaan para mahasiswa yang berada satu kelas dengannya, tak membutuhkan waktu lama untuk Zain bisa akrab dan berbaur dengan mahasiswa selain mahasiswa Indonesia, karena kepribadiannya yang baik dan ramah serta pikiran yang cerdas, banyak dari mereka yang juga bertukar pikir dengannya.
Salah satunya adalah Maheira, seorang gadis cantik keturunan Spanyol dan juga mahasiswi muslimah yang satu jurusan dengannya.
Gadis itu tampak begitu nyaman saat berteman dengan dirinya, bahkan ketika pertama kali mereka berkenalan. Kehadiran Zain sebagai mahasiswa baru sangat membuatnya merasa terhibur.
"Zainal."
Seorang wanita berhijab memanggilnya dari belakang, mendengar namanya di panggil, Zain pun menghentikan langkahnya.
"Where do you go, Zainal?"
tanya wanita itu dengan bahasa Inggrisnya.
"I want to library, and you?"
"Oh yes, i am also."
Ternyata mereka memiliki tujuan yang sama.
Mereka pun berjalan bersama beriringan menuju perpustakaan yang ada di kampus itu.
Selain cantik, Maheira juga gadis yang cerdas, ia banyak memahami beberapa bahasa yang ada di dunia, salah satunya adalah bahasa indonesia. Itu makanya Maheira lebih banyak bergaul dengan mahasiswa yang berasal dari Indonesia, karena menurutnya Indonesia mempunyai banyak keunikan tersendiri dan membuatnya semakin ingin tau tentang negara itu.
Mereka telah tiba di perpustakaan, karena ini adalah salah satu universitas yang mayoritasnya mahasiswa muslim maka di dalam perpustakaan itu sendiri juga diberi batas kepada muslim dan muslimah yang hendak duduk dan membaca di dalam.
"Zain."
seorang mahasiswa Indonesia datang menghampirinya.
"Rayhan."
"Kamu ada di sini juga."
Rayhan menganggukkan kepalanya.
"Kamu tadi jalan sama siapa?" bisiknya saat mereka sama-sama akan duduk bersebelahan.
"Oh, itu teman satu kelasku, Maheira namanya."
jawab Zain dengan suara yang merendah.
Tatapan matanya mengarah pada gadis yang ia maksud tadi, Rayhan seperti merasakan sesuatu saat pertama kali melihat gadis itu.
"Jangan di lihatin terus, dosa."
"Cantik banget Zain, kamu nggak naksir sama dia?"
Zain hanya menggelengkan kepalanya, sembarang buka buku yang telah diambilnya dari rak buku tadi.
"Zain."
Rayhan kembali memanggilnya.
Zain hanya menoleh dengan memberi isyarat untuk diam pada temannya yang satu ini.
Di dalam perpustakaan itu, sudah ada larangan untuk tidak berbicara ketika sedang membaca di dalam, tapi Rayhan masih saja mengganggu konsentrasinya karena dirinya yang penasaran dengan Maheira dan minta untuk dikenalkan olehnya.
Satu jam telah berlalu, Zain pun keluar dari perpustakaan itu dan membawa satu buku yang dipinjamnya untuk materi perkuliahan besok.
__ADS_1
"Zain." Rayhan lagu lagi memanggilnya
Zain hanya menghela nafasnya.
"Ada apa lagi sih Ray?"tanya Zain yang mulai sedikit kesal.
"Kamu mau minta aku untuk kenalin kamu sama Maheira?"
kata Zain sembari menghentikan langkah kakinya.
"Bukan itu Zain, aduh kamu kok langsung salah paham sih sama aku."
"Jadi apa lagi?"
"Buku kecil kamu tadi jatuh dari saku."
beritahunya sembari memberikan buku itu pada pemiliknya.
Zain pun langsung mengambil buku itu.
"oh, iya. Makasih ya Ray, Untung aja kamu yang nemuin bukan orang lain." ucapnya sembari tersenyum.
"Tuh kan, makanya, jangan salah paham dulu."
"Iya iya, aku minta maaf."
ucapnya lagi dengan senyuman.
"Hai, Zainal."
Maheira kembali menghampiri dirinya yang sedang bersama dengan Rayhan saat itu.
Zain membalasnya dengan senyuman ramahnya begitu pula dengan Rayhan, pandangannya saat itu tak bisa lepas dari wajah Maheira yang terlihat begitu cantik.
tanya Maheira dengan bahasa Indonesianya.
"Iya, aku sudah selesai."
"Oh ya, May kenalkan, ini Rayhan teman aku dari Indonesia."
Zain memperkenalkan Rayhan pada May sesuai dengan keinginannya tadi.
"Maheira."
kata gadis itu dengan penuh senyuman.
"Rayhan." balasnya.
"Okey aku jalan duluan ya Zain, Rayhan."
"Assalamualaikum."
ucapnya yang sembari berlalu pergi.
"Waalaikumsalam."
"Gimana perasaan kamu, udah tenang kan bisa kenalan sama dia."
kata Zain dengan sindiran nya.
"Masya Allah cantiknya. udah Zain, aku udah tenang, akhirnya aku sudah tidak penasaran lagi, lihat wajahnya aja buat aku tenang apalagi dengar suaranya yang lembut tadi makin adem Zain."
Zain hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh sendiri dengan tingkah laku temannya yang mulai lebay.
__ADS_1
...****************...
Setelah jam kuliah selesai pada hari ini, Zain kembali ke apartemennya bersama dengan Rayhan, teman satu apartemen dengannya. Meskipun tidak berasal dari tempat yang sama, Zain dan Rayhan tampak begitu akrab seperti teman lama, Rayhan adalah mahasiswa asal Indonesia yang awalnya berasal dari universitas Islam negeri Jakarta. Sampai di Cordoba dirinya dipertemukan oleh Zain yang berasal dari pesantren yang berada di Solo dengan rombongannya yang lain. Mereka memang sama-sama berada di Cordoba namun dengan letak kampus dan penginapannya yang berbeda.Sesampainya di apartemen, Zain merebahkan tubuhnya yang begitu lelah di atas tempat tidur masih dalam pakaian kuliahnya tadi.
Zain mencoba untuk memejamkan matanya, menenangkan sedikit pikirannya yang setelah seharian ia gunakan untuk belajar di kampus tadi.
"Assalamualaikum."
seseorang datang dan membuka pintu kamarnya.
Zain tidak menjawab salam itu, karena dirinya yang telah terlelap dari tidurnya.
Rayhan baru pulang, iya membawa beberapa makanan siap saji yang telah di terbungkus oleh tas yang ada di kedua tangannya.
"Kalau kamu tidur, siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini, Zain?"
kata Rayhan sembari meletakkan makanan itu di atas meja.
Rayhan duduk di atas tempat tidurnya yang bersebelahan dengan Zain.
"kamu dari mana Ray?"
Suara itu berasal dari orang yang berada di sebelahnya dan kedua matanya yang masih tertajam.
"Eh, ternyata kamu belum tidur Zain?"
ucapnya dengan memandang wajah temannya itu.
"Yah belum lah, aku dari tadi nungguin kamu, lama banget baliknya dari mana sih kamu?"
Zain lalu bangkit dari tidur nya.
"Terus kenapa tadi salam ku nggak di jawab?"
"Udah aku jawab dalam hati."
Rayhan terlihat senyum senyum sendiri.
Zain memandangnya dengan tatapan heran, namun ia seakan tahu maksud dari senyuman temannya itu.
"Aku tadi abis jalan sama Maheira."jawabnya dengan tersenyum.
"Kok bisa?"
Yah busa lah tadi itu kami nggak sengaja ketemu di jalan, karena tujuan kami sama jadi ya kami jalan bareng."
"Berdua?"
"Ya nggak lah Zain, dijalan itu kan ramai orang."
"Maksud aku tuh, kalian jalan berdua dekat-dekatan gitu?"
ucap Zain yang menjelaskan pertanyaannya.
"Ya berjarak lah Zain, kan kita punya aturan, nggak sembarangan jalan berdua."
Zain hanya mengangguk dan tersenyum sambil menahan suara tawanya keluar.
"Tadi dia nyariin kamu."
"Terus kamu jawab apa?"
"Ya aku jawab aja kalau kamu lagi istirahat."
__ADS_1
Zain Menggala nafasnya lega.