
Sore itu, Bunga dan Naura baru saja pulang dari pasar. Setelah seharian mereka belanja keperluan, hingga hari menjelang senja mereka baru pulang dari pasar.
Ketika sudah sampai di depan gerbang pesantren, keduanya saling bertatap wajah karena merasa terheran dengan adanya seorang lelaki yang duduk sendirian di dekat gerbang pesantren.
bunga merasa takut dan penasaran jangan lelaki itu, ia ingin bertanya namun dirinya masih takut, takut kalau lelaki itu adalah orang jahat. Karena itu bunga pun mengurungkan niatnya dan terus berjalan memasuki gerbang pesantren.
"Hei...." suara lelaki itu memanggil mereka dari belakang sebelum mereka masuk kedalam.
"Aduh, gimana nih Nau, aku takut".
Bunga mengeluh ketakutan.
"Sama, aku juga Bunga". Naura pun merasakan hal yang sama.
"Hei, kalau orang manggil itu di jawab, jangan di hiraukan gitu aja".
Bunga lalu mengatur nafasnya, menghilangkan rasa takutnya dan berbalik arah menghadap ke lelaki itu.
"Kalau mau manggil itu pakai nama, atau pakai salam, jangan asal aja, ini pesantren bukan tempat umum". sahut Bunga.
Arly tertawa dengan begitu terkekehnya melihat bunga.
"Iya... iya ... maaf".
Naura dan Bunga saling memandang satu sama lain.
"Sepertinya dia bukan orang jahat deh". bisik Bunga pada Naura.
Naura hanya mengganggu dengan senyuman sebagai jawaban.
"Memangnya kamu siapa? kenapa bisa ada di depan pesantren ini, ada keperluan apa?"
"Saya ke sini karena mencari seseorang".
"Seseorang? siapa?"
"Ini orangnya, apakah kalian mengenalnya?"
pemuda itu menunjukkan foto seorang gadis pada mereka berdua.
"Ica..." Bunga bergumam dalam hatinya.
mereka saling diam dan tidak ada yang membuka suara.
"Eh... gimana? kalian mengenalnya? namanya Icha".
keduanya masih diam dan saling menatap wajah satu sama lain.
"Memangnya kamu siapa dan ada urusan apa dengan dia".
tanya Naura yang langsung angkat bicara.
"Berarti benarkan kalau dia ada di sini".
pemuda itu memastikan perkataannya.
Naura hanya terdiam dan tidak menjawab apapun.
"Iya, dia ada di sini, kamu siapanya?" Bunga mengangkat suaranya.
"Saya adalah mantan pacarnya, dan saya ingin bertemu dengan Icha karena masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan dia". jawab pemuda itu dengan tegas.
"Maaf! siapapun tidak boleh sembarangan bertemu dengan santri sini, apalagi yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan santri di sini". tegas Naura.
"Silahkan anda pergi dari sini".
__ADS_1
Arly hanya terdiam menanggapi ucapan Naura yang dengan tegas memintanya untuk pergi dari pesantren.
"Tapikan saya ada urusan penting dengan dia, apakah tidak bisa bertemu sebentar saja?"
Naura mahalan nafasnya.
"Sekali lagi saya tegaskan sama Anda untuk pergi dari sini. selesaikan urusan anda ketika liburan nanti bukan sekarang." kata Naura lagi dengan tegasnya.
" Assalamualaikum".
Naura pergi begitu saja sambil menarik tangan bunga meninggalkan pemuda itu di tempatnya.
Arli tampak begitu kesal dengan perkataan Naura tadi padanya. rasanya ia ingin sekali marah karena kemauannya untuk bertemu dan Icha ditolak begitu saja. Arli semakin menguatkan tekadnya untuk bisa bertemu dan Icha ia akan melakukan apapun agar bisa mewujudkan keinginannya. Arli pun pergi dari pesantren dengan mengendarai motornya pulang dengan membawa rasa kesal dan berniat kembali lagi untuk bisa bertemu dengan Icha.
...****************...
Hari berganti dengan begitu cepat, waktu berputar terasa sangat singkat. dan kini sudah terhitung 3 hari Zizi pergi dari pesantren, hari-hari terasa begitu sunyi dilewati Icha, dan sahabatnya yang lain, biasanya selalu ada Zizi sahabat yang paling sering berada di mereka.
Tinggallah mereka berempat yang masih berada di dalam kamar itu, suasananya terasa sangat berbeda. Namun mereka semua tidak membiarkan diri mereka terus berlarut dalam kesedihan tanpa adanya Zizi, selalu ada cara untuk menghibur diri agar rasa rindu itu tidak terlalu berat.
"Sepi banget nggak ada kak Zizi, biasanya selalu ada yang menghibur Ika, kalau Ika lagi sedih begini".
Keluh Ika dengan wajah melasnya.
"Hah... rasa rindu itu berat banget".
"Apa ka, kamu ngomong apa tadi?" tanya Anna dari kejauhan.
"Rasa rindu itu berat banget".
"Kata siapa?"
"Kata Ika barusan tadi".
"Masa sih...?"
"Pernah sih tapi biasa aja gitu".
"Kalau menurut aku yang paling berat itu bukan rindu".
"Terus apa?"
"Yang paling berat itu adalah amanah".
Ika menghela nafas kesalnya.
"Iya,. iya , itu Ika juga tau".
"Terus ada satu lagi yang paling berat".
Dina menambahkan percakapan mereka.
"Apa???" tanya mereka bersamaan.
"Menjaga hati kamu disaat kamu suka sama dia".
Dina menggoda Ika dengan sindirannya.
"Cieeeee".
semua memberi sorakannya pada Ika.
Dina seakan memutar kembali memori Ika yang telah lalu, sampai membuatnya tersipu malu.
"Kak Dina apaan sih, kan Ika malu jadinya".
__ADS_1
Mereka semua menjadi tertawa dengan tingkah Ika saat itu.
"Jangan jangan kamu lagi rindu lagi sama dia... ya kan ka???"
Anna kembali menggodanya.
"Ngaku aja deh ka, nggak usah di tutupi lagi".
"Rindu sama siapa sih ka, siapa yang lagi di tempat rindukan oleh Ika?" Ica juga ikut nimbrung bersama mereka.
"Ituloh yang lagi belajar di Eropa".
"Sih Abudzar, ya kan ka...". kata Dina yang menambahkan.
Ika benar benar kalah malu saat itu.ia tidak bisa lagi berkata apapun untuk membela dirinya sendiri.
"Abudzar?" Ica mengulangi perkataannya.
Dina dan Anna menganggukkan kepala mereka.
"Udah udah jangan di bahas lagi ah, itukan udah berlalu, udah jadi masa lalu".
kata Ika.
"Kalau jodoh ma, nggak kemana ka, mau dia ujung dunia sekali pun tapi kali tulang rusuknya ada disini, pasti dia akan datang lagi".
goda Dina lagi. Semua ikut membela Dina.
Ika lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi, karena sudah terlanjur malu.
"Mau kemana ka????"
"Mau keluar, biar ganti suasana".
"Ika... Ika ..".
Dina tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Ika keluar dari kamar dan mencari suasana baru agar bisa terlepas dari candaan mereka yang terus menyudutkan dirinya. Sedangkan mereka yang masih di dalam masih melanjutkan perbincangannya membahas hal yang lain.
Saat berada di luar, Ika memperhatikan suasana asrama putri yang terlihat begitu sepi di siang hari seperti ini.
"Kok tumben ya sepi, kemanan semua orang?" Ika bertanya pada dirinya sendiri.
Karena merasa penasaran, Ika pun meneruskan langkahnya menyusuri seluruh lingkungan asrama.
Di ujung taman asrama, Ika melihat kerumunan para santri putri di sana.ada ummah dan juga ustadzah Rahma. Ika pun mempercepat langkahnya menuju lokasi itu.
Sampai Disan Ika langsung mendatangi ustadzah Rahma lalu bertanya padanya.
"Ada apa ini ustadzah? kenapa ramai sekali?" Ika bertanya dengan penuh rasa penasarannya.
"Naura pingsan karena mendapat lemparan batu dari seseorang yang berada di luar".
"Innalillahi, Naura pingsan???"
Ustadzah Rahma menganggukkan kepalanya.
"Terus Naura sekarang ada di mana ustadzah?" tanya Ika yang terlihat panik.
"Naura ada di ruang kesehatan, dan kalau keadaannya parah, ia akan segera di bawa ke rumah sakit".
"Ya Allah, siapa yang sudah tega melakukan ini semua?" kat Ika yang terlihat iba.
"Ustadzah juga tidak tau, mereka semua sedang mencari jejak orang yang telah melakukan itu, dan sebagian lagi ada yang menemani Naura di ruang kesehatan".
__ADS_1
Ika hanya diam dan menganggukkan kepalanya.