Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
32. Dia akan Pergi


__ADS_3

Semuanya sudah stand by di bandara. Setelah Zain menyelesaikan semua urusannya kini saatnya ia bersiap-siap untuk segera terbang ke negeri impiannya. Abuya dan ummah akan merampas beberapa santrinya yang ikut perangkat bersama dengan Zain. Tepat pada pukul 17.00 WIB sore, pesawat tujuan Indonesia Andalusia akan segera lepas landas.


"Ica, kamu nggak mau lihat Kak Zain berangkat bersama rombongannya?"


Dina data menghampiri Icha yang sedang sibuk dengan tanaman bunga di depan kamar mereka.


"Nggak ah, aku di sini aja."


"Kamu yakin jah, satu jam lagi pesawatnya akan check out loh."


Icha lalu mengharapkan wajahnya ke arah Dina dan menghentikan aktivitasnya.


"Kamu serius????"


Dina mengangguk dengan senyuman khasnya.


"Yakin, masih nggak mau pergi?"


Icha masih terdiam di tempatnya.


"Ntar kalau aku lihat Kak Zain pergi, aku makin sedih Dina, jadi lebih baik aku nggak usah ke sana."


Dina menghalau nafasnya.


"Tapi Kak Zain udah nungguin kamu di sana Cha."


Dina tetap terus membujuk Ijah agar gadis itu mau pergi bersamanya ke bandara.


Icha menghiraukannya begitu saja.


"Jangan sampai kamu nyesel nanti aja aku mah karena Kak Zain pergi dalam waktu yang lama bukan hanya 3 tahun ca, tapi lebih dari itu."


"Tapi kalau kamu tetap nggak mau juga, ya udah deh Aku juga nggak bisa maksa kan."


Icha masih diam di sana.


"Aku pergi aja aku mah kamu jagain kamar karena mereka semua sudah ada di sana."


Dina mencoba untuk mengelabuhi sahabatnya dengan berkata kalau dirinya akan segera pergi, tapi nyatanya Dina masih saja berada di sana. karena Dina yakin kalau sahabatnya itu pasti akan ikut dengannya.


"Dina... tungguin."


Icha akhirnya berbalik badan menghadap pada Dina yang masih saja berada di tempatnya.


"Loh, kamu kok masih ada di sini? bukannya tadi udah mau pergi?"


"Ya action aja, aku tetap nungguin kamu di sini, karena aku yakin kalau kamu pasti bakalan pergi."


"Ya, walaupun awalnya ngomong nggak mau."


Icha mendengus kesal, melihat kelakuan sahabat yang satu ini.


"Yaudah ayo buruan kalau mau ikut."


"Iya, iya."


Setibanya di bandara......


Dina mempercepat langkah yang bersama dengan Ica saat sudah ada di bandara.

__ADS_1


"Kenapa sih harus buru-buru banget Din."


"Kalau tidak seperti ini, percuma aja kita datang ke bandara jika nanti akhirnya kita ketinggalan pesawat Kak Zain, waktunya tinggal satu jam lagi."


jawab Dina yang masih terus berjalan.


Icha menghela nafasnya dan berhenti sejenak, setelah itu dia meneruskan kembali langkahnya sampai mengimbangi sahabatnya sudah lebih duluan.


"Ica..."


sapa seseorang dari arah kanannya.


Icha pun menoleh ke sumber suara.


"Ibu."


Ia mengenali suara itu dan langsung datang menghampirinya. Gadis itu menyalami tangan orang yang menyapa nya, lalu memeluknya dengan penuh kerinduan.


Sudah lama sekali mereka tidak bertemu bahkan pada acara tadi Icha juga tidak melihat ibu kalau ada di tempat itu.


"Ibu apa kabar?"tanya Icha pada wanita paruh baya itu.


"Alhamdulillah ibu sehat nduk, kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah Icha juga sehat bu."


jawabnya jangan pernah senyuman sembari melerai pelukannya.


"Bapak gimana kabarnya?"


Icha juga menanyakan kabar Pak Ilham.


"Alhamdulillah berarti Bapak sudah tidak sakit-sakitan lagi kan?"


"Iya ini semuanya karena doa kamu juga."


Pak Ilham yang juga ada di situ berbincang dengan ibu dengan menggunakan bahasa Jawanya yang Ijah sendiri tidak paham dengan artinya.


"Ibu sama bapak datang ke sini mau lihat Kak Zain berangkat ya?"


"Iya, ibu sama Bapak begitu antusias untuk datang ke sini melihat keberangkatan Zain, ya sekalian tadi kan menghadiri acara walimahan sepupunya."


"Oh jadi tadi Bapak sama ibu ada di sana? kok Ica nggak lihat ya, maaf ya bu, kalau tadi Icha tahu kan Icha langsung samperin ibu sama bapak."


"Nggak papa nduk, sekarangkan kita sudah ketemu."


"Ibu sama bapak pasti bangga sekali bisa melihat Kak Zain berangkat ke Cordoba dengan prestasinya sendiri."


kata Ica disela perbincangan mereka.


"Kalau itu ibu sama Bapak tidak bisa berkata apa-apa lagi nduk, ya kan pak."


Pak Ilham ikut mengangguk.


"Itu juga kan karena besarnya pengorbanan dia untuk bapak sama ibu. Beasiswa pertamanya kan sudah ia tukar dengan uang, untuk pengobatan Bapak, tabungannya juga terpakai habis untuk biaya bapak yang kurang. Alhamdulillah sekarang sudah Allah ganti lagi di tahun ini, Allah izinkan dia untuk bisa berangkat ke sana, pengorbanan dengan keikhlasannya itu tidak berujung sia-sia."


ibu berkata dengan penuh haru jika mengingat kejadian 1 tahun yang lalu.


"Semua orang tua merasa begitu bangga dan bahagia saat anaknya mendapatkan prestasi yang gembira sampai mereka pun tidak bisa berkata apapun lagi. Tapi kenapa tidak dengan orang tua Icha, mereka malah meminta Ica untuk membatalkan beasiswa itu dan meminta Ica untuk ikut dengan bisnis mereka, Apa karena itu juga, karena kedua orang tua Icha yang tidak mengizinkan Icha pergi, makanya beasiswa Ica batal dengan sendirinya."

__ADS_1


Icha berkata dalam hatinya.


...****************...


"Asma', Mas minta tolong ya sama kamu, untuk memberikan kado ini sama Icha karena sepertinya dia tidak akan datang ke sini."


kata Zain yang menitipkan pada adiknya.


"Kok Asma' sih mas, Mas aja sendiri langsung kasih sama Mbak Icha."


"Tapi kan Icha nggak ada, Asma' mas kan minta tolong sama kamu, kamu nggak mau ya."


"Bukan gitu Mas, tapi kan apa lebih baiknya mas sendiri yang langsung kasih sama Mbak Icha, kalau Mbak Icha nya ada di sini Mas langsung kasih ya."


Asma' sadar, ia berkata seperti itu karena dirinya yang telah menyadari keberadaan Icha bersama dengan orang tuanya di sana.


"Iya Asma', Mas langsung nanti yang ngasih."


Asma' memberikan senyumannya.


"Mbak Ica."


Asma' mengeraskan suaranya untuk memanggil Icha dan langsung terdengar olehnya.


Merasa ada yang memanggil namanya, Ica pun menoleh dan mencari arah sumber suara.


Dari ujung sana, Asma' terlihat melambaikan tangannya memberitahukan keberadaannya.


"Asma'."


ucapnya saat menyadari keberadaan asma di sana bersama dengan saudaranya.


"Asma', manggil Bu Pak, sepertinya ada yang ingin disampaikan, mari kita ke sana."


Icha juga mengajak kedua orang tua Zain.


Mereka menyahutinya dengan senyuman lalu mengikuti langkah Icha untuk menemui Asma'.


Di sana juga ada ketiga sahabatnya. Namun mereka juga masih asyik berbincang dengan salah satu anggota rombongan yang akan berangkat beberapa jam lagi.


Zain tampak gugup saat melihat Icha datang bersamaan dan kedua orang tuanya, sepertinya ia akan mengurungkan niatnya untuk memberikan hadiah pada Icha. Dengan diam-diam ia pun memasukkan kotak itu ke dalam tas Asma' yang ada di punggungnya.


Zain diam ia tidak tau harus bicara apa pada mereka sekarang.


Setelah menyalami tangan kedua orang tuanya, ia pun akan beranjak untuk pergi menemui temannya yang lain.


"Em...pak, Bu, Zain duluan ya ada yang Zain ingin bicarakan sama mereka."


kata Zain yang akan beranjak pergi.


Tapi sebelum ia pergi, tangan Asma' sudah duluan mencegahnya dengan menarik tangan Zain.


"Mau kemana mas, tanggung jawab dulu sama omongan mas tadi, jangan asal kabur."


Asma' yang tak pernah berubah, terus saja menggoda abangnya di hadapan gadis yang di sukai oleh keluarganya itu.


"Hadiahnya udah mas masukin ke dalam tas kamu, jadi nanti kamu aja yang langsung kasih ya." bisik nya.


Setelah itu Zain pergi meninggalkan mereka semua, untuk menemui temannya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2