Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
31. Belajar untuk Lebih Bisa mengikhlaskan


__ADS_3

"Icha itu hanya masa lalunya, masa lalu yang memang harus dilupakan untuk selamanya. Dan sekarang kamulah masa depannya, kamu yang akan menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Jika sudah melangkah tidak bisa lagi mundur ke belakang zi."


Icha menggenggam erat tangan seorang gadis yang ada di hadapannya. Zizi membolos semua perkataan sesuai dengan urutan, pelukan seorang sahabat yang sangat menyayanginya.


"Aku beruntung banget punya sahabat seperti kamu, ca. Terima kasih atas semua nya."


kata Zizi saat melerai pelukan nya.


"Iya, aku juga bahagia punya sahabat seperti kamu, aku banyak belajar dari kamu, terutama belajar untuk mengikhlaskan."


kata Icha dengan senyumannya.


"Yasudah, sekarang kita turun ya."


Icha menggandeng tangan berjalan beriringan keluar dari kamarnya menemui para tamu undangan.


Sekarang sudah tidak ada lagi yang tersakiti, Icha sudah bisa untuk mengikhlaskan semua yang terjadi pada dirinya. Demi sahabat yang begitu ia sayangi.


Di wajahnya kini telah terpancar sebuah senyuman yang indah. Zizi tampak begitu anggun dengan gaun pengantin yang berwarna putih gading juga lengkap dengan jilbab yang menutup sebagian kepalanya.


Saat mereka sudah berada di bawah, semua mata tertuju pada keduanya. Zizi duduk di paling belakang bersama dengan semua sahabatnya sedangkan Kaffa berada di depan bersama dengan penghulu dan para saksi.


Tangan yang mempelai pria telah menjabat sang penghulu. Ijab qobul pun akan segera diucapkan. Kedua mata Icha tampak sudah berkaca-kaca, hingga sampai di ujung ucapannya.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah........"


"Alhamdulillah.....".


Tanpa iya sadari, air mata itu sudah duluan jatuh di pipinya. Icha langsung menghapusnya agar tidak ada yang menyaksikannya. Gadis gadis itu mengatur nafasnya dan berusaha mengembalikan lagi senyuman pada raut wajahnya.


Aku belajar melupakan dari sebuah perpisahan........


dan Aku belajar mengikhlaskan dari sebuah persahabatan.........

__ADS_1


Tatapan mata Zain mengarah pada Icha yang saat itu ia berada bersebelahan dengannya namun dengan jarak yang sedikit jauh.


"Kenapa Icha menangis?Apa yang sedang dirasakannya saat ini?Mungkin saja ia terharu bahagia karena hari bahagia sahabatnya."


Zain menarik kembali tatapannya sebelum Icha melihatnya.


Setelah prosesi ijab qobul selesai Zizi, sebagai mempelai wanita pun dipersilakan untuk menemani mempelai prianya, bersama dengan kedua sahabatnya Zizi berjalan dengan perlahan.


Prosesi yang mengharukan, di mana saat itu keduanya bertemu dan sang mempelai wanita menyalami tangan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu, lalu tangan suaminya memegang ubun-ubun istrinya dan membacakan doa.


Keduanya sudah sah menjadi pasangan yang halal, pasangan yang akan membangun sebuah rumah tangga dengan mengharap ridho nya Allah ta'ala.


Zain mulai beranjak dari tempatnya dan akan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, namun tiba-tiba handphone yang ada di saku celananya berdering, ia pun keluar dari ruangan itu dan mengangkat panggilan yang masuk ke handphonenya.


Panggilan yang masuk itu dari pengurus beasiswa luar negeri yang memintanya untuk segera mengurus berkas-berkas yang akan dibawanya, karena sekitar 3 jam lagi pesawat yang membawanya pergi ke luar negeri akan segera check out.


Zain mengurungkan niatnya untuk menemui mempelai, tanpa berpamitan dengan siapapun ia pun segera pergi dari sana untuk menyelesaikan semua urusannya.


"Barakallahu lakuma wa Baraka alaikuma."


Dina memeluk hangat sahabatnya yang kini sudah menjadi seorang istri.


"Semoga menjadi keluarga yang Allah ridhoi sampai akhirat nanti." kata Anna.


"Amin....."


"Seorang wanita yang kuat dan hebat ada di hadapan ku saat ini, terima kasih ya ca."


Zizi memeluk hangat sahabatnya itu.


"Selamat ulang tahun sahabat ku, semoga Allah selalu melindungi mu." bisik nya lagi.


Icha terharu mendengar ucapan dari Zizi, tanpa ia sadari, air matanya kembali mengalir.


Gadis itu melerai pelukannya.

__ADS_1


"Kamu juga hebat, terima kasih untuk semuanya."


Kafa menundukkan wajahnya.


Saat ia kembali mengangkat wajahnya, senyuman itu seakan ia berikan sepenuhnya kepada mereka yang ada bersama dengannya.


"Ca, kak Zain mana? kok nggak kelihatan?"


bisik Dina di telinga Ica.


"Aku juga nggak tau Din." balasnya yang juga berbisik dengan nya.


"Ada apa? kenapa kalian bisik bisik, ada rahasia apa?"


Keduanya saling menggeleng sebagai jawabannya.


Zain baru saja memberi kabar pada asma bahwa dirinya telah pergi dari tempat itu, ada urusan yang harus segera diselesaikannya dan itu berhubungan dengan keberangkatannya hari ini.


"Bu, mas Zain pergi." beritahu Asma' pada ibunya.


"Pergi ke mana? kok nggak bilang sama ibu?"


"Mas tadi buru-buru Bu, makanya nggak kasih tahu dan ini mas baru kabarin Asma' tadi."


Ibu pun mengangguk tanda mengerti.


"Kata Mas Zain, ada urusan dengan keberangkatannya hari ini. Apa kita susulin aja ya Bu Mas Zain?"


"3 jam lagi pesawatnya check out Bu."


"Yasudah kalau gitu kita temui Zizi dan Kafa dulu setelah itu baru kita susulin mas mu."


Asma' mengangguk menyetujuinya.


Untuk tahun ini, ulang tahun Icha terlihat cukup sederhana. Tidak ada pesta atau perayaan apapun seperti tahun-tahun yang lalu. Ya, walaupun tidak ada kedua orang tuanya dia ada di sampingnya, Ica terlihat bahagia bersama dengan sahabat dan orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Bahagia itu sederhana, bahagia itu datang dari diri sendiri.


Kebahagiaan tidak sepenuhnya datang dari orang lain, karena orang lain belum tentu bisa membuat diri kita sepenuhnya bahagia seperti isi hati kita sendiri.........


__ADS_2