Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
39. Reuni Sebelum Berpisah


__ADS_3

Icha memberikan suapan makanan pada ayahnya. Setelah keadaannya semakin membaik, Fajar dan Rania berada di ruangan yang berbeda.


"Kata doktor, kaki papa mengalami keruntuhan permanen ini semua disebabkan karena kecelakaan saat itu." beritahu Icha di sela suapan makannya.


"Iya nak papa sudah menerima semua keadaan ini dengan ikhlas. Mungkin ini adalah karma untuk papa karena selama ini papa sudah terlalu jauh dari Allah dan anak papa sendiri." kata Fajar yang sudah pasrah dengan keadaannya yang saat ini.


Ia juga sudah menyesali kesalahan nya yang selama ini telah jauh dari Tuhan dan anak semata wayangnya.


"Assalamualaikum."


Terdengar suara ucapan salam dari balik pintu.


"Waalaikumsalam." jawab Icha dari dalam.


Icha bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang datang.


"Ika. Anna. Dina."


Ternyata yang datang adalah ketiga sahabatnya, dengan mata yang berbinar Icha menyambut kedatangan mereka.


"Assalamualaikum Kak Icha." ucap Ika sekali lagi.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk." jawab Icha yang mempersilahkan ketiga temannya.


Mereka datang bertiga dengan membawakan buah-buahan dan makanan untuk Icha juga ayahnya.


"Gimana keadaan papa Kak Icha?" tanya Rifka yang terlebih dahulu membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah papa sudah melewati masa kritisnya dan sekarang keadaannya semakin membaik." jawab gadis itu dengan senyumnya.


"Alhamdulillah." sahut ketiganya.


"Siapa ca?" tanya papa yang ada di tempatnya.


"Sahabat Icha yang di pesantren pa, mereka ke sini mau jenguk papa sama Mama." jawabnya gadis itu.


Icha kemudian membawa mereka lebih dekat dengan Fajar.


"Assalamualaikum, om." ucap Dina yang duluan menyapa.


"Waalaikumsalam." jawab Fajar dengan tersenyum.


"Gimana keadaannya, Om?" tanya Anna.


"Alhamdulillah, sudah mendingan."


"Alhamdulillah kalau keadaan Om sudah membaik."


"Kalian semua sahabatnya Icha?"


"Iya kami adalah sahabat Ica di pesantren." jawab Ana dengan senyuman ramahnya.


"Terima kasih banyak ya, kalian semua sudah menjadi sahabat yang baik untuk anak saya."


"sama-sama Om, kami juga senang kok bisa bersahabat dengan Putri Om yang baik ini."


jawab Ika yang memuji Icha di depan orang tuanya. Fajar menanggapinya dengan senyuman begitu juga dengan mereka semua.


"Pa..."


"Icha keluar sebentar ya, ada yang mau diomongin sama mereka." ucap Icha yang meminta izin.


"Iya nak, keluarlah."


"O ya kami ada bawakan makanan dan buah untuk om, semoga Om cepat sembuh ya." Ika memberikan buah dan makanan tadi pada Icha.


"Terima kasih banyak maaf kalau aku sudah merepotkan."


sama-sama Om, kamu sama sekali tidak merasa direpotkan kok om."sahut Dina.


"Iya om, justru kami senang bisa datang ke sini jengukin Om Fajar dan juga tante Rania." kata Ana.


Fajar menyahutinya dengan senyuman.


"Yaudah kalau gitu kami pamit keluar dulu ya Om." kata Dina yang mewakili mereka semua.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


...****************...


Mereka pergi ke sebuah tempat makan yang ada di dekat rumah sakit. Sebelum dirinya pergi, Icha terlebih dahulu memberitahu salah satu perawat agar mereka ada yang siaga menjaga Fajar di ruangannya.


"Kalian semua kok bisa ke sini?" tanya Icha pada mereka yang saat itu sudah ada di tempat.


"Ya bisalah, ini semua kan ide dari Dina, iya toh." ucap Dina yang menunjuk pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Mereka berdua pun mengangguk setuju.


"O ya kak, umah sama Abuya titip salam aja, karena mereka tidak bisa datang." kata Ika yang sudah menyampaikan amanahnya.


"Iya, waalaikumsalam, ntar sampaikan juga ya salam Ica sama mereka."


"Insyaallah,ca." jawab Ana.


Eh, kalian mau pesan apa?" tanya Icha yang menawarkan.


Ketiganya sama-sama diam.


"Bingung mau pesan apa ca, kayaknya semua menu di sini mahal." kata Dina yang terus terang.


"Udah tenang aja, ntar biar Icha yang bayarin."


ujarnya.


"Seng tenan ca?"


Icha menaikkan kedua alisnya.


"Oke lah kalau gitu, aku tak mesen duluan."


"Kalian berdua mau pesan apa?"


"Apa aja deh Kak, Ika sama Kak Ana ngikut aja." sahur Ika.


"Oh ya udah."


Icha pun melihat menu food and drink yang ada di atas meja mereka dan memasangnya pada salah satu writers.


Keheningan terjadi saat mereka sedang menunggu pesanan datang.


"Em ... sebenarnya, Ika datang ke sini sekalian mau pamitan sama Kak Icha." kata Rifka yang buka pembicaraan.


Icha membulatkan kedua matanya.


"Memangnya kamu mau ke mana ka?"


"Ika mau pulang ke Makassar kak, insya Allah siang ini." kata Ika yang berterus terang.


"Secepat itu ka, memangnya kamu nggak mau tunggu sampai liburan?"


Ika menggeleng.


"Orang tua Ika sudah tiba di solo kak, sekarang mereka sudah ada di pesantren." jawabnya lagi.


"Yaudah deh, hati hati ya ka, jaga diri kamu di sana. Jangan pernah lupa sama kita semua, ya walaupun kita berpisah dengan jarak yang jauh." pesan Ica padanya.


"Iya kak, insya Allah itu tidak akan pernah lupa sama kalian semua." jawabnya.


"O ya, Kak Zizi gimana kabarnya Kak?" tanya Ika yang mencairkan suasana.


"Alhamdulillah, dia baik-baik saja."


Rifka pun mengangguk.


"Ntar kalau nggak sempat ketemu sama Kak Zizi, tolong sampaikan salam Ika sama kak Zizi."


"Iya ka, insya Allah."sahut Icha.


"Waalaikumsalam Ika, salamnya sudah sampai."


Orang yang dimaksud Ika itu ternyata sudah ada di antara mereka.


Zizi datang lagi menghampiri mereka dengan penampilan yang sangat rapi.


"Kak Zizi." sapa Rifka yang begitu riang.


"Iya ka, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah kak, baik."


"Kalian semua gimana?"


"Alhamdulillah zi, kami semua baik." jawab Anna.


"Kamu sendiri gimana?" tanya Dina.


"Alhamdulillah aku baik-baik aja kok." sahutnya dengan senyuman.


"Kalian kok tumben kumpul semua di sini?" tanyanya.


"Tadi sih niatnya mau jenguk orang tuanya Icha, tapi sekalian juga deh reunian sebelum berpisah." jawab Dina.


"Reunian sebelum berpisah? memangnya kalian pada mau pergi ke mana?" tanya Zizi yang merasa bingung.

__ADS_1


Mereka semua terdiam dan saling bertatap wajah.


"Em.... Hawa hawanya seperti ada yang berbeda deh di sini." sindir Anna yang mengalihkan pembicaraan.


Tatapan mereka semua mengarah padanya.


Zizi seakan mengerti apa maksud sahabatnya yang satu ini.


"Hawa yang berbeda? maksud kak Anna apaan sih?" tanya Rifka yang tak mengerti.


"Zi, udah?"


Icha memberi kode pada nya.


Awalnya Zizi malu untuk mengatakannya pada mereka, tapi akhirnya Zizi pun mengangguk dengan senyuman.


"Apanya yang udah?" tanya Rifka lagi.


"Aduh, Ika kok nggak peka sih ka?" ucap Anna yang terlihat geram dengan sahabat yang satu ini.


"Sebentar lagi insya Allah kita akan punya keponakan baru dari Zizi." kata Dina yang menjelaskannya.


"Ooooo." Rifka akhirnya mengerti apa maksud mereka.


"Ngomong dari awal Ika kan emang nggak ngerti." ungkapnya.


Mereka semua terkekeh dengan pikiran Riska yang terlalu lama loading nya.


"Icha maaf ya, aku nggak bisa lama-lama temenin kamu di sini, soalnya kerjaan Mas Kafa di solo sudah selesai dan sekarang kami akan kembali ke Jakarta." kata Zizi yang berpamitan pada nya.


"Iya zi nggak papa. Aku mau kasih banyak sama kalian karena kalian udah nolongin orang tua aku. Maaf kalau udah ngerepotin."


"Sama sama ca, kami sama sekali nggak merasa kerepotan kok malahan kami senang bisa bantu kamu."


Icha membalasnya dengan senyuman.


"Jadi Kak Zizi mau berangkat ke Jakarta siang ini? Ika juga mau berangkat ke Makassar." kata Rifka.


"Makassar? Memangnya Ika nggak balik ke pesantren lagi?" tanya Zizi.


Rifka menggeleng dengan senyuman.


"Kenapa ka?"


"Ika mau belajar lagi di Makassar kak." jawabnya.


"Iya zi, mereka semua akan pergi, ya mungkin tinggal dina yang tinggal di pesantren." timpal Dina.


"Oh.. jadi maksudnya reuni sebelum berpisah itu ini....?"


Mereka hanya mengangguk dengan senyuman.


"Terus Ica....?" mata Zizi menetap Ica.


"Icha akan merawat papa sampai sembuh Zi. Kaki papa mengalami kelumpuhan total. Sedangkan keadaan Mama sampai saat ini masih koma, jika Icha pergi siapa nanti akan merawat papa?" ungkapnya dengan wajah yang penuh haru.


"Yaudah ca, nggak papa. Kami semua ngerti kok perasaan kamu. Mungkin ini saatnya kamu berkhidmat pada mereka." ucap Zizi yang mewakili mereka.


"Makasih ya, kalian semua udah bisa ngertiin posisi Ica saat ini." kata Ica dengan senyuman.


"Sama sama ca."


"Em.... kak Zizi datang ke sini sendirian?" tanya Rifka yang mulai mencairkan suasana.


"Kalau udah hidup berdua kenapa harus pergi sendiri. ya udah pasti sama suaminya toh."


timpal Dina.


"Ish....kak Dina. kan Ika cuma nanya doang." kesalnya.


Mereka semua tertawa.


"Ika...Ika..."


"Sekarang mas Kafa nya dimana?" tanya Ika.


"Mas Kafa nya lagi nemenin om Fajar di rumah Sakit." jawab Zizi.


Rifka mengangguk.


"Setelah ini kita semua akan terpisah jauh. Kembali ke kehidupan masing masing. Semoga suatu saat nanti kita bisa seperti ini lagi ya." timpal Zizi.


"Tapi kak Zizi sama kak Ica bakalan berdekatan. Karena mereka sama sama id Jakarta. ya kan." Ika memberikan pernyataannya.


Keduanya sama-sama tersenyum.


"Ntar kala keponakan kita udah lahir,kabarin ya, kita tunggu segera kabarnya." kata Anna.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum sambil menatap Zizi.


"Saat bersama kalian seperti ini rasanya Icha bisa melupakan sejenak kesedihan yang saat ini sedang Ica, rasakan tapi itu hanya sebentar saja. Setelah kalian semua pergi nanti, ke mana Icha akan menghibur diri?".


__ADS_2