Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
37. Rumah Sakit


__ADS_3

Suasana berubah menjadi hening. Kafa keluar sebentar dari rumah sakit untuk membeli makanan yang akan menjadi makan malam mereka nanti. Tinggal mereka berdua duduk di ruang tunggu itu dalam keheningan.


"Gimana kabar rumah tangga kamu sama Kafa, Zi?" Icha membuka pembicaraannya terlebih dulu, agar suasana tidak begitu sunyi.


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja, ca."


jawabnya dengan senyuman.


Icha juga membalasnya dengan senyuman.


Keadaan menjadi dingin lagi.


Setelah hampir 2 bulan mereka tidak bertemu, keduanya semakin bingung dengan apa yang akan mereka bahas, karena suasananya yang sudah berbeda ditambah lagi dengan kesedihan Icha saat ini.


"Zain sudah berangkat, ca?" giliran Zizi yang bertanya padanya.


"Sudah 2 bulan yang lalu Zi, setelah selesai acara pernikahan kamu itu Kak Zain langsung check out ke bandara." jawabnya.


Zizi mengangguk dengan senyuman.


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD. Gadis itu bersaudara sahabatnya berdiri dari tempat duduk mereka.


"Bagaimana dengan keadaan kedua orang tua saya dokter?" tanya Icha pada dokter wanita itu.


"Untuk saat ini, keadaan bapak masih kritis dan belum bisa stabil. Sedangkan ibu, beliau mengalami koma. Dan kami tidak bisa memastikan keadaan beliau apakah masih bisa bertahan hidup atau tidak. Mohon doanya mbak semoga Allah memberikan yang terbaik untuk mereka." kata dokter itu.


Mendengar keadaan orang tuanya yang sekarang perasaan itu semakin hancur.


"Astagfirullah haladzim."ucapnya.


"Terima kasih ya, dokter." kata Zizi yang saat itu sedang menenangkan Ica.


Dokter itu menyahutinnya dengan senyuman dan berlalu pergi dengan seorang perawat di belakang nya.


Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam lalu diikuti oleh Zizi sahabatnya.


Icha menatap wajah ibunya yang sedang Oma saat itu. Icha tak bisa berkata apapun, hanya air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.


"Sudah hampir 1 tahun Icha menahan rasa rindu ini bersama kalian karena kalian pergi begitu saja meninggalkan Ica. Sekarang Allah telah menjawab rasa rindu Ica dengan bertemu langsung sama kalian, tapi dalam keadaan yang seperti ini. Icha nggak tau harus bahagia atau tidak, saat Icha sudah bisa menatap langsung wajah Mama sama papa.Bangun ma.... pa.... Ica ada di sini, Ica sayang sama kalian, jangan pergi lagi meninggalkan Icha sendiri."


Ungkapan gadis itu pada kedua orang tuanya.


"Kamu harus bisa ikhlas untuk menerima semua ini ca, Allah ingin membuat kamu menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Serahkan semuanya sama Allah subhanahu Wa ta'ala biar Allah yang mengatur semuanya."


kata Zizi pada sahabatnya.


Ica menyandarkan kepalanya pada sahabatnya.


Zizi membawa sahabatnya itu ke sofa yang ada di ruangan itu.


"Dulu, aku juga pernah ada di posisi kamu seperti ini, ca. Saat aku harus menyaksikan mereka pergi untuk selamanya dalam hidup ku."


Zizi membuka sedikit masa lalu nya.


Icha mengarahkan wajahnya pada Zizi.


"Apa yang kamu rasakan saat itu zi?"


Zizi membela nafasnya.


"Aku begitu lemah saat itu ca, masih lebih hebat kamu lagi. Kamu itu adalah gadis yang kuat yang pernah aku temui sekarang ini. Begitu banyak cobaan dan rintangan yang Allah berikan untuk kamu, tapi kamu bisa bertahan dan menerimanya dengan ikhlas." jawab Zizi dengan rada penuh haru.

__ADS_1


"Aku bisa seperti ini karena ada orang yang selalu memberi semangat untuk aku, ada orang-orang hebat yang selalu menguatkan Icha."


"Aku selalu berdoa untuk kamu, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kehidupan kamu."


"Amin.... makasih ya. Kamu yang selalu ada di belakang Icha." ucap Icha dengan tersenyum.


Zizi juga membalasnya dengan senyuman.


"Assalamualaikum." ternyata sudah ada orang yang sedari tadi berdiri di depan pintu.


"Waalaikumsalam".


Kafa masuk dengan membawa bingkisan untuk mereka. Keduanya sama sama menatap wajah itu.


"Mas, sudah dari tadi datangnya?" tanya Zizi.


"Nggak kok, barusan aja." jawabnya.


"Em. Gimana keadaan Om fajar dan tante Rania?"


"Papa masih kritis, mama koma."


"Tante Rania koma?" Kaffa mengulangi perkataannya lagi.


Icha menggangguk.


Lelaki itu menghela nafasnya dan sesekali memandang ke arah orang tua Ica.


"Semoga keadaannya segera membaik ya."


"Amin." ucap Icha yang mengaminkan.


Kafa memberikan bingkisan itu pada mereka lalu diterima oleh Zizi.


lelaki itu mengangguk dengan senyuman.


"Mas sendiri sudah makan?"


"Sudah tadi. Sekalian makan di luar." jawabnya.


Icha semakin merasa sungkan kepada mereka dengan keadaan yang sekarang ini, dia merasa sudah merepotkan sahabatnya.


"Ica sama kalian karena mas Kafa dan Zizi sudah banyak membantu Icha dan orang tua Icha." kata Icha tiba-tiba di keheningan mereka.


"Sama sama ca."


jawab di Zizi dengan senyumannya.


Lelaki itu lalu bangkit dari duduknya dan hendak akan berjalan keluar ruangan.


"Mas mau kemana?" tanya Zizi.


Kafa menghentikan langkahnya.


"Mau ke mushola karena tadi belum salat isya sekalian mau istirahat di sana." sahutnya.


Zizi lalu menggangguk.


"Kalau kalian mau pulang ke rumah nggak papa kok, biar Ica aja yang tinggal di sini."


"Ca, kamu itu perempuan nggak mungkin kami membiarkan kamu di sini sendiri, apalagi ini sudah malam." cegah Zizi.

__ADS_1


"Tapikan kalian juga butuh istirahat. Kalian sudah dari tadi jagain orang tua Ica di sini, jadi sekarang biar giliran Icha aja yang jaga."


sahutnya.


Zizi mengarahkan wajahnya pada suami nya.


"Kalau kami pulang, kamu juga harus ikut pulang kami tidak akan meninggalkan kamu sendiri di sini ca, apapun keadaannya." Kafa angkat bicara dan memutuskan semuanya.


Icha masih mengenal sifatnya yang keras itu, Tapi semua juga kan demi kebaikannya.


"Iya ca, kami tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu nanti." Zizi juga ikut menambahkan.


"Iya zi, Icha ngerti kok kalian semua sayang kan sama Icha." kata Icha dengan senyumannya.


"Yaudah, aku mau ke musholla dulu ya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


...****************...


Begitu mendengar semuanya dari Dina, Ika dan Anna juga merasa khawatir dengan keadaan orang tua sahabat mereka.


"Semoga saja Allah memberikan kesembuhan untuk kedua orang tua Kak Ica ya. kasihan Kak Ica." kata Ika dengan rasa ibanya.


"Amin. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka."


"Kalau aja kita bisa ada kesempatan untuk menjenguk kedua orang tua kak Ica di sana."


kata Ika lagi.


"Mungkin hari esok bisa, lagian kita kan tidak ada jadwal apapun."Anna memberi usulan nya.


"Nanti biar Dina yang langsung izin sama ummah untuk kita pergi ke sana." timpal Dina.


"Tapi Ika nggak bisa ikut ke sana besok."


Rifka terlihat lemas.


"Kenapa ka?" tanya mereka bersamaan.


"Ayah sama Bunda Ika besok mau datang jemput Ika untuk pulang ke Makassar." jawabnya.


"Kamu besok mau pulang?"


"Kenapa nggak tunggu liburan aja Ka?"


"Ika nggak tahu Kak ma kata mereka mau ngadain acara di rumah." jawabnya.


"Jadi kamu tinggalin kami ka? yah Ika nggak seru." kata Dina.


"Zizi udah pergi Icha juga ada di sini, ditambah lagi kamu pun mau pergi, jadi tinggallah kamu berdua." timpal Anna.


"Jangan gitu dong, Ika kan juga sedih dengernya. Ika nggak punya maksud untuk meninggalkan kalian tapi kan...".


"Iya ka, kami ngerti kok." kata Ana dengan senyuman.


"Maafin Ika ya."


"Nggak papa ka, yang namanya pertemuan pasti akan ada perpisahan. Insya Allah kalau nanti ada umur panjang kita janji bakal reunian ya."

__ADS_1


Keduanya saling menggangguk dan tersenyum.


__ADS_2