Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku

Ketika Keinginanku Tak Sejalan Dengan Takdirku
54. Persiapan Diri


__ADS_3

Sore menjelang senja, matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Langit biru yang cerah kini telah berganti dengan warnanya yang kemerahan.


Saat nya Ica mengemasi semua barangnya untuk di bawa pulang ke rumah papanya.


Mungkin hari ini Ica akan pulang lebih awal dari hari sebelumnya saat berada di coffee shopnya.


Karena pesan dari sang ayah bahwa besok dirinya harus sudah sampai di rumah untuk mempersiapkan semuanya di hari pernikahannya nanti.


"Kok mbak Syadzi tumben pulang cepat. Coffee shop kita kan tutup jam 11 malam nanti."


Salah satu staf karyawan perempuannya bertanya padanya.


"Iya, karena besok saya harus pulang ke Jakarta. Ada urusan yang harus segera di selesaikan."


Ica masih merahasiakan tentang pernikahannya dengan siapapun, kecuali mbak Dian yang berada satu rumah dengannya.


Karyawan perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Berapa lama mbak akan berada di Jakarta?"


"Kalau itu saya belum bisa pastikan sampai kapan saya berada di Jakarta. Mungkin sampai urusan saya benar benar selesai di sana. Ya kita kira sekitar satu bulan."


Karyawan perempuan itu tertegun ketika mendengar jawaban dari Ica barusan.


"Kalau mbak pergi dalam jangka waktu yang lama, siapa yang akan memimpin kami di sini mbak."


Ica sejenak diam dan berpikir.


"Em... Seperti nya saya akan menunjuk kamu untuk sementara menggantikan posisi saya di sini."


Karyawan perempuan yang bernama Dinda itu terpelanga lalu membesarkan kedua matanya.


"Daya mbak?" Tanya nya dengan wajah yang tidak percaya.


"Iya, kamu yang bernama Dinda. Saya amanah kan coffee shop ini selama satu bulan sama kamu. Karena saya percaya sama kamu kalau kamu bisa menggantikan posisi saya di sini."


Sejenak Dinda terdiam sembari menundukkan wajahnya.


"Dinda. Saya masih bisa kan percaya sama kamu."


Dengan suaranya yang sedikit berat, ia pun menjawab.


"Insya Allah mbak. Saya akan amanah."


Ica bernafas lega sembari menguraikan senyumannya.


"Kemajuan dan perkembangan coffee shop ini selama satu bulan ada di kamu. Saya harap kamu bisa menjalankannya dengan baik."


"Kalau saya sudah memilih orang berarti saya percaya padanya. Tolong jangan khianati kepercayaan saya. Kamu ngerti kan Dinda."


"Insya Allah mbak, saya akan memegang kepercayaan yang sudah Mbak Syadzi


berikan dengan sebaiknya."


Ungkapnya dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Alhamdulillah, tolong sampaikan salam saya kepada karyawan yang lainnya ya karena saya tidak sempat berpamitan dengan mereka satu persatu."


"Nanti saya juga akan meminta Rafa untuk membantu kamu dalam memimpin coffee shop ini."


Dinda hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Baik Mbak, nanti akan saya sampaikan."


"Kalau ada apa-apa kamu hubungi saya saja. Insya Allah nanti saya juga akan sering menghubungi kamu untuk melihat perkembangan coffee shop ini."


"Baik Mbak."


"Saya permisi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Icha melakukan perjalanan dari coffee shop ke rumahnya dengan menggunakan sepeda motor matic nya. Karena memang jarak antara rumah dan coffee shop itu tidak terlalu jauh.


Sama seperti saat dirinya tinggal di apartemen bersama dengan temannya, Arsya.


Adzan maghrib telah berkumandang, saat itu juga Icha baru sampai di rumahnya.


Gadis itu menutup pintu rumahnya yang sengaja dikunci oleh Mbak Dian dari dalam.


Setelah pintu itu terbuka, Icha langsung masuk dengan diiringi oleh ucapan salamnya. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu melaksanakan shalat magrib di kamarnya sendiri.


Biasanya mereka selalu melaksanakan sholat berjamaah jika Ica pulang di awal waktu.


Namun kali ini di karena kan mbak Dian yang sedang berhalangan, maka ia melaksanakan sholat seorang diri di dalam kamarnya.


Saat itu mbak Dian menunjukkan satu koper yang sudah ada di ruang depan, ketika Ica sudah selesai dari sholatnya.


"Makasih banyak ya mbak, maaf kalau Syadzi sudah merepotkan kan mbak Dian."


"Iya non. Mbak sama sekali tidak merasa kerepotan kok non. Ini kan sudah menjadi tugas mbak Dian untuk selalu menyiapkan setiap keperluan non Syadzi selama tinggal di sini."


Ica lalu kembali menguraikan senyumannya.


"Kira kira setelah menikah nanti apakah non Syadzi akan kembali lagi ke Kalimantan dan tinggal di sini bersama dengan suami non?"


"Kalau itu Syadzi masih belum tau mbak. Syadzi kan sudah tidak sendiri lagi, Syadzi sudah punya suami. Lebih banyaknya syadzi pasti kan ikut dengan suami Syadzi. Tapi kan Syadzi usahakan aga tetap tinggal disini."


"Mbak doain ya, semoga saja ia adalah orang yang bisa memahami diri Syadzi."


Mbak Dian lalu tersenyum dan memegang lengannya.


"Iya non. Mbak yakin, kalau calon suami non Syadzi adalah orang yang baik dan mengerti dengan diri non Syadzi."


Ica lalu membalasnya juga dengan senyuman.


"Oh ya. Mbak ikut kan sama Syadzi ke Jakarta?"


Mbak Dian sejenak terdiam.


"Mbak di sini aja ya non. Kalau mbak ikut non ke Jakarta, siapa nanti yang akan menjaga rumah ini. Mbak doain aja yang terbaik untuk non Syadzi."

__ADS_1


"Tapi Syadzi sudah pesan dua tiket pesawat untuk mbak Dian juga."


"Lah kalau mbak pergi rumah ini bagaimana non?"


"Udah tenang aja mbak, insya Allah rumah ini akan baik baik saja. Di sini kan masih ada karyawan Syadzi, nanti Syadzi akan minta tolong pada mereka untuk sesekali untuk melihat keadaan rumah ini."


Mbak Dian sejenak terdiam.


"Mau ya mbak, masa iya sih mbak nggak mau datang ke acara pernikahan Syadzi. Kan mbak juga yang udah saranin Syadzi untuk menerima lamaran itu."


Mbak Dian masih juga terdiam.


Secercak senyuman mulai terurai dari raut wajah manisnya mbak Dian.


"Ya sudah mbak ikut."


"Alhamdulillah, gini kan Syadzi seneng dengarnya."


Ucapnya sembari memeluk mbak Dian dengan penuh rasa bahagia.


Kehidupan nya memang penuh dengan lika-liku seperti perjalanan.


Ada banyak pahit yang ia rasakan dalam hidupnya. Namun Ica beruntung karena di sekelilingnya masih banyak teman dan sahabat yang selalu memberikan rasa manis di hidupnya.


Selalu memberikan semangat dan doa kepdanya agar dirinya selalu tegar dalam menghadapi ujian yang datang di kehidupannya.


Perjalanan cintanya yang panjang, sebentar lagi akan berakhir pada seorang pemuda.


Ia akan memulai kehidupan baru dengan cerita cinta yang baru.


Hatinya akan berlabuh pada seorang pemuda yang masih belum ia ketahui identitas sebenarnya.


Pemuda itu memang tidak pernah datang padanya dengan menyatakan perasaan nya seperti pemuda lain yang mencintai seorang wanita.


Ia langsung datang kepada sang ayah dan melamarnya untuk ia jadikan seorang istri.


Lalu dengan begitu mudah sang ayah menerima lamaran dari pemuda tersebut, seakan ia telah percaya untuk mengalihkan tanggung jawabnya pada pemuda itu.


Tidak ada alasan yang tepat bagi Ica untuk tidak sependapat dengan sang ayah.


Waktu yang ia minta dengan sholat istikharah nya telah memberikan jawabannya.


Tidak lagi ada kebimbangan di hatinya untuk menerima pemuda itu sebagai suaminya nanti. Karena Ica percaya jika Allah akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya.


Setelah urusannya dengan wanita Andalusia itu selesai, Zain bersama dengan Kafa sepupunya datang ke rumah Fajar untuk menyampaikan niat sucinya pada putri tunggalnya.


Karena pada saat itu Ica sudah berada di Kalimantan dan Fajar sengaja tidak memberi tahu yang sebenarnya pada Ica.


Fajar meyambut baik kedatangannya, karena ia tau bahwa pemuda itu dan juga keluarga nya lah yang telah berjasa dalam meyelamatkan nyawa putrinya.


Sebagai seorang ayah yang baik, Fajar tidak dengan mudah menyerahkan putri nya begitu saja pada orang lain.


Ya, ada banyak persyaratan yang harus Zain lakukan untuk membuka hati sang ayah gadis itu.


Zain yang saat itu telah menjadi seorang dosen di kampus IAIN pun diminta untuk memimpin perusahaan pak Fajar dalam waktu satu bulan. Sebuah profesi yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan begitu saja tanpa adanya pendidikan bidang nya.

__ADS_1


Lalu bagaimana Zain bisa melakukan semua nya dengan jalur yang tidak pernah ia tempuh sama sekali?


__ADS_2