
Deringan suara handphone menghilangkan keheningan di antara mereka. Icha langsung mengangkat ponselnya dan menerima panggilan yang masuk dari seseorang.
"Assalamualaikum." Icha membuka sambungan teleponnya terlebih dulu.
"Waalaikumsalam." jawab seseorang dari seberang sana.
"Apakah saya sedang berbicara dengan Mbak Icha?"
"Iya, ini saya sendiri. Ada apa ya mbak?"
"Mabuk Ica, ini Asma' mbak." beritahu nya.
"Asma'."
"Iya mbak."
"Alhamdulillah. Giman kabar kamu di sana As?"
"Alhamdulillah baik mbak."
"Mbak sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah As, mbak sehat."
"Ada As, kok tiba-tiba telpon ke sini?"
"Em..."
"Begini mbak..."
"Kenapa As, mau ngomong apa?"
"Em Asma' cuma mau ngabarin kalau ibu lagi sakit Mbak."
"Ibu sakit?" tanya Icha yang memastikan pendengarannya.
"Iya mbak, ibu lagi kangen sama Mas Zain sampai ke bawa sakit, mbak."
Icha terdiam dalam sambungan telepon nya.
"Mbak."
"Eh... iya As."
"Mbak kenapa?"
"Nggak kok As, nggak kenapa-napa. Yaudah sebentar lagi Mbak ke sana ya jengukin ibu."
"Eh. nggak usah mbak, ntar ngerepotin. Lagian kan jauh mbak."
"Nggak papa As, sekalian mbak juga mau silaturahim ke pesantren."
"Maaf ya mbak, Asma' jadi nggak enak sama mbak Ica."
"Nggak papa As. justru Mbak senang karena kamu mau kabarin Mbak kalau ibu lagi sakit."
"Iya mbak, sebenarnya ibu juga kangen sama Mbak Icha tapi ibu nggak berani ngomongnya sama Mbak Icha karena takut ngerepotin Mbak Icha."
"Ya Allah, ya sudah setelah ini aku langsung ke sana ya."
"Sekali lagi Asma' minta maaf ya mbak."
"Iya As, nggak papa."
"Assalamualaikum." ucap Asma' yang mengakhiri teleponnya.
"Waalaikumsalam." jawab Icha.
Setelah itu Icha meletakkan kembali handphonenya.
"Ada apa nak? Siapa yang sakit?" tanya Fajar yang mendengar sedikit pembicaraan mereka.
"Ibu sakit pa."
"Ibu? ibu siapa?" Fajar kembali bertanya.
"Ibu Husna yang pernah Ica cerita in sama papa."
__ADS_1
"Oh....."
"Memangnya beliau sakit apa?"
"Ica juga nggak tahu pa."
Fajar kemudian terdiam.
"Em... kalau Icha aja ibu ke rumah beliau boleh nggak pa?" tanya Icha sekaligus meminta izin.
Mendengar permintaan putrinya itu Fajar sejenak diam dan berpikir.
Icha begitu menunggu jawaban dari raut wajah papanya. Dan senyuman itu pun terurai, gadis itu juga menatap bahagia.
"Tapi kamu nggak boleh sendiri pergi ke sana."
"Lalu Icha harus pergi sama siapa pa?"
"Papa akan temani kamu ke sana."
"Tapi..." ucapannya itu terputus.
Fajar sudah terlebih dulu meyakinkan putrinya itu jika dirinya sudah kembali pulih seperti dulu lagi hanya saja kakinya yang masih mengalami kelumpuhan.
...****************...
Siang itu keadaannya tampak begitu berbeda. Mentari tidak bersinar terang menyinari bumi, cahayanya redup karena tertutup awan hitam yang mengelilinginya saat itu.
Keadaannya sesuai dengan hati ibu saat ini. Ia terlihat begitu gundah saat harus menahan rasa rindu pada putranya yang jauh di sana. Kerinduan seorang ibu pada anaknya tidak bisa terobati oleh apapun selain selalu mengirimkan doa dan berharap segera bertemu dengannya.
Bu Husna duduk menyendiri di depan rumahnya sembari membersihkan sedikit tanaman bunga yang terdapat beberapa rumput kecil di dalam pot nya.
"Assalamualaikum Bu." Asma' datang dalam menjalani tangan ibunya.
"Waalaikumsalam."
"Ibu lagi ngapain?"
"Ibu lagi membersihkan bunga yang ditanam sama mas mu nduk."
Asma' terdiam dengan kedua matanya yang terlihat berkaca-kaca.
Bu Husna menghentikan aktivitasnya lalu duduk di bangku itu.
Asma' pun ikut duduk bersama ibunya dan dengan perlahan mengusap lembut bahu ibunya.
"Setiap saat ibu selalu berdoa agar mas mu di sana diberi kemudahan dan kenikmatan belajar oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Juga selalu terjaga dari segala fitnah dunia yang bisa melalaikan. Tapi entah kenapa ibu selalu merasa khawatir sama mas mu yang ada di sana, ibu begitu merindukan kehadirannya, ibu ingin agar dia cepat pulang dan kembali lagi ke sini bersama dengan kita."
Asma' kembali mengusap lembut bahu ibunya itu.
"Menurut mu ibu harus bagaimana nduk?" tatapan wajah ibu mengarah pada anak gadisnya.
Asma' menghela nafasnya.
"Asma' tahu perasaan ibu saat ini. Asma' juga nggak bisa untuk melarang ibu kangen sama Mas Zain yang sekarang jauh sama kita di sini. Tapi ibu juga harus bisa menepis rasa khawatir dan was-was ibu terhadap Mas Zain, karena semua rasa khawatir dan was-was itu datangnya dari syaitan Bu. Kalau ibu terus-terusan seperti ini Mas di sana tidak akan merasa tenang dan tidak bisa merasakan kenikmatan belajar."
"Ibu harus lebih tabah dan ikhlas Bu. Asma' yakin Mas Zain di sana juga akan baik-baik saja kalau ibu tidak terus mengkhawatirkannya. Tinggal sebentar lagi bu, Mas Zain menyelesaikan masternya. Apa ibu tidak ingin kalau Mas Zain nanti pulang dengan membawa keberhasilan yang sangat ibu nanti kan."
Tutur kata Asma' terdengar begitu lembut pada ibunya hingga membuat air mata ibunya meleleh karenanya.
"Kamu bener nduk, tidak seharusnya ibu bersikap seperti ini, ibu sudah terlalu berlebihan, ibu tidak sadar kalau rasa cemas ibu ini akan berakibat juga sama mas mu di sana. Ibu khilaf nduk."
Asma' mendekati ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Manusia itu memang tempatnya khilaf dan lupa Bu."
Bu Husna begitu bersyukur, di saat dirinya sedang lemah seperti ini masih ada anak gadisnya selalu setia menemani dirinya selain Pak Ilham.
Siang itu memang Asma' baru pulang dari kuliahnya dan langsung datang menghampiri sang ibu yang sedang kesepian, ternyata kehadirannya memang bisa menghibur sekaligus menghilangkan kegundahan yang melanda ibunya.
Sebuah mobil expander berwarna abu-abu tua berhenti di tepi jalan. Tatapan mata keduanya tertuju pada mobil yang baru saja datang dan terus memperhatikan siapa yang akan keluar dari dalamnya.
Seorang gadis dengan gamis biru mudanya juga jilbab abu-abu yang terlihat begitu anggun keluar dari dalam mobil itu dengan membawa beberapa bingkisan di tangannya.
Asma' dan juga ibu sudah tidak lagi asing dengannya. Ya, itu adalah Fitri, teman akrab Asma' dari kecil sampai satu kampus sekarang. Sejak kecil, kedekatan mereka memang sudah tidak bisa lagi teruraikan. Hanya saja mereka berpisah beberapa tahun karena mereka sama-sama belajar di pesantren namun di tempat yang berbeda.
"Kamu repot-repot banget sih Fit bawa ini semua."
__ADS_1
Ya nggak papa loh as, kalau aku juga udah lama banget nggak main ke sini."
"Oh ya ini handphone kamu, tadi ketinggalan di rumah ku."
"Alhamdulillah, makasih ya Fit."
"Sama-sama As."
"Tadi juga ada panggilan masuk dari mas Zain, tapi nggak sempat keangkat karena aku tadi lagi masak."
"Neng Fitri, ayo masuk dulu, kita ngobrolnya di dalam saja."
"Injih Bu." jawab Fitri dengan sedikit menunduk.
Bu Husna membawa tamunya untuk masuk ke dalam dan berbincang di sana.
Di tempat lain sebelum dirinya datang ke rumah Asma' untuk menjenguk Bu Husna, Icha bersama dengan sang ayah terlebih dulu mengunjungi pesantren nya dulu.
Sudah lama dirinya merindukan suasana yang ada di pesantren. Rindu dengan suara para santri yang ramai dengan mengaji Alquran juga kitab-kitab fiqih dan lainnya.
Gemuruh para santri di saat semangat belajar mereka membara pada jam pelajaran dimulai.
Juga hal-hal lainnya yang berhubungan dengan pesantren.
Ketika tiba di sana, Ica langsung disambut hangat oleh ibu nyai Syarifah yang disebutnya dengan panggilan Ummah juga kyai Muhammad Hasan serta tak ketinggalan pula sahabat yang paling ia rindukan sampai saat ini yaitu Madinah.
Tampilannya semakin dewasa, Dina sekarang sudah menjadi ustadzah di sana.
"Subhanallah ca, rupamu Ki makin ayu. pangling sampean aku ca." kata Dina dengan penuh pujian saat berhadapan dengan Icha saat itu.
"Dina...Dina. kamu itu nggak pernah berubah ya dari dulu tetap sama dengan Dina yang dulu aku kenal, walaupun sekarang sudah menjadi seorang ustadzah."
Mereka terus berbincang dan saling melepas kerinduan satu sama lain. Tak lepas dari itu, Dina juga mengajak Icha masuk ke dalam asrama putri untuk melihat apa saja kegiatan mereka yang ada di sana saat itu.
"Demi Allah! Aku kangen banget sama suasana seperti ini Din, rasanya aku ingin seperti dulu lagi."
Icha mengungkapkan rasa rindunya dengan mata yang berkaca-kaca.
Dina hanya mengusap lembut bahu Ica juga membalasnya dengan senyuman penuh haru.
"Sekarang kamu kuliah di mana ca?"
tanya Dina saat mereka sudah ada di kantin pesantren.
"Alhamdulillah aku sekarang kuliah di IAIN Jakarta Din."
"Masya Allah jurusan apa ca?"
"Sastra bahasa Arab."
Kedua mata Dina berbinar mendengar ungkapan sahabatnya itu. Ia sungguh kagum dengan semangat belajarnya Icha, di saat dulu dirinya pernah gagal dalam meraih beasiswa yang begitu ia impikan dan menjadi cita-cita terbesarnya, kini ia melihat bahwa kegagalan itu bukanlah akhir dari semangatnya. Melainkan awal dari perjalanannya untuk menggapai sebuah keberhasilan.
Tak hanya perkembangan Ica di bidang ilmu sastranya saja yang membuat Dina terharu bahagia ketika mendengar hafalan Alquran Ica yang semakin bertambah itu juga membuat air mata Dina meleleh begitu saja. Sangat mengharukan.
"Kamu kuliah juga kan Din?"
Dina diam sambil tersenyum.
"Iya ca, Alhamdulillah aku bisa lanjut kuliah."
"Alhamdulillah, aku seneng banget dengernya Din, selain berhikmat di pesantren ini kamu juga bisa kuliah."
Dina kembali tersenyum.
Perbincangan mereka terus berlangsung lama hingga tampak terasa hari sudah menjelang senja.
Icha dan juga papanya memutuskan untuk menginap satu malam di pesantren, ketika hari menjelang pagi nanti barulah mereka akan beranjak dari pesantren menuju rumah Bu Husna.
Setelah Fitri beranjak pulang dari rumah sahabatnya sore tadi ada satu tamu lagi yang begitu ditunggu kehadirannya oleh Asma'.
Ya, Ica. Diakhir perbincangan telepon mereka kemarin Icha mengatakan bahwa dirinya akan datang hari ini ke rumah Asma'.
Namun hingga hari telah menjelang petang, Icha belum juga menampakkan batang hidungnya, ditambah lagi dirinya yang belum memberi kabar apapun pada Asma' saat itu.
Asma' terus menunggu di depan rumahnya, hati dan perasaannya menjadi tak tenang karena belum ada kabar apapun dari Icha. Ia takut terjadi sesuatu di perjalanan, apalagi Icha juga tidak memberitahu dirinya kalau dia datang ke Solo bersama dengan Fajar papanya.
"Lagi nungguin siapa toh nduk, udah Magrib, ayo masuk."
__ADS_1
"Iya Bu." sahut asma yang sudah lelah.
Tak lama setelah itu, terdengar adzan magrib yang berkumandang, Asma' pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat.