Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
26. Keputusan yang Menyakitkan


__ADS_3

Hari persidangan....


Icha sudah bersiap-siap untuk menghadapi hari ini. Menghadapi persidangan dirinya yang telah di sudut sebagai penyebab kecelakaan Naura, hingga membuatnya dirawat di rumah sakit.


"Mungkin kalau di pikir pikir, ini salah Ica juga sih,coba aja kalau Ica tidak ada di sini, pasti tidak akan seperti ini kejadian nya."


Ica masih berdiri di depan pintu dengan tatapan matanya yang tertuju keluar.


"Eh... nggak boleh ngomong seperti itu ca, ini semua terjadi sudah menjadi ketentuan Allah. Semua pergerakkan di bumi ini atas izin Allah." Dina datang menghampirinya.


"Kamu harus sabar, ini adalah cobaan dari Allah, semakin tinggi derajat seseorang di mata Tuhannya maka akan semakin berat ujiannya. Kamu harus ikhlas menghadapi semua ini, itu tandanya Allah masih sayang sama kamu ca."


"Inna ma'al 'usri Yusro, fainna ma'al 'usri Yusro. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka bersama kesulitan ada kemudahan". Anna menambahkan dengan ayat Qur'an nya.


Ica dapat tersenyum lebar saat ini, karena kedua sahabatnya telah memberikan motivasi untuk mengembalikan semangatnya, walaupun entah bagaimana keadaan hatinya sekarang.


"Terima kasih ya, kalian masih ada di saat Ica seperti ini".


"Iya ca, ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai sahabat".


"Sudah jangan nangis lagi, ayo kita berangkat".


Ica menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Tapi sepertinya manakah kekurangan anggota.


"Oh ya, Ika mana?"


Ica tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Astagfirullah, iya lupa sama Ika."


"Ika...Ika...".


"Iya.. sebentar."


Ika berlari keluar menemui mereka bertiga yang sudah menunggu di luar.


"Kalian pasti mau ninggalin Ika kan?"


cetus Rifka yang baru datang.


"Iya, maaf ya, tadi hampir aja lupa sama kamu."


Ika menunjukkan wajah kesalnya.


Mereka kembali meneruskan langkahnya menuju ruang persidangan.


"Bismillah ca, insya Allah".


Ica menghela nafas panjangnya.


mereka yang lainnya menunggu Icha di luar ketiganya hanya bisa menunggu Icha di luar, karena selain yang bersangkutan dilarang untuk masuk ke dalam.


Icha sudah mengambil posisinya kamu duduk berhadapan langsung dengan ustadzah Yumna sebagai hakim yang memberi keputusan.


"Ananda Annisa."


"Labbaik ustadzah".


"Sudah siap?"


"Insya Allah ustadzah".


Icha kembali menghalangi nafasnya untuk menenangkan hatinya.


ustadzah Yumna bersama dengan yang lainnya membuka persidangan itu dalam mengucap basmalah.


"Ananda Anisa, di sini terbukti bahwa Ananda telah melanggar peraturan pesantren. Dengan menemui seorang lelaki yang tidak ada sangkutannya dengan pesantren dan telah menjadi penyebab kecelakaan Naura, Bunga sebagai saksi apakah itu benar Ananda?"


ustadzah Yumna mulai melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya.


"Dan siapa lelaki itu?"


Icha sejenak memejamkan kedua matanya lalu kembali mengatur nafasnya.


"Saya memang menemui lelaki itu, lelaki itu memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Dia adalah mantan pacar saya. Maaf ustadzah, saya tidak bermaksud untuk melanggar peraturan pesantren ini. Hanya ingin memastikan benar dia atau tidak orang yang telah mencelakai Naura."


"Lalu, apa benar lelaki itu yang telah mencelakai Naura? dan apa alasannya?"


"Lelaki itu ingin memancing saya untuk keluar ustadzah, dia ingin bertemu dengan saya, tapi dengan caranya sendiri yang justru melukai orang lain."


"Sebelumnya dia juga pernah datang ingin bertemu dengan saya, tapi Naura langsung mencegahnya, karena Naura tau hal itu dilarang oleh pihak pesantren".


"Selain Naura, adakah orang lain yang bersamanya?"

__ADS_1


"Ada".


tetapan Icha mengarah pada Bunga yang saat itu ada di sebelahnya.


kedua mata ustadzah Hyuna juga mengikuti arah tatapan Icha.


"Benar begitu Ananda Bunga?"


"Benar ustadzah".


"Apakah sebelumnya Ananda Anisa pernah bertemu dengan pelaku?"


pertanyaan itu diberikan lagi kepada Icha.


"Tidak ustadzah, demi Allah saya tidak pernah menemuinya."


"Baiklah, berarti kejadian yang dialami oleh Naura, bersih tanpa ada campur tangan Anisa. Semua itu karena ulah pelaku yang tidak bertanggung jawab."


Kata ustadzah Yumna, setelah berbincang pada rekannya yang lain".


Ica menghela nafasnya lega.


"Tapi sanksi tetap kami berikan kepada Ananda Annisa. Karena ini sudah menjadi kesalahan fatal untuk kedua kalinya Ananda telah melanggar peraturan pesantren."


"Untuk kesalahan yang pertama, Ananda tidak di jatuhi sanksi apapun karena telah kabur dari pesantren, namun untuk kali ini, sanksi itu langsung kami berikan kepada Ananda".


ustadzah Yumna memperjelas ucapannya.


"Sanksi apa yang harus saya terima ustadzah?" Tanya Ica yang terlihat begitu pasrah.


"Beasiswa yang mengatas namakan Annisa Assyadzi, kami tarik kembali".


kata ustadzah Yumna yang langsung memberi keputusan.


Mendengar keputusan itu, hati Ica seakan begitu hancur. Keinginan yang selama ini ia impikan dan ia menaruh harapan besar padanya sudah saatnya ia kubur dalam dalam.


Ica menitihkan air matanya, kesedihan itu seakan tidak bisa lagi ia pendam.


Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang begitu hancur. langkahnya lemah, hingga ia tak sanggup lagi untuk berjalan.


"Ica...".


Mereka semua datang menghampiri dirinya yang sudah terduduk di kursi luar.


"Beasiswa nya di cabut Din".


jawabnya dengan suara yang lirih.


Mereka semua merangkul Ica dengan bersamaan.


"Pesantren ini memiliki peraturan yang begitu ketat, sehingga untuk kesalahan sepertu ini pun hukumannya cukup berat."


"Yang sabar ya ca, Allah ingin kamu menjadi wanita yang lebih kuat ca".


Ica hanya bisa mengangguk pasrah, di saat sahabatnya memberikan semangat untuknya.


"Selamat ya ca, akhirnya kamu nggak jadi berangkat." kata Bunga yang tiba tiba datang menghampiri mereka.


Dina langsung bangkit dari duduknya.


"Ini semua pasti ulah kamu kan Bunga, pasti kamu yang sudah buat Ica gagal berangkat."


"Kalau udah takdir, terima aja, nggak usah salahin orang lain lagi, ini tuh murni karena kesalahan Ica bukan karena aku".


"Tapi tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu ke Ica".


Bunga tak merespon apapun, ia berlalu pergi begitu saja.


Dina akan bertindak untuk mengejarnya, namun tangan Ica yang menahan nya untuk melakukan itu semua.


"Jangan di kejar Din, biarkan saja."


Dina hanya menghela nafasnya.


"Astagfirullah haladzim." Dina berucap sembari mengelus dadanya.


"Aku yakini pasti ulahnya Bunga". Anna juga terlihat kesal dengan Bunga.


"Sudah, jangan di bahas lagi, Bunga benar, ini sudah menjadi takdir untuk Ica, dan harus Ica terima dengan hati yang lapang." kata Ica yang angkat suara.


"Kamu kok tumben diem ka?" tanya Anna yang mengarah pada Ika.


"Ika bingung mau ngomong apa, Ika sedih karena melihat kak Ica sedih."


"Udah ka, jangan ikutan sedih juga."

__ADS_1


kata Ica yang berusaha tersenyum.


Ika semakin mengeratkan pelukannya.


Kemarin adalah kenangan...


Hari ini adalah tantangan....


Dan esok adalah Harapan.....


...****************...


Meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih berada di pesantren, kini Zizi sudah berada di rumah calon mertuanya. Rumah mewah yang hany di huni oleh Kafa dan ibunya itu, kini sudah kedatangan orang baru, yang sekaligus akan menjadi bagian dari anggota keluarga mereka.


Kafa lebih sering tinggal di apartemen nya dari pada di rumah, karena ia juga harus menjaga batasannya pada Zizi yang belum sah menjadi pasangannya.


Hari ini Dita mengajak Kafa dan Zizi untuk fitting baju pernikahan mereka.


"Hari ini adalah jadwal fitting baju pernikahan kalian, ayo kita pergi sekarang, Tanzi."


duta mengajak Kafa yang saat itu sedang santai di ruang keluarga.


"Iya ma."


"Zizi dimana?"


Kafa hanya menggelengkan kepalanya.


Dita pun menghela nafasnya.


ketika itu Zizi sedang berada di kamarnya yang ada di lantai atas. dia masih sibuk dengan buku-bukunya, Zizi masih mengulang kembali pelajaran yang sudah lalu.


"Zizi..."


suara Dita memanggilnya.


"Iya ma..".


"Kamu kok belum siap siap?"


"Siap siap? memangnya mau kemana ma?" tanya Zizi yang tidak mengerti dengan pertanyaan calon ibu mertuanya.


"Apa Tanzi tidak memberitahu kamu kalau hari ini adalah jadwal fitting baju?"


Zizi terdiam.


"Nggak ma, mas Kafa nggak ada sampaikan apapun sama Zizi sial jadwal fitting baju."


duta menghela nafasnya, terkadang anak lelakinya memang sedikit pelupa.


"Yaudah, sekarang kamu siap siap, mama tunggu di bawah ya."


"Iya ma."


Dita kembali ke bawah dan menunggu Zizi untuk bersiap-siap pergi bersamanya.


"Kenapa kamu tidak beritahu Zizi kalau hari ini adalah jadwal fitting baju, Tanzi?"


tanya Dita yang terlihat kesal dengan anaknya itu.


"Astagfirullah, maaf ma, Tanzi lupa."


Sudah menjadi dugaannya jika anak ini pasti lupa untuk memberitahu calon istrinya.


tidak lama setelah itu, sisi pun datang menghampiri mereka yang berada di lantai bawah. Zizi sudah tampak begitu rapi dengan Kamis birunya.


tidak menatap calon menantunya yang tampak begitu anggun saat itu.


"Yasudah, ayo kita pergi."


Zizi menguraikan senyuman di wajah manisnya dan mendapat tatapan langsung dari Kafa.


Mereka pergi dengan mobil yang sudah disiapkan oleh Kafa duluan.


Saat tiba di sana Dita keluar duluan dan masuk ke dalam butik untuk menemui sang pemilik butik yang ternyata adalah sahabat sekaligus rekan kerjanya.


Kedua calon pengantin itu berjalan beriringan, dengan jarak yang cukup jauh.


"Kenapa kamu nggak ngomong kalau hari ini ada jadwal fitting baju mas?"


"Iya, maaf zi, aku lupa untuk ngomong sama kamu." jawabnya dengan senyum yang sekilas.


Mereka lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam butik.


"Ya Allah, kenapa hati ini masih begitu berat untuk menerima Zizi kembali,. Tolong hamba ya Allah, hilangkanlah rasa pedih ini dimasa lalu. Jika memang dia adalah jodoh hamba, berilah hamba hati yang tulus untuk bisa kembali mencintainya".

__ADS_1


__ADS_2