Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
34. Melupakannya untuk sejenak


__ADS_3

"Cinta itu hanya kepada Allah dan Rasulnya, bukan pada makhlukNya. Jika kamu mencintai seseorang kamu harus mengatasnamakan Allah, mencintai karena Allah, itulah hakikat cinta yang sebenarnya."


"Satu lagi, rasa suka itu bukan murni dari hati atau perasaan kita sendiri. Hati itu milik Allah, jika Allah sudah membuat hati kita menyukai seseorang berarti Allah ingin menguji kekuatan cinta kita padaNya, sanggupkah kita mengutamakan cinta kepada Allah atau lebih memilih mengutamakan cinta kita pada makhlukNya."


Dina bercerita panjang lebar padanya sedikit tentang makna cinta yang sebenarnya.


"Berarti apa yang aku rasakan selama ini adalah ujian dari Allah?"


"Bisa jadi ca."


"Terus menurut kamu aku harus gimana Din, aku takut kalau apa yang aku rasakan saat ini melebihi cinta sama Allah."


Icha minta pendapat dari sahabatnya.


"Rasa suka itu jangan dipupuk seperti tanaman yang tumbuh menjadi subur jika kita terus merawatnya. Selalu mengingat Allah dengan segala kebesarannya. insya Allah dengan perlahan kamu akan mulai lupa, dan kamu harus yakin kalau jodoh itu tidak akan pernah tertukar, karena Allah sudah menetapkannya jauh sebelum kita terlahir di dunia ini cinta itu tidak menjamin segalanya, tapi Allah menjamin semuanya menjadi mudah."


"Berarti intinya sekarang kita harus fokus dengan diri kita sendiri dan jangan memikirkan sesuatu yang telah Allah tetapkan lebih dulu."


Dina menyahutinnya dengan senyuman sebagai sahabat yang baik mereka akan selalu mengingatkan jika sahabatnya lalai, menegaskan jika sahabatnya salah, dan membela jika sahabatnya benar.


Sekarang ini bukan saatnya untuk berpikir tentang cinta dan perasaan,fokus pada pelajaran juga diri sendiri dan jangan memikirkan atau mencari sesuatu yang telah Allah tentukan sebelumnya.


...****************...


Hari telah menjelang pagi, suasana berubah menjadi lebih sejuk dan indah. Persiapan untuk ujian telah begitu matang disiapkan oleh para mereka santri yang akan melakukan ujian semester akhir di kelas formal ataupun kelas alim. Tak ketinggalan pula kelas tahfidz Quran, intinya seluruh santriwan ataupun santriwati akan melaksanakan ujian dengan bersamaan.


Dua kotak kecil ada pada kedua tangannya.


Icha masih saja menyimpannya dan sama sekali belum membukanya sedikitpun, kedua-duanya adalah barang berharga karena ia dapatkan dari kedua orang yang berarti dalam hidupnya.


"Ica....."


seseorang memanggilnya dari luar.


"Iya sebentar."


jawab Icha sembari menolehkan wajahnya ke arah pintu kamar, ia pun kembali meletakkan kedua hadiah itu dalam lemarinya.


"Ayo ca, sebentar lagi jam ujian akan dimulai."


jerit orang itu lagi dan itu adalah Dina.


"Iya Dina sebentar aku mau siap-siap dulu."


Setelah ia menyimpan kedua barang itu disiapkan segera keluar menemui sahabatnya yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Maaf ya, lama nunggunya."


ucapnya saat sudah berada di luar bersama dengan Dina. Dina hanya mengalami nafas sedikit kesalnya.


"Oh ya, Ika sama Anna di mana?"


tanya gadis itu yang memang sedari tadi dirinya belum ada bertemu dengan mereka berdua.


"Mereka udah duluan, jam ujian mereka kan lebih cepat daripada kita."


Icha hanya mengangguk tanda mengerti.


Mereka pun melangkah dengan persamaan menuju kelas masing-masing.


Sudah ada ustadzah Nahwa sebagai wali kelas yang juga menjadi pengawas ujian mereka pada hari pertama. Icha terlihat begitu cekatan saat mau jawab soal yang ada di kertas ujiannya. Tak membutuhkan waktu yang lama, gadis itu dengan cepat telah menyelesaikan semua soal ujiannya. Sebelum lembaran itu diberikan pada sang wali kelas, gadis itu terlebih dulu memeriksa kertas ujiannya.


"Annisa, apakah kamu sudah selesai?"


tanya ustadzah Nahwa saat sedang memperhatikan dirinya.


"Sudah ustadzah."


jawab Icha jangan penuh senyuman. Icha lalu memberikan lembar jawabannya itu pada ustadzah Nahwa dan setelah itu dirinya diperkenankan untuk keluar kelas.


Setiap lembar jawaban yang sudah dibagikan dan selesai diperiksa, Icha selalu mendapatkan nilai paling tinggi di kelasnya. Tak ada yang mampu menyaingi kepintarannya di kelas itu, bahkan sang juara kelas pun harus mengalah dan adanya Ica di kelas itu. Meskipun begitu, Icha tak pernah mendengarkan kepalanya saat mendapatkan banyak pujian daripada teman-teman sekelasnya, ia selalu merendahkan dirinya dan berbagi ilmu pada mereka yang kurang paham.


Diatas langit masih ada langit, di atas dirimu masih ada lagi yang lebih pintar dan lebih cerdas darimu Dan jadilah dirimu seperti padi, yang semakin banyak berbuah ia akan semakin menunduk, seperti orang yang berilmu semakin tinggi ilmunya ia akan semakin tawadhu.


"Alhamdulillah ya ca, akhirnya ujian kita sudah rampung, tinggal nunggu hasil akhirnya saja."


kata Dina saat mereka sedang duduk di santai di taman pesantren.


"Iya Din, aku juga udah lega, tapi aku juga deg-degan kira-kira nilai aku berapa ya?"


"Kalau itulah tenang aja toh ca, insya Allah kamu pasti dapat nilai yang bagus."


"Amin."


sahut Icha yang mengaminkan perkataan sahabatnya.


"Assalamualaikum."


saat mereka sedang berbincang kedua sahabatnya yang lain datang menghampiri mereka.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


jawab keduanya bersamaan.


"Berdua aja nih ngobrolnya. nggak ngajak ngajak?" sindir Ika.


"Tau tuh mentang mentang sebentar lagi bakalan pulang kampung."


timpal Anna yang juga tak mau kalah.


"Yaudah, sini duduk ikutan ngobrol nggak usah marah-marahan." sahut Dina.


Mereka akhirnya berkumpul kembali setelah beberapa minggu sibuk dengan kegiatan ujian masing-masing. Kini ada waktu istirahat untuk kembali berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.


"Waktu kita untuk bisa berkumpul seperti ini hanya tinggal beberapa minggu lagi. Setelah itu kita akan berpisah dan kembali ke tempat masing-masing."


Ika mulai membuka pembicaraannya.


"Memangnya, kalian semua mau ke mana?"


tanya Icha dengan wajah harunya.


"Ini adalah tahun terakhir kita di sini Kak, setelah ini Ika akan kembali ke Makassar. Ika akan mengajar di sana Kak." jawab Rifka.


"Tapikan umur kamu masih muda ka, masih banyak waktu untuk kamu belajar lagi."


"Masa belajar Ika di pesantren ini sudah selesai Kak. Jadi sudah saatnya Ika untuk berhikmat di sana dan kalau Ika mau belajar lagi mungkin juga Ika akan belajar di sana."


jawab Ika dengan wajah yang berusaha tersenyum.


"Anna juga mau pergi?" tanya Icha pada gadis yang bersebelahan dengannya.


Anna mengangguk dengan senyuman.


"Anna mau pulang ke Aceh, karena udah 2 tahun Anna tidak pulang ke Aceh."


"Terus Anna bakal kembali lagi nggak ke pesantren ini?"tanya Icha lagi.


"Kalau itu, Anna tidak bisa memastikan ca, karena umi sama Abi Anna sudah ada program tersendiri untuk hafalan Quran Anna. Mungkin juga Anna akan melanjutkan belajar di sana."jawabnya lagi.


"Kenapa kalian semua pergi? terus Dina mau pergi juga?"


tatapan Icha yang sayur mengarah pada sahabatnya yang satu lagi.


"Dina kan memang orang sini toh ca, jadi Dina nggak bakalan kemana-mana. Dina akan jadi santri abadi di sini."


Mendengar jawaban dari Dina sedikit melegakan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2