
untuk pertama kalinya terjadi kejadian seperti ini di pesantren Muhajirin Al Jannah, yang langsung dialami oleh salah satu santriwatinya.
kecelakaan itu terjadi pada sore hari, di mana semua santri sedang beristirahat dari jam belajar mereka. ketika itu, Naura bersama dengan Ulya salah satu temannya sedang duduk di taman paling ujung asrama.
tiba-tiba saja ada batu yang terlempar dari luar dan jatuh mengenai kepala Naura hingga berdarah.
semuanya menjadi panik pada saat itu, karena Naura langsung jatuh pingsan setelah mendapat lemparan batu di kepalanya yang berdarah.
Naura adalah teman satu kelas dengan Ika, untuk itulah Ika pergi ke ruangan unit kesehatan melihat keadaan Naura di sana bersama dengan ustadzah Rahmah.
tidak membutuhkan waktu yang lama kabar kejadian yang dialami Naura sudah menyebar ke seluruh pesantren baik santriwati maupun santriwannya.
Icha, Dina dan Ana baru saja mendengarnya setelah mereka memutuskan untuk keluar kamar dan mencari kemana perginya Ika.
"kenapa semuanya jadi kacau begini, apa ini ada hubungannya dengan Arli" kata Icha dalam hatinya.
"Cha, kamu kenapa?"tanya Dina yang menyadarkan Icha dari lamunannya.
Icha hanya menggiringkan kepalanya dengan senyuman.
"em.. Icha mau keluar sebentar ya Din "ucapnya.
"mau ke mana Cha "tanya Dina.
Icha tidak menjawab dan meneruskan langkahnya begitu saja.
Icha beranjak keluar gerbang pesantren untuk memastikan firasat perasaannya. apakah benar semua ini adalah perbuatan Ali atau orang lain yang memang berniat jahat pada pesantren ini.
Flashback....
dua hari yang lalu, sebelum kejadian ini, Naura datang menghampiri Icha dan membicarakan kedatangan ahli yang mencari dirinya.
"apa benar kalau sebelumnya kamu pernah mempunyai seorang mantan pacar ca" tanya Naura.
awalnya Icha hanya diam dan memalingkan wajahnya lalu Icha pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"apa dia punya masalah yang serius sama kamu ca? tanya Naura lagi dengan wajahnya yang serius.
Icha diam dan berpikir.
"Cha"seru Naura yang menyadarkan Icha dari lamunannya.
"memangnya kenapa Nau" tanya Icha balik.
"kemarin dia datang ke sini dan memaksa ingin bertemu dengan kamu Cha, tapi langsung aja aku cegah "ucap Naura.
"lalu setelah itu" tanya Icha.
"aku menyuruhnya pergi, setelah itu aku dan bunga langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukannya lagi" timpal Naura.
Icha terdiam lagi.
"ca, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi" ucapnya.
"masalah itu udah berlalu nau, Icha tahu apa maksud dia untuk datang mencari Icha" ucap Icha.
__ADS_1
"memangnya apa?" tanya Naura yang penasaran.
"dia pasti ingin meminta maaf pada Icha dan meminta Icha untuk mendengarkan penjelasannya. itu semua sudah jadi masa lalu, bahkan ia juga sudah melupakannya.
tapi, Arli tetap bersikeras ingin bertemu dengan Icha "jelas Icha.
"memangnya masalah itu besar ya" tanya Naura.
"mungkin itu bisa dibilang masalah yang rumit, sampai Icha harus memutuskan hubungan dengan dia. memang pada saat itu Icha belum memberikan jawaban apapun saat dirinya berusaha untuk meminta maaf. sampai akhirnya Icha pergi dari sekolah itu dan Arli pergi ke luar negeri bersama dengan orang tuanya "jelas Icha lebih detailnya.
Naura hanya menganggukkan kepalanya.
"jadi seperti itu ceritanya" ucap Naura.
Icha menjawabnya dengan senyuman.
Flashback And......
saat Icha sudah berada di luar pesantren, ia mengamati suasana yang ada di sekelilingnya dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan di sana.
namun ketika Icha akan berbalik badan dan masuk ke dalam, seseorang datang memanggil namanya.
"Icha...."panggilnya yang berada di pinggir jalan.
Icha berbalik lagi ke belakang.
"Arli" sahutnya pelan.
Icha maju dengan langkahnya yang pelan datang mendekat padanya.
"Aku cuma mau minta maaf sama kamu cah" ucapnya.
"aku udah maafin kamu, sekarang apa lagi" sahut Icha.
"udah ! gitu doang. cuma itu jawaban kamu cah."ucapnya lagi
"lalu kamu mau apa lagi" tanya Icha yang mulai serius.
Arli terdiam sambil memalingkan wajahnya.
"sekarang aku mau tanya sama kamu."
"untuk apa kamu membuat kerusuhan di pesantren ini dengan lemparan batu itu" tanya Icha.
"karena aku mau mancing kamu keluar ca, dan akhirnya berhasil kan."
"tapi cara kamu itu kasar ar, apa yang kamu buat tadi udah lewat batas. kamu tau kalau lemparan kamu tadi jatuh pada salah satu santri di sini dan membuatnya hingga jatuh pingsan."
"aku udah melakukan dengan cara yang baik-baik ca, tapi mereka nggak ada yang mau menerima cara baik-baik aku, jadi jangan salahkan aku kalau aku melakukannya dengan cara seperti ini."
"ini yang aku nggak suka dari kamu ar,kamu itu terlalu kasar dan nekat, kalau kamu terus-terusan seperti ini. bagaimana perempuan bisa nyaman sama kamu "ucap Icha yang mulai terpancing amarah.
"Ica ..."
Icha langsung melihat ke belakangnya.
__ADS_1
"ummah...."ucapnya.
ummah datang bersama dengan bunga menghampirinya. Icha takut jika ini akan menimbulkan kesalahpahaman pada mereka dan membuat masalah baru pada dirinya.
Icha lalu pergi meninggalkan Arli begitu saja dan datang mendekat pada ummah.
namun semuanya sudah terjadi, wajah ummah berubah menjadi kemarahan yang serius padanya.
"umah, Icha bisa jelasin semuanya ini hanya salah paham ummah" ucapnya yang memohon.
"persiapkan dirimu untuk persidangan lusa" ucap ummah.
"persidangan, persidangan apa ummah" tanya Icha yang tidak mengerti.
"kamu sudah terlibat masalah ini atau memang kamu yang sudah membuat Naura jadi seperti ini. kamu terlibat dalam semua ini kan."
"Astaghfirullahaladzim" ucap Icha.
"umah, umah dengarkan Icha dulu, ini semua tidak seperti yang umah sangka bukan Icha yang menyebabkan semua ini, ummah."
"umah sudah melihatnya sendiri, kamu sedang berbincang dengan lelaki itu. bunga juga sudah menceritakan semuanya. apalagi yang akan kamu jelaskan."
"apakah ummah hanya akan mendengarkannya dari satu pihak, tanpa mendengarkan dari pihak yang lain "tanya Icha yang sudah mengeluarkan air matanya.
ummah lalu terdiam.
"sabar ya ummah" ucap bunga.
"udahlah Cha, kalau udah salah, nggak usah lagi sok cari muka, kali ini yang jadi korban adalah anak ummah sendiri, jadi sangsinya akan jauh lebih berat "kata bunga yang memberi peringatan pada Icha dan berlalu pergi bersama dengan ummah.
semua Santri menyaksikan hal itu, betapa hancurnya Icha pada saat itu. iya sudah kehilangan kepercayaan dari ummah. kejadian ini sudah menyudutkan dirinya, Icha tidak akan pernah menyangka kalau semua ini akan melibatkan dirinya bahkan sebagai tersangka.
air mata itu terus mengalir membasahi pipi merahnya. Icha tak tahu lagi harus berkata apa untuk bisa menjelaskan semuanya.
"sabar ya ca, kami percaya kok, kalau semua ini bukan salah kamu" ucap Ana yang menenangkan dirinya.
Ika, Ana dan Dina datang dan merangkul Icha penuh dengan kasih sayang. mereka semua yakin kalau Icha tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu.
"udah, jangan nangis lagi ya Cha"ucap Dina yang menghapus air mata Icha.
"mereka kemudian membawa Icha ke asrama putri lagi dan menenangkannya agar tidak lagi berlarut dalam tangisannya."
"kamu harus lakukan sesuatu Zain"ucap Fahma.
mereka berdua juga ada di tempat itu.
"aku harus melakukan apa Fahma "tanya Zain yang bingung.
"kamu harus cari bukti untuk kebenaran masalah ini, memangnya kamu percaya kalau semua ini adalah salah Icha "tanya Fahma.
"nggak" jawabnya.
"ya udah, kamu harus bantu Icha, kalau perlu, kita sebagai saksi Icha dipersidangan nanti" ucap Fahma.
Zayn menganggukkan kepalanya.
__ADS_1