Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
38. Menemani


__ADS_3

Adzan subuh telah berkumandang. Suaranya yang terdengar begitu jelas membangunkan gadis itu dari tidurnya.


Usai melaksanakan salat tahajudnya, gadis itu ketiduran di atas sajadahnya. Ia terbangun karena mendengar adzan subuh yang telah berkumandang. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri sahabatnya yang masih tertidur.


"Kasihan Zizi, pasti dia sangat kelelahan seharian ini." ucap Icha dalam hatinya.


"Zizi."


Icha membangunkannya dengan perlahan.


Matanya yang terpejam itu langsung terbuka saat mendengar suara Ica memanggil namanya.


"Sudah adzan subuh, kamu salat kan?"


kata Icha saat wajah Zizi sudah mengarah pada nya. Wanita itu hanya menggangguk, ia pun mulai mengumpulkan kembali kesabarannya.


Icha pergi duluan menuju kamar mandi untuk berwudhu kembali karena wudhunya tadi sudah batal saat dirinya tertidur.


Saat waktu subuh telah usai dan hari pun menjelang pagi, gadis itu kembali duduk di samping kedua orang tuanya. Ia menatap keduanya yang sama-sama masih belum sadarkan diri.


"Ca..". panggil Zizi dari arah belakangnya.


Ica pun menoleh pada arah sumber suara.


"Aku sama Mas Kafa mau pulang sebentar."


kata Zizi yang saat itu juga bersama dengan suaminya.


"Iya Zi, makasih banyak ya, kalian sudah mau meluangkan waktu untuk Ica di sini. Sampai harus mengorbankan waktu istirahat kalian." ucap Icha dengan rasa sungkannya.


"Sama sama ca, kita kan sahabat jadi kapan aku akan selalu ada untuk membantu kamu."


Icha memberikan senyuman di wajahnya.


"Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan kebaikan yang terus mengaliri kehidupan kalian berdua." doa Ica pada keduanya.


"Amin." ucap Zizi yang mengaminkan.


"Aku duluan nunggu di mobil ya, kalian ngobrol aja dulu."


"Assalamualaikum."


Kafa keluar duluan dan membiarkan Zizi untuk ngobrol sebentar dengan sahabatnya.


"Waalaikumsalam". jawab keduanya.


Zizi duduk di samping Icha.

__ADS_1


"Gimana dengan kabarnya mas Kafa Zi, dia sudah kembali seperti dulu saat bersama kamu kan?"


gizi dalam perlahan menggelengkan kepalanya yang diikuti juga dengan senyuman.


"Tapi Alhamdulillah, sekarang sikapnya sudah tidak terlalu dingin lagi sama aku. Mungkin semua itu butuh waktu ca, dengan perlahan sikap ini akan kembali seperti biasa lagi." jawabnya.


"Iya zi, kamu banyak doa aja semoga Allah selalu menjaga hatinya untuk kamu. Karena Kafa yang Icha kenal dia adalah orang yang baik dan sangat konsisten dalam kehidupannya, insyaallah dengan perlahan hatinya akan kembali lagi sama kamu." kata Icha sembari menggenggam kedua tangan sahabatnya. Zizi pun membalasnya dengan senyuman dan pelukan.


"Makasih banyak ya ca, kamu udah selalu semangatin aku untuk menjalani rumah tangga ini."


Zizi berucap dalam pelukannya.


"Sama sama Zizi." jawab Icha sembari melepaskan pelukannya.


"Oh ya, gimana dengan." pertanyaan Icha itu mengarah pada perut Zizi.


Ia pun tersenyum dengan menatap wajahnya.


"Belum ca." jawabnya.


"Belum ada aja ke dokter, atau belum ada isi?"


tanya gadis itu lagi.


"Belum yang pertama." jawabnya.


"Yaudah buruan dicek zi, jangan nanti-nanti."


"Jangan lupa kabarin Ica ya, kalau nanti mama sudah ada calon keponakan Ica di sini."


"Iya Icha, insya Allah aku pasti akan kabari kamu. tunggu aja nanti ya." gizi dengan senyumannya.


Icha mengangguk sembari tertawa kecil dengannya.


"Yaudah buruan gih sana keluar, kasihan tuh suami kamu udah nungguin lama."


"Iya..iya."


"Aku pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawabnya.


"Jangan ntar kalau ada apa-apa kabarin aku ya ca, atau mas Kafa juga bisa."


pesan gizi sebelum dirinya pergi keluar.


"Iya insya Allah."

__ADS_1


Icha menghela nafasnya lega.


Ia merasa bahagia jika sahabatnya juga bisa bahagia dengan orang yang ia sayangi.


Setelah sahabatnya itu pulang ke rumah dengan suaminya, Icha kembali menghadapkan wajahnya pada wajah mereka. Tangannya mengusap lembut tangan sang ayah, orang yang pertama sangat ia harapkan kesembuhannya. Karena melihat kondisi ibunya yang telah dinyatakan koma, ia tak bisa berharap lebih, ia hanya pasrah dan selalu berdoa agar ada keajaiban dari Allah untuk bisa membangunkan ibunya dari komanya.


Dengan perlahan tangan yang diusapnya itu mulai bergerak.


"Papa..." ucapnya dengan wajah yang mengarah pada wajah papanya.


Icha segera bangkit dan keluar untuk memanggil dokter. Seorang dokter wanita datang memasuki ruangan lalu memeriksa detak jantung ayahnya.


"Alhamdulillah, keadaannya sudah mulai membaik, detak jantungnya juga sudah mulai normal insya Allah sebentar lagi beliau akan segera sadar." beritahu dokter itu pada Icha.


"Alhamdulillah." ucap syukur Icha kepada Allah subhanahu Wa ta'ala.


"Terima kasih banyak dokter."


"Sama sama mbak."


"Saya tinggal dulu ya." kata dokter itu sebelum keluar.


Icha mengangguk dengan senyuman.


Jemari tangannya kembali bergerak dengan perlahan lalu matanya juga dengan perlahan mulai terbuka.


"Papa." Icha memanggilnya lagi.


"Ica." suaranya yang lemah itu mulai terdengar di telinganya ia langsung memeluk tubuh ayahnya yang masih terbaring.


"Alhamdulillah papa sudah sadar."


pandangan lelaki itu mengarah pada seseorang yang juga terbaring di sebelahnya.


"Itu siapa ca?"


Icha terdiam iya juga sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakan keadaan Rania yang sesungguhnya pada Fajar.


"Mama kamu mana nak?" Fajar menanyakan lagi keadaan istrinya.


"Mama..."


"Mama koma pa." dengan sangat berat hati Icha harus mengatakan itu.


"Astagfirullah haladzim." ucap ayahnya dengan rasa penyesalannya, air matanya mulai mengalir.


"Papa jangan mikirin Mama dulu ya, papa tenangin dulu keadaan papa yang sekarang. Icha nggak mau nanti papa drop lagi." pintanya dengan sangat memohon.

__ADS_1


Lelaki itu hanya menggangguk dan menghela nafasnya.


Icha kembali memeluk ayahnya dengan penuh kerinduan, ia belum bisa berbicara banyak dengannya karena keadaan ayahnya yang baru saja melewati masa kritisnya.


__ADS_2